Deka dan Gio berjalan beriringan, keduanya masih bisa bercanda seperti sebelumnya. Namun tidak dengan Zayn. Seperti ada dendam kesumat yang begitu membara antara Deka dan saudara kembar Gio.
Angel yang keluar ruangan Leon paling akhir, masih memikirkan cara bagaimana agar gurunya tak menghubungi Papanya. Kedatangan Deka waktu itu saja sudah membuat gerakannya terbatas untuk keluar rumah, apalagi jika Papanya mendengar keluhan gurunya selama ini.
‘Nggak, Ini nggak boleh terjadi...’
Saat sedang larut dalam pikirannya, tiba-tiba ada yang menariknya. “Eh! Mau ngapain lagi sih Lo! Ngagetin Gue!”
Zayn menarik tangan Angel saat menuruni tangga dan membawanya ke gudang. Menyandarkannya di dinding, dan mengungkungnya. Tentu saja Angel terkejut karena merasa tidak siap. Kini mereka berdua bertatapan. Luka di wajah Zayn, membuat Angel ingin menyentuhnya. 'sepertinya sakit.' Angel bergidik membuyarkan khayalannya.
“Kenapa? Lo nggak terima sama pukulan Gue! Lo bisa balas Gue nanti, sekarang biarkan Gue balik ke kelas dulu Zayn!”
“Oh itu sih jelas! Tapi ini bukan karena hal itu.”
“Lalu? kalau nggak ada yang mau Lo bicarakan lebih baik sekarang Lo minggir, senang banget gangguin Gue!” tukas Angel dengan mendorong tubuh Zayn yang nyaris menghimpitnya.
Tiba-tiba Zayn tersenyum mendengar Angel mengatakan hal itu. Ada perasaan menggelitik di perutnya.
Meskipun tenaga Angel cukup besar, namun Zayn tak bergerak sedikitpun. Sampai siswa tampan itu mengeluarkan ponselnya, meminta Angel untuk memasukan nomornya di sana.
“Masukin nomor Lo, Gue nggak akan biarin Lo diam-diam pergi sama pria itu ya!” ancamnya.
“Haha... itu bukan urusan Lo, dan asal Lo tahu, Gue terlibat urusan begini juga karena tingkah kalian berdua. Jangan lupakan hal itu!”
“Kata siapa bukan urusan Gue? Gue calon jodoh Lo Angel!”
Haha... Angel berdecih, meledek Zayn.
Gadis setinggi 167 senti berusaha melewati Zayn namun gagal. Sampai kesabarannya habis, Zayn mengambil ponsel milik gadis itu yang disimpan di saku depannya. Gerakannya yang cepat dan terorganisir membuat Angel terperangah jika benda pipih kesayangannya kini telah berpindah tangan.
“Eh, Balikin nggak!” Angel memegang dadanya, nyaris jantungnya copot akibat perbuatan bocah itu.
“Ambil kalau bisa!”
Zayn membuka ponsel milik Angel dan memasukan nomornya di sana. Menekan tombol panggilan ke nomornya. Setelah terhubung, Zayn yang mengangkat ponselnya tinggi-tinggi membuat Angel melompat untuk meraihnya.
Namun gerakan Angel yang sangat agresif menyentuh benda keramat milik bocah dengan tinggi 177 senti yang tak seharusnya tersentuh sembarangan.
“Awh!” pekik Zayn. tiba-tiba saja Ia merasa ngilu. Zayn meringkuk kesakitan.
Zayn menyerahkan ponsel Angel sembari terus memegangi juniornya. Dengan berjalan sempoyongan, bocah tampan itu keluar dari pintu gudang sambil merasakan nyeri. Gadis itu berdecih, tersenyum kecil.
“Sorry, Gue nggak sengaja!” Angel melewati Zayn begitu saja tanpa rasa berdosa.
...
Zayn tak masuk kelas. Ia meminta Gio untuk membawakan tasnya ke halaman parkir. Tak ingin menikmati hari membosankan, Gio pun turut meninggalkan jam pelajaran dan menyusul saudaranya. Angel melihat Gio yang pergi meninggalkan kelas dengan barang bawaan saudaranya.
“Mau kemana?”
“Mau balik, bye sayang!” Gio berlalu.
Dengan seenaknya si kembar Zayn dan Gio meninggalkan jam pelajaran. Angel melihat bangku sisinya kosong pun merasa tak enak hati. Namun, mau bagaimana lagi, Ia benar-benar tak sengaja.
Deka melihat ada banyak hal yang berubah. Sesuatu yang telah Ia lewatkan selama tidak masuk sekolah. Kedatangan dua anak baru itu sungguh membuat Angel berubah. ‘Sayang, katanya...’ batin Deka.
Ia yang dua tahun lebih berteman dekat dengan Angel baru berani memanggil gadis cantik itu dengan panggilan sayang juga baru kemarin.
“Jel, sepertinya Lo sudah nggak khawatir dengan perjodohan itu? apa Lo sudah menerimanya?”
“Heh, jangan bahas hal itu di sekolah bisa nggak!”
“Kenapa? Apa Lo sudah ketemu sama orangnya?”
Angel menoleh ke arah Deka dengan mulut mengancam. Membuat Deka mengerti jika Ia harus diam. Saat sedang serius, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk ke ponselnya. Sebuah nomor asing yang tak Ia kenal.
Tak Di kenal
[Angel, nanti sore ada waktu? bisa kita bertemu di luar?]
“Cih! Sok keren, to the point sekali bocah ini!” dengan cepat Angel membalas pesan itu. dengan hati dongkol, baru saja Ia meringis kesakitan di gudang. Sekarang bolos jam pelajaran sekolah malah mengajaknya bertemu di luar.
Angel
[Kalau berani jemput ke rumah dong! Nggak gentle!]
Tak Di kenal
[Belum waktunya, kamu saja yang pilih tempat nanti biar saya yang menyesuaikan.]
Angel berpikir, bahasa pesannya terlalu sopan hingga membuat Angel semakin merasa bersalah. Akhirnya Angel menyetujui ajakan keluar nomor tak di kenal yang Ia sangka bocah random yang menjadi musuh bebuyutannya selama ini.
Angel
[Oke! jangan GR, Gue mau karena Gue merasa bersalah sama Lo! Gue tunggu di depan bioskop PIM (Pondok Indah Mall) jam lima sore, awas telat!]
Tak Di kenal
[Oke Angel]
Setelah puas berkirim pesan, hati anak sulung Vicky dan Dista merasa lega. Paling tidak bisa mengurangi rasa bersalahnya. Sampai Angel bertanya hal absurd itu kepada Deka.
“Sshht, Deka Gue mau tanya. Emang sakit ya kalau ‘anu’ Lo itu nggak sengaja kena tendang, kesenggol atau kebentur gitu, hehe...” Angel menyunggingkan senyumnya. Menampakkan deretan gigi putihnya yang berbaris rapi.
Bocah badung yang sudah bersiap pulang, Kini wajahnya berubah semerah tomat mendapati pertanyaan random dari Angel. yang membuatnya menutup mulut gadis itu secepatnya karena bicara terlalu blak-blakan.
“Ih Lo Ngapain sih Jel, tanya kayak begitu?”
“Udah sih jawab aja, Gue penasaran.”
“Jangan sampai Gue cium Lo ya tanya hal begituan lagi ke Gue! sudah ah, Gue mau balik.”
Deka meninggalkan Angel tanpa jawaban. Membuat gadis itu jengkel, kenapa semua teman laki-lakinya bersikap aneh hari ini, Zayn, Gio juga Deka. Akhirnya Ia pulang sendiri dengan rasa penasaran yang terus berputar di kepala.
...
Setibanya di rumah, Angel tak langsung menuju ke kamar. Setelah melepas semua atribut yang melekat di tubuhnya, gadis remaja itu menuju ke dapur. Mengambil segelas air untuk menenangkan pikirannya seharian ini.
‘Gila dong, besok sudah ujian akhir semester dan Gue kena kasus di sekolah. Nggak bisa bayangin gimana kecewanya Papa sama Mama, duh gimana dong!’
“Sayang, sudah pulang?” sapa Dista.
“Ma, sini deh! Ada yang mau Angel bicarakan sebentar.”
Dista pun menurut saat tangannya digandeng gadis sulungnya ke ruang keluarga. Berulang kali Angel menarik napas, ini bukan pertama kalinya orang tua Angel diminta untuk datang ke sekolah.
Namun gadis itu selalu menemukan cara untuk mempermudah urusannya. Sayangnya Ia tak bisa lagi bernegosiasi dengan guru BP nya yang baru, Pak Leon.
“Ada apa sayang, kok cemas begitu? ada masalah di sekolah?”
“Ehm, sayangnya iya Ma... besok Mama diminta datang ke sekolah, Mama bisa kan? please, jangan bilang Papa ya!”
“Kali ini apa lagi Sayang, Mama ngga bisa terus-terusan simpan rahasia kamu sama Papa. Coba katakan!”
“Ehm, jadi Angel tuh mau misahin Deka sama Zayn yang sedang berkelahi, Nah tepat saat itu Pak Guru datang dan minta orang tua kita semua untuk datang ke sekolah.”
“Deka sama Zayn berkelahi, bukan gara-gara kamu kan?”
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
miyura
lanjut othor
2023-10-20
1