Kembali ke saat Nuah dan Mamat berada di apartemen Rizal, Nuah kini mengerti bagaimana penderitaan keduanya, ya meski dia hanya tau sudut pandang penderitaan seorang Rizal saja dari cerita Mamat karena Wulan tidak pernah menceritakan Rizal secara gampang dan Nuah mendapatkan informasi juga kebanyakan dari si kepo kelas kakap yaitu Kia.
"Jadi, kamu bener bener gak tau apa apa?" Mamat mendekat kembali ke arah Nuah dan memelintir bagian bawah rambut Nuah dan menjatuhkannya kembali, dia terus mengulangi kegiatan itu membuat Nuah sedikit risih.
"Ya aku taunya kak Wulan gak pernah benci sama kak Rizal, dia juga pernah bilang gak menyesal. Eehhh... Aku pulang aja deh." Nuah benar benar merasa risih dengan tingkah Mamat tersebut.
"Bener mau pulang?" Mamat menyeringai seraya memberi kode ke arah kamar di mana Rizal dan Alif berada.
"Ya tapi, kakak jangan kaya gini." Nuah mendorong tubuh Mamat yang kian mendekat membuat Mamat terkekeh geli akibat penolakan tersebut.
"Kaku banget, gak pernah di deketin cowok ya? Padahal malam itu jelas jelas di kejar cowok." Mamat menopang dagunya dengan tangan kananya seraya wajahnya menatap Nuah yang kini nampak kesal.
"Kak denger baik baik ya. Sekali lagi ngurusin itu tikus got, aku bakal pergi beneran bawa Alif dari sini." Nuah mengacungkan jari telunjuknya mengancam Mamat.
"Beneran kucing manis, oke. Aku gak bakal ngurusin dia lagi, kita pergi aja dari sini biarin Rizal ngabisin waktu berharganya bareng Alif." Mamat menarik tangan Nuah begitu saja meninggalkan Alif dan Rizal berdua.
Awalnya Mamat ingin mengajak Nuah ke pantai, namun gerimis melanda hingga keinginannya urung, Nuah akhirnya mengatakan sesuatu pada Mamat.
"Mau kemana si? Muter muter gak jelas kaya gangsing." Nuah berceloteh sebal saat perutnya sudah mual akibat berkendara cukup lama.
"Di luar hujan semua tempat pada tutup, mau kemana coba?" Nuah berdecak kesal mendengar celotehan Mamat.
"Ck, pegel mata pengen tidur aja lah." Nuah berbalik membelakangi Mamat dan akhirnya lelap tertidur di sana. Mamat hanya terkekeh melihat tingkah gadis itu.
Mamat melajukan kendaraannya hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah gerbang yang sangat besar, tempat itu nampak sangat sepi tak berpenghuni hingga akhirnya seorang pria paruh baya keluar membukakan pintu gerbang.
"Eh Tuan Muda sudah pulang." Pria itu membukakan pintu mobil Tuan Mudanya.
"Iya, cuma mau mandi aja. Tukang perabot rumah udah datang belum?" Mamat bertanya seraya membuka kursi penumpang dan menggendong Nuah masuk ke dalam kediaman tersebut.
"Nona ini?" Pria itu agak ragu mengatakan kalimat berikutnya hingga senyum terukir di wajah dingin Mamat. Pria tua itu faham dengan senyum Tuan Mudanya dan mempersilahkan mereka masuk.
Mamat melihat sekeliling kediaman itu yang nampak sudah penuh dengan pengobatan rumah dan sudah tertata dengan sangat rapi, semua hal dalam kediaman itu nampak harum dan baru membuat Mamat mengangguk puas setelahnya.
Mamat membawa Nuah ke kamar tamu dan menidurkan gadis itu, diam diam Mamat memotret wajah Nuah yang tertidur dan mengecup kening gadis itu sekilas.
Nuah belum bangun dari tidurnya hingga suara air dari dalam kamar mandi mampu membuatnya sedikit risih dan kedua matanya akhirnya terbuka.
"Hujan deras banget si." Nuah menutup telinganya seraya bergumam pelan, tak sadar tangannya menarik selimut dan dia tiba tiba melotot.
"Apa?" Nuah terbangun seketika dan melihat sekeliling, mata besarnya menelisik setiap sudut ruangan itu dan mengedip ngedipkan matanya berusaha mencerna apa yang sudah terjadi.
"Aku?" Nuah kembali terkejut saat Mamat keluar dari kamar mandi menggunakan kemejanya yang mana kancingnya semua terbuka membuat mata Nuah melebar.
"Ahhh.." Nuah berteriak keras dan melemparkan sebuah bantal ke arah Mamat dengan cepat Mamat menangkap bantal itu dan menggeleng pelan.
"Kamu kenapa?" Mamat mendekat tanpa rasa bersalah, sontak wajah Nuah marona akibat kegilaan pria tersebut.
"OOOI.. pakek bajunya yang bener, ya ampun pakek baju aja gak bisa sana sana..." Nuah berteriak teriak dan mendorong tubuh Mamat untuk menjauh sedangkan tubuhnya sendiri juga refleks menjauh tanpa membuka matanya.
Nuah tanpa sadar sudah di ujung ranjang dan mengunjak ujung selimut yang membuat kakinya oleng, Mamat yang melihat itu refleks melompat menahan kepala Nuah yang hendak terjatuh dan menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya, alhasil mereka terjatuh bersama dengan keadaan Mamat di bawah.
Nuah membuka matanya perlahan dan baru tersadar saat lengan besar itu berada di kepala dan aroma maskulin dari tubuh pria itu hampir saja memabukannya, Nuah mengangkat kepalanya hingga mereka saling bertatap-an.
Mereka beradu pandang cukup lama hingga suara pintu kamar di ketuk membuyarkan lamunan mereka berdua. Seperti seseorang yang habis melakukan sebuah dosa besar Nuah buru buru berdiri dan tanpa sengaja tangannya menyenggol sesuatu yang terasa keras dan sontak membuat Nuah melotot.
Mamat yang sadar akan hal itu buru buru menutup mata Nuah dengan tangan besarnya, dia menarik selimut dan membungkus tubuh Nuah seperti kepompong dan melemparkannya ke atas kasur.
"Aw.. sakit!" Nuah berteriak sedikit memekik saat tubuhnya sampai i atas kasur, Mamat membuka pintu kamar sedikit dan tampaklah sosok paruh baya membawa baju kaos untuk Mamat berganti pakaian.
Mamat mengangguk memberi intruksi agar pria itu pergi dari sana, sedangkan Mamat dengan cepat menutup pintu dan kembali ke kamar mandi mengganti pakaiannya.
Sedangkan di balik selimut Nuah bersungut sungut akibat perlakuan Mamat dan mengeluarkan begitu banyak sumpah serapah pada pria itu.
Di dalam kamar mandi wajah Mamat tiba tiba memerah, bagaimanapun saat itu dia benar benar merasa malu dengan kejadian beberapa waktu sebelumnya, Mamat seorang perjaka tulen yang belum tersentuh tentu ketahuan sedang memikirkan hal gila oleh gadis yang di pikirkannya membuatnya sangat gugup.
Mamat membasuh wajahnya dan buru buru keluar kamar mandi, melihat Nuah yang sudah bisa melepaskan diri dari selimut yang menggulungnya, rambut Nuah sedikit acak acakan dan wajahnya yang manis sedikit cemberut.
"Maaf, tadi itu.." Mamat menggigit bibir bawahnya, dia sangat sulit mencari kata yang tepat untuk menjelaskan sesuatu yang sangat sulit di jabarkan itu.
"Iya, iya aku ngerti, itu normal pada manusia. Tapi yang gak normal itu apa yang kamu bayangin tadi hah?" Nuah mendekat dan menunjukkan jatj telunjuknya ke arah Mamat.
"Tadi itukan, anu...kata Kamu juga itu normal pada manusia jadi normalkan kalo aku bayangin hal itu sama wanita yang berada di atas tubuh ku dan diam saja di sana?" Mamat berusaha beralih, namun ucapannya barusan memang benar adanya membuat Nuah seketika sulit berucap.
Ilustrasi Nuah dan Mamat guys..
Ade cantik gak? klik kolom komentar ya guys...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments