Angel memasuki rumah, terlihat semua orang sibuk. Mamanya, Adiknya juga bibi pengurus rumah. Tak ada yang mengatakan kepada gadis itu ada apa sebenarnya.
Setahu Angel Ia hanya diminta untuk pulang lebih cepat. Saat gadis kelas XI SMA itu hendak ke kamarnya Ia bertabrakan dengan Fardan, adiknya yang super cepu.
“Jelly, lama banget sih Lo! Uh, mana bau bakso lagi.” sungut Fardan yang segera meminta kakaknya untuk mandi. Dista tengah menyiapkan banyak bahan makanan untuk acara nanti malam. Wanita cantik dua anak itu sengaja merahasiakannya kepada Angel.
“Sayang, kok kamu belum siap-siap?” tanya Dista.
“Kita mau ke mana sih Ma?” Angel dengan lemas menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dista mengikutinya di belakang dan meminta anak gadisnya untuk mencoba pakaian yang baru saja Ia beli. Sama seperti Vicky yang menyukai anak perempuan, Dista bisa menyalurkan hobinya yang suka make up dan selalu tampil fashionable.
“Kita mau berlibur Angel, sudah lama Mama ingin menghabiskan akhir pekan di puncak tapi belum keturutan karena Papa kamu masih ada pekerjaan.” Senyum manis mamanya membuat Angel menatap curiga.
Meskipun saat mendengar hal itu, Angel bersorak kegirangan.
Kenapa mamanya tak mengatakannya sejak tadi jika mereka akan ke Bogor untuk berlibur. Dengan semangat empat lima, Angel mengikuti semua perkataan mamanya.
“Tapi Mama nggak berniat mau honeymoon lagi sama Papa kan?” goda Angel sambil memasuki kamar mandi.
“Ehm, usul kamu bagus juga Nak,” balas Dista tak mau kalah.
Setelah tampak segar, Angel mengenakan pakaian yang tersedia di atas tempat tidur. Sebuah midi dress berwarna pink kombinasi putih tanpa lengan, di lengkapi dengan jaket denimnya. Membuatnya tampak manis dan feminim. Tak lupa menyemprotkan parfum aroma vanila, yang cocok untuk gadis energik seperti Angel. Dengan sepatu kets andalannya, Ia sudah siap untuk bersenang-senang.
Saat sedang berhias di depan meja rias, Dista masuk dan mulai menatap anak gadisnya yang beranjak remaja. Di sisirnya surai hitam legam itu, dikreasikan menjadi bulatan-bulatan di sisi kiri dan kanan seperti boneka beruangnya.
Membuat Dista merasa gemas dan mencium pipi anak gadisnya. Ia tak menyangka, jika suatu saat dirinya harus merelakan Angel dimiliki pasangannya. Rasanya baru kemarin Ia melahirkan gadis ayu berkulit putih itu.
“Cantik kan anak Mama, nah selesai. Ayo, Papa sudah menunggu kita di bawah!” Dista menggandeng tangan Angel. Keduanya masih cocok di sebut kakak beradik dari pada Ibu dan anak. Sampai Angel teringat ucapan Deka yang mengatakan jika Mamanya cantik.
“Ma, dapat salam dari Deka, kalau Mama cakep.” Sembari tersenyum menggoda mamanya.
“Deka? Oh, maksud kamu Damar?” Dista pun tertawa mengingat bocah manis itu, “Kamu suka sama dia ya?” tanya Dista. Gadis belia itu pun mengedikan bahu, Ia juga tak tahu dengan perasaannya. Meskipun Deka sudah memberikan sinyal dan kode berkali-kali, Namun Angel takut jika suatu saat perasaannya akan berubah dan hubungan mereka tak bisa sebaik sebelumnya.
‘Nggak ada kabar dari bocah itu, gimana ya keadaannya?’ batin Angel yang menatap layar ponselnya. Ia ingat jika kontaknya telah diblokir oleh Deka.
Vicky melihat istri dan anaknya tampak mempesona, padahal mereka hanya berpakaian kasual seperti biasa, tetapi kenapa menatapnya saja membuat dirinya jatuh cinta berkali-kali. Apa kabar dengan pria lain yang menatapnya.
“Kayak begini nih yang bikin Papa posesif, lihat kamu sama Angel menarik perhatian banyak orang.” Keluhnya. Dista hanya tertawa, sudah menjadi kewajiban seorang suami cemburu dengan istrinya.
Sampai mobil itu mulai memasuki jalan tol Jagorawi untuk mempersingkat waktu. Mengingat akhir pekan pasti jalur puncak akan sangat padat dilintasi banyak para wisatawan. Meskipun memakan waktu hampir dua jam, akhirnya mereka tiba juga di lokasi.
“Kita sudah sampai, Ayo turun!” ajak Vicky kepada anak dan istrinya.
Sebuah Villa estetik bernuansa dominan coklat. Dengan halaman yang luas, jalan bebatuan dan banyak pepohonan di sana. Fardan sangat antusias dengan pilihan orang tuanya. Bocah SMP itu membantu Vicky mengeluarkan barang bawaannya dari dalam bagasi. Sedangkan Angel asyik mengelilingi bangunan megah yang terdiri dari dua lantai dan juga terdapat kolam renang di sisi villa itu.
“Wah keren, siapa yang milih Villa ini Pa?” tanya Angel.
“Tanya-tanyanya nanti aja Jelly, sekarang bantuin kita dong!” pinta si bungsu.
“Lo kan cowok, masa nggak malu minta bantuan Gue?” jawab Angel asal-asalan. Melihat ada pemanggang di samping vila, sepertinya papanya akan mengadakan acara barbeque untuk mereka sekeluarga. Dista memasukkan barang bawaan anak-anaknya ke dalam kamar yang sudah mereka tentukan. Begitu juga dengan barang pribadinya dengan suaminya.
Melihat Angel ke arah yang berbeda, Dista segera memanggilnya. Wanita cantik itu memberi tahu jika Villa ini tak hanya untuk keluarga mereka saja. Angel berpikir rasanya sayang juga bangunan sebesar ini hanya mereka berempat saja, tetapi Angel tidak tahu siapa keluarga yang dimaksud.
Angel pun segera mengikuti mamanya. Akan tetapi rasa penasarannya cukup tinggi, sampai Ia kembali lagi ke kamar yang hendak Ia buka pintunya.
“Wah... kamar ini luas sekali. Ranjangnya besar lagi.” Angel merasa takjub. Melihat kamar yang lebih besar dari miliknya. Melihat tirai cantik berwarna rose gold dan membukanya. Ternyata sebuah pintu kaca yang menghubungkannya ke balkon, dengan pagar besi setinggi enam puluh sentimeter.
Angel hendak kembali memberi tahu mamanya jika Ia akan pindah ke kamar besar itu. saat ia hendak keluar terdengar suara langkah kaki yang akan menaiki anak tangga dan mendekati pintu itu.
“Sial, suara siapa itu? sepertinya bukan suara Fardan atau Papa.”
...
Rupanya saat Dista dan Angel memasukan barang-barang, sebuah mobil hitam datang memasuki halaman Villa. Menurunkan kaca jendela diiringi suara klakson membuat pria tampan dua anak itu menoleh dan saling melemparkan senyum.
“Wih, makin segar aja! sehat Bro?” sapa Vicky.
“Yoi, kalian juga sehat kan? Nah Boys, kenalin ini sahabat baik Papa, namanya Om Vicky dan di dalam nanti ada Tante Dista, jangan lupa beri salam ya!” perintah Dion.
Vicky menerima uluran tangan dari dua remaja manis yang bagai pinang dibelah dua. Keduanya mencium tangan Vicky sambil menyebutkan namanya.
“Gio—Om.”
“Zayn—Om.”
Vicky mengacak rambut keduanya dan memintanya untuk segera ke kamar. Meletakkan barang bawaannya. Sedangkan Vicky dan kedua orang tua bocah kembar itu akan menyiapkan makan malam.
“Om Vicky, kamar nya sebelah mana ya?” tanya Gio.
“Naik saja ke lantai dua, kamar kalian ada di sisi kanan tangga ya! kalau tidak kalian bisa tanya sama Tante Dista di dapur sama Mama kalian.”
“Thanks Om.” Keduanya berlalu. rasanya akhir pekan ini akan menjadi malam yang panjang untuk Zayn dan juga Gio. Melihat banyak kamar Zayn langsung tertuju pada sebuah pintu tepat sesuai instruksi dari Vicky. Gio pun mengikutinya.
“Kayaknya yang ini deh, yang sebelah lagi buat Papa sama Mama.” Zayn meminta saudaranya untuk meletakan barang bawaan mamanya ke kamarnya. Begitu juga sebaliknya.
Zayn membuka pintu. Berjalan ke sisi ranjang dan meletakan tas jinjing itu di sana. Berjalan ke arah pintu balkon yang terbuka dan menutupnya karena udara di luar sangat dingin. Tiba-tiba saja Ia ingin ke kamar mandi. Namun pintunya tak bisa dibuka.
Melihat handle pintu terus bergerak, Angel menahan napas. keringat dinginnya mulai keluar. Apalagi Ia cukup lama bersembunyi di dalam. Tak menyangka akan ketahuan, kira-kira siapa ya pemilik kamar ini? batin Angel.
‘Duh, mampus Gue! Mana kepengen bersin lagi.’
Saat gerakan handle pintu itu berhenti bergerak, Angel merasa lega. Ia pun bisa bernapas dengan tenang. Sampai suatu ketika...
Brakk!!
Zayn menendang pintu itu dan tatapan mereka berdua bertemu. keduanya sama-sama membulatkan matanya tak percaya.
“Lo?” pekik bocah manis itu. Zayn memasuki kamar mandi dan melihat seorang gadis dengan midi dress tengah terkejut di sudut ruangan sambil menutup mulutnya. Lantas Zayn mengangkat sudut bibirnya. Menutup pintu itu, dan menguncinya.
“Mau ngapain Lo?”tanya Angel yang mulai panik. Gadis itu masih ingat saat ciuman pertamanya telah dicuri oleh remaja seusianya.
Zayn berdiri tepat di depan Angel. Menopang salah satu tangannya ke dinding. Tak akan membiarkan gadis itu lolos untuk kedua kali.
“Minggir, Gue mau keluar!”
“Lewatin dulu Gue!”
Merasa kesal, Angel mendorong dada bidang Zayn. namun kedua tangannya justru di cekal oleh saudara kembar Gio. Sampai Angel melihat gelang di sisi tangan bocah nakal itu lagi.
“Lo dapat dari mana gelang itu?” tanya Angel terbata-bata. Zayn melirik tangannya dan melihat gelang tu. Melihat nama yang tertulis di sana sama dengan nama gadis yang berdiri di hadapannya. Sebuah kesempatan untuk Angel untuk menyingkirkan Zayn. Sayangnya pintunya sudah terkunci.
“Sepertinya kita berjodoh...”
“Zayn kamu di dalam?” panggil seorang wanita dari arah luar. Angel ingin berteriak minta tolong, tetapi tangan Zayn lebih cepat untuk menutup mulut gadis itu, dan berbisik,“Kalau Lo teriak, Gue cium lagi Lo di sini!
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments