"Mat!" Rizal menepuk pundak Mamat saat pria itu tengah melamun di balkon sendirian.
"Ck, apa?" Mamat berdecak kesal dan sedikit merasa tidak suka dengan kehadiran pria itu.
"Nuah nyariin." Rizal memberikan ponselnya dan dengan secepat kilat Mamat segera meraih ponsel itu.
"Halo?" Suara di seberang ponsel itu kini bisa mengisi energi yang hilang semula yang menguap entah kemana sekan kembali lagi pada tubuhnya.
"Kenapa? Kangen ya?" Mamat hendak bercanda dengan ucapan manja seperti itu, Mamat sudah bisa menebak bila Nuah pasti akan berkata ketus bila dia mengucapkan kalimat semacam itu.
"Iya." Jawab Nuah lirih yang sontak membuat Mamat sedikit merasakan debaran luar biasa di dadanya yang seolah akan meledak.
"Bisa ke sini sebentar gak?" Nuah setengah berbisik berharap agar Mamat tidak keberatan dengan permintaannya.
"Kemana?" Mamat bertanya dengan suara sedikit serak menahan sesuatu yang memberontak di dadanya.
Pagi itu, Nuah melihat Wulan yang membentak Mamat begitu sangat aneh pikirnya, Wulan memang sangat memperhatikan apapun tentangnya namun Mamat bukanlah sosok yang jahat dia sangat yakin akan hal tersebut.
"Kak Kenapa?" Nuah bertanya saat Wulan kini duduk di ambang pintu kamar kostannya.
"Kamu sebaiknya jangan dekat dekat dengan dia." Nuah mengangkat alisnya merasa bingung dengan apa yang di katakan oleh Wulan.
"Tapi kenapa kak?" Nuah kian penasaran, jam pelajarannya saat itu sudah lewat dan sudah pasti dia tidak akan sempat mengisi absen masuk.
"Dia sudah di jodohkan. Aku tau kamu tertarik sama dia, dan aku juga bisa liat dari mata pria itu dia menyuakai mu tapi Nuah, dia bukan dari keluarga biasa yang bisa memilih pernikahan sesuai dengan keinginannya." Nuah mengigit bibir bawahnya saat mendengarkan penjelasan Wulan.
"Aku suaka sama dia kak!" Tegas dan jelas Nuah mengatakan hal itu, membuat Wulan melotot dan sangat takut menghadapi apa yang terjadi, dia takut bila gadis itu akan patah hati nantinya.
"Tapi, dia udah punya calon tunangan. Kata Rizal pertunangannya akan di lakukan saat gadis pilihan orang tuanya sudah memasuki usia 20 tahun." Nuah menelan salivanya mendengar hal tersebut.
"Lalu apa sekarang kak?" Tanpa terasa air mata turun dari pipi Nuah, dulu dia di khianati tak sesakit itu rasanya, tapi Mamat sekan berbeda dari yang lainnya. Hanya beberapa minggu mereka bertemu dan perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa permisi.
"Lupain dia ya?" Wulan menepuk bahu Nuah, Nuah menggelengkan kepalanya. Wulan mengangguk faham dan memilih keluar dari kamar itu, di tambah dia juga harus bersiap karena undangan yang di berikan Rizal.
Nuah di kamar itu bersama senyap dan sepi tanpa gravitasi, pikirannya melayang entah kemana. Sangat sakit hatinya kala itu, bahkan wanita baja sepertinya yang bahkan saat menitikan air mata saja bisa di sebut keajaiban dunia dia kini menangis sesegukan dengan air mata berlinang.
Dalam kondisi seterpuruk itu dia benar benar merasa gila, dia tidak bisa membiarkan cinta yang begitu besar memburunya dan menghantuinya sepanjang masa.
"Aku tidak bisa terus begini." Nuah bangkit dari duduknya dan mulai memperhatikan sekelilingnya.
Nuah tersenyum kecut, itulah pilihan terakhir yang di milikinya. Bila itu berhasil dia yakin bila mau tidak mau keluarga Mamat pasti akan menerimanya.
Nuah berlari ke arah kamar Wulan, Wulan nampak sudah sangat cantik dengan gaun merah dan Alif kecil kini menggunakan setelan jas mini yang menampakkan sosok seorang Rizal di dalamnya.
"Pinjem ponsel kakak!" Nuah berteriak dan tanpa permisi langsung meraih benda pipih milik Wulan dan membawanya masuk menuju kamarnya.
Nuah mencari nama Rizal dan akhirnya ketemu dengan nama Sayangku, Nuah menelpon pria itu hingga tak beberapa lama sambungan telepon terhubung.
"Ya sayang?" Suara Rizal terdengar yang mungkin mengira yang menelponnya saat itu adalah Wulan.
"Ini aku kak Nuah." Nuah berbicara dengan suara serak, Rizal mengangkat keningnya. Ada apa gerangan gadis itu menghubunginya pikir Rizal.
"Apa kak Mamat ada di sana?" Nuah langsung bertanya pad inti pembicaraan dari apa yang dirinya inginkan.
"Ada, Kenapa? Apa kamu kurang puas mendengar penjelasan dari Isteriku?" Nuah menghela nafas mendengar suara ketus Rizal.
"Aku memang belum puas!" Nuah bentara sedikit kasar sehingga membuat Rizal sendiri merasa ngeri mendengarnya.
"Aku mau bicara sebentar dengan kak Mamat." Nuah berbicara sangat jelas hingga akhirnya jawaban dari Rizal terdengar berat.
"Baiklah, ingat! Saat kamu mendapatkan penjelasan darinya kamu harus segera menjauhinya." Rizal berpesan dengan seksama Rizal memperhatikan acara meriah itu dan melihat ke setiap sudut ruangan keberadaan Mamat.
Akhirnya Rizal menemukan Mamat yang nampak sedang menggalau menatap langit senja, memang mungkin berat bagi Mamat namun itulah jalan terbaik bagi keduanya sebelum ikatan mereka terlanjur semakin besar.
Di tempat lain, Air mata Nuah berlinang saat dirinya berkata HALO sedangkan canda yang di utarakan Mamat seperti biasanya dia menanggapinya dengan jujur berdasarkan hatinya.
Nuah sejenak berfikir saat Mamat bertanya DIMANA, Nuah akhirnya menjawab dengan suara bergetar.
"Di kostan, aku tunggu!" Nuah menutup sambungan telepon begitu saja dan bergegas keluar kamar, dia dengan segera memberikan ponsel itu ke tangan Wulan dan kembali ke kamarnya.
Nuah membuka lemari bajunya hingga sebuah gaun berwarna biru Navy menjadi pilihannya, Nuah mengangguk dan menaruhnya di atas kasur. Tak lupa Nuah juga membuka beberapa laci lemaknya mengambil perlengkapan mandi mingguan seperti lulur dan pencukur.
Nuah merasakan tubuhnya bergetar namun beberapa kali juga dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri akan pilihannya tersebut, dia kembali menghela nafas. Meski nantinya dia tidak dapat melanjutkan kuliah dan gagal di terima di keluarga Mamat tapi dia akan tetap menjadi seorang pengangguran kaya raya, harta yang di warisan keluarganya sangat banyak bunga dia tidak perlu pusing lagi akan hal apapun.
"Tuhan maaf ya?" Nuah mulai mandi dan dan kembali ke luar mengeringkan rambutnya dan mengenakan baju yang sudah di pilihnya baik baik.
Nuah mengepang sedikit rambutnya hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang indah, wajahnya di jalur dengan makeup tipis namun malah menambahkan kesan cantik paripurna dari balik wajahnya.
Nuah benar benar mantap akan pilihannya itu, dia mantap penampilannya di depan kaca dan akhirnya mengangguk dan tersenyum, Nuah kembali mengambil parfum saat di rasa dirinya kurang wangi dan memikat dan akhirnya kembali tersenyum mengangguk dengan keyakinan ribuan persen dia sudah mantap dengan pilihannya tersebut.
Di sisi lain Mamat yang mendengar itu tersenyum girang dan melemparkan ponsel Rizal pada sang empunya dan secepat kilat dirinya meninggalkan pesta tersebut membawa sebuah mobil sport milik kediaman Fadli.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments