Kyai Nawawi dan semua santri seniornya telah sampai di kampung Tutugan Neglasari. Mereka melihat aura kampung itu sungguh pekat.
Di Sana Pak Rt telah menyambut mereka dengan tubuh penuh luka koreng.
"Pak Kyai tolong.. Saya tak kuat sakit sekali" Pak RT itu menangis.
"Baiklah ayo" Kyai Nawawi masuk kedalam rumah Pak RT.
Di Sana sudah ramai warga dengan penyakit yang sama.
"Apa kalian berbuat sesuatu sehingga kalian di timpa penyakit ini?" tanya kyai Nawawi.
"Tempo hari kami mengusir si Sadeli dan keluarganya karena terbukti bahwa si Sadeli dan istrinya itu dukun santet. Kami tidak mau kampung ini menjadi tempat dosa" ucap Pak RT.
"Tahu dari mana kalian jika Sadeli dan Istrinya dukun?" tanya Kyai Nawawi.
"Kami pernah mengintip dia sedang melakukan ritual, lalu kami menggerebek nya dan terbukti di dalam rumah si Sadeli banyak keris, tengkorak manusia dan berbagai sesajen lengkap dengan poto korbannya" jawab salah satu warga.
Kyai Nawawi pun meminta satu ember besar air dan garam kasar. Pak RT pun langsung menyediakannya.
Kyai Nawawi membaca doa, lalu menaburkan garam kasar itu pada ember yang berisi air itu.
"Ahmad, siramkan satu gayung ke masing-masing sumur yang ada di rumah warga semua. Jangan sampai terlewat" perintah kyai Nawawi.
"Baiklah tuan guru" Ahmad dan santri lainnya berangkat ke rumah masing-masing untuk menyiramkan satu gayung air doa ke sumur warga.
"Dan kalian semua, pulanglah ke rumah masing-masing dan segeralah mandi. Sebelum mandi, kalian harus baca syahadat sebanyak tiga kali, ayat kursi tiga kali, surah-surah pendek masing-masing tiga kali" perintah kyai Nawawi.
Semua warga kampung itu pun pulang ke rumah masing-masing dan langsung mandi. Tak lupa membaca doa sesuai yang di perintahkan oleh kyai Nawawi.
Ajaibnya, kulit warga yang korengan itu berangsur-angsur sembuh. Dan hal ini tak luput dari pantauan si penabur penyakit.
Sesosok jenglot melayang pada Sadeli melaporkan bahwa warga kampung Tutugan Neglasari sudah terbebas dari bala penyakit.
"Keparat!! Siapa yang berani-berani menyembuhkan orang-orang itu? Dia sudah bermain-main denganku!" geram Sadeli sembari membakar menyan.
"Kyai Nawawi dan santri-santrinya yang membantu menyembuhkan para warga" ucap Jenglot itu yang bernama Jeger Pamaok.
"Jeger Pamaok, intai pesantren itu, laporkan padaku apa kelemahan kyai Nawawi" perintah Sadeli yang sebenarnya takut pada Kyai Nawawi, tapi dendamnya lebih besar.
Jenglot itu pun melayang kembali ke arah pesantren. Tujuannya ingin mengintai keadaan pesantren.
Malam itu, Kyai Nawawi sedang mengajar ngaji lalu berceramah tentang keagungan Allah dan sifat-sifat teladannya nabi agung Muhammad SAW.
Mereka yang mengaji bukan sebangsa manusia saja, tetapi para jin juga ikut memadati dalam maupun pelataran masjid.
Jenglot itu melayang-layang di atas masjid, dan tentu saja jin islam mengetahui ada sang pengintai.
"Penyusup!" teriak Gaol.
Semua orang yang bisa mendengar Gaol langsung berhamburan ke luar masjid.
"Sial, ku kira hanya bangsa manusia saja yang ada di sini, ternyata jin juga banyak" gerutu jenglot itu.
"Awas kau ya, ku kejar kau!" ucap Ki Jalaksa yang di ikuti oleh jin lainnya.
Jenglot itu terkepung, dan Maul berhasil menangkapnya.
"Kena kau boneka jelek!" ucap Maul sembari meremas jenglot itu.
