Tak ingin memanfaatkan

Sofie yang merasa ada seseorang memasuki kamar mandi langsung terkesiap, dia buru buru memaki handuk hingga akhirnya pandangannya terarah pada suaminya yang baru saja masuk.

"I...itu.. aku sudah selesai, mau mandi ya?" Jelas sekali bila Sofie saat itu sangat gugup tapi mau bagaimana lagi dia juga tidak bisa mengelak dari Revi, Sofie mengigit bibir bawahnya dan hendak keluar.

"Kenapa takut?" Tanya Revi menggenggam tangan Sofie yang saat itu dingin akibat sangat lama di kamar mandi.

"Maaf bagaimanapun aku.. aku masih.. huft.." ucapannya tertahan saat tiba tiba Revi mendekat dan menyatukan bibir keduanya, jantung Sofie seakan berhenti berdetak namun tak lama kemudian suara debaran di dadanya melebihi suara beduk marawis.

Sofie merasakan bertapa lembutnya seorang Revi, dia mulai meresapi setiap sentuhan bibir itu yang kini ulah terbuka. Sofie yang tidak tahu maksud suaminya merasakan kakinya lemas.

"Buka mulutnya sayang." Pinta Revi saat dirinya menghentikan ciuman itu memberi sedikit udara pada Sofie.

Itu adalah ciuman pertama Sofie tapi apalah arti ciuman pertama itu bahkan kemungkinan segel takhta keagungannya akan di ambil oleh Revi saat itu, Sofie memang tidak keberatan namun dia sangat sulit mengontrol rasa gugupnya.

Revi kembali menyatukan bibir mereka dan menangkup kedua pipi Sofie yang kini terasa memanas, sedangkan Sofie sendiri kini mencengkeram kemeja suaminya.

Revi yang merasakan perubahan pada diri istinya tersenyum, status duda yang di sandangnya memang bukan main main untuk urusan ranjang pria itu memang sangat lihai.

Sofie merasakan kakinya melayang dan kedua tangan suaminya sudah memeluk pinggang ramping dan mengangkatnya menuju ranjang meski ciuman mereka tak di lepaskan.

Tangan dingin Sofie berubah menghangat dan dia juga merasakan sensasi aneh pada tubuhnya yang menginginkan lebih dan lebih, Revi yang sudah memahami keinginan istrinya itu membuka handuk yang semula menutupi tubuh istrinya.

Pemandangan indah yang baru terlihat oleh sosok laki laki itu mampu membuat jantung Revi berdetak tak karuan, tubuh indah Sofie bahkan lebih indah dari para penari tanpa pakaian yang sering di pamerkan, Revi sungguh beruntung.

Revi mulai menjelajahi setiap lekuk tubuh istinya dengan sangat perlahan agar istrinya yang masih tersegel itu tidak merasa takut pada dirinya, dia melakukan penyatuan itu untuk pertama kalinya dengan istri keduanya.

Pokonya bayangin aja deh malam pertama yang penuh dengan drama darah dan air mata itu, soalnya kelanjutannya Othor merasa malu sendiri bercerita hal demikian.

Di tempat lain Kia dan Syahrul yang duduk di depan kamar Syahrul melihat bagaimana drama malam itu, malam yang membuat mereka sedih sekaligus bahagia.

"Kak Nuah mau ke mana?" Tanya Kia saat Nuah dengan tergesa gesa ke luar kamar.

"Ke mini market." Kia mengangkat alisnya melihat kepergian Nuah, tak berapa lama Nuah kembali dengan sebuah keresek.

Kia tak berani bertanya saat mata sembab Nuah sudah nampak kembali normal, tak berselang lama sebuah mobil mewah tiba tiba parkir di depan kostan Nuah.

"Itu kak Mamat?" Tanya Kia pada Syahrul, Kia dan Syahrul yang merasa lelah karena baru saja mengikuti kegiatan dan pas pulang sudah di suguhkan drama dan itu membuat jiwa raga mereka benar benar terkikis habis.

Syahrul menatap gelagat Mamat yang nampak berseri seri sebagai seorang laki laki dia tahu maksud pria itu, Syahrul menghela nafas panjang dan menatap pintu kamar Kia.

"Ngapain ngeliatin kamar aku kaya gitu?" Tanya Kia merasa aneh dengan tindakan Syahrul.

"Malam ini kamu mendingan nginep di kamar aku aja deh," Kia tertegun dan langsung menatap Syahrul yang nampak khawatir.

"Mau apa si kamu kak? Gak enggak! Aku masih tersegel gini gini juga." Kia menyilangkan tangannya di dada tidak ingin menuruti keinginan Syahrul.

"Kamu tahu gak mereka mau apa? Aku cuma khawatir sama kamu tau." Syahrul menghela nafas panjang sebelum melanjutkan sebuah kalimat tambahan.

"Mereka kayanya mau produksi manusia, kamu tahu apa maksudnya?" Syahrul menjetik kening Kia yang masih loading.

"A..apa maksudnya mereka mau anu?" Syahrul tertawa dan mengangguk, dia menyandarkan punggungnya yang terasa sangat pegal.

"Oke oke, anter dulu yo ke kamar." Kia merengek sekaligus memohon pada Syahrul.

"Mau apa?" Tanya Syahrul melihat kamar Nuah yang nampak lampunya masih menyala dia juga samar samar mendengar pembicaraan mereka.

"Mau ngambil bantal dong." Syahrul terkekeh mendengar jawaban yang di berikan oleh Kia.

"Baiklah, aku antar yang cepat tapi ya?" Kia mengangguk dan akhirnya keduanya menuju kamar Kia.

Sebuah suara menghentikan langkah mereka di mana terdengar suara isak tangis Nuah dan penyesalan Mamat, Kia merasakan bagaimana penderitaan mereka.

"Aku penasaran loh kak." Kia berbisik ke telinga Syahrul dan akhirnya Syahrul mengalah dan duduk di dekat Kia dimana terdapat dinding pemisah antara kamar Nuah dan Kia.

Di kamar Nuah di mana Nuah dan Mamat kini berada mereka saling bertatap-an, Nuah sangat takut mengatakan apa yang dia inginkan meskipun nampaknya Mamat sudah tahu maksud Nuah sendiri.

Nuah menangis setelah dirinya menyajikan teh untuk Mamat, Mamat menghela nafas dia tahu pasti Nuah ingin mengutarakan perasaannya sendiri padanya dia tak berharap lebih dari itu karena pengakuan Nuah sendiri itu sudah cukup bagi Mamat untuk berjuang membatalkan pertunangannya.

Namun Mamat di buat tertegun sesaat di mana ternyata Nuah menangis sesegukan dan dia sendiri juga merasa sakit dengan tangisan tersebut, Mamat menundukkan kepalanya dia merasa bila dirinya tak lebih dari seorang Buaya yang sudah mempermainkan hati Nuah selama ini.

"Kak.. hiks.. hiks.. aku tahu..ini gak akan baik.. hiks.. hiks.. kak." Nuah membuka jaket yang semula membalutnya hingga tampaklah Nuah dengan baju indahnya terduduk penuh emosi.

Mamat tertegun melihat pakaian yang di kenakan Nuah yang mungkin harganya bisa selangit itu, dia juga melihat wajah Nuah yang seolah sudah di disain khusus malam itu, akibat tangisan Nuah hidung dan bibirnya memerah alami matanya juga nampak berkaca kaca dengan pipi yang nampak sangat manis.

"Kak.." Nuah berjalan ke arah Mamat, Mamat merasakan dadanya yang bergemuruh dasyat menahan dentuman keras jantungnya. Dia melihat tubuh indah Nuah yang sangat terbuka.

Mamat menelan salivanya di saat tiba tiba Nuah duduk di atas pangkuannya, gadis yang sangat berani itu mulai membuat Mamat gelagapan dia bingung apa yang harus dia lakukan dalam situasi semacam itu.

"Kak, aku cinta kamu." Dengan berani dan sedikit isak Nuah mengungkapkan perasaannya membuat Mamat seketika gelagapan dengan apa yang baru saja terjadi, dia bingung harus bagaimana dan bertindak apa namun dia juga seorang pria dewasa yang tidak ingin memanfaatkan keadaan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!