"Bisa pesan satu mangkuk bakso?" tanya Nyai Fatimah pada Paimin.
"Bisa! Tapi saya makannya di mobil ujung sana" tunjuk Nyai Fatimah.
"Oalah, maaf ya buk, saya sedang sibuk, nanti istri saya yang mengantarkan ke mobil" ucap Paiman.
Senangnya Nyai Fatimah, rencana nya akan berjalan lancar.
"Baik pak, saya tunggu!" ucap Nyai Fatimah alalu berjalan menuju mobilnya.
"Rencana berjalan lancar, Abi!" ucapnya.
"Siap, umi! Dan untuk kamu, Ari, tolong jangan membuat suara yang berisik ya, kami takut bapak kamu curiga" ucap kyai Nawawi.
Kini, Nisah mengatarkan satu mangkuk bakso ke mobil kyai Nawawi.
Nisah mengetuk pintu itu, lalu Nyai Fatimah membukanya.
"Ini baksonya, bu" ucap Nisah.
"Ibu, masuk mobil saya sebentar! Ada hal yang ingin kami bicarakan. Ibu jangan takut, ayo!" ajak Nyai Fatimah.
Awalnya, Nisah takut-takut, tetapi ia akhirnya masuk saja kedalam mobil itu.
"Ibu!" suara seseorang yang selama ini Nisah Rindukan.
Nisah membeku, kala melihat Ari tersenyum ke arahnya.
Nisah tiba-tiba menampar wajah nya sendiri, berharap ini mimpi.
"Ibu ini Ari! Ari masih hidup, bu!" ucap Ari sembari menangis.
"Ari anak ibu? Ini benar kamu, nak! Ya Allah, Ya Allah, anakku.. Hihkhikhik" Nisah langsung membawa sang anak ke pelukannya.
"Ari belum meninggal, bu. Ari selamat dari kematian yang di sebabkan oleh peliharaan bapak" ucap Ari.
"Peliharaan? Maksud kamu apa, nak?" tanya Nisah semakin bingung.
Kyai Nawawi pun menceritakan semua yang di alami Ari pada Nisah. Seketika Nisah langsung menangis tak menyangka karena sang suami rela menumbalkan sang anak demi persekutuannya dengan siluman ular yang laknat.
Kyai Nawawi pun menceritakan bahwa mungkin sang suami mencari tumbal lain di sekitar kedai untuk menggantikan Ari.
Nisah ingat, seminggu yang lalau, ada seorang pengendara motor anak sekolah yang meninggal tertabrak oleh bus pariwisata.
"Apa itu tumbal yang di lakukan peliharaan suami saya?" tanya Nisah.
"Mungkin bisa jadi, bu" jawab kyai Nawawi.
"Pak kyai, bawa saya pergi dari sini. Saya ingin bersama Ari saja. Saya tidak mau bersama seorang pria yang telah bersekutu dengan siluman. Tolong bu, saya ikut pergi' Nisah memohon pada kyai Nawawi dan Nyai Fatimah.
" Tapi bagaimana dengan suami ibu?" tanya Nyai Fatimah.
"Saya akan meninggalkannya, bu. Saya tak apa hidup sederhana tapi selalu dekat dengan Allah" jawab Nisah.
"Yasudah ayo, tetapi saya ingin ibu tahu, jika peliharaan suami ibu mengawasi kita. Ibu ingin tahu wujudnya?" tanya kyai Nawawi.
"Bagaimana saya bisa mengetahui hal itu, pak kyai?" tanya Nisah.
"Pejamkan mata ibu, nanti untuk yang terakhir kalinya, ibu akan tahu perwujudan siluman yang suami ibu sembah" perintah kyai Nawawi.
Mobil pun di pajukan, kini persis di depan kedai, Nyai Fatimah turun untuk membayar bakso itu dan untuk mengembalikan mangkuk yang isinya sudah di buang oleh Nyai Fatimah di ujung sana.
"Berapa pak?" tanyanya pada Paimin.
"Dua belas ribu saja, bu" jawabnya.
Nyai Fatimah pun memberikan uang itu pada Paimin, tetapi Paimin heran kenapa sang istri tidak balik lagi ke kedai. Tapi Paimin beranggapan kalau Nisah pulang ke rumah mereka.
Mata Nisah seketika melotot, seperti ingin keluar dari tempatnya, kala melihat besarnya ular yang separuh badannya manusia. Wajah ular itu sangat bengis, memperhatikan setiap orang yang melewati depan kedai Paimin. Lalu Nisah juga melihat tubuh suaminya di belit oleh ular. Tak kuat rasanya melihat kengerian itu, Nisah pun ingin segera di tutup mata batinya.
"Cukup pak kyai. Saya tidak kuat melihatnya" ucap Nisah dengan nada lirih.
Kyai Nawawi pun segera menutup mata batin Nisah kembali.
"Saya tanya sekali lagi, apa benar, ibu ingin ikut bersama kami?" tanya kyai Nawawi memastikan.
"Hati saya sudah bulat, pak kyai. Saya tidak mau hidup bersama pria yang sudah menduakan Allah" jawab Nisah.
"Yasudah jika begitu" ucap kyai Nawawi.
Mobil itu pun pergi meninggalkan kedai Paimin.
Sementara Ahmad dan Maul kini sudah sampai di gerbang istana Nyai Kamiri.
"Apa kita bisa masuk sekarang?" tanya Ahmad.
"Jangan gegabah, Ahmad. Kau lihat penjaganya raksasa menyeramkan. Kita pakai akal" jawab Maul.
Maul melihat hamparan hutan berduri di belakang istana, ia pun mengajak Ahmad untuk pergi lewat hutan itu.
"Naiklah ke punggungku, cepat!" perintah Maul.
Ahmad pun segera menaiki punggung Maul.
Tapi penjaga istana yang berbadan besar dan berwajah babi itu mencium bau manusia.
"Sepertinya ada manusia penyusup!" ucapnya.
Maul menyadari jika para penjaga itu sudah menyadari.
Penjaga istana itu berjalan ke arah hutan berduri, tetapi mereka tidak menemukan apapun kecuali gundukan batu yang sangat besar.
"Hrrerhhh.. Hanya sebuah gundukan batu" ucapnya lalu pergi dari hutan berduri itu.
Mereka tidak sadar bahwa gundukan batu itu adalah Maul yang menyamar.
Maul pun melanjutkan langkahnya menuju pintu belakang istana.
Sepanjang perjalanan, Maul menginjak tulang belulang manusia, ada juga manusia yang sudah tidak berbentuk menggeliat ketika tubuhnya terinjak.
"Maul, apa kamu tahu sudah berapa lama siluman itu hidup?" tanya Ahmad.
"Umur bangsa kami itu lama. Ratusan, bahkan ribuan tahun. Semakin lama usia, semakin tinggi kekuatannya. Aku bisa menyakini bahwa siluman babi ini sudah ribuan tahun, sehingga pengikutnya banyak sekali dan korbannya juga banyak" papar Maul.
"Pantas saja banyak sekali! Maul, lihatlah pintu nya sudah terlihat" ucap Ahmad.
Maul pun terus berjalan menuju pintu belakang itu. Tetapi penjaga pintu belakang menyadari adanya penyusup.
Terompet yang di pegang sang penjaga di bunyikan menandakan ada hal genting.
"Penyusup" teriak salah satu penjaga.
Maul pun langsung meninju tubuh sang penjaga sampai mati.
Kini kedatangan Ahmad dan Maul sudah menjadi kegaduhan di seantero istana.
"Cari penyusup itu!" teriak kepala penjaga.
Sedangkan Maul dan Ahmad kini telah melenggang jauh kedalam istana.
"Pastikan kita segera temukan ruang penjara kakakmu!" ucap Maul.
"Kau kesana, aku kesana!" ucap Ahmad.
Mereka pun berpencar mencari keberadaan ruang tahanan.
Ahmad terus berjalan, ia sengaja tidak membaca doa atau berdzikir karena jika ia melakukannya maka istana itu akan hancur, ia takut tidak bisa bertemu dengan Syahrul.
Maul masuk ke salah satu ruangan. Ita tidak tahu bahwa ruangan itu tempat mandi para dayang-dayang.
"Mataku ternoda!" ucap Maul.
Melihat kedatangan Maul, para dayang yang tidak berbusana itu langsung menjerit-jerit..
"Argghhhh, siapa kau? Dasar pria mesum" jerit para dayang itu.
Maul pun langsung meraih tirai, lalu melilitakan pada semua dayang-dayang itu.
"Diam kau disini anak babi" ucap Maul.
Para dayang itu menjerit-jerit.
Sementara Ahmad ketahuan oleh penjaga istana itu.
"Berhenti kau manusia" gertaknya.
Ahmad sudah terkepung, ia pun segera mengeluarkan ilmu silat yang di pelajari dari pesantren.
Serangan-demi serangan, Ahmad berikan pada prajurit siluman itu, tetapi prajurit itu juga tidak kalah melakukan perlawanan.
Ahmad terkena pukulan tepat di dadanya. Ia langsung jatuh tersungkur sembari memuntahkan darah segar.
"Hahahhaa.. Penyusup kau akan mati!" ucap prajurit itu sembari mengacungkan pedang tepat di leher Ahmad.
"Hanya Allah yang berhak mencabut nyawaku" balas Ahmad dengan pandangan tajam pada prajurit itu.
"Jangan dulu bunuh manusia ini, kita penjara saja, tawan dan siksa di dalam" ucap salah satu prajurit itu.
Ahmad pun di bawa ke ruang bawah tanah yang pengap dan bau. Sepanjang perjalanan, ia menjumpai tangan-tangan pucat penuh luka meronta meminta pertolongan pada Ahmad. Ahmad sampai bergidik ngeri melihat itu semua.
Ahmad pun di jebloskan ke penjara. Ia tidak sendiri di sana. Ada seorang pria yang menelungkupkan wajahnya sampai tidak terlihat.
Orang itu menyadari bahwa dia tidak sendiri sekarang, orang itu mendongakan wajahnya, tetapi seketika dirinya terperanjat karena pria yang baru saja di jebloskan adalah sang adik sendiri.
"Ahmad!" suara itu ternyata Syahrul.
"Abang? Bang aku kemari ingin menjemputmu pulang. Ibu menunggu kepulanganmu" ucap Ahmad.
Syahrul langsung menangis memeluk sang adik.
"Maafin abang, Ahmad! Abang sudah melakukan dosa besar! Hikhikhik" Syahrul menangis.
"Sudah bang, yang penting kita bisa keluar dari sini. Abang harus bertaubat, dan meminta maaf pada ibu" ucap Ahmad.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Santi Rizal
syukurlah ketemu Syahrul... semoga cepat keluar dari sarang 🐷
2025-01-21
0
Zuhril Witanto
Alhamdulillah ketemu
2024-09-07
0
Rumini Parto Sentono
bacanya ikut tegang....
2024-04-19
3