...ALLAN (RIZAL WULAN)...
...🍄🍄🍄...
Kebahagian keluarga itu nampaknya tak putus putus, di malam itu juga Rizal akhirnya membawa Wulan dan Alif ke kediaman besar Fadli.
Di sana lagi lagi sebuah kejutan di berikan oleh Rizal, nampak beberapa kerabat Rizal ada di sana. Rizal sebenarnya malam itu juga mengundang Syahrul tapi dia bilang lelah akibat sidangnya.
"Aku belum menjadikan dirimu milikku seutuhnya, sekarang aku benar benar ingin melakukan ini dengan cara yang benar." Wulan terharu saat penghulu rupanya ada di sana pula.
Benar, Rizal malam itu akhirnya melakukan ijab qobul dan menghalalkan Wulan untuk dirinya, Wulan bahagia bukan main di tambah ternyata keluarga itu tidak semenyeramkan bayangannya.
Keluarga Fadli adalah keluarga yang hangat meski ketat dalam beberpa aturan, namun mereka selalu saling menjaga satu sama lain. Dulu Wulan berpikir bila keluarga Fadli mungkin akan sangat menyeramkan seperti malaikat penyiksa di neraka, namun nampaknya itu berbanding terbalik dengan kenyataannya, keluarga ini sangat hangat dan sangat baik laksana para malaikat baik hati.
Malam itu Wulan benar benar kelelahan dia bahkan ketiduran saat yang lain masih mengobrol dan tak sengaja ketiduran di sofa. Rizal yang baru menyadari hal itu lantas membawa Wulan ke kamar mereka.
Alif sendiri sejak awal selalu bersama neneknya, sifat neneknya yang posesif membuat banyak orang kesulitan untuk melihat sosok Alif tersebut.
Pagi hari tiba dan hari baru di awali oleh sosok Wulan, pagi hari yang indah itu tidak seperti pagi pagi biasanya yang di awali wulan penuh dengan keramaian warga kos, kali ini susana sekan damai dan satu hal yang membuat Wulan tak ingin beranjak dari pembaringannya wajah tampan suaminya nampak teduh.
"Selamat pagi." Bisik Wulan mengeratkan pelukannya, merasakan ada gerakan akhirnya Rizalpun terbangun.
Aroma harum rambut Wulan mengembangkan senyum Rizal dan mengecup kening sang istri berulang ulang. Wulan sadar bila suaminya kini sudah terbangun dan akhirnya mengangkat wajahnya.
Mata mereka bertemu dan senyum di keduanya sama sama mengembang, Wulan merasakan sesuatu yang aneh yang kini mulai menempel di punggungnya.
"Semalam gak sempet." Lirih Rizal dengan wajah memelas, Wulan terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
"Enggak sayang, aku belum mandi. Tunggu ya?" Wulan menyibakkan selimbutnya, pemandangan kamar megah itu seketika membuat mata Wulan sulit berkedip, dia menelisik seluruh ruangan yang nampak sudah di sesuaikan untuk kenyamanan penghuni kamar itu.
"I...ini di mana?" Tanya Wulan kembali menatap suaminya yang tersenyum lembut.
"Kamar kita sayang. Kamar mandinya di sana jangan lama lama ya?" Nampak wajah memelas Rizal membuat Wulan mengangguk dan turun dari ranjang tersebut.
Wulan memasuki kamar mandi dan kembali terkesima melihat bagaimana kemewahan tempat tersebut, Semua ornamen di kamar itu berwarna putih, dengan pencahayaan yang terang.
...🥪🥪🥪...
Wulan menatap suaminya yang nampak kembali terlelap, ada rasa bahagia yang menghinggapi hatinya. Wulan membuka lemari dan nampak baju baju suaminya yang tersusun rapi, dan saat membuka kembali dia melihat banyak baju wanita di sana. Nampaknya Rizal memang mempersiapkan segalanya dengan sangat matang.
Kebiasaan baru Wulan sebagai seorang menantu di keluarga Fadli akhirnya di mulai, dia keluar kamar dan membiarkan suaminya yang masih terlelap. Membantu menyiapkan sarapan dan keperluan putranya. Dan kegiatan Wulan yang penuh kebahagiaan itupun akhirnya di mulai.
...----------------...
