Sore hari selepas kepergian Angel. Dista menghubungi Kania. Sebagai sesama orang tua murid di sekolah yang sama, Dista meminta untuk bertemu besok di sekolah. Namun anehnya, Kania tidak mengetahui hal itu.
Saat sedang serius bicara di telepon, ternyata Vicky telah tiba di rumah. Tak sengaja pria dingin itu mendengar obrolan istrinya yang mengatakan jika Angel dalam masalah. Untuk itu besok Dista diminta menemui guru BP nya di sekolah.
“Yang, apa benar itu?” suara bariton Vicky menyadarkan Dista.
“Hah? Sudah pulang Pa? Kok nggak ada suaranya? Ngagetin aja.” Saking gugupnya Dista segera mematikan sambungan telepon itu. Ia sudah berjanji untuk merahasiakan hal ini dari Vicky.
“Hm, kamu nya saja yang terlalu sibuk kalau sudah ngobrol sama Kania. Apa benar yang kamu bilang itu soal Angel?”
Dista meletakan ponselnya dan membantu suaminya untuk menghilangkan penat. Sebisa mungkin Ia mengalihkan pembicaraan itu. Ia tak mau Angel menjadi lebih stres akibat tekanan dari Papanya. Dengan manis Dista menyuguhkan teh hangat untuk Vicky. menanyakan bagaimana pekerjaannya di kantor seharian ini.
Keduanya bercerita panjang lebar, sampai Vicky menyadari jika rumahnya sangat sepi. Pria dingin itu menanyakan dimana kedua buah hatinya. Angel dan Fardan. Si bungsu diketahui sedang bimbingan belajar, sedangkan Angel ...
“Kemana Angel? Bukannya sebentar lagi dia ada ujian sekolah?”
“Ada Pa, lagi keluar sebentar sama Zayn.”
Vicky yang sedang menikmati tehnya segera meletakan cangkir panas itu.
“Zayn? Kamu nggak salah kan Yang?”
“Iya, Angel sendiri yang izin sore tadi.” Sambil melihat jam di tangannya, yang sudah pukul Tujuh malam.
Masih sulit di percaya, tetapi tak mungkin juga Angel berbohong kepada Dista. Vicky meminta Dista untuk mengirim pesan, untuk tidak pulang terlambat.
Dista
[Sayang, jangan pulang terlambat ya! Ingat sebentar lagi kamu mau ujian.]
...
Sedang menikmati film romantis Angel yang sedang fokus tak mendengar notifikasi pesan di ponselnya. Sedangkan pria yang duduk di sampingnya melihat nama Mama di layar ponsel Angel. Rasa penasarannya semakin besar, Leon mencoba memastikan sekali lagi jika orang tua Angel adalah seseorang yang di kenalnya.
“Angel, ada pesan masuk. Coba dibalas dulu, siapa tahu penting!” perintah Leon.
“Oh, iya Pak dari Mama Saya.” sembari membuka pesannya, Leon pun mencuri pandang isi pesan anak didiknya itu. Merasa diawasi Angel menoleh ke arah pria dewasa di sisinya.
“Heh, jangan ngintip ya Pak! nggak sopan.”
Leon hanya tertawa. Kalau pun memang anaknya, kenapa tingkah mereka berdua sangat jauh berbeda. Wanita yang Leon kenal adalah gadis berparas ayu yang pemalu. Sedangkan Angel, sangat blak-blakan dan jauh lebih berani.
‘Bisa jadi turunan Papanya ya begini, galak dan suka berkelahi.’
“Heh, Pak kenapa tertawa sendiri? Oh ya sepertinya Angel sudah diminta untuk tidak pulang terlambat.”
Leon pun mengerti. Saat mengetahui Angel hendak menaiki transportasi online di malam hari, Leon tak mengizinkan. Ia akan mengantarnya pulang. bagaimanapun Ia yang sudah mengajak anak gadis orang untuk keluar menemuinya, hanya untuk memastikan jika Angel adalah anak dari wanita yang pernah Ia cintai.
“Saya antar ya! Kamu nggak boleh pulang sendirian, apalagi ini malam hari.”
“Hem,” balas Angel singkat.
Pria itu lagi-lagi menggandengnya. Mengajaknya masuk ke sebuah kafe. Di sana Leon memesan banyak cake dan pastry untuk di bawa pulang.
“Ehm, kesukaan Bapak sama seperti kesukaan Mama Angel. Cake strawberry dan semua antek-anteknya yang berbau asam manis.” celetukan Angel tanpa sadar membuat Leon tersenyum. Ternyata tebakannya benar. Tak salah lagi, jika Ansara Jelita adalah anak dari Distanika Fadila.
“Memang saya sengaja beli untuk Mama kamu, supaya kamu tidak kena marah karena terlambat pulang. Ayo!”
Angel merasa tak enak. Saat lagi-lagi Leon menggandengnya dan membelai rambutnya. Semua perlakuannya sama seperti Papanya, tetapi ini perasaan lain, sampai sebuah panggilan video masuk. Angel mengira panggilan itu berasal dari orang rumah ternyata...
Tak dikenal
[Sayang, di mana Lo?]
Sebuah wajah tampan penuh luka. Memenuhi layar ponsel Angel. Seketika gadis itu menyingkir dari gurunya. “Maaf Pak, Saya tinggal dulu.”
Angel
[Sayang, sayang nenek Lo! ada apa?] yang ternyata adalah panggilan dari Zayn.
Zayn
[Sekarang Lo bilang posisi Lo di mana, Gue jemput! Gila Lo ya, pergi sama siapa ngakunya sama Gue!]
Zayn yang cerewet mengoceh panjang lebar. Namun hal yang membuat Zayn marah adalah karena Mamanya mengatakan jika besok Ia harus datang ke sekolah. padahal Zayn dan Gio sengaja tidak mengatakan hal itu. Namun mamanya justru tahu dari Dista. Gio dan Zayn dikuliti Dion dan Kania habis-habisan.
Angel setengah menahan tawa Saat melihat wajah Zayn dan Gio di layar ponselnya tampak kusut. Gadis itu memintanya untuk tidak perlu khawatir. Sebentar lagi Ia akan pulang. tak mungkin Angel menceritakan kejadian yang sebenarnya. Jika Ia mengira pria yang menghubunginya dan mengajak berkencan hari ini adalah dirinya.
Apa kata dunia, jika seorang Angel mengharapkan Zayn. ‘Cih!’
Zayn
[Jangan sampai Gue ...]
“Angel ayo pulang, sudah hampir pukul sembilan.” Suara di seberang terdengar oleh Zayn. kekesalan bocah itu semakin menjadi saat melihat pria dengan kemeja putih itu mengacak rambut Angel.
Zayn
[Angel, tunggu Gue belum sele...]
Tutt...
Angel mematikan panggilan video itu, nyawanya sekarang sedang dipertaruhkan. Hampir pukul sembilan katanya. Tamat riwayatnya jika Ia terlambat sampai ke rumah.
Sepasang pria dan wanita dengan perbedaan usia yang cukup jauh. Berjalan tak santai melewati lalu lalang pengunjung di Mall yang semakin malam semakin ramai. Bahkan Angel pun merasa Leon adalah seorang guru yang bijaksana. Pria itu bisa membuatnya tak merasakan canggung sedikitpun.
Di dalam mobil Leon memperlakukan Angel dengan sangat manis. Memasangkan seat belt kepada Angel yang terus menatapnya. “Jangan begitu Pak, nanti naksir tahu rasa Loh! Haha...” godanya.
“Ayo Pak, Ngebut.”
“Kenapa? Kamu takut kena marah Papa kamu ya?”
“Ya gitu deh, Papa Angel tuh posesif tahu Pak, bahkan nggak sama Saya aja, sama Mama pun juga begitu, padahal anaknya sudah dua, bayangin coba!”
Leon mendengus. “Iya Saya tahu itu. Oh iya, kamu belum menjawab pertanyaan yang saya ajukan tadi.”
“Soal apa ya?”
“Kalau saya serius sama kamu, apakah menurutmu orang tuamu akan setuju?”
Haha...
“Oh,” Gadis itu tertawa dengan memukul lengan gurunya sebanyak dua kali. Pria itu pun merasa aneh. Selama mengajar tak pernah Ia berbuat seperti ini terhadap muridnya. Angel bisa membuatnya merasa nyaman. padahal gadis SMA ini sebaya dengan keponakannya.
“Kok Cuma Oh, Apa karena saya terlalu dewasa untuk kamu?” goda Leon.
“Ehm Pak Leon keren sih, manis, juga smart tapi maaf ya Bapak pasti akan langsung di tolak sama Papa.”
“Kamu yakin?”
“Iya, Karena Angel sudah di jodohkan Pak, jadi jangan coba-coba bertanya seperti itu lagi, Oke!”
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
miyura
aje gile pak leon.. ingat umur dong..
2023-10-20
1