Di dalam mobil, Deka melihat amarah Angel sudah mereda. Meskipun sesekali terus mengoceh membahas benda pemberiannya yang hilang, hingga telah membuatnya kalah balapan. Bibirnya yang seperti paruh bebek saat sedang mengoceh, membuat Deka ingin menghentikannya dengan bibirnya, aahh... sudahlah. Deka tersipu malu saat melihat benda kenyal itu.
“Lo kenapa Deka? Kesambet?” tanya Angel, melihat sahabatnya senyam-senyum sendiri di balik kemudi.
“Hehe, Oh iya Jel, Nyokap Lo telepon terus tuh, nggak Lo telepon balik?”
“Lupain! Nanti bilang aja nggak dengar. Eh Deka! by the way, Gue lapar nih.”
“Oke, as your wish, my Angel. Kita putar balik kalau begitu, kita cari drive thru yang dekat rumah Lo aja ya!”
Deka takjub melihat gadis itu saat mengendarai motor besar, bahkan rasa sukanya bertambah menjadi seribu kali lipat. Meskipun kalah, tak mengurangi perasaannya kepada gadis yang dikenalnya dua tahun yang lalu, bahkan sampai sekarang belum ada gadis yang mampu menandingi pesona istimewa seorang Ansara Jelita.
“Drive thru?” ucap Angel.
“Yoi, bukannya dari tadi Lo lagi ngebatin burger sama kentang? Lihat iler Lo itu!”
Haha...
“Lo paling tahu Gue Deka, cewe yang bisa jadi pacar Lo pasti beruntung banget!” sambung Angel sambil memeluk lengan bocah manis itu.
Jantung Deka nyaris meledak, saat Angel juga mengusap rambutnya dan berkata demikian. Betapa ingin sekali bibir Deka mengatakan jika dirinyalah gadis yang Ia mau. Selama ini, Ia tak membuka hati untuk siapa pun, meskipun setiap kali Angel sibuk Deka selalu berkencan dengan teman sekolahnya yang lain untuk membunuh rasa bosan.
“Jel, Malam minggu besok ada acara?”
“Ehm, belum tahu. Ada apa emangnya?”
“Gue mau ajak Lo ke ru-...”
“Stop! Sampai sini aja Dek,” potong Angel mengejutkan Deka. Sembari melihat jam di tangannya menunjukkan sembilan kurang lima menit.
Deka menepikan mobilnya setelah tiba di samping gerbang rumah gadis itu. Ingin sekali Deka mengajak Angel ke rumahnya, dan mengenalkannya kepada kedua orang tuanya. Mengenalkan Angel sebagai teman spesialnya selama ini. Namun, sayang ucapannya tak tersampaikan.
“Bye Deka, sampai bertemu besok di sekolah Oke!” pamit Angel.
“Tapi Jel,...” ucapan Deka terputus, karena punggung gadis itu sudah tak tampak di depannya. Angel mengejar waktu sesuai perjanjiannya dengan kedua orang tuanya.
Wajah Deka bersemu merah. Baru kali ini dirinya terbawa perasaan oleh gadis cantik yang keras kepala dan juga penuh kejutan seperti Angel.
...
“Angel Pulang...” sapanya.
“Baru pulang Sayang?”
Dista menghampiri anak gadisnya sesuai pesan suaminya. Meskipun Dista sudah mengatakan jika memberitahu Angel setelah ujian kenaikan kelas saja. Namun, Vicky akan memberikan pengertian secara perlahan.
Sangat disayangkan Vicky berbuat demikian. Usia Angel yang baru akan menginjak tujuh belas tahun, harus terikat perjodohan. Sedangkan mereka berdua dulu, bertemu karena memang saling menyukai tanpa adanya tekanan.
“Bisa kita bicara bertiga sebentar, sayang?” Angel mengangguk.
Gadis belia itu menyembunyikan kedua tangan mulusnya yang terhias plester lucu. Melihat kedua orang tuanya tampak tegang, Angel menyimpulkan jika ada yang mereka sembunyikan.
“Haha, serius banget Pa,Ma ada apa?”
“Duduk sini!” Vicky menepuk sofa, tempat dimana mereka berdua berada.
Glek!
Perasaan Angel berdebar, taku jika Papanya mengetahui sesuatu tentang kebohongannya. Kini gantian Angel yang tegang.
“Ada apa sih, serius banget?”
Vicky membelai rambut anak gadisnya. Mengatakan penyesalan tentang waktu berjalan begitu cepat, tetapi papanya sangat sedikit sekali menghabiskan waktu dengan kedua anaknya. Angel juga Fardan, adiknya.
“Angel, bulan depan Papa dan Mama sepakat akan merayakan ulang tahunmu, yang ke berapa sayang?”
“Tujuh belas, Serius Pa?” tatapan Angel menatap Vicky tak percaya. Dan papanya pun mengangguk.
“Aaaa.... thank you Papa sayang!”
Angel memeluk erat papanya kemudian beralih ke mamanya. Obrolan itu mengalir panjang lebar tentang rencana perayaan pesta itu. hati Angel sungguh gembira, bahkan Ia sempat berjingkrak-jingkrak karena mimpinya merayakan sweet seventeen bersama kedua orang tuanya akan terwujud. Sampai Angel tak menyadari, jika orang tuanya melihat tangannya terluka.
“Ya sudah, sekarang kamu istirahat, besok Papa akan mengantarmu ke sekolah!”
“Oke, selamat malam Pa, Ma,” Angel melemparkan kiss bye dari anak tangga.
“Jangan lupa ya Nak, malam minggu besok jangan kemana-mana!”
“Oke!”
...
Zayn kembali ke tempat Gio berada. Mereka berdua duduk di pelataran minimarket itu. Gio yang manis mengobati luka di wajah saudara kembarnya. Gio tak pernah menyangka jika Zayn akan kalah dalam berkelahi. Meskipun babak belur, remaja dengan potongan rambut koma itu tak akan membiarkan dirinya terbaring di aspal seperti tadi.
“Siapa sih yang sudah bikin Lo jadi kayak begini?” tanya Gio.
“Sudah, nggak usah dibahas, obati saja lukanya sebelum kita pulang.”
“Ck! Kalah saja masih belagu Lo! haha...” Gio senang, jika Zayn merasa kesal.
Mereka berdua berencana akan pergi mencari hiburan setibanya di rumah. Kado selamat datang dari Oma adalah dua unit motor besar impian mereka berdua. sama seperti milik Papanya dulu, yang masih terparkir di garasi, Ducati hitam solid keluaran terbaru.
Setelah berpamitan kepada Oma dan Mamanya akan mengunjungi pasar malam, mereka berdua justru mendatangi arena balap. Mungkin ini adalah hukuman langsung dari Tuhan karena membohongi orang tua. Niat bersenang-senang justru malah berakhir seperti ini.
Tiba-tiba Zayn mengeluarkan sebuah amplop coklat dan menunjukkannya kepada Gio. Beberapa lembar pecahan seratus ribuan yang masih baru. Zayn menghitungnya dengan teliti, dan memberikannya kepada Gio sebagian.
“Nih Buat Lo, udah berbaik hati obati luka Gue.” Zayn menaikan alisnya dengan senyum menahan perih. Namun, Gio masih saja melirik sisa uang yang berada di tangan Zayn.
“Kok Cuma segini? Bagi rata dong Zy!”
“Heh, Nggak tahu diri banget sih Lo bukannya terima kasih, nih!” Zayn menambahkannya selembar lagi. sebagai uang tutup mulut, dan Gio pun akan menjaga rahasia saudaranya malam ini.
“Mau Balik sekarang? Katanya mau dugem?” ajak Zayn.
“Dugem? Dengan wajah Lo kayak begitu? Dih, males banget Gue, balik aja lah. besok kita mau memilih sekolah sama Papa, siap-siap aja Lo dikuliti sampai di rumah.”
Gio menepuk punggung saudaranya dan memberi kode Zayn untuk mengikutinya. Sedangkan dalam perjalanan, Zayn tiba-tiba terbayang rambut hitam gadis itu tergerai di depan matanya. Memberinya pukulan beberapa kali sampai Ia tak merasakan perih sedikitpun, karena terus menatap wajah gadis itu.
Diin!!
Suara klakson menyadarkan Zayn yang nyaris tertabrak mobil. Entah apa yang dipikiran bocah tampan itu. beberapa kali Zayn mengenyahkan bayangan gadis yang telah mempermalukannya di depan banyak orang.
“Sial, ganggu aja itu cewek! semoga saja kita bertemu lagi.”
Setibanya di rumah, Dion dan Kania sudah menunggu di ruang tamu. Gio sudah tiba di rumah sepuluh menit yang lalu, sedangkan Zayn datang terlambat dengan wajah berantakan. Zayn minta izin untuk pergi ke kamar, tetapi di tahan oleh Papanya.
“Zayn, Papa mau bicara!”
“Mas, sudah Mas! biar Kania saja yang bicara ya!”
Zayn menerima uluran tangan dari mamanya, dan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Saat melintasi Dion, Zayn sedikit menahan tawa karena dirinya selamat kali ini. Kania memanggil kedua anaknya, dan memberitahu jika besok mereka akan mulai bersekolah.
“Ma, bukannya besok kita baru akan memilih sekolah sama Papa?” tanya Gio.
“Ya seharusnya begitu Gio, tapi setelah melihat tingkah laku kalian seperti ini, Papa kamu membuat keputusan untuk memasukan kalian ke sekolah pilihannya.”
“Ish, mana bisa seperti itu?” protes keduanya bersamaan.
“Sudah, jangan buat Papa kamu semakin kesal. Gio kamu istirahat nak, Zayn kamu ikut Mama sekarang!”
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments