"Siapa kakek ini?" tanya Ahmad sembari menatap tajam pada sosok kakek tua itu.
"Tak perlu tahu kau siapa diriku. Yang jelas aku akan melindungi keturunanku. Hanya saja cucu buyutku memilih jalan tersesat" ucapnya kembali lalu menghilang.
Ahmad tercenung mendengar itu. Ahmad mulai berpikir, apakah kakek itu kakek moyangnya? Akh entahlah.
Demi memastikan apa yang terjadi dengan Syahrul, Ahmad pun membawa jubah hitam itu untuk di bawa ke hadapan kyai Nawawi.
"Kenapa pergi lagi, nak? Belum sehari kamu di rumah" ucap Ibu Sulastri sedih.
"Ibu doa kan Ahmad. Ahmad akan mencari Kak Syahrul. Semoga petunjuk ini menjadi titik terang keberadaannya" ucap Ahmad meminta restu.
"Baiklah, nak. Ibu merestuimu mencari kakakmu. Bawa kembali dia pada ibu" Ibu Sulastri menangis memeluk Ahmad.
"Aku pergi bu. Assalamualaikum" Ahmad berkata sembari mengayunkan langkahnya.
"Bismillah. Ya Allah semoga engkau meridhoi langkahku untuk menemukan kakak ku" ucap Ahmad dalam hatinya.
Kini dirinya sudah berada di pesantren kembali. Ia langsung menemui kyai Nawawi.
"Assalamualaikum tuan guru" sapa Ahmad sembari mencium tangan sang kyai.
Kyai Nawawi langsung menutupi hidungnya kala mencium sesuatu yang ada di dalam tas Ahmad.
"Ahmad, kamu bawa apa didalam tas itu? Bau nya busuk sekali. Cepat keluarkan" pinta kyai Nawawi.
Ahmad pun bingung karena seingat dirinya, ia tidak membawa apapun kecuali jubah hitam yang tadi ada di lemari kamar Syahrul.
"Cepat keluarkan" perintah tegas sang Kyai.
Ahmad pun segera mengeluarkan jubah hitam itu.
Melihat itu, kyai Nawawi langsung beristighfar.
"Astagfirullah, Ahmad dari mana benda itu? Taruh di bawah" Perintahnya.
"Punten, tuan guru. Saya dapat jubah ini ada di kamar kakak saya yang menghilang dua minggu yang lalu. Ketika saya ingin mencobanya, ada sosok kakek tua yang melarang saya. Guna memastikan apa sebenarnya jubah ini, saya bawa kemari" tutur Ahmad.
"Jangan sekali-kali kau mencoba jubah terkutuk ini, Ahmad. Bawa korek, bensin dan garam kemari" perintah Kyai Nawawi.
"Baiklah" Ahmad segera berlari mengambil korek dan bensin beserta garam ke dapur.
Kini Kyai Nawawi sudah menyiram jubah hitam itu. Bersiap akan membakarnya, tetapi tiba-tiba awan asap gelap menyelimuti Ahmad dan kyai Nawawi.
"Berdzikirlah Ahmad, biar ini aku yang urus" ucap sang kyai.
Lalu munculah sosok Nyai Kamiri dengan wajah aslinya yaitu seperti babi.
"Mau apa kau dengan jubah itu, manusia? Jangan campuri urusan kami" ucapnya lantang.
"Jadi kau yamg selama ini menyesatkan manusia, hah? Siluman terkutuk" balas sang kyai.
"Manusia bodoh itu yang meminta padaku" ucap Nyai Kamiri.
"Karena kau yang mengiming-imingi mereka. Aku akan bakar jubah laknat ini" ucap kyai Nawawi.
"Kau akan mati" sentak siluman itu.
"Kau yang akan binasa" balas Kyai Nawawi.
"Ahmad, bakar" perintah kyai Nawawi.
Ahmad pun membakar jubah itu.
