Perjalanan masih sangat jauh, Ahmad sudah tidak kuat lagi berjalan. Arah utara ujungnya pun belum terlihat.
"Ahmad, naiklah ke pundakku" ucap Maul.
"Ah tak usah. Aku takut merepotkan mu" jawab Ahmad tak enak hati.
"Cepatlah naik. kau tidak akan memberatkan ku" balas Maul.
Ahmad pun naik ke punggung Maul. Ahmad bersyukur dengan ikutnya Maul dengannya, bisa membantu nya seperti sekarang.
Mata Ahmad melihat ada siluman ular membawa semacam kereta kuda. Ahmad melihat kreta kuda itu, alangkah terkejutnya kala melihat siluman itu membawa anak kecil.
"Tumbal kali ini dagingnya kecil. Baginda raja Barka Anom pasti tidak akan terlalu kenyang" ucap salah satu pengawal yang menggerakan kereta kuda itu.
"Tolong-tolong, jangan bawa aku. Mama tolong aku" anak kecil itu terus menangis.
"Ma'ul berhenti! Kita tolong anak itu" Ahmad tidak tega melihat anak kecil di bawa oleh para siluman ular.
"Sebaiknya kita tidak usah ikut campur dengan mereka" Ma'ul tak ingin Ahmad punya masalah di dunia Jin.
"Tidak Maul, menolong orang itu kewajiban. Turunkan aku" ucap Ahmad.
Ma'ul pun menurunkan Ahmad dari pundaknya.
Ahmad langsung menghadang kereta itu.
"Berhenti! Lepaskan anak itu!" suara Ahmad tegas.
Siluman ular itu pun langsung melata menghampiri Ahmad.
"Saha sia, ngahalangan tugas aing ( siapa kamu, menghalangi tugasku?" tanya siluman ular itu.
Semakin dekat, Ahmad baru sadar kalau rupa dari siluman ular itu sangat menakutkan. Wajahnya terdapat banyak sisik, mulurnya bertaring menguarkan darah segar, hidungnya tidak ada hanya ada bulatan kecil di dua sisinya. Lidahnya hitam bercabang dan sangat panjang.
"Lepaskan anak itu!" perintah Ahmad sekali lagi.
"Moal di leupaskeun ku aing. Ieu kahakanan tuan raja Anom Batara Sanca. Bapak na ieu anak manusa geus tumbalkeun pikeun kasugihan" siluman ular itu berkata dengan nada menggema.
"Dasar siluman laknat. Kalau mau, makan saja bapaknya, anak itu tidak berdosa" ucap Akmal.
"Loba omong sia manusa! Rek naon sia aya di alam kami? Haling, aing rek liwat, junjungan aing geus peurih beteung hayang ngahakan ieu manusa ( banyak omong kamu manusia. Mau apa kau ada di alam kami? Awas, aku ingin lewat, baginda ku sudah lapar ingin makan manusia ini)" Siluman ular itu terus berkata dengan nada menggelegar sembari menjulur-julurkan lidahnya ke arah Ahmad.
"Mulut kau bau sekali. Kau tidak sikat gigi?" Ahmad sangat ingin muntah mencium bau di mulut siluman ular itu.
"Di nagara aing mah eweuh odol ( Di negara ku tidak ada odol)" balas siluman ular itu.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Ahmad segera menginjak ekor siluman ular itu. Siluman ular itu sangat kesakitan lalu berbalik menyerang Ahmad dengan mengibaskan ekornya.
Brugghhhh!!! Ahmad tersungkur ke tanah. Sementara Maul menginjak kereta kuda itu sampai hancur, lalu membawa anak laki-laki itu. Siluman ular lainnya yang melihat Maul membawa tawanannya menjadi sangat geram.
"Minculak siah buta! Awas mu aing di paehan" geram ular itu.
Siluman itu kemudian menyerang maul dengan melilit dan mengigiti badan Maul. Naas bukannya merasa kesakitan Maul malah tertawa...
"Hahaha... Aku batu, dan aku tidak bisa merasakan sakit apapun. Ular bodoh, lihatlah gigimu copot semua. Kau mematuku sampai menjadi ompong" ucap Maul sembari mersih siluman ular itu lalu membanting-bantingkan ke tanah sampai pasukan siluman ular itu mati.
Ahmad terus berkelahi dengan pemimpin pasukan itu. Ahmad ingat jika ular takut garam, ia pun meraih garam yang ada di tasnya lalu melemparkan pada ular itu sampai sisiknya melepuh.