Tentu sang jenglot merasa kesakitan. Ia mengaduh.
Gobi lalu mematahkan taring jenglot itu hingga ompong.
"Taringku!! Hikhikhik.. Awas kalian, akan aku adukan pada majikanku" ucap Jenglot itu.
"Mau apa kau mengintai kami?" tanya Ki Jalaksa dengan wajah murka.
"Bukan urusanmu kucing!" balas jenglot itu.
"Patahkan lehernya, gunduli ramburnya" perintah Ki Jalaksa.
Gobi dan Gaol siap melaksanakan perintah jin harimau itu.
"Jangan!!! Aku hanya di suruh oleh majikanku" akhirnya si jenglot jujur.
Ahmad pun datang menghampiri para jin yang sedang menawan jenglot itu.
"Sebaiknya kita bawa ke hadapan kyai Nawawi saja. Biar tuan guru yang mengintrogasi makhluk itu. Cepat masukan saja dia ke botol ini" perintah Ahmad.
Gaol dan Gobi pun memasukan jenglot itu kedalam botol lalu membawanya ke hadapan kyai Nawawi.
Kini kyai Nawawi memandang makhluk jelek itu. Jenglot itu merasa terbakar dengan sorot mata sang kyai.
"Apa ini ada sangkut pautnya dengan kejadian di kampung Tutugan Neglasari?" tanya Kyai Nawawi.
Jenglot itu diam! Tetapi kyai Nawawi tidak kehabisan akal.
Ia menyentil botol kaca itu, tetapi jenglot itu merasa gempa bumi yang sangat dahsyat.
"Arghhhhhhh berguncang" teriaknya.
"Jujur atau kau akan ku binasakan!" ancamnya.
"Kau juga akan tahu sendiri siapa orangnya, nanti dia akan mencari ku kemari" jawabnya dengan nada angkuh.
Kyai Nawawi melihat wajah jenglot itu babak belur dan kedua taring panjangnya sudah lepas.
"Kemana taringmu?" tanya kyai Nawawi.
"Di patahkan oleh si rubah dan si kerbau itu" jawabnya.
Kyai Nawawi pun tersenyum, lalu ia menaruh kembali botol itu dekat pilar masjid, lalu Kyai Nawawi memerintahkan santrinya dan bangsa jin untuk menunggui botol yang berisi jenglot itu sampai sang pemilik mengambilnya kemari.
Sementara di rumahnya Sadeli, sang dukun itu menanti kedatangan jenglot nya, tetapi si jenglot tidak kunjung kembali.
"Kemana si goreng patut itu, kok tidak kunjung kembali!" rutuknya.
Sang istri yang sesama dukun santet pun menghampiri Sadeli.
"Kenapa kang kok gelisah?" tanya sang istri yang bernama Nyai Isah.
"Peliharaanku tidak kunjung kembali!" jawab Sadeli gusar.
"Akang menyuruh dia kemana sebenarnya?" tanya Nyai Isah.
"Akang suruh jenglot itu mengintai pesantren milik kyai Nawawi. Karena dia lah warga kampung laknat itu menjadi sembuh" jawabnya dengan nada penuh kebencian.
"Ishh dasar si akang belegug, cari mati kau kang!" gusar Nyai Isah.
"Alah kau ini menakuti ku Nyai! Ayo kita hadapi berdua untuk mengalahkan kyai sombong itu" ucap Sadeli.
"Bagaimana dengan si jenglot itu? Aku punya firasat bahwa peliharaanmu di tawan di sana" ucap Nyai Isah.
"Maka dari itu, aku akan menyuruh peliharaanmu melihat kesana!" jawab Sadeli.
Nyai Isah pun memanggil peliharaannya yaitu sesosok kuntilanak.
"Ada apa Nyai memanggilku!" tanya kunti itu.
"Kunti kaliki, aku ingin kau melihat keberadaan jenglot peliharaan suamiku. Cari sampai dapat" perintah Nyai Isah.
"Siapkan aku darah ayam" ucap kunti jelek itu.
"Kerja dulu, baru ku kasih upah" bentak Nyai Isah.
Kunti itu mengerucutkan bibirnya, tapi ia tetap berangkat. Kunti itu lalu terbang menyusuri setiap tempat-tempat yang dinilainya mencurigakan.
Dengan mengendus bau sang jenglot, akhirnya kunti itu menemukan keberadaan makhluk kecil itu.
Kunti itu lalu duduk di atap pesantren, dan melihat jenglot itu di kurung.
Kyai Nawawi dan jin merasakan hadirnya makhluk lainnya.
"Ada yang menyusul mu!" ucap kyai Nawawi pada sang jenglot.
Jenglot itu mencari-cari siapa gerangan yang menyusul.
Kunti itu masih duduk di atas atap pesantren, dan ia ragu untuk turun ke bawah, pasalnya banyak sekali penjaga di pesantren itu.
"Banyak sekali penjaganya!" ucap kunti itu ragu.
Tiba-tiba siluman gagak hitam duduk di samping kuntilanak itu.
"Mau apa kau kemari? Jangan cari mati" ucap siluman gagak hitam itu.
"Siapa kau?" tanya kuntilanak itu.
"Aku sudah lama disini, dan sudah tau tempat ini. Meskipun aku bukan pengikut kyai Nawawi, tapi aku segan padanya. Pulanglah sebelum mereka yang seram-seram menggunduli rambut gimbal mu itu.. Hahahaha" ucap siluman gagak hitam itu.
"Jangan menakuti ku, jelek!" geran sang kunti.
"Terserah kalau kau tak percaya padaku" siluman gagak hitam itu pergi meninggalkan kunti itu.
"Dia sepertinya ingin turun!" ucap Maul yang dari tadi matanya mengamati kunti itu.
"Biarkan dia turun, kita kerjai dia" balas Siluman ular yang bernama Tedja Wisageni yang kini telah menjadi raja di kerajaan ular. Tetapi dirinya lebih betah berdiam diri di dalam pesantren.
Kuntilanak itu tidak menyangka bahwa kehadirannya sudah di ketahui oleh jin lainnya.
Ia mengendap-endap lalu ia sembunyi di balik batu, yang tak ia ketahui ternyata batu itu adalah Maul.
"Aku belum di ketahui mereka rupanya.. Hihihi" ucapnya dengan tawa pelan.
"Kata siapa kau tidak di ketahui? Kau sudah di ketahui dari pertama kau duduk di atap pesantren" ucap Maul yang langsung menangkap kunti itu.
"Hikhikhik.. Lepaskan aku" kunti itu menangis.
Kini Maul telah membawanya ke depan para jin lainnya dan santri lainnya yang sudah menunggu di luar.
"Mau di apakah makhluk ini?" tanya Maul.
Kunti itu menjadi senang kala melihat ketampanan Tedja Wisageni sang raja ular.
"Tampan sekali kamu ini, mau ya jadi pacarku?" tanya kunti itu sembari cekikikan.
"Tak sudi!! Mau apa kau kemari?" tanya Tedja.
"Mau jemput temanku..hihihi" jawabnya sembari tertawa.
"Gunduli rambutnya!" perintah Ki Jalaksa
"Jangan-jangan... Ini rambut rapunzel" ucap sang kuntilanak itu.
"Gunduli cepat!" Gaol dan Gobi menggunduli rambut itu, ia tidak mendengarkan tangisan dari makhluk centil itu.
"Sudah gundul! Kau boleh pulang" ucap Ki Jalaksa.
"Sudah ki maung, kasihan dia! Lihat rambutnya jadi tidak ada begitu" Ahmad kasihan melihat kepala kuntilanak itu yang gundul, di tambah kepalanya bolong terdapat banyak belatung.
"Mati kenapa kau?" tanya Maul.
"Hikhikhik... Di bunuh oleh istri tua suamiku" jawab kunti itu.
"Makannya Nyai, kamu itu jangan jadi pelakor" ucap Ahmad.
"Demi ipon 11" timpal Asnawi sembari tertawa.
Kunti itu pun akhirnya pulang lagi ke rumah Nyai Isah dengan keadaan yang berantakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Zara Rahmi
hahahahaahaaaaaaa
2024-12-25
0
Menteng Jaya
lucu karangan ceritamu thor bikin ngakak
2024-12-05
2
Yulay Yuli
kocak thour /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-11-15
0