"Kau akan merasakan akibatnya" Nyai Kamiri menyerang kyai Nawawi, tetapi kyai Nawawi langsung menghalau serangan itu.
Kyai Nawawi dan Ahmad terus membaca ayat-ayat suci, sampai Nyai Kamiri merasa terbakar.
"Panasssssss" teriak Siluman itu.
Kini badannya mulai mengepulkan asap. Lalu dirinya menghilang seiring hangus terbakarnya jubah babi ngepet itu.
"Alhamdulillah" ucap kyai Nawawi dan Ahmad.
"Punten tuan guru, apa hubungannya Kak Syahrul dengan siluman tadi?" tanya Ahmad.
"Ternyata kakak mu telah bersekutu dengan siluman babi alias kakakmu melakukan pesugihan babi ngepet" jawab kyai Nawawi.
"Astagfirullah, kak kenapa kau lakukan hal nista itu. Bagaimana jika ibu tahu yang sebenarnya" ucap Ahmad sedih.
"Dan aku menyakini bahwa menghilangnya kakakmu ada hubungannya dengan siluman itu" ucap kyai Nawawi.
"Ikut aku" ucapnya kembali.
Kini kyai Nawawi mengajak Ahmad ke ruangan yang terdapat berbagai kitab lebih tepatnya ruang baca sang kyai.
"Lihat cermin itu. Baca doa sebelum kau melihat tabir kakak mu" perintah sang kyai.
Ahmad mulai merapal kan doa lalu matanya melihat kearah cermin.
Kyai Nawawi mulai berdoa dan tampaklah sesuatu yang sangat mengerikan di lihat Ahmad.
Ia melihat sebuah istana yang berbahan seperti batu. Disanalah ribuan orang di siksa salah satunya Syahrul.
"Kakak" lirih Ahmad.
"Disanalah dia sekarang! Sampai kapanpun tidak akan pulang. Jasad dan rohnya tertahan ditempat itu. Kakakmu telah melakukan ingkar pada siluman itu. Hanya hari kiamat lah yang akan membuat kakakmu keluar dari tawanan itu, tetapi siksa Allah siap menantinya" ucap kyai Nawawi menjelaskan.
"Apakah kak Syahrul bisa pulang, tuan guru? Saya ingin membawa ia pulang karena itu amanah dari ibu saya" tanya Ahmad.
"Bisa! Tapi tentu kau harus menghadapi semua rintangannya. Bawa pulang kakakmu dan ajaklah untuk bertobat" jawab kyai Nawawi.
"Bantu saya, tuan guru. Saya mohon" ucap Ahmad sembari menangkupkan kedua tangannya.
"Baiklah, insaallah aku akan membantumu" kemudian kyai Nawawi memberikan tiga buah kantung yang masing-masing isinya berupa Garam, beras ketan dan secarik kain berwarna putih.
"Itu untuk bekalmu. Garam itu akan membantumu melindungi dari bangsa jin yang akan menyerang mu. Beras itu akan membantumu untuk mengumpulkan pasukan jin yang sedang kelaparan dan kain itu bisa kau gunakan untuk menjadi kendaraan saat membawa kakakmu melarikan diri dari istana itu. Tak banyak waktu Ahmad. Sekarang kau pergilah. Pejamkan matamu sembari membaca syahadat dan istighfar. Dan ini tasbihku, bawalah sebagai tanda kau muridku. Perlihatkanlah jika kau melewati sebuah Kerajaan jin yang rajanya memiliki tangan sembilan dan bermata sipit"
Sedetik kemudian Ahmad telah berada di sebuah perkampungan yang aneh menurutnya. Ia memandang jam tangan yang ia kenakan, hal aneh membuat Ahmad terbelalak karena jarum jam di tangannya berputar lebih cepat.
Ahmad pun melihat penduduk kampung itu hanya diam meski perkampungan ini banyak sekali rumah penduduk.
Ahmad pun tak bisa merasakan sinar matahari karena suasana kampung itu mendung.
"Ya Allah aku dimana?" tanyanya dalam hati.
Kemudian ia samar-samar mendengar suara adzan dari sebuah surau kecil. Ahmad pun mengikuti arah suara itu.
Ketika ia sudah berada di depan surau, ia terkejut melihat orang-orang tidak memakai alas kaki dan mempunyai teling yang panjang.
Bruggghhh!! Tanpa sengaja seseorang menabrak punggung Ahmad.
"Maaf" ucapnya.
Ahmad menoleh kearah sumber suara. Ia melihat orang itu sembari mengerutkan keningnya karena pria itu berwajah sedikit lancip dengan leher sedikit panjang dan tidak mempunyai garis di bawah hidungnya.
"Kenapa kau melihat ku begitu?" tanya orang itu.
"Maaf!" lirih Ahmad.
Pria itu kemudian melihat Ahmad dari atas kepala sampai ujung kaki. Ia terperangah ketika mengetahui pria di hadapannya seorang manusia.
"Kau manusia?" tanyanya.
Ahmad hanya mengangguk.
Pria itu kemudian berlari memberitahukan kepada semua orang yang ada di surau itu.
"Hei, lihat disini ada manusia" teriaknya.
Semua orang berbondong-bondong melihat Ahmad dan mereka mulai mengelilinginya.
"Kau benar manusia?" tanya salah satu pria berhidung kerbau.
"Benar. Aku manusia. Lantas kalian siapa?" tanya Ahmad.
"Kami bangsa jin dan sekarang kau sedang ada di alam kami. Kenapa kau berada disini, anak muda?" tanya jin yang berwajah kakek-kakek.
"Aku datang ke mari untuk mencari kakak ku" jawab Ahmad.
"Memang kakak mu dimana?" tanya jin itu lagi.
"Ia tertawan di kerajaan siluman babi. Karena ia melakukan pesugihan babi ngepet dan ada syarat yang kakak ku langgar maka siluman itu menawannya. Apa kalian bisa tunjukan dimana tempat itu?" tanya Ahmad.
"Manusia bodoh, kenapa tergoda dengan hal yang sangat keji. Kalian pikir para manusia, sebangsa siluman dapat harta dari mana? Saudaramu sudah terperdaya hasutan jahanam" ucap jin berwajah kakek tua itu.
"Kakek benar sekali" ucap Ahmad sedih.
"Sekarang sudah waktunya sholat dzuhur. Maukah kau menjadi imam sholat kami. Kami sangat tersanjung jika seorang manusia mau mengimami sholat kami" pinta jin berbadan besar dengan penuh bulu.
"Baiklah aku mau. Dimana tempat berwudhu?" tanya Ahmad.
"Mari aku antar" ucap jin itu.
Ahmad mengambil wudhu di sebuah pancuran air bertalang bambu. Hawa sejuk langsung terasa bahkan airnya sedingin air es.
"Kehidupan disini seperti di alam manusia" ucapnya pada jin berbadan besar itu.
"Benar sekali kau anak muda. Kami juga disini bekerja, sekolah dan menikah, sama seperti manusia bahkan untuk kaum wanitanya melahirkan juga" jawab jin itu.
"Apa abang punya istri dan anak?" tanya Ahmad pada Jin itu.
"Aku punya istri dan anakku berjumlah seratus lima puluh" jawabnya.
Hal itu membuat Ahmad melongo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Siti Naimah
yaah namanya alam jin beda dengan manusia.punya anak sampai seratus limapuluh.umur tigaratus tahun masih anak2...masih unyu-unyu
2025-01-05
0
Teteh Kinkin
bangsa jin terlilit hutang kayak manusia juga nggak ya hehehe
2025-01-20
0
gedang Sewu
karena di sana belum di adakan KB..😂😂
2025-01-28
0