"Harrrrrggghhhhhh... Nyeri awak aing, panas" Teriak siluman ular itu lalu menghilang.
"Syukurlah mereka telah pergi" ucap Ahmad.
Maul pun memberikan anak laki-laki itu yang dari tadi tidak berhenti menangis.
"Dek, tenanglah kamu sudah aman disini bersama kami" Ahmad langsung menggendong anak laki-laki itu.
"Paman, Ari takut" rengek bocah itu.
"Jadi kamu bernama Ari? Kamu di apakan oleh bapak kamu?" tanya Ahmad yang tadi sempat mendengar bahwa Ari korban tumbal bapaknya.
"Ari di kurung di kamar kosong yang isinya menakutkan. Ari disuruh tidur di sana. Lalu waktu Ari tidur, datang ular gede banget dan membawa Ari ke tempat ini. Paman, Ari ingin pulang, tapi Ari juga takut sama bapak" Ari malah menangis semakin kencang.
"Ari tenang saja. Mau, paman titipkan Ari di pesantren? Di sana, Ari akan aman" ucap Ahmad.
"Mau, paman. Ari mau tinggal di pesantren" balas Ari dengan senang.
Ahmad tahu jika sesudah ini mungkin siluman ular itu akan menjadi dendam padanya, tetapi ia tidak peduli, ia lebih kasihan pada Ari.
Sementara di istana siluman ular, Prabu Anom Lolongseran tengah marah besar lantaran patih Reksa Dana Gajah Mungkur terluka cukup parah dan semua prajuritnya mati mengenaskan.
"Saha nu wati-wani maehan prajutit kaula (siapa yang berani-berani bunuh prajutirku?)?" tanya Prabu Anom Lolongseran pada patih Reksa Dana Gajah Mungkur yang sekarang terbaring lemah dengan perban di ekornya.
"Manusa kalawan di bantuan ku buta, tuan mulai Prabu" jawab sang patih.
"Bangkawarah siah manusa. Di leg-leg sia ku aing Breng sek kau manusia. Aku akan makan kau)" Prabu Anom Lolongseran berkata dengan nada yang sangat marah. Ia mengepalkan tangannya yang penuh sisik dan berkuku panjang itu.
"Ampun kaula nun. Kaula teu bisa seja babatu ka tuan prabu. Kaula katiwasan ( ampuni saya . Saya tak bisa membantu pada tuan prabu, karena saya sedang celaka)" ucap sang patih.
"Teu nanaon patih! Lengen aing sorangan nu rek nyabut nyawa manusa calutak eta ( Tak apa-apa patih, tangan ku sendiri yang akan mencabut nyawa manusia tak sopan itu)" balas Prabu Anom Lolongseran.
Sementara di sebuah kedai bakso. Istri pemilik kedai itu tidak berhenti menangis karena baru saja sehari di tinggalkan meninggal oleh sang anak yang bernama Ari Hanggara. Anak yang di kenalnya sangat baik itu sudah berpulang terlebih dahulu tanpa sakit apapun. Nisah, tak menyangka bahwa kematian Ari seperti di sengaja karena bocah itu meninggal di ruangan yang tidak boleh ia dan siapapun masuki.
"Sudahlah Buk, ikhlaskan kepergian Ari" ucap Paimin sang suami.
"Aku tidak ikhlas karena anakku tidak sakit sebelumnya. Dan kenapa sepertinya Bapak tidak sedih sama sekali dengan kematian anak kita? Jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu?" kini tatapan Nisah menghunus tajam seiring dengan pertanyaan yang ia lontarkan pada Paimin.
"Maafkan Bapak, Bu. Ari wis tak kasih ke ulo junjunganku. Ia yang akan memberikan kita kekayaan. Bapak sudah jengah harus hidup miskin terus Buk, maafkan Bapak" Ada setitik air mata di ujung netra Paimin. Bagaimanapun ia sayang pada Ari, tetapi ambisi ingin kaya lah mengalahkan hati nurani. Ia sebenarnya tahu bahwa Ari sedang meregang nyawanya oleh belitan siluman ular yang bernama Nyai Betari, putri dari Prabu Anom Lolongseran, tetapi Paimin mendiamkan saja. Ia fokus menghitung uang pemberian dari siluman sesembahannya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
pandi ani
ular TPI namanya gajah🙄
2024-12-23
0
Santi Rizal
Aya Aya wae si othor
2025-01-21
0
pioo
mana translatenya ueuy
2024-10-27
1