Angel tak bisa menghubungi Deka membuatnya uring-uringan, sampai Zayn yang duduk di sebelahnya merasa terganggu. Dengan menopang kepalanya, Ia menatap sisi wajah Angel.
Hidung mancungnya seperti perosotan TK. Bulu matanya lentik menarik perhatiannya ketika berkedip. Tahi lalat di bawah matanya membawa pesona sendiri bagi gadis ayu itu, lalu bibirnya? Ah, membuat Zayn tiba-tiba tersenyum sendiri jika mengingatnya.?
‘Sial! Apa yang Gue pikirin!’ Zayn segera mengenyahkan wajah Angel dari benaknya. Sampai tak terasa bel tanda pulang pun berbunyi.
“Jangan lupa ya, tugas kelompoknya dikumpulkan hari Senin. Ibu tidak ingin ada alasan apa pun! Paham?” papar wanita berseragam batik itu.
Sebelum guru mereka meninggalkan kelas Gio mengangkat tangan. Bocah manis itu bertanya bagaimana nasib dirinya karena Deka tidak masuk kelas hari ini.
“Khusus Gio, karena Deka sedang sakit kamu bisa bergabung dengan Ansara dan Zayn ya! jangan sampai kamu tidak mengerjakan tugas hanya karena tidak memiliki kelompok, ada lagi yang mau bertanya?”
“Tidak ada Bu!” sahut para siswa serempak.
“Bagus!”
Saat guru mereka sudah tak terlihat, Angel segera berkemas. Ia ingin pergi ke rumah Deka. Namun tiba-tiba teleponnya berbunyi, jika Ia sedang di tunggu di rumah.
Angel
[Iya Ma, Angel segera pulang. Nggak ada kelas tambahan kok.]
Dista
[Mau dijemput adikmu?]
Angel
[Nggak perlu, Angel bisa naik ojek saja nanti. Bye Mama...]
Setelah sambungan itu terputus, Gio menahan langkah Angel. Sekalian ingin tahu di mana rumah gadis populer itu. dengan alasan karena mereka berdua dalam satu kelompok. Zayn tak segera mengemasi barang-barangnya. melihat bagaimana interaksi saudara kembarnya dengan gadis itu.
“Lo naik ojek? Mau bareng?” tawar Gio.
“Nggak usah, Gue biasa naik ojek. Tapi thanks buat tawarannya.”
“Kan kita satu kelompok, kalau mau ngerjain tugas gimana?” rayu Gio, “masa Lo yang harus samperin Gue ke rumah.”
Melihat Angel berpikir sesaat, Gio merasa yakin jika gadis itu akan bersedia. Sedangkan Zayn menyandang tasnya dan segera meninggalkan mereka berdua.
Tanpa sepatah kata pun Angel hanya menggerakkan kepalanya ke arah pintu. Pertanda gadis itu setuju. Zayn sudah meninggalkan halaman sekolah. sedangkan Gio mengantarkan Angel. Kembaran Zayn merasakan Angel menyentuh pinggangnya tanpa malu-malu. Senyum Gio yang manis tak dapat disembunyikan kemudian motor besar itu melaju lebih cepat.
“Kapan lo ada waktu?” teriak Gio.
“Hah! Nggak dengar Lo ngomong apa!” sahut gadis itu. Angel bingung, Ia tak tahu kepada siapa lagi dirinya akan bercerita. Sampai saat akan memasuki kompleks rumahnya, Angel menepuk punggung Gio untuk berhenti.
Motor besar itu berhenti tepat di taman dekat rumah Angel. Gio melepas helmnya dan bertanya kenapa memintanya berhenti di sembarang tempat.
“Gio, Gue bisa percaya sama Lo?”
“Bisa, Lo ada masalah? Kita bicara di warung bakso itu Lo mau?” ajak Gio.
Angel pun menurut. Sayangnya pemilik warung itu hafal dengan keluarga Angel, karena adiknya sering beli bakso di sana untuk Mamanya. Angel tampak gusar, Mamanya segera memintanya pulang ke rumah karena ada hal penting. Pasti terkait dengan perjodohan itu.
Ingin bercerita kepada Deka, namun sepertinya bocah itu terlanjur kecewa. Ia menyatakan perasaan kepada Angel namun belum dijawab. Malah mendapat berita perjodohan langsung dari Papa Angel. Semakin membuat Deka merasa terpukul.
“Ada apa Jel, cerita aja. siapa tahu Gue bisa bantu. Ya.. minimal beban di hati dan pikiran Lo berkurang,” Gio menarik jemari lentik diatas meja dan menggenggamnya.
“Tapi janji ya, kalau Lo bisa jaga rahasia!” Gio pun mengangguk. Sambil menunggu pesanannya datang Angel bercerita jika dirinya dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Dan Angel tak bisa lari dari perjodohan itu. Seketika Gio pun membulatkan matanya.
“Lo serius Jel? Wah hancur hati Gue.”
“Serius, tapi Gue belum pernah ketemu sama calon jodoh Gue itu.”
Dalam hati Gio, bunga yang sedang bermekaran dalam hatinya kini layu. Sama seperti hati Deka saat itu. Niat hati Gio ingin melakukan pendekatan saat mendapat kelompok yang sama dengan gadis cantik yang duduk di hadapannya sekarang.
Ternyata masih ada saja perjodohan orang tua di jaman sekarang. Gio bingung harus mengatakan apa, masalah gadis itu ternyata berat juga.
“Duh, mau gue nikahin Lo sekarang tapi Gue juga masih sekolah.” gurau Gio membuat Angel tertawa.
Sampai bakso dengan uap yang mengepul itu datang menyadarkan mereka berdua. Gio memperlakukan jagoan sekolah itu dengan manis. keduanya juga memiliki selera yang sama. Sampai sebuah dering telepon mengingatkan Angel untuk segera pulang.
Angel menghabiskan baksonya dengan cepat. Segera berpamitan dengan temannya, karena rumahnya sudah tak jauh dari warung tempat mereka makan. Gio pun menjadi kepikiran dengan gadis itu segera mengikutinya.
“Gue antar ya Jel, masa Gue turunin Lo di sini!”
“Nggak usah, rumah Gue udah kelihatan dari sini kok,” tolak Angel dengan segera membayar makanan mereka. Gio semakin tak enak. Ia pun mengeluarkan ponselnya, tak ingin kehilangan momen lebih dekat dengan gadis itu. jodoh tak ada yang tahu ya kan, sebelum kita berusaha. Gio menyerahkan ponselnya ke Angel.
“Simpan nomor Lo! siapa tahu Lo butuh bantuan Gue.”
Angel memasukkan nomornya dengan cepat, lalu meninggalkan Gio yang terus menatap punggungnya. Pemilik warung itu pun menghampiri bocah manis berseragam SMA, dan mengajaknya mengobrol sebentar. Jika ternyata memang benar, tak ada yang berani mengantar Angel sampai rumah.
“Hah, Bapak kenal sama gadis itu?” tanya Gio.
“Kenal, adiknya kan sering kemari. Rumahnya yang gerbangnya tinggi itu Mas.” tunjuk pria berkulit coklat itu. coba saja melihat sebentar kalau penasaran, kedua orang tuanya baik kok jangan takut.”
Gio tersenyum dan berpamitan. Namun Ia tak menuruti ucapan pemilik warung itu. sepanjang perjalanan, bukannya memikirkan tugas kelompoknya Ia malah memikirkan nasib Angel. Sampai tak sadar jika Ia telah tiba di rumah.
“Ma, pada mau ke mana kalian udah rapi begini?” tanya Gio. Meletakan tas nya dan segera pergi ke dapur mengambil segelas air, lalu duduk bersama saudara dan mamanya.
“Kenapa pulang terlambat Nak, kita semua menunggu kamu. Zayn saja sudah sampai rumah hampir satu jam yang lalu.” Gio melirik Zayn yang sedang asyik bermain game di ponselnya. Sepertinya bocah itu tidak mengatakan apapun kepada mamanya.
“Hehe, habis makan bakso di luar, nih kalau nggak percaya.” Gio mendekatkan dirinya kepada wanita cantik yang telah melahirkannya.
“Jorok kamu Nak, sudah sana mandi! sebentar lagi Papa kamu pulang. Kita akan pergi ke Bogor ada acara di sana. Jangan lupa bawa baju ganti untuk dua malam kita akan menginap,” pesan Kania. sedangkan Zayn berkata lirih kepada Kania setelah Gio pergi, bahwa saudaranya baru saja berkencan dengan teman sekelasnya.
Kania terkejut, lalu melihat wajah muram Zayn yang tak melihat sorot mata Kania. wanita itu tersenyum kecil.
“Kenapa? Kamu sepertinya juga menyukai gadis itu ya?” Kania mengusap rambutnya.
“Jangan patah hati gitu dong, nanti Mama kenalkan kamu sama anak teman Mama, cantik deh. Mama yakin kamu pasti suka.” Zayn hanya tersenyum kecil menatap benda yang melingkar di tangannya. ‘apakah dia akan semenarik Angel?’
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments