"Syahrul masih di sini." Rizal tersenyum menatap sosok pria berkaca mata yang kini berjalan cepat masuk ke kostannya karena gerimis lagi lagi melanda kota itu.
"Kakak kenal sama kak Erul?" Nuah berbalik dan menatap Rizal, ada segudang penasaran dari hati Nuah tentang pria tersebut.
"Kenal, dia bocah tengil." Nuah mengangkat alisnya dan menatap Mamat yang sama merasa bingung, dia sendiri tidak tahu kenapa sahabatnya membawa dirinya ke tempat itu.
"Dia gak tengil kok, dia baik. Dia juga keponakannya sahabat aku." Nuah menerangkan dengan mata menatap ke arah Alif.
"Sahabat? Siapa namanya?" Rizal tiba tiba merasa girang dan melotot sekan ingin menerkam Nuah.
"Ck, biasa aja." Mamat menekan kening Rizal dengan jari telunjuknya.
"Wulan, dia ibunya Alif." Nuah menunjuk ke arah Alif yang tertidur lelap.
Deg..
Deg..
Deg..
Jantung Rizal berdebar debar dengan sangat kencang, bahkan Rizal tanpa sadar kini menitikan air matanya.
Nuah merasa bingung menatap Mamat yang kini merasa bingung juga. Mereka berdua bersamaan mengangkat pundaknya dan merasakan hawa mengganjal pada hati mereka.
"Kamu kenapa?" Mamat bertanya dengan penuh rasa penasaran, di tambah kini wajah Rizal berubah pucat.
"Aku, anter aku ke apartemen." Rizal meminta dengan suara bergetar pada Mamat, dengan cepat Mamat kembali melajukan kendaraannya ke sebuah hunian berupa gedung apartemen.
"Kalian kalo mau jalan tinggal jalan aja, Alif juga masih tidur biar sama aku aja. Nanti jemput dia kalo kalian udah selesai." Rizal menggendong Alif dan di bantu oleh Mamat Rizal memasukan dua koper besar itu ke dalam apartemennya.
"Kak Wulan nitipin Alifnya ke aku, aku gak mau kalo di bilang gak bertanggung jawab. Aku bakal bawa Alif aja, gak papa kan kak Mamat?" Mamat mengangguk menyetujui keinginan Nuah.
"Bertanggung jawab?" Kepala Rizal berdenyut, dadanya tiba tiba terasa sesak. Dua kata itu agaknya lebih cocok baginya.
"Aku akan jaga dia, aku cuma mau tanya. Sekarang bagaimana keadaan Wulan?" Nuah benar benar merasa aneh dengan keadaan tersebut, tiba tiba Rizal berubah menjadi seperti seorang terdakwa.
"Dia baik baik aja, tadi dia nitip Alif karena dia mau kerja di acara hajatan, terus malamnya dia juga harus jaga di pom bensin. Jadi aku kayanya bakal jaga dia 24 jam sekarang." Nuah menerangkan kondisi terkini soal Wulan.
"Apa dia sudah menikah?" Nuah menjadi semakin bingung. Kini Mamat sudah bisa menangkap isi pembicaraan itu, selama itu dia diam mengamati sahabatnya.
"Belum kak, eh tapi meski dia punya anak dan belum menikah, dia bukan wanita yang kaya kakak pikirin. Dia wanita yang baik dan perhatian, dia juga selalu merawat kami dan juga..." Nuah menjelaskan segala hal yang dia tahu tentang Wulan.
"Baiklah, besok ada acara penyerahan perusahaan. Nuah bantu saya, saya mohon." Nuah semakin bingung, Mamat yang memperhatikan kebutuhan sahabatnya itu, Mamat menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di ruang tamu.
"Zal, coba kamu pikir deh. Kamu mau langsung buat pengumuman gitu? Kamu gak mikir perasaannya kaya apa gitu?" Nuah mendekat ke arah Mamat sebelum akhirnya lengannya di tarik dan duduk di samping pria tersebut.
"Kak? Kenapa ini?" Nuah menatap Mamat intens, dua bola mata besar milik Nuah membuat Mamat sejenak terpaku.
"Kamu kenal sama bapaknya Alif?" Mamat bertanya memancing Nuah untuk bercerita.
"Enggak kak." Nuah tidak terpancing dengan ucapan Mamat, di sisi lain Rizal membawa Alif masuk ke dalam kamarnya dan menangis di dalam sana.
"Kamu tahu apa aja tentang bapaknya Alif?" Mamat kembali bertanya, dia tidak ingin memaparkan identitas Rizal terlebih dahulu, dia ingin tahu dulu seperti apa pandangan Wulan selama ini terhadap Rizal.
"Aku gak tau kak, aku baru di sana." Nuah berdalih tidak ingin membocorkan keterangan pribadi tentang sahabatnya.
"Jangan bohong." Mamat mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nuah hingga pandangan mereka beradu dan seketika itu juga Nuah menahan nafasnya.
"Kak, Kak Wulan itu juga memiliki privasi, aku gak mau memberi informasi mengenai orang lain tanpa persetujuannya terlebih dahulu." Nuah tersenyum kikuk dan refleks tubuhnya beringsut menjauhi Mamat.
"Kamu ini sangat setia kawan ya? Rizal itu bapak nya Alif." Mata Nuah tiba tiba membulat, dia menatap langsung ke arah Mamat tidak percaya.
"Dua tahun lalu, Rizal di paksa kedua orang tuanya untuk berangkat ke New York dan melanjutkan study nya di sana, Rizal selama ini tidak memilki akses ke luar dan di awasi 24 jam oleh sistem di sana." Nuah tertegun sejenak mendengarkan setiap kata yang di ucapkan oleh Mamat.
"Ini emang gak masuk akal, tapi aku yakin kalo itu anaknya Rizal." Nuah menundukkan kepalanya.
Sangat tragis pikir Nuah, kisah cinta yang sangat menyayat hati seperti Novel saja.
2 Tahun Lalu.
Hari itu hujan lebat melanda kota, Wulan menatap dua garis merah yang tertera dalam sebuah alat test.
"Aku hamil." Senyum terukir di bibir manisnya, tanpa dia sadari kini tawa keluar dari mulutnya.
"Ya ampun, aku serius hamil. Aku harus kasih tau Rizal." Dengan segera Wulan menyambar ponselnya yang semula tergeletak di atas meja riasnya.
Tuuut...
Tuuut..
Tuuut...
"Kok gak di angkat ya?" Wulan mencoba berulang ulang hingga panggilan itu sampai 30 kali berturut turut.
"Gak kaya biasanya, hmm.. mungkin lagi banyak pasien." Wulan mengambil kesimpulan dengan cepat, karena yang dirinya tau tentang Rizal adalah, Rizal hanya seorang Dokter Psikologis yang sekolah karena mendapatkan beasiswa.
Saat itu Wulan sama sekali belum mengetahui identitas sebenarnya dari seorang Rizal Fadli, hingga pada malam itu.
"Permisi." Seseorang mengetuk pintu kostan Wulan dengan suara lembut dan hangat.
"Ya, sebentar." Wulan buru buru mendekat ke arah pintu dan tampaklah sesosok pria paruh baya membawa sebuah box di tangannya berwarna merah.
"Anda ini?" Wulan merasa bingung, dia tidak pernah mengenal sosok itu dan dalam ingatannya dia sama sekali belum pernah bertemu dengannya.
"Saya sekertaris pribadi Tuan Padli. Beliau menitipkan ini pada saya sebelum beliau pergi." Wulan mengerutkan keningnya berusaha memahami maksud orang tua itu.
"Padli, siapa ya?" Wulan bertanya agak kebingungan.
"Beliau adalah penerus perusahaan Padli Group apa anda tidak tahu? Tuan adalah orang yang mencintai anda." Wulan kian bingung dengan penjelasan pria tersebut.
"Ah begini saja, mungkin anda akan menemukan jawabannya setelah membuka box ini. Saya pamit dulu pulang." Pria itu menyerahkan kotak di tangannya dan balik kanan maju jalan, meninggalkan Wulan yang masih berada di ambang dengan rasa penasaran dan ingin tahu dari lubuk hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
QARA Mell
bagus kak ..... gk bisa berhenti baca , jsngan lupa like karya aju juga ya kak
2024-10-17
0