Hawa dingin di puncak membuat Zayn tak bisa tidur nyenyak. Pasalnya mereka sudah menyesuaikan diri dengan kondisi di Jakarta yang cukup gerah. Zayn memeluk saudaranya yang tampak pulas bergelung selimut. Melihat hal itu Zayn menjadi jengkel karena sepertinya hanya dirinya saja yang terganggu dengan situasi dan keadaan macam ini.
Terus gelisah, bocah tampan berkulit putih itu membangunkan Gio. Sayangnya Gio sepertinya berada dalam mimpi yang indah. Sulit sekali dibangunkan, bahkan hanya untuk menatap Zayn saja sepertinya ada lem gajah yang melekat di kelopak matanya.
“Tidur Zy, besok kita mau jalan-jalan sama keluarganya Angel, Gue nggak mau bangun kesiangan gara-gara ngobrol sama Lo!” ucap Gio dengan nada kantuk yang sangat berat.
“Nggak bisa tidur Gue! Lo pasti mimpi jorok ya, sampai begitunya lebih milih tidur daripada ngobrol sama Gue!” Gio yang mendengar jawaban Zayn, tersenyum lebar lalu melanjutkan kembali tidurnya.
Zayn meninggalkan kamarnya, Ia mencari dapur untuk mengambil air minum. Membasahi tenggorokannya yang kering. Baru kali ini Ia tak dapat tidur di tempat asing. Suasana sangat sepi, seketika kulit putih Zayn merinding. Namun saat menuruni tangga, Zayn justru melihat seseorang tengah melakukan panggilan video di ruang keluarga.
Suaranya berbisik, namun terdengar sangat bahagia. Dengan rambut hitam tergerai dengan pakaian hangat. Saat menoleh, wajah cantiknya membuat Zayn tersenyum dari kejauhan. Siapa lagi jika bukan gadis bar-bar yang selalu menghantui Zayn Marco Wijaya.
‘Cewek ini nggak ada takut-takutnya sama sekali, tengah malam teleponan sendirian, bisik-bisik, benar-benar di luar perkiraan kalau dia adalah seorang gadis.’
Zayn tak ingin mengganggunya. Setiap saat bersamanya pasti ada saja bahan untuk meributkan hal tidak penting. Apalagi Zayn telah mencium Angel sebanyak dua kali dengan paksa, Ia tak ingin membuat huru-hara di tengah malam begini, meskipun sebenarnya Zayn merasakan candu oleh bibir manis seorang Angel.
Prank!!
“Sial mana pakai pecah lagi gelasnya!”
Zayn segera bersembunyi saat terdengar suara mendekat ke arahnya. Padahal baru saja Ia akan membereskan kekacauannya. Seorang gadis dengan pakaian tidurnya melihat pecahan kaca yang tercecer di lantai.
“Ck! Kelakuan siapa sih ini?” Zayn melihat Angel mengepel lantainya yang basah. Sampai gadis itu melihat ke arah Zayn bersembunyi. Angel membelalakan matanya. Menyadari gadis itu hendak berteriak, Zayn segera menarik gadis itu dan membawanya bersembunyi bersamanya.
“Sshht! Ada yang datang!”
Sekali lagi kesempatan itu datang kepadanya. Bocah tampan dengan bibir pink merona itu mendekap Angel saat langkah kaki mendekat ke arah dapur. Jari telunjuk Zayn memintanya untuk tetap tenang, sampai mereka berdua melihat pemandangan yang membuat suasana dingin itu berubah panas seketika.
“Yang, anak-anak sudah tidur?”
“Sudah, lagian kamu kenapa sih nyusulin kemari! kan Aku Cuma mau minum aja Yang!”
“Nggak mau jauh-jauh lagi dari kamu, rasanya perjalanan dinas kemarin cukup menyiksa aku Yang, harus berjauhan dari kamu dan anak-anak.”
Zayn dan Angel membelalakan matanya. Saat melihat dua orang dewasa itu sedang berciuman mesra di dapur. Begitu hangat dan romantis hingga beberapa saat. Bahkan tanpa sadar Angel meremas erat punggung Zayn karena tak dapat bersuara.
Menyadari takut ada yang melihat, Vicky dan Dista menyudahi kegiatan romantisnya dan berlanjut pindah ke kamar mereka.
“Kita lanjut di kamar aja ya, Suka lupa tempat kalau sama kamu!”
“Ih kamu bisa aja deh! Aku takut kalau ada anak-anak yang tiba-tiba bangun.”
Selepas kepergian mereka, Angel dan Zayn menjadi canggung. Bahkan mereka tak saling melepaskan pegangan mereka satu sama lain saking gugupnya. Zayn menatap Angel yang sepertinya malu karena membuang wajahnya. Sampai Zayn mengangkat dagu gadis itu.
“Sorry Lo harus melihat hal itu dengan mata kepala Lo sendiri!”sesal Angel
“Kenapa? Apa yang salah?”
Zayn meminta Angel untuk menatap matanya. Sedangkan gadis itu berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan musuh bebuyutannya. Angel khawatir jika bocah itu tak bisa menyimpan rahasia seperti sebelumnya.
“Jel, lihat Gue! mereka sudah dewasa, saling mencintai, dan Gue juga memakluminya karena Bokap Nyokap Gue juga malah lebih parah dari itu.”
“Lepaskan Gue Zayn!”
“Jel, dengarkan Gue! kalau itu Gue sama Lo, Gue juga akan melakukan hal yang sama. Kenapa Lo takut kalau Gue akan menyebarkan berita ini? mereka calon orang tua Gue, masa iya Gue akan berbuat sejahat itu.”
“Itu kan yang ada di pikiran Lo buat mengancam Gue?”
“Gue nggak perlu mengancam Lo buat jatuh cinta sama Gue! sekarang pergi tidur sana, sudah puas kan video call sama si Deka!”
Zayn kembali membuka lemari pendingin itu dan menenggak habis air dalam gelasnya. Kemudian meninggalkan Angel sendirian di sana yang masih mematung. Mencerna setiap ucapan Zayn ke dalam pikirannya.
Sampai Angel menyadari jika sejak tadi bulu kuduknya meremang. Dari mana Zayn tahu isi dalam pikirannya. Angel menenggak air dingin hingga menghabiskan beberapa gelas. Namun irama jantungnya masih saja berdegup cepat.
‘Ah, efek begadang seperti ini ya...lebih baik Gue cepat-cepat tidur.’
...
Pagi hari, mereka telah sampai di sebuah desa wisata. Untuk sampai ke sebuah rumah pondok, mereka harus mengendarai sepeda yang sengaja di sewakan. Melintasi jalanan terjal di area kebun teh yang meliuk. Dion dan Kania berboncengan mesra dengan sepeda jengki. Begitu juga dengan Vicky dan Dista. Membuat anak-anak mereka berdecak keheranan.
Melihat hal itu, Zayn segera mengajak Fardan untuk berboncengan. Meninggalkan saudara kembarnya Gio dan Angel.
“Tumben saudara Lo diam aja!” tanya Angel.
“Dia demam, semalaman nggak bisa tidur karena kedinginan.” Balas Gio, “ kenapa? Lo khawatir sama Dia?”
“Cih! Siapa? Gue? Enak aja. Hati-hati bawa sepedanya! Gue nggak mau jatuh ya!”
Gio mengacak rambut Angel yang berkepang dua. Menautkan tangan gadis itu untuk melingkar di perutnya. Sepanjang perjalanan Gio berhenti untuk mengabadikan gambar mereka berdua. membuat Angel kesal, karena tertinggal jauh oleh yang lain.
Beberapa kali ponsel Gio berdering, namun saat melihat nama pemanggilnya Gio mengabaikannya. Hingga beberapa kali hal itu berulang, Gio akhirnya mematikan ponselnya yang justru membuat Angel bertanya.
“Siapa yang telepon? Kenapa tidak diangkat?”
“Lupakan, bukan siapa-siapa. Oh ya Jel, berarti Gue boleh main ke rumah dong! Gue masih nggak nyangka, kalau yang dijodohin sama Lo itu Gue, haha...”
“Terserah, kalau kalian yang ke rumah pasti Bokap Nyokap Gue setuju-setuju aja. Oh ya Gio gara-gara perjodohan ini, Gue sampai dilarang Papa untuk keluar rumah lagi sekarang. Dan Lo harus bisa bantu Gue, setuju!”
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments