"Ayo, hari ini kita ketemu sesorang. Kita jemput dia dulu yo." Mamat meraih tangan Nuah dan menggandengnya, Mamat membawa Nuah ke arah kendaraannya berada, dia membawa sebuah mobil yang dulu di kendarainya dan cukup sederhana.
"Temen kakak ya?" Nuah bertanya seraya melirik kiri dan kanan.
"Eh Nuah? Mau kemana? Aku mau nitip anak ku tadinya, hari ini ada job buat masak di acara hajatan. Lumayan gajinya." Wulan menyapa Nuah berharap agar gadis itu tidak pergi dengan Mamat.
"Kak Sofie tadi ada di kostan kak, hari ini aku..." Nuah belum selesai melanjutkan kalimatnya dan sudah keburu di potong oleh Wulan.
"Sofie mau ada acara keluarga katanya, dia mau ngumpul gitu hari ini. Hari ini jangan pergi ya, di kostan aja bantuin jaga anak ku." Nuah mengigit bibir bawahnya, mau menolak Wulan rasanya tidak enak karena Wulan adalah seorang wanita baik dan kakak yang baik di mata Nuah.
"Nuah akan pergi, anak nya kita bawa aja." Mamat langsung memberi keputusan, membuat Wulan mati kutu dan Nuah pun akhirnya mengangguk setuju.
"Iya kita bawa aja, lagian si dede pinter. Iya kan?" Nuah menggendong anak laki laki itu dan memeluknya erat.
Usia bocah itu baru 14 bulan dan Wulan selalu menyiapkan susu tambahan hingga saat bocah itu di tinggalkan dia akan tetap menerima ASI.
"Kakak ambil dulu aja bekal buat dede nya aku sama kak Mamat tunggu di sini." Nuah langsung menggelitik perut bocah laki laki itu hingga tawa terdengar membuat Mamat juga tersenyum menatapnya.
Wulan akhirnya pergi menuju kostannya dan membawa sebuah kotak Asi dan membawa jaket untuk putranya itu.
"Ingat, jaga baik baik." Wulan mewanti wanti Nuah dan Mamat sebelum akhirnya dua orang itu meninggalkan Wulan sendirian.
Di perjalanan Nuah dan Mamat tidak banyak berbicara sedangkan bocah laki laki yang bernama Muhammad Alif Al-hafidz bocah itu biasa di panggil Alif.
Nuah dan Mamat sampai di bandara dan nampak seseorang dengan dua koper besar tengah menunggu jemputan dan Mamat langsung tersenyum membuka kaca mobilnya.
"Butuh tumpangan?" Mamat tersenyum dan sontak saja pria itu terpaku seraya tersenyum lebar, membuka pintu belakang mobil.
"Kopernya simpen dulu di bagasi." Mamat menegur pria itu seraya terkekeh geli.
"Iya bos, aku baru sampe udah jadi pekerja gini." Pria itu menggerutu dan menyimpan kopernya, Pria itu agaknya belum sadar akan keberadaan Nuah.
Pria itu bernama Rizal Fadli, Rizal adalah adalah seorang Dokter psikologis namun mimpinya menjadi seorang Dokter itu harus dia kubur dalam dalam karena orang tuanya tidak mengizinkan hal tersebut.
Rizal sendiri adalah sahabat dekat Mamat, nama Mamat sendiri berasal dari panggilan sayang dari Rizal yang pada akhirnya menjadi panggilan umum pria itu.
"Aku capek banget." Rizal membuka pintu penumpang di depan hingga membuat Nuah terkejut dan bocah laki laki dalam pelukannya terbangun, bola mata bocah laki laki langsung melotot besar menatap Rizal.
"Eh, ini?" Rizal mati kutu namun dia kembali tersadar saat hawa dingin dari luar mobil membuat tubuh bayi itu menggigil dan membuat Rizal dengan segera menutup pintu dan masuk ke pintu penumpang di bagian belakang.
"Sialan lo Mat!" Umpat Rizal membanting pintu mobil itu cukup kasar hingga membuat Alif merengek.
"Haaa.. Mama.." Alif menangis dan membuat Nuah panik, mau bagaimanapun Nuah adalah gadis kecil yang belum faham cara mengurus bayi.
