Langkah besar

Pagi itu juga Nuah berangkat dari kediamannya, pagi itu jam belum menunjukkan pukul 4 dini hari. Nuah sudah sampai di sebuah pasar pagi yang sudah ramai dengan para pemburu sayuran dan bahan bahan lainnya.

"Ibu nganternya sampai sini ya Nuah, baik baik di jalan." Bu Ustadzah memberikan wanti wanti pada gadis yang sudah dia anggap putrinya sendiri itu.

"Sip Bu, Assalamualaikum." Nuah mengecup punggung tangan Bu Ustadzah karena mobil pasar yang yang hendak membawa Ibu Ustadzah sudah sampai di depan mereka yang artinya Bu Ustadzah sudah harus pulang kembali.

Nuah melambaikan tangannya saat samar samar mobil yang di tumpangi Bu Ustadzah menghilang dari pandangannya, Nuah melangkahkan kakinya menuju sebuah terminal.

"NUAAAAAH!!" Sebuah suara yang amat di kenal Nuah hampir memecahkan gendang telinga Nuah, Nuah memutar bola matanya malas.

"Apa?" Dengan acuh tak acuh Nuah bertanya dengan nada sedikit memaksa agar suaranya tidak terdengar sebal.

"Kamu mau kemana?" Sosok pria itu bertanya dengan nada yang terdengar manis dan bersahabat.

"Bukan urusan kamu! Aku mau kemana aja emang mesti buat surat keterangan dulu dari kamu? Enggak kan Dani!" Nuah bener bener gedek sekarang, di tambah tempat itu sangat sepi sekarang.

"Nuah, maaf yang kemarin itu aku.." Dani hendak menjelaskan apa yang terjadi, namun Nuah berdecak kesal dengan apa yang hendak di lakukan Dani.

"Ck, udah deh sana lu minggat! Lu yang khianati gue! Lu juga yang sumpah sumpahan dulu, dan sekarang lo minta maaf? Huh.. maaf banget ya gue gak semurahan itu!" Nuah menekan beberapa kata hendak menegaskan argumentasinya yang kuat.

"Kenapa ini?" Seorang pria berperawakan tinggi dengan jas acak acakan dan helem yang masih melekat di kepalanya menyapa Nuah dan Dani.

"Oh, ini kak mahluk gak tau diri mau ngebegal." Nuah menjawab asal dengan rasa kesal yang menyegel ubun ubunnya saat itu.

"Oh berani ngebegal di sini ya?" Pria itu membuka helmnya hingga nampak sosok tampan dan berkarisma di sana.

"Eng...enggak kok, Nuah ayo balik ke desa." Dani menarik koper Nuah, namun dengan sigap Nuah menendang perut Dani dan saat Dani hendak mengaduh dengan kepala ke depan Nuah dengan cepat menjambak rambut Dani.

Nuah melemparkan rambut serta kepala Dani ke jalan yang saat itu sangat sepi, Dani mengaduh merasakan perut dan kepalanya yang berdenyut nyeri.

"Dasar gila!" Nuah mengangkat tangan kanan Dani dan memelintirkan ke belakang hingga sebuah bunyi nyaring keluar.

KREEEK....

"ARRRGHHHH!" Teriakan Dani memecah kesunyian membuat para jangkrik terkejut termasuk pria yang masih berdiri di sebelah motor gedenya.

"Kayanya patah tuh." Lirih pria yang sedari tadi hanya memperhatikan saja itu.

"Ups! Sorry kayanya tangan lo patah. Tapi sayang banget istirahat 4 bulan masih bisa sembuh nih, lain kali kalo lo berani ganggu gue lagi gue bakal buat lo gak bisa jalan selamanya. Ngerti!" Nuah melemparkan tangan Dani, bergegas menuju koper dan tasnya yang semula dia tinggalkan.

Rambut Nuah terkepang dua, hingga memudahkan gadis itu bergerak lues tanpa terhalang rambut panjangnya. Nuah sekilas melempar senyum ke arah pria yang masih memperhatikannya.

"Thanks banget kak, tapi kalo tangan kamu yang patahin tangannya masalahnya bisa ke pengadilan. Bye.." Nuah melangkahkan kakinya dengan ringan menuju trotoar jalan.

Tidak berapa lama kemudian suara adzan subuh terdengar bergema dan Nuah langsung bergegas menuju ke arah masjid terdekat, tanpa di sangka pria yang semula menyapanya kini juga berada di sana.

"Hai ketemu lagi." Pria itu menyapa lebih dulu, Nuah saat itu sudah selesai sholat subuh begitupun pria yang yang menyapanya.

"Iya, tapi gak bisa lama nih. Tuhh busnya udah datang. Byeee..." Nuah berteriak seraya langsung bergegas masuk ke dalam terminal dan masuk ke sebuah bus yang baru tiba dan memasukan earphone ke telinganya hingga hanya tersisa suara merdu Raisa saja di telinganya.

Nuah menghela nafas panjang dan enggan menutup kedua bola matanya,dia melihat lihat ponselnya. Nuah saat itu mencari tempat untuk dia tinggal, Nuah sedang mencari kostan murah di daerah Depok.

"Ketemu!" Ucap Nuah serentak saat menemukan sebuah kostan sederhana dengan jumlah penghuni yang cukup banyak dan tempat yang tidak begitu jauh dari daerah kampus.

Nuah tersenyum puas, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan ke pagi dan matahari sudah menampakkan sinarnya, begitupun Nuah yang sudah sampai di tempat tujuannya.

"Permisi." Nuah menyapa seorang wanita bertubuh sejajar dengannya dengan wajah penuh makeup dan baju ketat.

"Apaan lo? Anak baru ya?" Nuah mengangguk hingga seorang wanita melambaikan tangan ke arah Nuah.

"Lii Nuah ya?" Tanya gadis berperawakan mungil dengan wajah tertutupi hijab hitam nampak manis.

"Iya, aku sudah pesan kamar secara online dan sudah bayar juga ke rekening pemilik kostan, kakak ini?" Nuah sedikit bingung menatap wanita yang tingginya sepundaknya itu.

"Oh, aku Kia. Kebetulan kita bakal tetanggan nih." Kia dengan riang mengambil koper Nuah dan membawanya ke depan pintu sebuah ruangan.

"Nah ini kuncinya, dan aku tinggal di sana. Di samping sana tempat tinggalnya kak Wulan, sekarang dia masih tidur, dan di sebelah kamarku ada kamar kak Sofie dan disana kamar..." Kia terus memaparkan siapa saja yang tinggal di sana hingga ke lantai dua dan tiga.

Gadis yang semula di sapa oleh Nuah ternyata seorang Mahasiswi di Fakultas Ekonomi dan dia memang selalu begitu, selalu bergaya elit meski nyatanya sangat ngenes. Begitulah yang di paparkan oleh Kia.

Kia sendiri adalah seorang Mahasiswi jurusan kehutanan dan seorang gadis periang dan ceria serta penuh semangat. Itulah karakter yang bisa di ambil oleh Nuah saat itu dari sosok seorang Kia.

Nuah menghela nafasnya merasa lega juga memiliki tempat yang ramai, ya setidaknya dia tidak kesepian seperti di rumahnya dulu, rumah besar yang hanya di tinggalinya seorang diri.

Jam siang itu menunjukkan pukul satu siang. Nuah baru saja menunaikan sholat dzuhur dan rebahan di atas ranjang barunya dan kasurnya. Lelah, itulah nama yang tertera pada tubuh Nuah saat itu, mata Nuah terasa lengket hingga akhirnya pertemuannya dengan alam mimpi tak dapat terelakkan lagi.

Entah esok akan seperti apa, yang jelas langkah besar yang kini di ambil Nuah sudah cukup untuk membuatnya merasa perubahan dalam hidupnya akan sangat besar dan melebihi besar dari apapun yang pernah dia lakukan sebelumnya. Menyesal? Jelas Nuah belum tau jawaban dari pertanyaan itu. Namun untuk saat ini, Nuah sama sekali tidak menyesal dia merasa cukup nyaman.

Ilustrasi Wulan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!