Dentuman musik di sebuah club malam memekakkan telinga. Tetapi manusia-manusia di dalamnya menikmati itu dengan tangan di temani segelas Whisky.
"Minum yang banyak brader!!!" ucap Syahrul pada teman-temannya.
"Minum sampai tepar" balas temannya.
Syahrul seakan lupa bahwa dirinya harus mengirimkan tumbal malam ini untuk sang jungjungan.
Di alam siluman. Nyai Kamiri sedang menikmati santapan daging manusia yang di tumbal kan oleh para pemujanya. Terlihat daging-daging segar manusia yang masih bernyawa menggeliat-geliat meminta ampun dan pertolongan tapi apa pedulinya siluman babi itu.
"Dayang, apa ada yang belum memberikan tumbal padaku?" tanya Nyai Kamiri pada dayangnya yang bernama Sekar Arum.
"Ada Nyai!" balas Sekar Arum.
"Siapa bedebah itu?" tanyanya.
"Syahrul" ucap Sekar Arum.
"Kurang ajar! Aku akan lihat dia sedang apa sampai lupa memberikan santapan untukku" Nyai Kamiri kemudian melihat dari kaca gaib apa yang Syahrul lakukan.
Ternyata terlihat Syahrul sedang mabuk dan mencumbui wanita malam.
"Manusia bedebah, tidak tahu di untung. Awas saja jika besok kau tidak memberikanku tumbal kepala ibumu, kau yang akan ku jadikan santapan" geram siluman itu.
......................
Hari apes memang nyatanya tidak ada di kalender. Hal itu yang dilakukan Ahmad.
Ia membawa satu kantung yang diminta Nyai kamiri. Dirinya sudah masuk kedalam goa itu.
"Kau membawa persembahan itu, kakang mas?" tanya Nyai Kamiri.
"Tentu saja Nyai" balas Syahrul.
"Letakan di meja batu itu, dan kau boleh pulang sekarang" perintah siluman itu.
"Sendiko dawuh Nyai" Syahrul segera lari tunggang langgang meninggalkan goa itu.
Kini Nyai Kamiri telah bahagia melihat kantung yang di yakini kepala manusia itu. Ia menyuruh para dayang-dayangnya berkumpul mengelilingi kantung itu.
"Nyalakan api suci, wahai dayangku" ucap Nyai Kamiri.
"Baiklah, nyai" ucap sang dayang.
Nyai Kamiri dan para dayang-dayangnya langsung melakukan ritual untuk menyambut tumbal nya yang baru. Tumbal yang Syahrul berikan sangat sepesial karena ini kepala Ibu Sulastri. Nyai Kamiri sangat yakin dosa yang paling besar di lakukan oleh pengikutnya adalah dosa yang di lakukan Syahrul. Kenapa memilih Syahrul untuk menumbalkan ibunya, Nyai Kamiri pun entah tidak mau memikirkannya.
"Hahahahah..Syahrul, kau akan kekal di neraka bersama kami..Nikmati harta sesaatmu.. Hahahaha.. Dasar manusia bodoh" ucapnya bahagia.
"Buka bungkusan itu!" perintahnya pada sang dayang.
Dayang itu langsung mengeluarkan isi dari bungkusan kantung itu. Sesaat Nyai Kamiri tercengang kala melihat isi dalam kantung itu bukan kepala manusia, melainkan kepala kambing.
Seketika Nyai Kamiri menjadi murka. Wujud aslinya langsung terlihat menyeramkan.
"Hargggghhhh.. Bedebah kau menipuku, manusia ingkar! Awas saja kau, akan ku habisi" teriaknya dengan nada menggema.
"Dayang, bawa manusia ingkar itu ke hadapanku" perintah Nyai Kamiri.
"Sendiko kanjeng" ucap sang dayang dengan patuh.
Kini Syahrul sedang memacu motornya. Ia ingin segera sampai ke rumahnya. Dari kejauhan para dayang siluman babi mengejarnya.
"Berhenti kau manusia ingkar! Kau akan mendapat akibatnya!" ucap Nyai Sekar Arum.
Syahrul melihat banyaknya lelembut berwujud babi mengejar dirinya.
"Siaaalll, pasti siluman itu sudah tahu persembahanku. Aku tidak mungkin menumbalkan ibumu sendiri" ucap Syahrul.
Kini motornya tiba-toba mati. Dirinya sekarang di kelilingi para dayang itu.
Tiba-tiba, Syahrul langsung tak sadarkan diri.
Syahrul membuka matanya, saat ini ia berada disebuah penjara bersama berbagai tawanan dengan wajah penuh penyesalan dan pakaian yang compang camping.
"Kalian siapa?" tanya Syahrul.
Mereka menjawab dengan logat Sunda, Jawa, Kalimantan dan bahasa yang lainnya membuat Syahrul tidak mengerti.
Kemudian dua orang berwajah babi berbadan tegap membuka kerangkeng besi sembari membawa cambukan.
"Geret pembohong ini" ucap dayang pada dua pria berwajah babi itu.
Syahrul di sered ketempat yang sangat mengerikan. Tercium bau yang sangat menyengat.
Syahrul di ikat di sebuah tiang pancang besi menghadap kesebuah lapangan. Syahrul menangis karena melihat banyaknya orang yang di siksa di sana, lalu melihat lagi orang yang sedang memanggul seperti batu yang sangat berat dengan badan yang sangat kurus.
"Lapar, lapar" terdengar suara dari orang-orang yang sedang memanggul batu itu.
Kini datanglah Nyai Kamiri di hadapan Syahrul.
"Nyai!" lirih Syahrul.
"Dasar manusia bedebah, pembohong. Kau ingkar janji padaku. Kau menipuku" geram siluman babi itu.
"Maafkan aku Nyai. Aku tidak sanggup menumbalkan ibuku sendiri" balas Syahrul.
"Maka begitu, kau lah yang akan menggantikan ibumu. Kau akan ku tawan dan tersiksa disini sampai hari kiamat... Hahahahaha" ucap Nyai Kamiri sembari tertawa puas.
"Jangan lakukan itu Nyai. Ampuni aku" kini Syahrul memohon.
"Pengawal, siksa bedebah ini" ucap Nyai Kamiri, lalu pergi dari hadapan Syahrul.
Dua algojo berwajah babi itu langsung mengayunkan cambuk itu ke tubuh Syahrul sampai dirinya memekik kesakitan.
Plass!!
Plasss!
Plas!!!
Cambukan itu terus menghujami tubuh Syahrul sampai ia menggelepar lemas.
"Tolong sakit" teriak Syahrul namun tak ada yang menghiraukan.
Syahrul pun kini di bawa kembali kedalam tahanannya.
...****************...
Sementara Ibu Sulastri hanya bisa bersedih karena sudah dua minggu Syahrul tidak pulang. Mau tidak mau, ia pun memberitahukan hal itu kepada Ahmad..
Ibu Sulastri pun menghubungi Ahmad.
"Assalamualaikum ibu. Bu gimana sehat?" tanya Ahmad.
"Wassalamu'alaikum salam nak. Alhamdulillah ibu sehat. Kamu sehat?" tanya Ibu Sulastri.
"Alhamdullah, bu. Aku disini sehat. Oh ya ada apa ibu meneleponku?" tanya Ahmad.
"Nak, ibu sedang memikirkan kakakmu. Sudah dua minggu ia tidak pulang ke rumah. Ibu khawatir. Ibu sudah lapor polisi, dan polisi pun tak menemukan keberadaannya" Ibu Sulastri berkata sembari menangis.
"Ahmad akan pulang bu. Ahmad akan mencari Kak Syahrul" Ahmad mencoba menenangkan ibunya.
"Baiklah jika begitu, nak. Ibu tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu, nak" balas Ibu Sulastri.
Ahmad pun berpamitan pulang pada Kyai Nawawi dan sang istri.
Nyai Fatimah memberikan uang pada Ahmad untuk ongkosnya di jalan.
"Untukmu, Ahmad" Nyai Fatimah memberikan uang itu tetapi Ahmad tak berani menerima.
"Tidak usah nyai" ucap Ahmad sembari tertunduk malu.
"Terimalah uang itu untuk ongkos dan makan di perjalanan. Aku doa kan semoga urusanmu segera selesai dan membantuku mengajar santri lagi" kini yang berkata adalah Kyai Nawawi.
Ahmad pun menerima uang itu dengan tangan gemetar.
"Jika ada apa-apa, segera kau kembali kemari" pesan kyai Nawawi yang sepertinya membaca ada hal yang buruk akan menimpa keluarga Ahmad.
"Baiklah Tuan guru dan Nyai. Kalau begitu, saya pamit" Ahmad segera pamit.
Kini Ahmad sudah sampai di rumah sang ibu. Lalu Ahmad melihat bahwa aura rumah itu tercium bau apek terutama di kamar sang kakak. Ahmad pun melihat di rumahnya banyak sekali mahkluk halus berseliweran seperti kakek tua dan gendrewo.
"Yaallah penuh sekali di rumah ini. Setelah aku bisa melihat yang seperti itu, aku baru sadar jika selama ini kami hidup serumah" ucap Ahmad dalam hatinya.
Ahmad pun tidak sengaja membuat kontak mata dengan seorang kakek tua berbaju pangsi. Ia melihat Ahmad dengan tatapan cukup dalam, tetapi Ahmad tak menghiraukannya.
Kemudian ia berjalan ke kamar Syahrul guna mendapatkan petunjuk mengenai hilangnya Syahrul. Matanya tak sengaja melihat lemari pakaian Syahrul bergerak gerak. Ia pikir itu kucing yang terjebak di sana.
Ahmad pun membuka itu. Pandangan matanya langsung tertuju pada jubah hitam yang terlipat di bawah pakaian.
Ahmad pun segera menarik jubah itu.
"Jubah apa ini? Dari mana Kak Syahrul mendapatkan benda ini" ucapnya.
Karena penasaran Ahmad pun hendak memakai jubah itu tetapi sesuatu menarik jubah itu sampai jatuh ke lantai.
"Jangan pakai benda terkutuk itu. Tidak ada bagian untukmu" ucap seseorang yang tak lain adalah kakek tua yang Ahmad temui di ruang tamu rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
Alhamdulillah gak di pake
2024-09-07
0
Zuhril Witanto
untung Sahrul gak numbalin ibunya
2024-09-07
0
Zuhril Witanto
Ahmad neh
2024-09-07
0