"Lo tu apaan si? Tuh nangis kan?" Mamat menggerutu kesal dan dengan cepat mendekat ke arah Nuah dan mengusap usap kepala bocah itu namun tangisnya malah semakin keras.
"Ya ampun kak, gimana ini?" Nuah panik dan dengan cepat meraih ASI dalam boks yang di sediakan oleh Wulan dan memasukkannya ke dalam dot, Nuah berusaha memberikan itu pada Alif namun Alif malah semakin menjadi dan mendorong benda itu hingga terjatuh.
"Anak baik jangan nangis ya sayang, cup cup.." Nuah memeluk Alif dan mengelusnya penuh sayang.
"Mama.. Haaa.. mama.." Alif terus menangis hingga refleks Rizal meraih tubuh mungil itu ke belakang dan memeluknya.
Alif tiba tiba berhenti menangis dan memeluk Rizal, ada perasaan aneh yang kini hinggap di hati Rizal. Perasaan yang sangat sulit dia tafsirkan, perasaan nyaman dan hangat seolah bocah itu memang memilki ikatan batin dengannya.
"Loh berhenti nangisnya? Wah kakak hebat." Nuah mengacungkan dua jempolnya ke arah Rizal hingga membuat Rizal tersenyum kikuk dan merasakan pelukan erat dari bocah kecil itu.
"Kalian udah nikah gak bilang bilang, mana udah punya anak juga." Rizal berbicara ketus pada Mamat yang kini mulai melajukan kendaraannya.
"Eh nikah? Enggak kok kita belum nikah." Nuah dengan cepat menghindar dari ucapan Rizal hingga membuat Rizal ber oh saja. Pantas Nuah kesulitan menenangkan bocah itu, ya jelas karena sepertinya bocah itu bukan anak Nuah, pikir Rizal.
"Belum? Iya belum." Mamat menegaskan kata belum yang semula di ucapkan Nuah. Rizal kini menatap ke arah Mamat dan terkekeh jahil.
"Ya kalo belum berarti akan, di cepetin aja." Singgung Rizal hingga membuat Nuah membulatkan matanya dan menatap pada dua sosok pria itu.
"Oh ya, aku Rizal sahabatnya Mamat. Aku baru pulang dari Amerika. Habis sekolah, haa.. kamu sendiri?" Rizal menghela nafas lega saat melihat Alif kembali tertidur di pelukannya.
"Aku Nuah. Salam kenal kak." Nuah tersenyum ramah ke belakang tanpa sadar lengan besar sesorang yang kini di sampingnya mendorong wajah Nuah ke depan.
"Jangan tengok tengok, dia itu spesies berbahaya." Ucap Mamat membuat Nuah mengangkat alisnya dan di belakang sana Rizal hanya mampu tertawa geli melihat Mamat yang tidak memilki alasan jelas dan sangat GAJE itu.
"Aku mau minta bantuan kamu Zal, minggu besok aku minta tolong buat ngembaliin ingatan seseorang yang kepotong lewat hipnotis bisakan?" Mamat langsung to the poin ke arah keinginannya.
"Bisa aja si, siapa emang?" Rizal duduk santai sembari terus mengelus punggung Alif.
"Nuah." Mamat menjawab singkat hingga membuat Nuah refleks menengok ke arah Mamat dan melihat sosok itu lebih dalam.
"Hmmm, hari minggu besok gue kosong sih. Tapi lo juga tau kan apa bayarannya?" Rizal kini menampakkan wajah seriusnya berharap sahabatnya itu bisa memenuhi keinginannya.
"Oke, kita sepakat. Mau langsung pulang sekarang?" Mamat kembali bertanya pada Rizal. Pembicaraan misterius itu sama sekali tidak di mengerti Nuah.
"Enggak, aku mau ke suatu tempat dulu." Dari sana Rizal mulai memimpin jalan dan berhenti di depan gerbang kostan Nuah.
"Inikan?" Nuah menatap kostannya yang kini sepi. Rizal menghela nafas panjang melihat deretan kamar di sana.
Ilustrasi Rizal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments