Harapan terbesar

Suara tangis bayi menggema saat itu juga, air mata Sofie juga jatuh bersamaan dengan kebahagiaan Wulan yang meluap luap, mungkin inilah perasaan seorang ibu. Inilah makna yang di maksud kebahagiaan sesungguhnya.

Meski dia tanpa ayah meski dia hidup mungkin tak akan pernah mengenal siapa ayahnya namun dia bersyukur sejenak, Wulan bersyukur mendengarkan kata kata Syahrul yang melarangnya untuk menggugurkan bayi tak berdosa itu, dia malaikat kecil yang di kirimkan tuhan untuknya.

Sofie langsung melanjutkan tugasnya seperti memotong tali pusar dan sebagainya sampai membersihkan semua kotoran yang ada Sofie yang melakukannya semua tanpa merasa jijik atau apapun dia melakukan segalanya dengan sepenuh hati.

"Bayinya harus menyusui dini dulu, bisa kan Kak?" Sofie menelungkupkan bayi laki laki itu di dada Wulan, Wulan mengangguk meng iyakan dan berbaring memberikan ASI untuk yang pertama kalinya bagi si kecil.

Awalnya terasa geli, beberapa kali Wulan menggigit bibir bawahnya menahan geli, namun lama kelamaan geli itu menjadi hal yang biasa dan tidak geli lagi.

"Kamu siapa?" Wulan bertanya saat siang sudah datang dan seluruh kostannya yang semula berbau amis sudah kembali harum berkat Sofie.

"Aku Sofie kak, aku baru di kostan ini. Aku tinggal di samping kostan kakak. Dan kakak ini siapa namanya?" Sofie duduk di tepi ranjang memperhatikan Wulan yang penuh peluh dan bayinya yang tertidur pulas.

"Aku Wulan, terimakasih banyak Sofie. Aku gak tau harus berterima kasih dengan cara apa dan oleh apa, aku bener bener gak bisa bayangkan gimana hari ini bila kamu gak ada." Wulan hampir menangis saat mengingat kejadian pagi itu yang sangat berbahaya baginya dan bagi bayi kecilnya.

"Kakak wanita yang tangguh, lihat aku gak ngalakuin apa apa kok. Dede nya juga pinter." Sofie tersenyum lembut dan mengusap kening bayi mungil itu.

"Kamu terlalu baik Sofie." Wulan menggenggam tangan Sofie dengan senyum di bibirnya.

Itulah awal pertemuan Sofie, Wulan dan Kia. Mereka bagaikan kakak beradik di sana dan sangat menghargai satu sama lain.

Di sisi lain beberapa bulan sebelumnya di kediaman Fadli terjadi keriuhan besar, saat itu orang tuanya memaksa Fadli untuk pergi ke New York bahkan kedua orang tuanya mengurung Fadli atau Rizal sampai lima hari lamanya.

"Ma, aku mau keluar sekali aja Ma. Aku mohon." Rizal merengek seraya menggedor gedor pintu, namun sayang tidak ada tanggapan.

Jendela yang biasa dia gunakan untuk labirin kini sudah memakai jeruji besi hingga tidak mungkin bagi Rizal untuk melarikan diri.

"Kamu yang tenang di dalam sana, Mama dan Papa juga melakukan ini demi kebaikan kamu Nak, bila kamu mencintai gadis itu, Mama dan Papa juga gak larang. Tapi tolong untuk sekolah Mama dan Papa hanya ingin itu Nak." Mama Rizal bergumam dari balik pintu, hati seorang ibu yang di milikinya berontak menyaksikan bagaimana anak semata wayangnya di kurung sedemikian rupa.

"Ma, cuma sekali Ma. Aku mohon hiks..hiks.." Air mata Rizal jatuh saat dirinya memohon dengan teramat bahkan dia sudah kehabisan tenaga akibat berontak.

Tangan dan Kaki Rizal sudah lecet akibat berusaha kabur dari ruangan itu, namun nahas semua hal yang di lakukannya berakhir sia sia.

"Pa, kasian Rizal buka pintunya." Mama Rizal memohon pada sang Papa yang sejak awal duduk merenung di samping sang Mama.

"Baik, hanya sekali saja." Papa Rizal membuka pintu, namun sayang saat itu tubuh Rizal sudah ambruk dan tidak sadarkan diri.

Seluruh isi rumah kediaman Fadli riuh dengan kejadian tersebut, hampir 5 Jam Fadli tak sadarkan diri, bahkan desas desus tentang Fadli sampai ke telinga Mamat yang saat itu tengah melakukan study di UC.

"Apa? Kok bisa Rizal sampai seperti itu, aku mau ke Indonesia Pa, aku kasian sama dia." Mamat tertegun saat mendapatkan telpon dari sang Papa yang menjelaskan tentang kondisi Rizal saat itu.

"Papa juga kasian Nak, cuma kamu jangan pulang sekarang. Papa juga gak bisa berbuat apa apa karena itu adalah urusan keluarga mereka dan masalah rumah tangga mereka, kita tidak bisa ikut campur begitu saja Nak." Papa Mamat menerangkan agar putranya bisa mengerti dengan kondisi saat itu.

"Oke kalo gitu Pa, tapi kabari aku bila ada sesuatu hal yang terbaru mengenai dia ya Pa?" Mamat mengerti dengan situasi tersebut.

"Iya, kamu sekolah yang bener. Tidak sangka kamu sudah akan mendapatkan gelar Doktor." Papa Mamat tersenyum bangga akan prestasi putranya.

"Ya ampun ini UC, ada ada aja si." Mamat terkekeh mendengar mengutarakan sang ayah.

"Oh iya Papa lupa. Cepat selesaikan Papa sudah tua dan pengen pensiun." Papa Mamat tertawa renyah yang di timpal Mamat hingga akhirnya pembicaraan itu berakhir.

Di kediaman besar Fadli, Rizal akhirnya sadar dan semua orang dapat bernafas lega. Rizal langsung menangis. Benar bila orang tuanya sangat menyayanginya dia juga sangat menyayangi mereka semua. Tapi di sisi lain dia juga sangat mencintai Wulan, dia tidak bisa meninggalkan gadis itu sendirian.

"Pa, aku setuju buat sekolah. Tapi tolong beri aku izin untuk sekertaris Papa memberikan itu pada seseorang. Aku gak bisa tanpa dia Pa." Rizal sesegukan menunjuk sebuah kotak berwarna merah di atas meja.

Papa Rizal mengangguk memanggil sekertaris pribadinya dan memerintahkan seperti apa yang di pinta oleh Rizal, Papa Rizal juga tidak tega melihatnya beliau diam diam menyelipkan sebuah kartu hitam di dalamnya. Bagaimanapun dia harus tau seperti apa watak wanita itu.

Dua hari setelah kejadian itu Rizal berangkat ke New York dan melanjutkan study nya di UNY, dengan segenap rasa bersalah dan cinta serta air mata dia meninggalkan kampung halamannya.

Di New York Rizal tidak pernah sadar akan segala hal yang ada di sana, dia sama sekali tidak perduli dengan apapun bahkan konser besar musim panaspun dia tidak perduli, apapun yang di lakukannya semata mata karena ingin segera lulus dan cepat pulang.

Dalam kepala Rizal sudah terpatri bila dunianya adalah Wulan dan dia ingin segera merangkul dunia itu dan meraih kehidupannya bersama wanita yang dia cintai.

Harapan terbesarnya hanya ingin hidup bersama Wulan, meski kedua orang tuanya tidak pernah melarang untuk berhubungan dengan Wulan tapi keegoisan mereka sudah memisahkannya dari kebahagiaan. Meski demikian dalam hati Rizal dia juga harus berbakti kepada kedua orang tuanya dan mendapatkan restu mereka untuk bersama sang pujaan hati.

Bulan demi bulan berlalu dengan amat lambat, detik per detik berharap cepat berlalu bagi Rizal dia menanti pertemuan itu dia sangat merindukan Wulan dia merindukan pelukan gadis pujaannya itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!