“Kak, Lo nggak apa-apa?” tanya Fardan.
Saat merasa kayuhan sepedanya melambat. Zayn pun menoleh dan meminta adik laki-laki Angel untuk tak perlu khawatir. Namun, tak berselang lama Zayn menghentikan sepedanya dan segera berlari menjauh dari Fardan.
Huekk...
Perut bocah tampan itu bergejolak dan terpaksa memuntahkan isinya. Fardan segera menyandarkan sepedanya dan mengusap punggung bocah SMA yang lebih tinggi darinya.
“Kak Zayn mau istirahat dulu atau biar Aku aja yang boncengin kakak sampai ke atas.”
“Emangnya Lo kuat?” suara Zayn yang terdengar terengah-engah karena lemas.
“Hii... ngeledek, kuat lah! Jelly aja kuat masa Aku nggak.”
Sesekali menoleh ke arah belakang, namun masih tak tampak juga rombongan Gio dan Angel. Sampai Fardan membonceng Zayn yang dalam keadaan lemas. Bocah empat belas tahun itu meminta Zayn untuk berpegangan padanya, supaya tidak jatuh.
Saat melintasi tanjakan terjal, Fardan berusaha untuk mengayuh sepedanya. Sayangnya, tenaganya tak cukup kuat. Sampai terdengar suara teriakan dari arah belakang, namun sayang semuanya terlambat.
Brukk!!
Kedua bocah laki-laki itu jatuh terguling bersama sepedanya. Bukannya meringis kesakitan, Zayn dan Fardan justru tertawa. Menertawakan penderitaannya.
Haha...
“Lo gimana sih? katanya kuat, malah Gue ikut Lo jatuhin di tanjakan!” goda Zayn.
“Sorry Kak, mana yang sakit?” sesal Fardan. Bocah itu berdiri dan mengusap telapak tangan dan lututnya. Ia takut akan kena marah kedua orang tuanya. Sampai sebuah tangan membangunkan Zayn yang masih terbaring di semak-semak perkebunan teh.
“Astaga kalian berdua!” Tangan Angel menyentuh pergelangan tangan Zayn. ‘Panas banget!’ gumamnya.
“Lo demam, kenapa nggak bilang kalau Lo sakit!” Angel merasa khawatir, “Ayo bangun! Senang banget Lo rebahan di tanah.”
Angel memapah Zayn yang hanya diam saja menatap gadis ayu dengan tahi lalat di bawah mata. Aroma Vanila milik Angel membuat perut Zayn yang semula mual kini merasa nyaman.
Fardan memberi tahu Angel, jika Zayn sempat mual dan muntah, makannya Ia berinisiatif untuk membonceng calon kakaknya itu. Angel pun memeriksa luka pada tubuh Zayn, ternyata punggungnya mengalami cidera.
“Mana yang sakit?” tanya Angel.
“Lo wangi, Gue suka!” jawab Zayn.
“Diam Lo! Gue tanya mana yang sakit?”
Zayn membawa tangan Angel perlahan. Gadis itu tak menyangka jika Zayn mengarahkannya ke dada bidangnya, dan merasakan degupan jantung yang terus berdebar cepat.
“Ini yang sakit!”
“Sialan Lo! ngerjain Gue.”
Angel memapah Zayn untuk membonceng saudara kembarnya. Sedangkan dirinya akan membonceng adiknya yang sepertinya masih takut dengan medan yang tak Ia kuasai.
“Gio, bawa saudara Lo hati-hati! Jangan sampai jungkir balik lagi kayak topeng monyet!” ucap Angel sambil mengepalkan tinju ke arah Zayn. Betapa kesalnya gadis itu, saat Ia benar-benar khawatir, Zayn justru mempermainkannya.
Padahal tanpa Angel ketahui, ada rasa nyeri di dada Zayn akibat benturan keras dari sepedanya. Namun, akibat tingkah konyolnya Angel menjadi sulit percaya lagi dengannya.
“Puaskan Lo lihat Gue susah?” Zayn menebak raut wajah Gio yang menahan tawa sejak tadi.
“Salah Lo sendiri sok-sokan pakai bawa sepeda. Sudah tahu meriang, Gue sih terima kasih sama Lo, sudah kasih Gue kesempatan buat berduaan sama Angel.”
“Brengsek Lo! jalan, pasti sudah ditunggu Mama sama Papa di atas.”
...
Melihat para anak-anak datang terlambat juga dengan pakaian Fardan dan Zayn kotor membuat para orang tua khawatir. Terlebih Kania yang sangat khawatir dengan Zayn.
“Tante, Zayn demam. Tadi juga sempat jatuh sama Fardan di tanjakan, jangan dimarahin ya Tante nanti Zayn sedih,” papar Angel kepada Kania.
“Wah, Terima kasih sayang, kamu sudah perhatian sama anak tante. sekarang kamu mau bantu Tante nggak buat obatin Zayn? sepertinya kalau kamu yang obatin lukanya cepat sembuh deh.” Dista dan Kania saling bersenggolan lengan.
‘Hah?’ Angel membelalakkan matanya. Maksud hati, Angel ingin meledek bocah random itu. justru Ia terkena masalah dengan perbuatannya sendiri.
“O—oke! nggak masalah, Fardan ayo kakak obatin sekalian!” Angel gugup, karena adiknya tak bisa diajak bekerja sama. Malah meninggalkannya berdua dengan Zayn yang menunggu Angel untuk mengoleskan obat luka.
“Gue kan sudah bilang, dada Gue sakit sayang!” bisiknya.
Sembari membuka kaosnya di depan Angel. Terlihat bekas biru di sana. Angel panik, tak mungkin Ia menyentuhnya. Gadis itu berniat memanggil Kania, namun orang tua mereka justru asik menikmati kopi panas tanpa dirinya.
Begitu juga dengan Gio, sibuk dengan ponselnya. Bocah manis itu mulai mengaktifkan kembali smartphone di tangannya setelah ditegur Dion, karena beberapa kali mencoba menghubunginya tetapi nomornya tidak terhubung.
“Kan Lo yang diminta buat obatin Gue, sini!” Zayn menepuk bangku yang terbuat dari kayu jati. Meminta Angel untuk duduk di sana dan membaluri nya dengan cream pereda nyeri. Terus mengerucutkan bibirnya Angel membuang muka saat berusaha membaluri dada bidang itu.
Zayn tak tega, mengerjai Angel terus-terusan. Diambil nya tube cream itu dari tangannya. Sesekali mencuri sentuhan dari tangan lembut Angel yang sempat membuat bibirnya berdarah.
“Lo masih ingat waktu mukulin wajah Gue waktu itu?”
“Pufftt, kenapa? Enak kan?”
“Harusnya Lo juga yang obatin luka Gue, karena Lo pelakunya. Tapi, Gue nggak dendam. Gue cowok baik kok Jel, buktinya Lo nyakitin Gue, justru Gue balas pakai kasih sayang, ya kan?” godanya.
Wajah Angel berubah semerah tomat. Mengingat bagaimana Zayn mencium bibirnya waktu itu, juga tatapannya semalam, begitu dekat dan hangat. Jantung Angel kembali berdegup, tak sanggup Ia berada terlalu lama di sisi biang rusuh seperti Zayn.
Saat Angel hendak pergi meninggalkan Zayn, sebuah ponsel berdering. Dan terdengar obrolan antara bocah dengan rahang tegas itu dengan seseorang di seberang.
“Jangan pergi, Lo harus tanggung jawab Jel, Gue sakit gara-gara siapa memangnya?”
Zayn
[Iya Beb, apa Lo di Jakarta? kita sekeluarga lagi di puncak, besok kita ketemu, oke! bye sayang!]
Zayn sengaja mengeraskan suaranya sebelum mengakhiri panggilannya. Membuat Angel berdecak sebal. Namun Zayn justru tersenyum lebar. Sepertinya masalah besar akan datang untuk saudaranya.
“Cih! Dasar buaya!”
...
Saat perjalanan kembali pulang, Zayn dan Gio tampak kasak-kusuk. Keduanya seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Mereka memperlihatkan isi pesan di ponsel mereka. lalu bertatapan, membuat Angel mengagumi sesuatu yang indah.
Sembari menikmati buah strawberry favoritnya yang Ia petik ketika di perkebunan di belakang rumah pondok. Angel menatap dua calon jodohnya yang bisa Ia katakan sempurna. Sesekali membandingkan, mana yang lebih manis mana yang yang membuatnya nyaman.
Bagaimana mungkin Tuhan bisa menciptakan dua pria serupa dengan karakter yang jauh berbeda. Tak sadar, gadis itu tertawa lepas. Gio dan Zayn mendengar tawa Angel mendadak gugup, darah muda mereka berdesir hebat juga wajah keduanya memerah bersamaan.
“Sial, pelet gadis itu kuat banget!”
“Yes, Gue setuju! Gimana ini Zy?”
“Apanya? Angel? Ya buat Gue lah, Lo urusin dulu tuh kesayangan Lo!”
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
miyura
lanjut othor jangan kasih kendor😘😘
2023-10-18
1