Di tempat yang berbeda, kost kostan pagi itu terkesan sepi, malam itu Mamat tidak menginap berbeda dengan Syahrul yang malah menginap di kamar Kia.
Pagi pagi sekali Nuah sudah berangkat ke kampus dengan senyum di bibirnya, meski dia tidak tahu alasan mengapa Mamat di jodohkan namun dia sangat yakin bila pasti ada jalan bagi mereka untuk bersama.
Nuah sengaja mengikuti kelas pagi, dan sore itu dia mendapatkan undangan dari salah seorang sahabat orang tuanya. Sejak dulu orang tua Nuah memang memiliki banyak rekan meski Nuah sendiri tidak tahu dan tidak mengenali mereka.
Nuah akhirnya menunggu bus siang itu yang akan membawanya ke sebuah kediaman megah keluarga Azkara. Saat di perjalanan dia terus berbalas pesan dengan seseorang yang membuatnya senyum senyum tidak jelas.
Nuah: Memangnya kakak kenapa di jodohkan?
Mamat: Katanya untuk melunasi hutang, ya sejenis balas budi.
Nuah mengangkat keningnya saat mendapat balasan dari Mamat dan terkekeh geli sendiri, "Kalo di novel kayanya bakal seru kalo Kak Mamat jadi cewek, judulnya pasti begini Menikahi Hutang, feet.. hahahahha.." Nuah tertawa tanpa sadar beberapa tatapan mata tengah melihatnya.
Nuah: Kasian sekali, terus Kakak akan bagaiamana sore ini?
Mamat: Aku akan diam saja di kantor, lagian ada ada aja masa iya aku harus nemuin orang yang ingusan gitu.
Nuah: Jangan gitu gak baik, aku juga ingusan loh.
Nuah seketika terperanjat saat menyadari ponselnya kehabisan baterai, dia menghela nafas. Pagi itu dia beli ponsel baru dan lupa mencargernya sedangkan sepanjang hari dia terus berbalas pesan dengan Mamat.
Nuah memasukan kembali ponselnya dan melihat tempat di mana sebentar lagi adalah daerah perumahan elite dan Bus tidak bisa masuk. Nuah akhirnya menghentikan bus dan berjalan kaki menyusuri rumah rumah elite tersebut.
"Permisi." Nuah melihat seorang wanita yang berjalan kaki sore, dia nampak di temani oleh seorang pria yang usianya sudah cukup tua.
"Ya, kenapa dek?" Tanya wanita itu tersenyum manis pada Nuah.
"Kalo rumahnya Pak Azkara yang mana ya?" Tanya Nuah berusaha bersopan santun, wanita itu mengangkat alisnya bingung.
"Tidak pernah ke sini sebelumnya ya?" Nuah menggeleng.
"Nah rumah Pak Azkara ada di depan sana tuh rumah yang paling besar itu." Nuah akhirnya ber oh saja dan mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya kembali berjalan ke tempat di mana rumah megah dan kokoh itu berdiri kokoh.
"Permisi, Assalamualaikum." Nuah mengucapkan salam sebelum akhirnya seorang pria bertubuh tinggi besar dan bermata sipit berambut gundul menatapnya penuh curiga.
"Cari siapa dek?" Suara besar pria itu benar benar mengganjal di telinga Nuah hingga membuat saliva yang dirinya telan tertahan di tenggorokan.
"Maaf Om, Pak Azkara ada di rumah tidak?" Nuah dengan senyum manisnya berusaha meluluhkan pria di hadapannya.
"Ada, tapi saat ini beliau sedang tidak bisa di ganggu." Nuah mengangkat alisnya bingung dengan maksud pria tersebut.
"Loh kok bisa? Padahal saya menerima undangan katanya hari ini di suruh datang." Nuah merasa bingung sendiri dengan apa yang terjadi.
"Perlihatkan undangannya." Pria bertubuh tinggi besar itu mengulurkan tangannya, Nuah menggelengkan kepalanya.
"Undangan itu di kirim ke alamat saya yang di kampung, sedangkan saya sekarang tinggal di kota ini jadi saya tidak bawa undangannya." Jawab Nuah, memang benar bila dia tidak bawa undangan itu dan berharap di usir hingga akhirnya mendapatkan alasan untuk membatalkan rencana keluarga Azkara itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments