Sang Penerus

Mamat tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, dan untuk pertama kalinya dia melihat bagaimana wajah Nuah yang nampak sangat mempesona itu tengah terisak dalam permohonan.

"Aku juga, maaf aku selama ini tidak jujur dan malah membuat kamu seperti ini, aku cinta kamu Nuah." Mamat memeluk Nuah erat keduanya larut dalam air mata mereka.

"Kak beri aku kesempatan." Mamat merasa bingung dengan apa yang di ucapkan Nuah, kesempatan apa yang di maksud gadis itu pikirnya.

"Aku akan berusaha semampu ku, ingat tetap tinggal di sini ya." Mamat menekankan dadanya dengan tangan Nuah, Nuah mengangguk kemudian dia berusaha meyakinkan dirinya untuk meminta lebih.

"Aku mau ini kak." (ASTAGFIRULLAH aku malu) Nuah menurunkan tangannya hingga menyusup menuju balik celana Mamat.

Mamat memejamkan matanya hatinya berontak untuk menghentikan itu namun birahinya meningkat saat gerakan Nuah sudah akan sampai pada burung miliknya.

Astagfirullah aku harus sadar, aku mencintainya tidak seharusnya aku melakukan hal ini. Ucap Mamat dalam hati kecilnya bersamaan dengan itu tangannya bergerak dan menghentikan lengan Nuah.

Kepala Mamat menggeleng dan menarik wajah Nuah mengecup bibir itu dengan lembut dan perlahan, Mamat tidak bisa melanjutkan hal yang lebih dari itu, dia juga punya batasan.

Nuah kini akhirnya sadar dengan apa yang baru saja hendak dirinya lakukan, dia benar benar bodoh dan berfikir bila pria itu akan bersedia.

"Kenapa? Apa kita tidak akan melangkah?" Nuah bertanya merasa sangat malu sekaligus benci pada pria yang kini malah menolaknya secara halus itu.

"Tidak, bukan begitu sayang. Kita akan melakukan itu saat waktunya tiba. Kita tidak boleh membuat dosa sebesar itu, sayang percaya padaku ya?" Mamat kembali memeluk Nuah, "Aku cinta dengan artian cinta sebenarnya, aku gak mungkin melukai gadis yang aku cintai Nuah, kamu tahu siapa yang akan tersiksa bila kita melakukan hal gila semacam itu, bukannya aku tidak mau tapi aku terlalu sayang." Nuah akhirnya menangis setelah mendengar penuturan Mamat.

Benar benar bodoh pola pandang Nuah, dia berfikir dengan itu dia akan di terima oleh keluarga Mamat dan bisa bersama dengan Mamat menjalin hubungan sebagai sosok pasangan.

"Maaf kak." Nuah menangis namun entahlah Mamat sendiri merasa menyesal mengatakan itu, dia juga sangat tergoda oleh Nuah namun dia juga tidak bisa membiarkan gadisnya tersakiti.

Mereka berpelukan cukup lama bahkan di kamar sebelah Syahrul tanpa sadar sudah tertidur di samping Kia yang masih menguping meski tak ada suara apapun selain isak tangis Nuah.

"Aih kok malah gak terjadi apa apa sih." Kia kesal dan akhirnya terduduk, mata Kia seketika tertuju pada Syahrul yang nampak lelap.

Kok ganteng banget si kak Syahrul, pengen cium deh. Kia berbisik dalam hati namun tanpa sadar wajahnya mendekati wajah Syahrul dan menutup matanya.

Syahrul terbangun saat merasakan hembusan nafas Kia matanya melotot namun bibirnya tersenyum simpul dan langsung menarik tengkuk Kia agar semakin dekat hingga akhirnya bibir mereka berdua menyatu begitu saja.

Kia melotot seketika saat tangan Syahrul kini sudah berada di tengkuknya dan bibir mereka yang sudah menyatu sempurna. Sensasi lembut dan aneh di rasakan oleh Kia mungkin itulah yang di sebut ciuman.

Kia mendorong dada Syahrul namun Syahrul malah menarik pinggul Kia hingga akhirnya tubuh Kia terjatuh di pangkuan Syahrul, Kia merasakan bagaimana pria yang kini melepaskan kacamatanya itu memberinya kehangatan dan kelembutan.

"Kia, kamu tahu sejak saat kamu datang ke sini dadaku tak bisa berdetak lebih lambat di dekat mu. Kia, jadilah belahan jiwa ku." Syahrul berbisik di telinga Kia hingga gadis itu mengakui perasaanya sendiri, dirinya sendiri juga mengakui perasaan yang sama seperti apa yang di rasakan oleh Syahrul.

Mereka akhirnya saling berpelukan, selama ini mereka sering kali melakukan hal bodoh dan membuat hal hal tak masuk akal agar mereka bisa bertemu, namun setelah pernyataan kali itu perasaan mereka yang semula hanya seperti magnet yang saling menarik kini menyatu dan sulit di pisahkan.

Malam itu agaknya masih menjadi malam yang panjang bagi pasangan yang lain yaitu Wulan da Rizal, saat tiba di pesta megah itu seluruh mata tertuju pada kehadiran Wulan dan Alif. Bahkan orang tua Rizal tak kuasa menahan air mata setelah melihat apa yang sudah mereka lakukan.

Bagaimanapun mereka benar benar merasa berdosa karena telah semena mena, dan kini mereka bahkan sangat malu untuk bertemu dengan Wulan dan Alif. Namun sebgai seorang wanita satu satunya di keluarga itu ibunda Rizal berusaha bijaksana.

Ibu Rizal membawa Wulan ke acara pesta megah itu dan dengan sangat bahagia dia memeluk Alif kecil yang saat itu masih belum mengerti apa yang terjadi, Rizal bahagia melihat seluruh keluarganya berkumpul bersama.

"Semuanya, aku umumkan sekarang bila penerus ku sudah berada di sini." Ayah Rizal berbicara menggunakan microfon dan memancing para pengajar gosip mendekat dan mendengarkan dengan seksama.

Ibu Rizal mendekat bersama dengan Alif, Wulan dan Rizal. Ayah Rizal kemudian meraih jemari kecil Alif yang baru saja membuatnya bahagia, dia benar benar merasa bersalah telah menjauhkan Alif dari Rizal.

"Alif, dia cucuku aku umumkan sebagai penerus perusahaan ku." Semua orang terkejut mendengar penuturan Ayah Rizal. Mereka berfikir bila acara itu di adakan untuk mengumumkan bila Rizal adalah pewaris tunggal namun nyatanya berbeda. Desas desus mulai tersebar hingga akhirnya ayah Rizal mengangkat tangannya.

"Putra ku Rizal keberatan menjadi pewaris ku, dia ingin meriah asa nya menjadi seorang Dokter." Wajah Rizal menjadi berseri seri setelah mendengar penuturan sang ayah.

Bagaimanapun sejak dulu Rizal memang bercita cita untuk menjadi seorang Dokter, meski dulu dia belum tahu ingin menjadi Dokter apa? Namun setelah melihat begitu banyak kepribadian manusia, sifat sifat aneh dan keunikan mereka, dari situlah Rizal bermimpi ingin menjadi Psikolog.

Berbeda dengan Rizal semua orang malah bertanya tanya mengapa Rizal malah memilih menjadi Dokter sedangkan anaknya saja masih bayi, lantas bagaimana keberlangsungan perusahaan sebelum Alif dewasa?

"Tuan, ini sama sekali tidak masuk akal, bila demikian lantas siapa yang akan menjalankan perusahaan kedepannya?" Ayah Rizal tersenyum mendengar pertanyaan itu.

"Aku belum mati. Jadi, selama Alif belum dewasa maka aku yang akan tetap memimpin perusahaan." Semua orang bungkam setelah mendengar jawaban tegas dari ayah Rizal.

Keluarga Fadli memang selalu mengutamakan keberlangsungan hidup mereka yang sejak dulu terkenal kejayaannya. Termasuk Tuan besar Fadli sendiri yang sangat disegani oleh para temannya namun dia juga sangat di takuti oleh musuh musuhnya, sifat tegas yang di miliki pria itu menjadi poin penting yang tidak bisa di bantah sekalipun oleh Rizal sendiri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!