"Bicara apa kamu? Tahu dari mana jika anakku masih hidup?" Kini Lukman suami Nisa bangkit meraih kerah baju koko Ahmad karena merasa pemuda di hadapannya bergurau diatas rasa dukanya.
"Tolong percaya pada ku. Kalian boleh percaya atau tidak tetapi arwah Mbak Nisa mendatangiku dan meminta tolong untuk menyelamatkan bayinya" Kini Ahmad berkata sembari menangkupkan kedua tangannya.
Sementara Nisa memandang nanar jasadnya yang kaku.
"Tapi jenazahnya sudah di kafani!" ucap Ibu Asri.
Tiba-tiba seorang wanita muda yang melayat maju ke sisi jenazah. Ia di ketahui seorang bidan di wilayah itu.
"Maaf semuanya. Tidak ada salahnya kita cek kembali keadaan kandungan almarhum. Seandainya ucapan pemuda ini benar, maka kita harus melakukan tindakan untuk menyelamatkan bayi itu" Bidan itu pun berkata sembari meminta persetujuan sang suami Almarhum.
"Baiklah bu bidan, lakukan lah" ucap Lukman.
Bidan itu lantas membuka kain kafan yang membungkus bagian perut sang jenazah, dan benar saja terjadi pergerakan di perut itu.
"Alhamdulillah bayinya benar masih hidup" teriak sang bidan.
"Cepat telepon ambulance. Anakku harus selamat" Lukman berkata dengan panik.
Ambulance datang lalu membawa jenazah Nisa ke rumah sakit.
Akhirnya bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu lahir dengan jalan operasi cesar. Lukman menangis haru. Lalu ia melihat jasad sang istri yang tersenyum.
"Nisa, ini anak kita, sayang! Akang akan menjaga nya sampai kapanpun. Terimakasih kamu sudah memberikan akang jagoan kecil. Semoga kamu tenang di sisi Allah ya.. Cupp" Lukman mencium kening Nisa.
Sore setelah operasi, jenazah Nisa di kebumikan.
Kini Ahmad dan Kyai Nawawi yang membantu proses pemakaman Nisa, melihat sosok nisa menghampiri Ahmad dengan senyum yang cantik.
"Terimakasih sudah menolongku. Kini aku bisa kembali dengan tenang" ucap Nisa lalu menghilang.
Kyai Nawawi menepuk pundak Ahmad.
"Mata batinmu sudah terbuka. Jangan merasa takut pada mereka. Karena sejatinya itu makhluk Allah. Nikmati saja kelebihanmu karena bisa jadi ladang pahama menolong orang lain seperti sekarang" ucap Kyai Nawawi.
"Baiklah Tuan Guru. Ini anugerah dari Allah" ucap Ahmad.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Grokkkkk!! Grokkkkkk!! Grokkkkkk!!! Suara seekor babi yang sedang menggosok-gosokkan tubuhnya pada dinding rumah mewah milik seorang pejabat.
Semua uang hasil dirinya korupsi dana sosial habis ludes tidak tersisa akibat di curi babi ngepet itu.
"Hahahaha... Dapat uang!" ucap Babi itu.
Kemudian Syahrul berjalan lagi ke sebuah rumah yang di ketahui milik seorang rentenir.
"Emasnya pasti banyak! Gue curi mampus loe rentenir kejam" ucap Syahrul sembari menggesek-gesekan badannya ketembok rumah itu.
Kini Syahrul sudah berada di rumah kosong. Ia segera berubah wujud menjadi manusia.
Ia lantas mengeluarkan tas itu dan melihat banyaknya uang dan perhiasan yang ia dapatkan malam ini. Syahrul pun menghitung uang itu.
"350 juta? Hahahahaha.. Aku kayaaaaaa" ucapnya senang.
Ia pun segera pulang. Sama-samar dari arah rumah yang tadi dia curi uangnya, terdengar teriakan dan tangisan.
"Argghhhhhh, uangku hilang" teriak seorang wanita.
"Perhiasanku semua hilang" jerit wanita itu.
"Uangmu sudah ada di sini. Dasar rentenir pelit"
Esok paginya di gemparkan oleh meninggalnya Pak Bambang karena serangan jantung. Pria yang diketahui sebagai pejabat itu meninggal usai membuka brankasnya tadi pagi.
"Kasihan ya Pak Bambang!" ucap Reni.
"Ya begitulah kalau dapat rejeki yang tidak halal, Dia kan korupsi" timpal Dian.
Kasak-kusuk di antara ibu-ibu pun tak terelakan lagi.
Kini Syahrul sedang tidur di kamarnya. Ia lelah karena semalaman ia ngepet. Saat ibunya masuk, betapa terkejutnya kala melihat tumpukan uang diatas meja sebelah syahrul dan jangan lupakan perhiasan yang sangat banyak disana.
"Syahrul, bangunnnnnnn" Ibu Sulastri berteriak.
"Argghhh, apa sih bu?" Syahrul kesal dengan suara sang ibu.
"Katakan ini uang dan perhiasan siapa? Jawab ibu, Syahrul!" ucap Ibu Sulastri.
"Ini punyaku, bu" jawab Syahrul sembari menguap.
"Jangan bohong kamu! Dapat semua ini darimana? Apa kau merampok?" tanya Ibu Sulastri.
Ia tidak bisa tidak curiga pada anaknya yang sebelumnya pemalas itu.
"Apa sih bu, fitnah itu. Bu aku dapat uang dari ikutan pasar saham!" bohongnya.
"Saham apa itu? Dari mana kau dapat uang taruhannya?" tanya Ibu Sulastri.
"Dari teman bu. Dan aku menang. Sudahlah bu jangan banyak bertanya. Ini uang dan perhiasan buat ibu. Ambil bu!" ucap Syahrul.
Sedikitpun Ibu Sulastri tak ingin menera uang itu. Ia takut jika uang itu, uang haram. Bukannya ia tidak percaya dengan anaknya, tetapi ia tahu betul bagaimana Syahrul itu.
"Ibu tidak mau?" tanya Syahrul mulai kesal dengan sang ibu.
"Tidak seperti itu" balas Ibu Sulastri yang tak ingin Syahrul kecewa padanya.
Syahrul pun memberikan segepok uang dan semua perhiasannya pada Ibu Sulastri.
Didalam kamarnya, ibu Sulastri termenung. Ia langsung beranjak mengambil tas yang tergantung di balik pintu kamarnya.
"Sebaiknya, aku simpan uang dan perhiasan ini sebelum aku tahu dari mana Syahrul mendapatkan semua ini" ucapnya.
Malamnya, Syahrul datang ke rumah sang kekasih yang bernama Maesaroh. Tak sekali orang tua itu menolaknya, tetapi Syahrul tetap nekat kesana. Melihat Syahrul memakai motor matic besar baru, membuat orang tua Maesaroh yang bernama Ibu Tuti menjadi senang.
"Ini untuk ibu!" Syahrul memberikan dua kresek makanan.
"Uh martabak terang gelap kesukaan ibu dan pizza kesukaan Marwan. Terimakasih Syahrul. Rupanya kamu sudah banyak uang" ucap wanita paruh baya itu sembari masuk kedalam rumahnya meninggalkan Maesaroh dan Syahrul di ruang tamu.
"Huuh dasar orang tau matre. Kemarin saja waktu gue lagi miskin, dia suka ngusir gue" cebiknya dalam hati.
Kini Syahrul duduk berdua dengan Maesaroh. Syahrul mulai merapatkan duduknya dengan sang kekasih.
"Mae!" ucapnya.
"Iya, bang!" balas Mae.
"Abang pengen cium, boleh?" tanya Syahrul.
"Jangan bang, nanti Emak marah" balas Maesaroh malu-malu tapi mau.
"Emak gak bakal marah kok" bujuk Syahrul.
Maesaroh pun mengangguk malu-malu.
Pukul setengah dua belas, Syahrul baru pulang setelah puas bercinta dengan sang kekasih. Ternyata Maesaroh lebih agresif dari yang di bayangkan.
"Huuh enak banget. Bawah kenyang atas kenyang" ucap Syahrul sembari terkekeh.
Besoknya, Syahrul menjadi buah bibir para tetangga. Pasalnya seorang Syahrul yang pemalas bisa membeli motor dengan harga tiga puluh lima juta.
"Bang, kemarin si Syahrul beli motor. Kira-kira dapat dari mana duitnya?" ucap Agus tetangga dekat rumah Syahrul.
"Au dah! Gue juga curiga tuh sama dia. Gue aja ya yang kerja pergi pagi pulang sore, belum bisa beli motor bagus begitu" balas Amir.
"Apa dia ngerampok?" tanya Gugun.
"Gak tahu deh" timpal Amir.
Ketika Syahrul ke mall untuk membeli sepatu impiannya, seorang anak kecil menangis kala melihat dirinya.
"Mami, mami lihat. Wajah om itu seperti babi. Ihhh ceyemm" tunjuk anak perempuan kearah Syahrul.
Seketika dirinya merasa tersinggung, dan mendelik kearah bocah itu.
"Ihh mami, matanya melotot dan taringnya panjang-panjang" ucap Bocah itu lagi.
Orang tua bocah itu kemudian menghampiri Syahrul untuk meminta maaf.
"Mas, maaf ya dengan perkataan anak saya!" ucap ibunya sembari menangkup kedua tangannya.
"Iya bu tak apa-apa" ucap Syahrul.
"Apa anak itu bisa melihat jika aku bersekutu dengan siluman babi?" tanya dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Siti Naimah
sebaiknya kalo kemana mana pake masker rul...biar gak ada yg melihat wajahmu secara keseluruhan..
2025-01-05
0
Al Fatih
Ngeri lho rul.....,, kalo jalan kemana mana ketemu sama anak kecil,, anak kecilnya nangis histeris karna melihat babi berjalan
2024-11-23
1