Kini Syahrul berjalan seorang diri di hutan dengan membawa jubah hitam pemberian dari Nyai Kamiri.
Syahrul segera membaca mantra sesuai anjuran siluman babi tersebut sembari memakai mantel hitam.
"Sima aing, sima bagong. Crat cret **** kamana wae. Rubah wajah rubah wujud.. Wujudddd" ucapnya.
Sedetik kemudian, ia berbah menjadi seekor babi.
"Grokkkk, grokkkk, grokkkk.. Hahahha berhasil Aku kaya" ucap Syahrul.
Ia pun mencoba berputar-putar walau gerakannya masih asal karena Syahrul merupakan babi ngepet pemula.
Ia pun merubah kembali wujudnya sebagai manusia biasa. Ia ingat pesan Nyai Kamiri bahwa selama dia bertugas, tidak perlu ada yang menjaga lilin, dirinya cukup mengibaskan hidung nya sebanyak tiga kali. Cukup mudah bukan?
"Maesaroh, abang datang! Abang akan kaya dan melamar Mae" ucapnya bangga.
Lalu dirinya ingat kembali perkataan Nyai Kamiri bahwa dirinya bebas menikahi wanita manapun asal di malam jum'at ia harus bercinta dengannya.
"Siapkan kamar khusus untuk kita bercinta! Aku akan datang pada malam jum'at kliwon. Puaskan aku Kang Mas, maka kekayaanmu dan jalan menuju itu akan semakin mudah" ucap Nyai Kamiri.
Kini, Syahrul berjalan menuju pemukiman penduduk.
Ketika ia melewati jembatan merah, ia berpapasan dengan seorang pria tua memakai jubah putih.
"Kau akan menyesal, anak muda!" ucapnya.
"Siapa kau?" tanya Syahrul.
"Kau akan menjadi budak siluman. Jiwa dan ragamu sudah menyatu dan bahkan kematian pun tidak akan memisahkan ikatan hina kalian" ucap pria misterius itu.
"Halah, kau banyak bacot! Minggir kau" Syahrul mendorong tubuh kakak tua itu.
"Bertobatlah sebelum langkah mu terlalu jauh" ucapnya kembali.
"Simpan saja omonganmu untuk dirimu sendiri, dasar kakek tua menyebalkan" ucapnya lalu pergi meninggalkan kakek tua itu.
Sedetik kemudian, kakek tua itu menghilang.
Ketika ia telah sampai di ujung jalan, ia mendengar samar-samar teriakan warga yang membawa kentongan.
"Babi ngepet! Ayo kita kejar" ucap segerombolan warga.
"Hah, babi ngepet? Apa mungkin itu si Yanto yang lagi bertugas? Duh gimana kalau dia terkepung.
" Tadi gue sempat sambit kakinya pakai parang! Tapi dasar babi siluman, licin banget" ucap Toyib
"Gue juga sempat lempar perutnya pakai batu, tap lolos juga tuh kampret" balas Ghani kesal.
Lalu Syahrul mendengar rintihan di balik semak-semak. Seperti orang kesakitan. Ia pun langsung berjalan ke arah semak-semak itu. Betapa terkejutnya kala melihat Yanto sedang meringis dengan kaki yang penuh darah.
"Yanto!" pekik Syahrul.
"Stttttt!! Diam, nanti warga tahu. Rul, gue apes malam ini" ringisnya.
"Bantu gue pulang!" ucap Yanto.
"Terus kalau warga curiga keadaan loe, gimana?" tanya Syahrul.
"Loe bilang saja gue habis ketambrak mobil" jawab Yanto.
Syahrul memapah tubuh Yanto yang pincang. Hal itu di ketahui oleh Warga.
"Si Yanto kenapa tuh?". Tanya Pak RT Jauhari.
" Yanto kecelakaan Pak RT" jawab Syahrul.
...****************...
Sementara di pesantren, Ahmad merasakan perasaan yang sungguh tidak mengenakan. Ia teringat dengan kakaknya Syahrul. Sang kakak yang punya perangai jelek dan pemalas itu senang sekali membuat sang ibu kesal.
"Ada apa dengan diriku ini? Kenapa akhir-akhir ini aku jadi memikirkan Bang Syahrul? Ada apa sebenarnya?" Ahmad tertegun di pojok mushola.
Lagi-lagi, ia mendengar suara tanpa wujud itu.
"Santri yang gendut menginjak kakiku sewaktu selesai solat! Untung ia tidak melihatku" ucap suara itu.
"Tidak ada yang bisa melihat kita disini kecuali Kyai Nawawi" balas suara yang satunya lagi.
Mereka sebenarnya jin muslim penjaga masjid pesantren itu. Namanya Gobi dan Gaol.
"Hallo, siapa di sana?" tanya Ahmad.
Kedua jin itu melihat ke arah Ahmad.
"Apa dia melihat kita?" tanya Gobi.
"Sepertinya tidak!" jawab Gaol.
"Aku bisa mendengar kalian wahai makhluk Allah. Tapi aku tidak bisa melihat wujud kalian" ucap Ahmad.
Kedua jin itu langsung menghampiri Ahmad.
"Benarkah kau bisa mendengar suara kami?" tanya Gaol.
"Insyaallah! Seperti apa wujud kalian? Dan kenapa kalian berada di sini?" tanya Ahmad.
"Jin islam tidak boleh berbohong!" tegas Ahmad.
Ia yakin karena jin kafir tidak akan bisa masuk kedalam masjid.
"Wujud ku seperti kerbau. Bertanduk dan badanku seperti manusia" jawab Jin yang bernama Gobi.
"Wujudku seperti rubah" ucap jin yang bernama Gaol.
"Kami disini sudah tiga ratus tahun disini. Jauh sebelum pesantren dan masjid ini ada. Kami masuk islam di bimbing oleh kyai Nawawi" ucap Gobi.
"Baiklah jika begitu. Aku pamit" Ahmad pamit meninggalkan kedua jin itu.
Ketika dirinya melewati kediaman kyai Nawawi, sang istri memanggil Ahmad.
"Ahmad!" ucap Nyai Fatimah.
"Muhun, nyai! Ada apa?" Ahmad bertanya sembari menundukkan kepalanya pada wanita bule itu.
"Pakailah sarung dan baju ini untukmu! Aku lihat, bajumu sudah lusuh" Nyai Fatimah memberikan dua buah sarung baru dan dua buah baju koko.
"Tak usah nyai, saya masih banyak baju" ucap Arman malu.
"Terimalah! Rejeki tidak boleh di tolak" ucap Nyai Fatimah.
Ahmad pun menerima baju itu.
"Terimakasih, nyai" Armand pun langsung pamitan dan berjalan menuju kobongnya.
Sore hari setelah sholat ashar, semua santri berhamburan karena ada kecelakaan di depan pesantren.
"Badru, ini ada apa sebenarnya?" tanya Ahmad pada temannya.
"Ada yang kecelakaan kang! Katanya wanita sedang hamil besar. Kecelakaan tunggal" jawab Badru.
"Ayo kita bantu" Ahmad segera berlari menuju TKP.
Terlihat di sana wanita itu sudah bersimbah darah. Ia sedang hamil delapan bulan. Ia sebelumnya habis periksa kehamilan USG, tapi naa, tiba-tiba rangka motornya patah sehingga motor itu seperti terbelah dan ia tidak seimbang lalu terjatuh.
"Sudah tidak ada" ucap Ahmad memeriksa nafas wanita itu.
"Segera hubungi keluarganya!" perintah Nyai Fatimah yang baru datang.
Malam harinya, Ahmad berkeliling ronda di area pesantren. Hawa dingin mencekam ia rasakan tidak seperti biasanya. Dengan tasbih yang selalu bertengger di tangan, Ahmad selalu berdzikir dan bersholawat Nabi.
Lalu tiba-tiba, di belakang Ahmad ada yang memanggilnya dengan nada lirih.
"Kamu!" ucap suara wanita itu.
Perasaan ia sudah tidak enak. Tetapi jiwa beraninya bangkit, ia langsung menengok suara itu.
"Mbak?" Ahmad sangat terkejut ketika melihat wanita yang kecelakaan tadi berdiri di belakangnya.
"Kamu bisa melihatku kan? Tolong bantu aku" ucapnya lirih.
Wajah pucat, daster putih, perut buncit dan jangan lupakan kakinya melayang sungguh membuat Ahmad lemas.
Sosok itu tahu jika pemuda di hadapannya merasa ketakutan karena baru pertama kali melihat wujud makhluk itu.
"Tolong aku. Jangan takut. Kematian memang sudah jadi jalan takdirku. Tetapi anak dalam rahimku masih hidup. Ia berhak lahir ke dunia walau aku sudah meninggal. Tolong beritahukan keluargaku sebelum mereka memakamkan jasadku. Tolong" ucap sosok itu sembari menangkupkan kedua tangan pucat nya.
Ahmad harus bagaimana? Bingung tentu saja melanda jiwanya. Tetapi melihat sosok perempuan itu meminta tolong dan menyebutkan bayi, membuat ia merasa iba.
"Baiklah, aku akan menolongmu! Tapi sesudah ini, mbak harus ikhlas dan kembali pada Allah" perintah Ahmad.
"Aku akan tenang jika bayi ini sudah lahir. Ayo ikut ke rumah ku" sosok itu melayang di ikuti Ahmad.
Rumah Duka.
Seorang wanita paruh baya sedang menangis.memeluk jasad kaku sang putri yang tengah hamil besar itu.
Sungguh takdir kematian itu nyata, tidak memandang manusia dalam kondisi apapun.
"Nisa, kenapa kamu meninggalkan ibu nak?" tanya wanita paruh baya itu.
Sementara sang suami masih tak sadarkan diri karena menerima berita duka itu.
"Dimana rumahnya, mbak?" tanya Ahmad pada sosok arwah yang bernama Nisa itu.
"Di sana" jawabnya.
Ahmad pun langsung masuk ke rumah Nisa.
"Assalamualaikum" sapa Ahmad.
"Waalaikumsalam!" ucap wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu, Nisa yang bernama Ibu Asri.
"Bu, saya mohon jangan dulu di makamkan karena anak dalam kandungan mbak Nisa masih hidup" ucap Ahmad spontan.
Semua orang terperanjat dengan mata melotot dan mulut ternganga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Safitri Agus
qorin nya ini
2025-03-04
0
Irfan Cha'oelz
Harrrr meni alus euy mantra na, crat cret sagala🤦🏿♂️🤭🤭
2024-08-28
0
eka siti N
mksdnya Ahmad ya
2024-07-24
2