Suasana menjadi gaduh saat Gio dan Angel berkenalan. Suara siulan dan gebrakan meja turut menjadi saksi tatkala tatapan Gio dan Angel sangat lembut. Bahkan genggaman tangan mereka tak ada yang berniat melepaskan satu sama lain.
Banyak siswa yang memanas-manasi hati Deka, untuk tidak membiarkan Angel dekat-dekat dengan anak baru, bisa-bisa kesempatannya mendapatkan jagoan cantik itu akan pupus.
“Deka, cemburu tuh! Buruan nyatain, nanti ditikung anak baru tahu rasa Lo!” sorak teman-teman sekelasnya.
“Berisik Lo!” sahut Deka.
Angel pun bangkit, dan semua temannya pun terdiam. Membuat Gio semakin takjub. Setelah melepaskan jabat tangannya, Angel keluar kelas menuju ke kantin. Gadis dengan tinggi 167 sentimeter, rambut diikat ekor kuda, dengan tahi lalat kecil di bawah mata, semakin menambah pesona Angel di mata Gio. Saking menikmati hari pertamanya di sekolah, bel tanda jam pulang sekolah pun terdengar.
Gio mengirim pesan kepada saudaranya untuk menjemputnya di sekolah, dan Zayn tak keberatan. Zayn pun penasaran, bagaimana keadaan sekolah mereka? apakah sama ketatnya dengan sekolahnya dulu di luar negeri, atau justru sebaliknya.
Gio yang sedang asyik berbalas pesan dengan Zayn, tiba-tiba merasakan sebuah tepukan di pundaknya. Ia pun terkejut.
“Lo nggak balik?” tanya Deka.
“Duluan aja!” balas Gio. Ia melihat tas gadis itu masih berada di atas bangkunya dan Gio berencana untuk menjaganya sampai Angel kembali.
Setelah ruangan tampak sepi, seorang gadis tengah memasuki kelas. Membuat Gio terperangah. Memindai dari kaki sampai ujung rambut jika penglihatannya tidak salah.
“Gio, Lo nggak balik?” sapa gadis dengan seragam bela diri.
“Lagi nunggu tukang ojek. Lo ikut ekskul taekwondo?”
“Ehm, Gue cuma mau ambil tas, yuk keluar!”
Angel dan Gio berjalan bersama. Obrolan keduanya sangat nyambung dan sesekali Angel dibuat terpingkal-pingkal oleh kelakuan bocah SMA manis itu. sampai dari kejauhan sosok pria tampan di lapangan basket merasa cemburu.
“Sar, apa si Deka itu cowok Lo?”
“Sar?” tanya Angel heran, ketika Gio memanggil potongan namanya sembarangan. Bukannya menjawab pertanyaan dari Gio gadis itu justru tiba-tiba marah.
“Kenapa? Nama Lo Ansara kan?” keduanya berhenti hanya membahas masalah nama Angel saja.
“Panggil gue Angel aja, yuk bye!”
Gadis itu meninggalkan Gio yang masih mematung di belakangnya. ‘Hah, salah gue apa tiba-tiba dia marah dipanggil Sar doang, gadis yang aneh. Kecuali gue panggil sarimin, baru marah.
“Ck, dasar cewek nggak dimana-mana sama aja, ngambekan.”
Saat mereka berpisah ternyata Zayn sudah menunggu di depan gerbang sekolah Gio. Masih banyak siswa yang lalu lalang di bangunan sekolah itu. dengan mengenakan kaca mata hitam dan helm, Ia melihat Gio sedang mengejar seorang gadis.
Zayn mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Gio. Namun, saat panggilan itu terhubung Zayn melihat seorang gadis yang mirip dengan yang menghajarnya kemarin malam. Tanpa basa-basi Zayn masuk ke sekolah dan mengikuti kemana perginya gadis itu.
“Kemana perginya?” Bocah dengan wajah banyak plester itu mengintip dari celah pintu yang terbuka. Banyak siswa dan siswi yang sedang berlatih bela diri, sampai dari belakang saudaranya menarik kerah bajunya.
“Woy, ketahuan Lo ya! lagi ngintip siapa Lo?”
“Gue kayak lihat orang yang mukulin Gue di sekitar sini!” jawab Zayn, dan Gio menanggapinya serius.
“Alah, Lo lagi sakit bisa saja Lo salah orang. Yuk balik, Gue ceritain nanti gimana serunya di kelas.”
Zayn dan Gio pun berboncengan mengendarai motor besarnya. Keluar dari sekolah elit yang mayoritas berisi anak orang berada. Sepanjang perjalanan Gio terus mengoceh panjang lebar dan Zayn pun hanya tertawa mendengar keisengan saudaranya.
Jarak sekolah mereka tak terlalu jauh. Namun, mamanya meminta mereka berdua untuk berangkat dan pulang bersama-sama. Tentu saja keduanya menolak dengan dalih jika ada keperluan masing-masing.
“Zayn, kapan Lo akan masuk sekolah?”
“Belum tahu, mungkin lusa. Kenapa? Nggak tahan Lo kalau nggak ada Gue?”
Gio hendak mengeluarkan buku catatan yang berisi jadwal ujian akhir semester. Bocah itu merasa pusing, baru juga masuk sudah harus mengikuti ujian saja. sampai Ia tak menyadari, dalam buku itu juga Gio menggambar sebuah sketsa seorang gadis.
Zayn mengambil buku itu, meski samar namun Zayn mampu mengenalinya. Seorang gadis yang tak asing, karena keahlian Gio menggambar tak dapat diragukan lagi.
“Lo ketemu cewek ini di mana?”
Gio yang menyadarinya segera merebut kembali buku itu. Bergantian menatapnya, lalu menyentil gambar sketsa itu tepat di keningnya.
“Di sekolah, besok kalau Lo masuk kita tukeran tempat duduk ya!” Zayn yang tak mengerti pun hanya mengiyakan.
“Serius cewek ini di kelas kita?”
“Yoi!”
...
Dua jam berlalu, Angel bergegas pulang. di halaman parkir deka telah menunggunya. Keduanya mengikuti kegiatan ekskul yang berbeda. Angel mengikuti taekwondo dan Deka mengikuti ekskul basket, terlebih bocah tampan itu adalah ketua tim basket.
“Jel, mau langsung balik? Kita nonton yuk!”
Angel menyentil kening bocah itu. Ia tak melihat peluh di tubuhnya belum juga kering. Aroma asam keduanya pasti akan membuatnya tidak nyaman. Deka dan Angel berbagi minum dalam satu botol.
“Lo nggak jijik bekas minum gue?” tanya Angel.
“Khusus punya Lo nggak jijik Gue, justru Gue ngarep!”
“Stres Lo! kalau mau kita balik dulu, Lo jemput Gue di rumah gimana?”
Karena rencana malam minggunya belum tentu berhasil, Deka berencana akan menyatakan cintanya kepada Angel sore ini setelah menonton bioskop. Kehadiran anak baru membuat ancaman baginya. Sepertinya juga bukan bocah lemah yang bisa Deka intimidasi. Nyatanya, Angel nyaman-nyaman saja bicara begitu dekat dengan bocah baru itu.
Sesampainya di rumah, Angel melihat banyak macam hampers di rumahnya. Juga beberapa karangan bunga yang sangat indah. Saking penasarannya gadis itu segera menghampiri Mamanya yang sedang di dapur.
“Wah, ada apa ini Ma? Ramai banget kayak mau ada acara di rumah.”
Gadis itu mencicipi masakan buatan mamanya yang sangat sedap, juga mulai mengintip hampers yang tertata rapi di ruang keluarga. semuanya bertuliskan untuk Ansara Jelita, yang berarti untuk dirinya bukan?
“Ma, ini buat Angel semua? Memangnya dari siapa?”
“Bukannya sebentar lagi kita akan kedatangan tamu, kamu lupa ya?”
Angel berpikir, sambil naik ke lantai dua menuju kamarnya. Seingat gadis itu , Papanya bilang untuk meluangkan waktu malam minggu ya? Angel pun berlalu, Ia tak mengindahkannya. Mungkin saja itu adalah acara kedua orang tuanya.
Namun, saat Ia hendak keluar rumah Ia melihat sebuah mobil memasuki halaman. Sebuah mobil mewah yang jarang sekali Ia lihat.
‘Oo, bisa pergi keluar nggak nih?’
Angel mencoba memundurkan langkahnya dan mencoba untuk melarikan diri melewati pintu samping samping gerbang. Namun saat gadis itu berbalik, seseorang memanggil namanya.
“Angel...”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments