Siang itu para santri sedang memanen buah durian dan alpukat di kebun pesantren. Buah-buah itu kyai jual ke pengepul dan hasilnya di bagi dua dengan santri untuk keperluan mereka.
"Semua totalnya dua puluh juta, tuan guru" ucap Ahmad.
"Ambil sepuluh juta untuk keperluan kalian" balas Kyai Nawawi.
Para santri pun menghituang uang itu, lalu di berikan separuhnya pada kyai Nawawi.
"Sisa alpukat yang di keranjang itu, jadikan sabun mandi. Aku sudah berikan resepnya pada Anton" ucap Kyai Nawawi.
"Saya sudah paham tuan guru. Nanti malam akan di buat sabun mandi" balas Anton.
"Kalian boleh kembali ke kobong" perintah Kyai Nawawi.
Para santri pun kembali ke kobongnya.
"Bang, besok kita akan panen di sawah sebrang jalan. Apa abang mau ikut?" tanya Ahmad pada Syahrul.
"Abang selalu ingin ikut apapun kegiatan di pesantren ini" jawab Syahrul sembari melipat tumpukan sarung yang tadi dirinya jemur.
Anton pun memanggil santri lainnya untuk membantunya mengupas buah alpukat yang akan di jadikan sabun.
"Abang kira disini hanya mengaji!" ucap Syahrul.
"Tidak bang! Disini di ajarkan apa saja untuk bekal nanti di masyarakat. Setiap tahunnya santri bertambah banyak, dan rata-rata tidak ingin pulang jika sudah betah, contohnya aku. Disini kita bertani, belajar bahasa arab, ilmu batin, ilmu bela diri, belajar bahasa spanyol, belajar membuat sabun, beternak, dan apapun yang menyangkut kehidupan bermasyarakat. Kyai Nawawi sangat berjasa besar bagi hidup ku, makannya sejauh apapun aku melangkah nantinya, kyai Nawawi dan pesantren ini tempat ku kembali" ucap Ahmad.
"Dan abang pun merasakan jika abang tak ingin pulang ke rumah, abang akan mengabdi disini" balas Syahrul.
Esok paginya semua santri pergi ke sawah untuk memanen padi. Ada juga yang membawa traktor.
"Abang bagian bawa traktor saja" ucap Syahrul.
"Silahkan bang! Abang istirahat dulu saja di saung, kalau tangkai padinya sudah di arit semua, baru abang langsung jalankan traktornya" balas Anton.
Syahrul diam di saung membantu santri lain membuat nasi liwet. Sementara Ahmad dan santri lainnya sedang memanen padi.
"Jeraminya langsung kita ikat saja. Sapi belum kita kasih pakan" ucap Ahmad.
"Siap kang!! Nanti saya yang antar ke peternakan" balas Wali.
Mereka pun terus memanen padi itu, sampai Ahmad menginjak sesuatu di dalam lumpur sawah.
Ahmad pun meraih benda itu, yang ternyata sebongkah batu tapi tampilannya aneh. Batu itu berwarna biru kehijauan sebesar kepala manusia.
Ahmad pun memindahkan batu itu ke pematang sawah.
"Batu apa itu kang?" tanya Ali.
"Entahlah, paling juga batu kali biasa" jawab Ahmad yang langsung bekerja kembali.
Tidak ada kecurigaan apapun siang itu. pekerjaan berjalan dengan lancar sampai padi yang sudah kering mereka masukan kedalam karung.
Malamnya mereka mengadakan kajian tentang amalan sebelum tidur yang di sampaikan oleh ustadz Samsudin. Ia membantu mengajarkan ilmu agama pada santri kyai Nawawi.
"Jangan tinggalkan wudhu ketika kita mau melakukan apapun, karena itu merupakan pagar agar diri kita senatiasa suci. Termasuk jika mau tidur. Hal itu bisa menjauhkan kalian dari gangguan setan" ucap ustadz Samsudin.
Semua santri menyimak dengan serius, sampai Ahmad merasa dirinya ingin buang air besar.
"Duh kumat lagi nih sakit perutnya. Kenapa sih kalau sedang kajian suka tiba-tiba pengen berak" kesalnya.
Ia pun meminta izin pada ustadz Samsudin.
Ahmad berjalan menuju toilet samping kobong. Sesudah selesai membuang hajat itu, Ahmad keluar lagi. Tetapi ia terperangah ketika melihat banyaknya kuda berbaris di depan toilet itu.
"Kok jadi banyak kuda disini? Perasaan tadi tidak ada. Apa ada yang kabur dari peternakan?" tanyanya dalam hati.
Ahmad pun berjalan menghampiri barisan kuda itu.
"Gagah sekali seperti kuda di kartun Rapunzel yaitu Maximus" ucapnya kagum sembari mengelus surai kuda gagah itu.
"Mungkin nanti yang punya peternakan akan mengambil kuda-kuda ini. Aku tinggal saja" ucap Ahmad sembari memberikan jerami pada sekumpulan kuda itu.
"Makan ya yang banyak, nanti ada yang menjemput kalian" ucap Ahmad lalu dirinya meninggalkan kawanan kuda-kuda itu.
Setelah Ahmad pergi, kawanan kuda itu menjelma menjadi prajurit berbadan tegap.
"Benar itu manusia yang memindahkan pelindung istana?" tanya Pemimpin prajurit itu.
Jelmaan kudanya yang tadi Ahmad elus surai panjangnya.
"Dia mengelus rambutku, dia mengira aku ini kuda sebenarnya" ucapnya.
"Patih, bagaimana cara menyuruhnya kembali memindahkan pelindung kerajaan kita? Hamba takut Raja Arca Bulaeh dari selatan mengetahui nya, cepat atau lambat, pasukan itu akan menyerang istana kita" ucap para prajurit itu dengan wajah ketakutan.
"Aku merasa bahwa manusia itu bisa melihat perwujudan makhluk seperti kita ini, tetapi aku sedikit ragu" ucap patih itu.
"Aku akan coba bicara dengan dia" ucapnya lagi..
Di dalam masjid, Ahmad dan semua santri pun akhirnya selesai mengikuti kajian. Mereka bersiap-siap untuk kembali lagi ke kobongnya.
"Ronda keliling bagian Kang Ali dan Kang Asnawi" ucap Rosid.
"Duh sepertinya kaki ku masih sakit. Gantiin aja sama yang lain, nanti bagiannya aku yang tugas" ucap Ali yang tadi terkilir pas memanggul karung padi.
"Biar aku saja" ucap Ahmad.
Malam ini, Ahmad dan Asnawi lah yang ronda keliling kobong. Dengan membawa satu kantung kresek kacang sangrai, mereka saling lempar candaan sembari menyusuri setiap kobong.
"Asem nih mulut" ucap Asnawi.
"Duh rokok ku habis. Beli dulu lah" balas Ahmad.
"Yasudah aku beli dulu ke depan. Warung Madura masih buka kok" ucap Asnawi.
"Warung kacong Mbem buka terus, nanti hari kiamat tutupnya" kelakar Ahmad.
Asnawi pun berjalan menuju jalan raya untuk membeli Rokok. Sementara Ahmad Melanjutkan berjalan terus.
Ahmad serasa ada yang mengikuti dari belakang, Ahmad pun memberanikan diri untuk menengoknya.
Ahmad heran, pasalnya kuda yang tadi berada di depan toilet, mengikutinya sekarang.
"Kok kuda yang tadi mengikuti ku? Milik siapa sih ini!" tanya nya.
Ahmad pun mengelus perut, kepala dan surai kuda itu.
"Hei anak manusia!" ucap Kuda itu membuat Ahmad terlonjak kaget.
"Kuda bisa ngomong!" gumamnya.
Kuda itu pun seketika berubah menjelma sebagai seorang patih yang tampan dan berbadan kekar.
Ahmad terdiam, kakinya merasa sulit digerakkan. Ia pun mencoba mengatur nafas sembari membaca istighfar.
"Siapa kamu?" tanya Ahmad.
"Benar dugaanku, dia bisa melihat ku" gumam patih itu.
"Kau yang memindahkan gerbang penjaga istanaku kan?" tanya Patih itu.
"Gerbang yang mana? Aku tidak pernah memindahkan apapun!" jawab Ahmad.
"Batu yang ada di sawah itu" ucap sang patih.
"Oh batu itu" Ahmad baru ingat.
"Iya! Kau harus memindahkannya lagi ke semula. Itu batu penjaga gerbang istana. Batu itu itu pelindung istana dari musuh. Kau harus bertanggung jawab memindahkannya kembali" ucap sang patih.
"Aku tidak tahu jika itu batu milik kalian. Besok aku akan memindahkannya" ucap Ahmad.
"Tidak bisa! Kau harus memindahkan batu itu sekarang" balas sang patih.
Ahmad tercengang, kemudian ia meraih ponselnya dan melihat bahwa malam ini sudah jam sebelas.
Dari kejauhan Ahmad melihat Asnawi berjalan ke arahnya.
"Siapa dia kang?" tunjuk Asnawi.
"Mereka bisa melihatku? Tempat apa ini sebenarnya?" gumam sang patih heran.
"Penunggu sawah! Dia minta batu yang tadi ku taruh di pematang sawah untuk di kembalikan ke tempatnya" ucap Ahmad.
"Yasudah ayo kita pindahkan sekarang" ajak Asnawi.
"Baiklah kuda, kami berdua akan memindahkan batu sekarang" ucap Ahmad.
Ahmad dan Asnawi pun berjalan ke arah sawah untuk memindahkan batu itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Yulay Yuli
ade saya mancing thour, dapet ikan lele, dikepalanya ada batu merah kaya batu cincin. diangkat sama ade saya tapi ikan lelenya nangis,pas diusap kepalanya batunya lepas. lelenya juga dilepas lagi
2024-11-15
0