Angel yang bingung menjawab pertanyaan Deka tentang pria yang bersamanya. Bahkan dengan jelas mencuri ciuman pada gadis yang Ia suka dua tahun lamanya, membuat Deka uring-uringan. Angel berhati-hati memberikan penjelasan kepada Deka untuk tidak salah paham dengannya.
Setelah menghabiskan satu jam lamanya, Angel memutuskan untuk kembali bergabung dengan yang lain. sepertinya menghindari masalah juga tak akan membuatnya tenang. Angel merasa lebih baik setelah mengetahui keadaan Deka saat ini.
Melihat Angel turun dari tangga, Dista segera menghampirinya. Melihat raut wajahnya sudah tak semurung sebelumnya, lantas Mama muda yang semakin cantik itu bertanya.
“Kamu nggak apa-apa sayang? Mama Khawatir, kalau perasaanmu akan terganggu dengan keputusan Papa.”
“Nggak Ma, Angel baik-baik saja. Oh ya Ma, Mama tahu kan gelang Angel yang hilang itu?”
“Iya kenapa sayang? Apa sudah ketemu?”
Dista mengajak anaknya untuk mengobrol bersama orang tua si kembar. Angel menatap Dion begitu juga sebaliknya. Wajahnya tak asing, seperti pernah bertemu sebelumnya. Ketiganya berusaha mengakrabkan diri, sampai obrolan itu menyinggung tentang sebuah gelang yang bertuliskan namanya.
“Om Dion, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Ehm, mungkin. Kenapa Jel?”
“Oh, nggak Om, Cuma waktu Angel jemput Papa ke bandara, Angel menabrak seseorang sampai kopernya jatuh, hehe...”
Dion tersenyum. Ingatannya kembali ke peristiwa beberapa hari yang lalu. Dion mengingat seorang gadis remaja yang membersihkan kopernya dengan terus menyunggingkan senyumnya. Lantas Dion mengingat benda gadis itu yang terjatuh.
“Oh, jadi kamu gadis yang waktu itu?”
“Nah! Om ingat kan? Apa Om menemukan sesuatu di sana? Benda kesayangan Angel hilang Om, siapa tahu saja Om menemukannya,” tukas Angel. Sembari terus memperhatikan lengan Zayn. Angel pun tak sadar, tatapan Zayn juga mengarah kepadanya, sampai membuat Vicky berdeham.
“Ehm, perhatikan Zayn!”
Zayn menutup lengannya dengan jaket denimnya. Membuat Angel memalingkan wajanya karena sepertinya ketahuan, Ia sedang mencuri pandang pada bocah tampan itu.
“Ehm, apakah benda kesayangan kamu sangat berharga, Sayang?” tanya Dion.
“Ish, Om nggak tahu sih! gelang itu bukan sembarang gelang Om.”
Wajah serius Angel membuat mereka tertawa. Dion dan Kania pun semakin menyukai gadis itu. Angel adalah gadis yang sopan juga menyenangkan. Apalagi setelah mereka berbicara intens, wajar saja Gio dan Zayn sepertinya tak bisa berpaling dari Anak gadis Vicky.
Dion meminta Angel untuk menjelaskan seberapa pentingnya arti gelang itu kepadanya. Jika memang penjelasannya masuk akal, Dion akan memberitahu dimana gelang itu berada. Vicky yang sedang mengobrol dengan anak kembar Dion pun sempat menahan tawa, mendengar pengakuan anaknya tentang gelang mistis itu.
“Jadi begini Om, gelang itu pemberian teman Angel. Nah siapapun yang menemukan gelang itu akan tergila-gila pada pemilik sebelumnya Om, dan Angel nggak mau sampai itu terjadi. Kan nggak lucu kalau Om yang menemukannya.”
Dion mengangguk, tiba-tiba tertawa sembari mengusap rambut Angel yang menurutnya lucu. Terlebih lagi sekarang benda itu dikenakan oleh salah satu anak kembarnya, Zayn yang usilnya di luar batas wajar.
Dion menjadi mengerti sekarang, kenapa Zayn tak pernah berhenti mengganggu Angel meskipun secara terang-terangan.
“Ehm, begini aja Angel, sepertinya gelang itu nggak bisa kembali. Bagaimana kalau Om tukar sama salah satu anak Om saja, kamu mau yang mana? Zayn atau Gio?”
“Ehm, memangnya kalau nggak cocok boleh ditukar begitu?” balas Angel. Membuat Gio dan Zayn yang mendengarnya merasa geli di telinganya.
“Boleh, kan kalian masih SMA. Baru tujuh belas tahun. Kesempatan untuk mengenal mereka berdua juga masih sangat banyak. Jalinlah hubungan yang baik.”
“Wah boleh juga usulnya, Oh ya, Om dan tante tapi jangan marah sama Angel ya kalau salah satu dari mereka nanti patah hati.”
Tatapan Angel menatap Zayn dengan wajah mengerikan. Gadis itu ingin sekali memberikan pelajaran kepada bocah satu itu. dengan membuatnya merasakan kesal yang luar biasa. sama seperti perbuatan Zayn kepadanya.
Vicky sudah meminta persetujuan Dion tentang tantangan balap motor itu. Meskipun para istri melarangnya karena hal itu berbahaya, namun keputusan Dion dan Vicky tak bisa dicegah. Bahkan Dion juga ingin turut serta, tetapi Vicky melarangnya.
“Gio Gue sih berharap Lo bisa mengalahkan Papa Gue, kan kita bisa jadi lebih dekat benar kan?” Angel duduk di antara ketiga pria berbeda usia dengan menopang tangan ke dagunya. Menatap bocah manis yang selalu baik kepadanya. Sedangkan Vicky melihat Zayn yang hanya berdecih membuang muka melihat kelakuan Angel.
“Sudah—sudah karena sekarang sudah larut, kalian bisa istirahat. Besok pagi kita bisa mengunjungi tempat wisata di daerah ini. Angel, ajak adikmu untuk tidur!” perintah Vicky.
“Zayn, Gio kalian juga istirahat ya!”
“Iya Om, kami permisi dulu.”
...
Di dalam kamar yang besar itu, Gio dan juga Zayn tak dapat tidur. keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Gio bisa menjadi lebih dekat dengan gadis yang ditaksirnya. Apalagi kedua orangtua nya juga mendukungnya.
Begitu juga dengan Zayn, bocah tampan itu terus mengusap bibir merahnya. Ia berhasil lagi mencuri kecupan pada gadis itu. semakin Angel kesal, semakin puas rasa di hatinya. Meskipun bisa saja gadis itu mengadukan perbuatannya kepada Papa atau pun Mamanya. Zayn tak perduli.
“Zy, menurut Lo bokapnya Angel serius mau jodohin anaknya sama kita?”
“Hm, tadi kan Papa juga bilang begitu, kenapa? Lo udah nggak sabar ya mau dapatin dia?”
“Haha, kenapa? Lo jealous ya?” timpal Gio.
“Haha... Buat Lo aja, Gue nggak minat!” Zayn tak jadi tidur. Ia membuka pintu kaca besar yang terhubung ke balkon. Bersandar pada pagar pembatas dan menerawang jauh. Sesekali ditatapnya benda silver yang melingkar di tangannya.
‘Apa iya Gue harus melawan Gio untuk mendapatkan cintanya?’
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments