Buk Sulastri tidak pernah berhenti menangis dan berdoa pada kedua putranya. Hari-harinya ia habiskan duduk di atas sajadah dengan doa-doa selalu terlantun dari mulutnya.
Ia juga setiap malam selalu mencium bau busuk di kamar Syahrul. Bu Sulastri semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi atau apa yang sebenarnya Syahrul lakukan.
Di tambah, mimpi-mimpi aneh setiap malam yang selalu Ibu Sulastri alami. Seperti tidak ada berhentinya. Hati seorang ibu mana yang tidak resah bila dalam mimpi itu melihat Syahrul di pukuli oleh makhluk-makhluk aneh berwajah babi.
"Ya Allah, berilah perlindungan untuk kedua putraku. Engkau sejatinya maha melindungi Ya Allah" lirihnya.
Demi menghapuskan rasa penasaran, Ibu Sulastri pun pergi ke pesantren milik kyai Nawawi.
Ia pun akan berangkat besok pagi. Tetapi ia mendengar pintunya ada yang mengetuk. Ia pikir Ahmad sudah kembali dengan Syahrul. Ibu Sulastri segera beranjak dengan langkah bahagia membuka kan pintu. Tetapi ia malah mendapati para tetangganya berkumpul sembari membawa rantang dan makanan di tangannya.
"Loh ibu-ibu, ada apa ramai-ramai kerumah saya?" heran Ibu Sulastri.
"Begini, bu. Ibu Sulastri sudah hampir satu minggu tidak keluar rumah. Kami para tetangga khawatir. Sebenarnya ada apa dengan ibu?" tanya Pak RT.
"Masuk dulu ayo!" ajak Ibu Sulastri.
Ibu Sulastri pun menjelaskan kondisi yang sebenarnya mengenai hilangnya Syahrul sehingga ia mengurung diri di rumahnya.
"Ya Allah bu, kenapa tidak cerita pada kami? Jika tahu, kami pasti bantu cari si Syahrul" ucap Bu Darmi.
"Terimakasih bu sudah prihatin pada saya. Sekarang Ahmad sedang mencari keberadaan Syahrul. Doa kan saja semoga anak saya bisa kembali" ucap Bu Sulastri sembari terisak.
"Sabar ya bu. Semoga Syahrul dan Ahmad cepat kembali" ucap Bu Mumun sembari menepuk pundak Bu Sulastri.
"Amin" ucap semuanya.
"Bu, ini saya bawa nasi. Terimalah" ucap Bu Darmi.
"Saya juga bawa buah untuk Bu Sulastri" ucap Bu Vivin.
"Bu, ini goreng ayam untuk ibu makan" ucap Pak Latief.
"Terimakasih semuanya. Saya tidak enak jadi merepotkan" ucap Bu Sulastri malu.
"Tidak bu. Yasudah kami permisi ya" ucap semuanya.
Paginya, Ibu Sulastri langsung pergi ke pesantren kyai Nawawi. Ia ingin menanyakan apakah Ahmad ada ke tempat itu.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya ia sampai di pesantren kyai Nawawi. Ia langsung ke rumah sang kyai.
"Assalamualaikum" salam dari ibu Sulastri.
"Waalaikumsalam" balas kyai Nawawi dan Nyai Fatimah.
"Pak kyai, saya kemari ingin menanyakan Ahmad" ucap Ibu Sulastri dengan sungkan.
"Ya bu silahkan!" ucap Kyai Nawawi.
"Begini, apa Ahmad ada kemari, pak Kyai? Ahmad belum pulang mencari kakaknya, saya cemas sekali!" ucap Ibu Sulastri.
"Apa Ahmad tidak jujur pada ibunya kalau ia mencari kakaknya ke alam jin?" tanyanya salam hati.
"Sebelumnya apa ibu tidak mengetahui sesuatu terkait kakak Ahmad?" tanya kyai Nawawi.
"Tidak, pak kyai. Saya hanya tahu Syahrul hilang dan Ahmad mencarinya" jawab Ibu Sulastri.
"Bu, boleh saya jujur pada ibu? Sebenarnya Syahrul tidak hilang kemana-mana" ucap kyai Nawawi membuat Ibu Sulastri bingung.
"Maksud pak kyai bagaimana, ya?" Ia semakin heran.
"Ahmad mencari Syahrul yang di tawan di kerajaan siluman babi!" ucap kyai Nawawi.
Betapa syok nya wanita patuh baya itu mendengar ucapan dari sang kyai.
"Pak kyai, saya semakin tidak mengerti!" lirihnya.
"Anak ibu, Syahrul telah menyekutukan Allah. Ia pesugihan babi ngepet selama ini. Ia di tawan karena tidak mau memberikan tumbal kepala ibu. Syahrul masih sayang pada ibu hingga dirinyalah yang di bawa pergi" kyai Nawawi jujur berkata agar Ibu Sulastri tidak terus bertanya-tanya akan keberadaan kedua putranya.
Mendengar itu, seketika hati Ibu Sulastri serasa di remas. Sakit sekali mendengar sang anak bisa melakukan hal keji seperti itu. Badan pun seketika lemas bagai tidak bertulang. Air mata deras mengucur. Nyai Fatimah segera mendekatinya lalu memeluknya.
"Ibu tenang, kita doakan semoga Ahmad bisa membawa Syahrul ke dunia manusia lagi" Nyai Fatimah mencoba menghibur Ibu Sulastri.
"Pantas di kamar Syahrul selalu tercium bau bangkai, ternyata itu jawabannya. Bahkan saya melalu menemukan banyak bulu hewan, belum lagi mimpi-mimpi aneh dan menyeramkan yang menyangkut Syahrul. Ya Allah ampunilah anak hamba" tangis Ibu Sulastri.
"Kita hanya perlu berdoa agar keduanya bisa pulang dengan selamat ke alam manusia. Ibu, sebaiknya ibu menginap saja disini sampai Ahmad datang membawa Syahrul!" pinta kyai Nawawi.
"Benar itu. Ibu disini saja dulu" ucap Nyai Fatimah.
"Baiklah kalau begitu, saya akan tinggal dulu disini. Saya juga ingin mengaji sekaligus bantu-bantu di pesantren ini" ucap Ibu Sulastri.....
......................
Ahmad dan harimau itu terus saja berjalan ke arah selatan menunju kerajaan yang di maksud harimau itu. Tanpa Ahmad dan harimau itu ketahui, sesuatu sedang mengikuti mereka.
"Ahmad, apa kau merasa kita sedang di ikuti?" tanya harimau itu.
"Ya! Sebenarnya dari tadi aku sudah merasakannya! Tetapi aku tidak mau berprasangka apapun. Ki Maung, mendingan kita jalan saja tak usah menghiraukan apapun" Ahmad dan harimau itu mempercepat langkahnya tetapi sesuatu di belakangnya juga mempercepat langkahnya.
karena penasaran, Ahmad dan harimau itu menoleh ke belakang. Ternyata tak ada siapapun hanya gundukan batu seluas mata memandang.
"Aneh!" gumam Ahmad.
"Naiklah ke punggungku, agar semakin cepat kita sampai!" ucap harimau.
"Apa tak masalah aku menaiki punggungmu?" tanya Ahmad dengan nada sungkan.
"Naik saja!" jawab sang harimau.
Ahmad pun naik ke punggung harimau.
"Kau ringan sekali, manusia. Aku seperti membawa selembar kapas" ucap Harimau itu meledek.
Ahmad hanya mencebik kesal.
Harimau itu berlari, tetapi sesuatu yang mengikuti mereka juga ikut berlari. Karena harimau itu kesal di ikuti, ia pun berhenti.
"Siapa yang mengikuti kami? Tunjukan wujudmu atau aku bakar kau sekarang!" ucap harimau sembari mengaum.
"Memangnya batu bisa terbakar?" tanya makhluk yang mengikutinya dari balik ilalang.
Harimau dan Ahmad tampak berpikir lalu dirinya ingat pada raksasa batu yang di duduki Ahmad.
"Keluar kau jangan jadi pengecut!" teriak Ahmad.
Raksasa batu itu pun keluar dari persembunyiannya, lalu berjalan menghampiri Ahmad dan harimau.
"Kau? Kenapa kau mengikuti ku?" tanya Ahmad heran.
"Karena aku ingin ikut bersama kalian. Aku tak punya teman" ucapnya sedih.
"Pulanglah, kami akan berjalan sangat jauh" tolak harimau.
"Tidak mau! Aku ingin ikut kalian" ucapnya lagi.
"Dasar kepala batu" ucap Ahmad.
"Memang aku batu" jawabnya polos.
"Sudahlah Ahmad, jangan dengarkan dia. Ayo kita lanjutkan lagi perjalan kita" harimau itu berjalan lagi, tetapi raksasa batu itu mengikutinya.
"Roarrrrrr!! Kau jangan mengikuti kami. Pergi sana" geram sang harimau.
"Tidak mau" balas raksasa batu itu.
"Raksasa, kita akan pergi sangat jauh. Kau jangan mengikuti kami" tolak Ahmad dengan halus.
"Tidak mau! Aku akan ikuti kalian kemanapun" ucapnya lagi.
Akhirnya Ahmad dan harimau itu pasrah, mereka pun mengizinkan raksasa batu itu untuk ikut menemani perjalanan Ahmad.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Santi Rizal
si batu bandel banget
2025-01-21
0
Zara Rahmi
hadeuhhhh
2024-12-25
0
Zuhril Witanto
lanjut
2024-09-07
0