"Batunya sudah ku kembalikan ke tempatnya, kuda! Jika begitu kami pamit pulang dulu" ucap Ahmad.
Ahmad dan Nawawi pun hendak melangkahkan kakinya, tetapi di berhentikan oleh Patih.
"Nama ku patih Jaran Agung! Kenapa kalian bisa melihat bangsa kami? Siapa kalian sebenarnya?" kata Patih Jaran Agung.
"Kami hanya manusia biasa. Di tempat itu kami belajar segala ilmu sehingga mata batin kami terbuka" jawab Asnawi.
Tiba-tiba sebuah layar seperti tirai raksasa terbuka di hadapan Ahmad dan Asnawi. Mereka berdua seketika melongo melihat hal yang ada di depan mereka.
"Itu apa?" tanya Ahmad heran melihat sebuah istana megah di hadapannya.
"Itu istana kami! Kalian boleh memasukinya. Karena kalian lah sebangsa manusia yang pertama kali melihat tempat kami" jawab Patih Jaran Agung.
"Bukannya ini sawah dan hutan ke arah sana! Ya Allah sungguh besar ciptaan mu. Menciptakan makhluk selain manusia yang hidup di dunia. Benar adanya ternyata kami saling berdampingan" ucap Ahmad.
Ahmad dan Asnawi pun melihat tempat yang mereka pijak itu adalah sebuah gerbang istana yang sangat megah.
"Terimakasih atas tawarannya. Lain kali kami mampir ke istanamu. Saat ini kami sedang bertugas di pesantren jadi kami tidak bisa tinggalkan tugas itu" ucap Ahmad.
"Dan kami janji akan merahasiakan tempat ini dari khalayak. Aku tidak ingin manusia-manusia serakah yang punya ilmu batin, memanfaatkan tempat kalian untuk mencari ke untungan dan membuat bangsa kalian merugi. Jika begitu kami pamit. Assalamualaikum" ucap Asnawi.
Ahmad dan Asnawi pun pergi meninggalkan sawah itu. Tirai itu tertutup kembali. Lalu hari berganti menjadi siang membuat keduanya terheran-heran.
"Barusan masih malam kang!" ucap Asnawi.
"Benar kang!! Berarti kita berada di dimensi mereka" jawab Ahmad.
Sementara di pesantren, semua santri panik mencari keberadaan Asnawi dan Ahmad. Kyai Nawawi pun melakukan penerawangan untuk mencari keberadaan dua santrinya.
"Tenang semuanya! Ahmad dan Asnawi sebentar lagi pulang" ucap kyai Nawawi.
Tak lama Ahmad dan Asnawi pun datang dari arah belakang.
"Assalamualaikum" ucap keduanya.
"Waalaikumsalam" jawab Semuanya.
Mereka semua berhambur memeluk Ahmad dan Asnawi. Syahrul yang semalam tidak bisa tidur karena memikirkan adiknya langsung memeluk Ahmad.
"Kemana saja kamu, Ahmad? Abang panik mencari kalian berdua" tanya Syahrul.
"Ceritanya panjang!" jawab Ahmad.
"Kalian, ikut aku" kyai Nawawi menyuruh kedua santri seniornya mengikuti langkahnya.
"Baiklah, tuan guru" keduanya mengekori kyai Nawawi.
Kini mereka berdua sudah duduk di hadapan kyai Nawawi di pendopo. Ia ingin menanyakan kejadian apa yang di alami kedua santri itu.
"Semua orang mencari kalian tadi malam. Pergi kemana kalian?" tanya kyai Nawawi dengan penuh selidik.
"Kami semalam pergi......." Ahmad menceritakan kejadian yang ia dan Nawawi alami di sawah iru. Dari mulai bertemu pasukan kuda, dan melihat megahnya istana jin itu. Hal itu membuat kyai Nawawi tercengang.
Ia tahu bahwa di salah satu petak sawahnya ada semacam portal gaib menuju ke dimensi lain, tetapi entah kenapa sulit sekali untuk di tembus oleh dirinya, dan kini kedua santrinya lah yang bisa melihat tempat itu.
"Kalian berdua adalah manusia yang beruntung karena bisa melihat tempat itu. Aku sendiri pun tak bisa membuka tabir itu. Aku minta tetap rahasiakan keberadaan tempat itu, karena aku takut jika hal ini akan di ketahui oleh orang yang berilmu tinggi tetapi jahat. Kita harus menjaga dan melindungi privasi makhluk lain" ucap kyai Nawawi.
"Baiklah tuan guru" jawab keduanya.
Mereka bertiga tidak tahu bahwa patih Jaran Agung mendengar pembicaraan mereka.
"Mereka benar-benar manusia yang berbudi luhur. Aku ingin tahu tempat apa ini sebenarnya? Kenapa hawanya begitu sejuk" ucap jin berwujud kuda gagah itu.
Kyai Nawawi mencium kedatangan jin di wilayah pesantrennya. Ia pun meraga sukma menemui patih Jaran Agung.
"Assalamualaikum" kyai Nawawi menyapa kuda itu.
Patih Jaran Agung bingung harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk kecil saja.
"Rupanya aku kedatangan tamu" ucap kyai Nawawi.
"Ada apa gerangan ki sanak ke tempatku?" tanya kyai Nawawi.
"Aku hanya ingin tahu tempat apakah ini? Kenapa dua manusia muda itu dan dirimu bisa melihat perwujudan makhluk seperti kami?" tanya patih Jaran Agung.
"Ini tempat menimba ilmu dan mencari keberkahan dunia akhirat. Semua yang berguru padaku pasti di bekali untuk melihat makhluk sepertimu" jawab kyai Nawawi.
Di tengah obrolan itu, tiba-tiba prajurit dengan wujud beberapa ekor muda muncul dengan wajah gelisah.
"Patih, kerajaan jaran jingga akan menyerang kita" ucap salah satu prajurit itu.
"Apa? Kenapa bisa mereka ingin menyerang kita?" tanya patih Jaran Agung.
"Prajurit kita ada yang berkhianat, ia membawa lari kitab karuhun leuwi jengjing pada raja Maruta Sagara Wengi sehingga kelemahan kerajaan kita di ketahui" jawabnya dengan wajah pias.
"Keparat!" geramnya.
"Ki Sanak, aku permisi dulu ada hal yang harus di bereskan di negara ku" ucap Patih Jaran Agung.
"Silahkan ki sanak" balas kyai Nawawi.
Pasukan kuda itu akhirnya hilang.
Sorenya kyai Nawawi mengajar kitab kuning pada semua santri-santri di masjid. Ia menjelaskan tentang perkara aqidah akhlak dan ilmu fiqih.
Tiba-tiba kilatan cahaya yang berasal bola api melewati atap masjid.
"Astagfirullah" semua orang beristighfar.
"Ayo kita lihat" ucap kyai Nawawi yang di ikuti oleh semua muridnya.
Ia melihat bola api itu terbang ke sebuah kampung yang berada di bawah pesantren. Kyai Nawawi pun merasa akan ada kejadian yang buruk setelah itu.
Semua orang melihat bahwa bola api itu berpencar lalu masing-masing masuk kedalam rumah warga.
"Kalian jangan tidur malam ini, berdzikir sampai pagi. Aku merasa jika besok tidak akan baik-baik saja" perintah kyai Nawawi.
"Untuk santri junior, kalian boleh tidur, tapi untuk kalian yang sudah senior, tetap berdzikir sampai pagi bantu aku" ucap kyai Nawawi lagi.
Santri-santri senior pun menuruti ucapan kyai Nawawi dan mereka berdzikir sepanjang malam.
Keesokan paginya benar dugaan Kyai Nawawi. Semua orang dari kampung Tutugan Neglasari tiba-tiba menderita penyakit aneh.
Kulit mereka tiba-tiba terasa panas dan gatal sampai terlihat seperti melepuh. Ketua RT kampung itu menghubungi kyai Nawawi lewat telepon.
"Hallo, pak RT Nugi" sapa kyai Nawawi.
"Pak kyai, tolong kami" terdengar suara lirih.
"Ada apa ini?" tanya kyai Nawawi.
"Kami sekampung tiba-tiba kena penyakit aneh. Kulit kami terasa panas dan gatal sampai melepuh. Kasih para bayi dan anak kecil tidak berhenti menangis dari subuh" ungkap pak RT.
"Baiklah, saya akan kesana" ucap kyai Nawawi.
Panggilan itu pun di akhiri. Ketika kyai Nawawi berbalik badan, di sana sudah ada harimau yang selalu setia mengikuti Ahmad kemanapun duduk di belakang kyai Nawawi.
"Kau tunggu saja disini, aku akan masuk ke kampung itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi" ucap harimau itu yang bernama Ki Jalaksa.
"Ya silahkan ki maung! Segera beritahu aku jika kau sudah tahu jawabannya" balas kyai Nawawi.
Harimau itu pun segera berlari menuju kampung Tutugan Neglasari.
Tak lama Ki Jalaksa kembali lagi menghadap kyai Nawawi.
"Kampung itu kena sihir! Seseorang mengirimkan buhul untuk semua warga kampung itu. Aku tak tega melihat bayi-bayi kesakitan" ucap Ki Jalaksa sang harimau.
"Berarti yang semalam di lihat oleh ku dan semua santri benar adanya" gumam kyai Nawawi.
"Benar! Malam itu sekumpulan banaspati mengirim penyakit ke setiap rumah-rumah penduduk" balas Ki Jalaksa.
"Kita harus menolong mereka sebelum terlambat" ucap kyai Nawawi.
Pagi itu kyai Nawawi beserta seluruh santri mendatangi kampung Tutugan Neglasari untuk membantu menyembuhkan penyakit aneh itu.
Ahmad mengajak Maul dan Ki Jalaksa untuk membantu para warga kampung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Safitri Agus
serasa nonton sinetron siluman² jaman dulu di Indosiar,jadi nostalgia nih 🤭
2025-03-05
0