Di kedai bakso milik Paimin, semua barang-barang beterbangan dan kedai itu bergetar. Paimin yang merasakan keanehan itu langsung bergegas ke kamar khusus tempat ia ritual.
Di kamar itu telah menunggu Siluman ular yang sangat besar.
"Hosshhhhhhh... Shhhhssshhhhhhhhh" Siluman ular itu terus mendesis dengan wajah di penuhi angkara murka.
"Grrrrrrrrrgggggrrrrrrr!!! Paimin, mana makananku?" tanya ular itu.
"Ngapunten gusti raja, saya telah memberikan mu tumbal" ucap Paimin sembari bersimpuh.
"Hssssssss.... Anakmu tidak aku makan. Ia kabur di bawa manusia dan hilang entah kemana. Aku lapar.. Grrrggrrrr" ucap siluman ular itu yang bernama Prabu Anom Lolongseran.
"Dawuh tuan raja. Saya akan carikan tumbal yang lain. Di depan kedai ini jalan raya, tuan raja bisa mengambil tumbal dari orang yang bawa kendaraan" ucap Paimin tanpa belas kasih.
"Hahahahaha... Kau benar! Setiap saat aku mau makan, aku akan menumbalkan orang yang lewat jalan ini" ucap sang siluman...
Sementara kini Maul membawa Ari ke hadapan Kyai Nawawi.
"Jadi kau mengikuti Ahmad?' tanya sang kyai.
" Benar! Berkat Dirinyalah, aku mengenal islam dan Gusti Allah" jawab Maul.
"Syukurlah jika begitu. Dan anak ini akan aku ajarkan ilmu agama" ucap kyai Nawawi.
"Pak kyai, Ari ingin disini saja. Ari takut pulang dan nanti akan di tumbal kan bapak lagi" Ari kini menangis.
"Yasudah, kamu ngaji saja disini" balas sang kyai.
Maul pun pamit kembali untuk melanjutkan menemani Ahmad menuju istana siluman babi itu.
....
Syahrul begitu sengsara, ia selalu bekerja tanpa di berikan makan yang layak oleh siluman itu. Syahrul terdiam dengan raut wajah jijik kala melihat teman satu sel nya memakan kepala anjing yang masih berlumuran darah, lalu ia melihat secawan darah hitam sebagai minumannya.
"Makan!" tawar Marsudi yang dulunya sama melakukan pesugihan babi itu.
"Tidak! Jijik sekali aku" tolak Syahrul.
"Disini tak ada rendang! Makanlah yang ada" ucap Marsudi.
"Aku mau pulang. Ibu maafkan aku, bu. Andai saja aku tidak terperdaya ajakan Yanto, mungkin aku masih bersama ibu. Ya Allah ampuni hamba" tangis Syahrul.
Tiba-tiba dinding istana roboh dan seisinya menjadi bergetar! Atap-atap beterbangan dan seluruh siluman penjaga sel itu memekik kesakitan.
"Hargghhhhhh!!! Siapa yang berkata itu? Hentikan aku panas!" ucap Nyai Kamiri sembari menutupi kedua telinganya.
"Dayang, cari orang yang membuat kegaduhan di istana ku" perintah Nyai Kamiri pada Rara Wulan sang dayang.
"Sendiko dawuh Junjunan agung" ucap sang dayang lalu bergegas menuju ruang penjara.
"Seno Arjapati, mana begundal yang sudah membuat kegaduhan di istana?" tanya Rara Wulan pada penjaga penjara.
"Ini dia biang keroknya, Nyai!" jawab Seno Arjapati.
"Kau lagi! Ikat dia pakai rantai besi. Cambuk dia dengan cambuk kalasutra lalu bawa kehadapan junjunan kita" perintah sang dayang.
"Dawuh Nyai" Seno Arjapati menuruti ucapan dayang itu.
Gregggkkkk!!!
Gregggkkkk!!!
Suara rantai yang terkunci, membelit tubuh Syahrul.
"Lepaskan aku, Anj*ng" teriak Syahrul.
"Lantam sekali mulut busuk mu manusia. Kami bukan anjing tapi kami babi" timpal Seno Arjapati.
"Hei siluman, di dunia manusia kau di buat babi guling, babi rica-rica, babi balado. Kulit kalian di jadikan kerupuk. Usus kalian di jadikan sosis. Lemak kalian di jadikan minyak dan bulu-bulu jelek kalian di jadikan kuas untuk olesan cat dinding" ucap Syahrul.
Hal itu membuat Seno Arjapati bergidik ngeri. Ia tak mau membayangkan jika ia menjadi hewan seutuhnya, maka ia akan di perlakukan sedemikian keji oleh Manusia.
"Dan sekarang kau disini, maka kau lah yang akan kami siksa.. Hahaha" Seno Arjapati tertawa menggelegar.
Kini Syahrul sudah di bawa ke hadapan Nyai Kamiri.
"Dawuh gusti mulia ratu, ini bedebah yang membuat kegaduhan di istana kita" ucap Seno Arjapati sembari merengkuhkan tubuhnya tanda hormat.
"Kau lagi, Syahrul! Grrrrghhhhhhh dasar manusia laknat!" ucap Nyai Kamiri.
"Kau yang laknat! Lepaskan aku jelek! Aku kira kau putri yang cantik, ternyata kau buruk rupa. aku menyesal sudah ***-*** denganmu" ucap Syahrul yang tidak tahu akan memancing amarah Nyai Kamiri.
"Si alan kau bedebah. Seno Arjapati, cambuk manusia ini. Hujani dia dengan siksaan" ucap Nyai Kamiri.
"Dawuh yang mulia ratu" ucapnya.
Kini Syahrul lagi-lagi di siksa. Hujaman cambuk kala sutra membuat kulitnya seakan tersayat-sayat.
Syahrul hanya memekik dan menjerit meminta ampun.
"Simpan kesombonganmu manusia" ucap Seno Arjapati.
"Dasar jahanam" jerit Syahrul yang merasakan kulit tubuhnya seakan rontok.
"Dan kau akan kekal di dalam jahanam bersama kami.. Hahahaa" Seno Arjapati tertawa puas.
Kini Syahrul kembali di jebloskan kedalam penjara.
Sementara di pesantren, Ari sang bocah yang tidak jadi di tumbal kan, kini sedang serius mengaji. Ia senang karena bisa selamat dan kembali ke dunia manusia berkat pertolongan Ahmad dan Maul.
"Ari, kamu senang disini?" tanya Nyai Fatimah.
"Senang, Nyai. Ari tidak mau pulang, ari takut pada bapak. Tapi Ari juga khawatir pada ibu" Ari berkata dengan nada sedih.
"Bagaimana kalau besok kita menemui ibumu tanpa sepengetahuan bapakmu, Ari mau?" tanya Nyai Fatimah.
"Ari mau, Nyai" balas Ari.
..
Besoknya kyai Nawawi dan Nyai Fatimah berangkat ke lokasi kedai milik Paimin. Walau harus menempuh jarak selama tiga jam, tetapi tak mengurangi niat mulia sepasang suami istri ini untuk mempertemukan Ari dengan sang ibu.
Sementara di kedai milik Paimin, sang istri selalu murung karena hatinya masih berduka. Nisah hanya menangis sembari memeluk robot-robotan milik Ari. Anak yang telah dinantikan selama delapan tahun itu kini sudah dipanggil yang maha kuasa dengan cara tidak wajar.
"Sudah toh bu, ojo nangis ae!" ucap Paimin.
"Aku hanya belum ikhlas dengan kepergian anak kita. Tapi aku heran, kenapa bapak tidak ada sedih-sedihnya" balas Nisah sembari mendelik tak suka pada sang suami.
"Bapak sedih kok bu. Kata siapa bapak gak sedih. Pria itu pandai menutupi kesedihannya" sangakal Paimin.
Nisah diam, hanya air mata yang meleleh dari ujung netranya.
Hati seorang ibu mana yang sanggup di tinggalkan oleh anaknya.
"Wis toh bu. Bapak punya hadiah untuk ibu" Paimin mencoba mengalihkan kesedihan sang istri.
Ia kemudian merogoh sesuatu dari dalam saku celananya.
"Kejutan!!! Untuk istriku" Paimin memberikan sebuah kalung emas yang besar pada sang istri.
Entah kenapa hatinya malah semakin sedih melihat perhiasan itu.
"Lah kok malah cemberut gitu. Piye toh bu. Wis eman-eman bapak belikan untuk ibu" Paimin tampak kecewa pada sikap sang istri.
"Pake saja sama bapak" Nisah lalu pergi kedepan kedai baksonya.
Kini mobil kyai Nawawi sudah sampai di halaman kedai milik orang tuanya Ari.
"Mang Ujang, parkirkan mobilnya di ujung kedai itu. Sedikit jauh tak apa" perintah kyai pada supir pribadinya.
"Mangga pak Kyai" Mang Ujang pun langsung memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari kedai itu.
Kyai Nawawi melihat di depan kedai itu ada satu siluman ular berdiri dengan tatapan bengis. Kyai Nawawi paham bahwa siluman ular itu menjaga kedai milik orang tua Ari sekaligus eksekutor pencari tumbal.
"Astagfirullah.. Ya Allah kenapa manusia bisa tertipu daya oleh setan. Pantas Ari di tumbal kan, inilah pekerjaan orang tuanya" gumam Kyai Nawawi.
Kyai Nawawi juga melihat banyak nya ular kecil di dalam maupun di luar kedai itu. Dan jangan lupakan Paimin yang tubuhnya di lilit ular sebagai tanda bukti bahwa dirinya telah bersekutu dan sebagai ikatan antara dirinya dan bangsa siluman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Safitri Agus
🤭😅😅
2025-03-05
0
Santi Rizal
serem banget... nauzubillahimjalik
2025-01-21
0
Zuhril Witanto
lanjut
2024-09-07
0