“Apa ini Pa?”
Sambil mengambil sebuah gelang yang terbuat dari sterling silver dari tangan papanya. Di tengah-tengah rantai gelang itu tersusun sebuah alfabet. Jika dibaca akan membentuk sebuah nama, ANGEL. Juga ada sebuah bentuk hati yang membuat tampilan benda itu semakin menarik perhatian salah satu bocah laki-laki.
“Kenapa Zayn? Kamu tertarik?”
“Haha, Nggak lah. buat apa beginian, apalagi ini kayak punya cewek.” ejek Zayn.
Sambil memasang kembali headphone ke telinganya dan memejamkan mata. Perjalanan yang sungguh membosankan baginya. Ia sudah merasa nyaman tinggal di Aussie bersama Sigit dan Gio. Kenapa Papanya tiba-tiba menjemput mereka berdua kembali ke Jakarta. padahal kelulusan sekolah juga tinggal setahun lagi.
“Memang ini punya cewek, tadi seorang gadis menabrak Papa dan tak sengaja menjatuhkan barang miliknya. Serius kamu nggak mau?” tanya papanya. Dan bocah tampan itu menggeleng.
Zayn lahir enam belas tahun lalu. Uniknya dia lahir tidak sendirian, karena berselang lima menit, saudara laki-lakinya pun turut lahir ke dunia, dia adalah Gio.
Ya, Zayn Marco Wijaya dan Giovan Nicholas Wijaya adalah putra kembar dari Dion Wijaya dan Kania Dinara. Mereka harus kembali ke Jakarta, karena Papanya telah berjanji akan menjodohkan salah satu dari mereka berdua untuk anak sahabatnya yang usianya beberapa bulan lebih dewasa.
Merasa hening, Zayn membuka matanya. Ternyata benda pemberian papanya yang ditolaknya, telah berpindah tangan kepada saudara kembarnya, Gio.
Tiba-tiba remaja manis yang duduk di jok depan merasa terkejut, karena Zayn tiba-tiba merampas gelang yang hendak dipakainya.
“Balikin Zy, enak aja itu punya Gue!” protesnya, hendak meraih benda itu, namun di genggam erat oleh Zayn.
“Zy... Zy... enak aja, panggil Gue Marco! jangan pernah pakai nama itu lagi, ingat ya Gue nggak suka!” protes Zayn yang sedikit pemarah.
“Tapi Balikin dulu!” pinta Gio, yang hendak melayangkan tinju kepada saudaranya dan terjadilah keributan di dalam mobil.
Dion merasa kewalahan, mengurus dua bocah kembar itu, apalagi saat memperebutkan sesuatu. terlebih sekarang ini, Ia harus menjemput si kembar sendirian. Karena Kania sedang mempersiapkan kamar dan acara penyambutan untuk kedatangan dua putranya. Kadang Dion merasa bersalah kepada Kania, yang setiap hari harus berurusan dengan mereka.
Kania terlampau sabar, bisa mengasuh si kembar yang badungnya berkali lipat dari kelakuannya semasa muda. Lantas, Dion mengurungkan niatnya untuk menambah anak, melihat kelakuan dua jagoannya suka sekali berbuat keributan. Kadang akur, kadang ribut. Sesekali saling mendukung, sesekali adu otot. Bahkan Sigit harus sering datang ke sekolahnya untuk menerima aduan dari kepala asrama Zayn dan Gio selama tinggal Aussie.
“Hentikan, Zayn, Gio!” suara bariton Dion menghentikan mereka berdua.
Namun, kedua bocah itu hanya menatap papanya dan tertawa kecil, tanpa mempedulikannya. Membuat sang sopir tertawa. Dalam hati pria tua itu pasti Tuan Dion merasakan perbuatannya dulu kepada orang tuanya.
“Eh, Zayn, bukannya tadi kamu menolaknya? Bilang apa kamu tadi? Kenapa sekarang berebut dengan Gio!” sindir Dion, yang tak mau kalah dengan anaknya.
Wajah Gio tersenyum mengejek saudara kembarnya kena marah papanya yang galak. Sedangkan Zayn tak peduli. Bocah tampan itu memasukan gelangnya ke dalam saku jaketnya.
“Pokoknya ini punya Gue titik! Karena Gue yang lihat lebih dulu.”
“Eh Zayn Satu lagi, kenapa mengatakan namamu itu jelek?”
Dion mengintimidasi Zayn dan melepas headphone nya untuk menjewer telinganya yang bebal. Zayn meringis meminta ampun. Sambil tertawa mengejek.
“Pokoknya Papa, Mama, Lo Gio kalau di sekolah kalian harus panggil Gue Marco titik!”
Sepanjang perjalanan ke rumah, telinga Dion merasa kebas dengan ocehan kedua anak laki-lakinya. Apakah iya, dulu dirinya seperti itu. sampai para sahabatnya mengatai dirinya adalah pria banyak bacot, dan sekarang terbukti menurun kepada dua bocah tampan itu.
“Astaga, gadis mana yang akan betah dengan kelakuan kalian berdua, terutama kamu Zayn! Papa baru sadar, ternyata Papamu ini dulu menyebalkan sekali, apalagi setelah melihatmu.”
Dion berbicara sambil mengelus dada. Gio tertawa cekikikan sambil memegangi perutnya, karena tingkah Zayn memang sangat menyebalkan, sangat.
...
“Ayo turun! Semua sudah menunggu kalian.”
Dion terus menggerutu, Ia jadi yakin kenapa dulu sahabatnya sangat ingin sekali anak perempuan, ternyata begini rasanya. Satu rumah isinya laki-laki semua.
Melihat sebuah mobil berhenti di depannya, seorang wanita cantik telah menyambutnya dengan perasaan gembira. sudah dua tahun lebih,mereka terpisah. Karena Dion sengaja menyekolahkan si kembar di luar supaya bisa hidup mandiri. Namun kenyataanya justru merepotkan saudaranya.
“Mama,” sapa Zayn dan Gio. Keduanya memeluk wanita cantik itu lalu mengajaknya masuk dan meninggalkan Dion sendirian mematung di depan pintu dengan barang bawaan mereka berdua.
“Ma, di sini tempat paling rame buat nongkrong di mana?” tanya Gio.
“Heh, baru juga sampai rumah, sudah mau main saja. Mama kalian itu kangen, temani dulu dong Zayn, Gio!”
Kania mengusap wajah Dion yang frustrasi. “Sabar Mas, namanya anak-anak juga begitu.”
“Anak-anak dari mana? Mereka sebentar lagi tujuh belas tahun Kania, kamu nggak lihat jakun mereka udah sebesar biji jambu monyet.”
Kania meminta Dion untuk istirahat, karena sejak kedatangan si kembar, suaminya menjadi uring-uringan. Lain dengan si kembar yang sudah merencanakan sesuatu setibanya di rumah.
“Nah Zayn, Gio, ini kamar kalian sudah Mama siapkan. Oh iya satu lagi...”
Gio yang hendak pergi mendadak menghentikan langkahnya begitu juga dengan Zayn yang sudah tak sabar merebahkan diri di ranjangnya yang empuk.
“Oma kalian baru saja memberikan hadiah sambutan kedatangan kalian, mungkin sebentar lagi akan sampai...” belum juga selesai ucapan Kania, suara berisik di halaman besar Wijaya membuat perhatian mereka teralihkan.
“Wah panjang umur... mereka sudah datang.”
...
Pukul Tujuh, Deka sudah menunggu di depan gerbang pintu rumah Angel. Gadis itu tak mengizinkannya masuk, karena pasti akan mendapat interogasi dari Mamanya. Apalagi sekarang Papanya berada di rumah, mungkin akan lebih sulit lagi mencari alasan untuk keluar.
Dengan kaos bahu terbuka dan jins skinny, Angel sudah siap untuk hang out. Tak lupa jaket denim dan sneakers putih favoritnya, membuat gadis dengan pipi pink merona alami itu tampak memukau. Saat sedang mengoleskan lip tint di bibirnya terdengar suara ketukan pintu.
“Jelly, dipanggil Mama!” ucap adiknya.
“Tunggu sebentar!” Angel membuka pintu. Sosok remaja puber di depannya tampak memandanginya dengan mata tak berkedip.
“Mau kemana Lo jel? Bilangin Mama nih!”
“Nggak perlu, terima kasih. Gue bisa bilang ke Mama sama Papa sendiri, dasar ember!”
Angel menuruni tangga, dan segera berpamitan kepada kedua orang tuanya. Gadis remaja itu menengadahkan tangan, seakan memberi kode.
“Mau kemana Angel?” Vicky melihat anak gadisnya sudah rapi. Bahkan aroma parfumnya menguar di meja makan.
“Angel mau keluar sebentar Pa, boleh minta uang jajan nggak? hehe...” rayunya.
“Jawab Papa dulu, kamu pergi sama siapa, kemana, dan akan pulang jam berapa? Papa baru sampai rumah Lho Nak, masa mau kamu tinggal pergi,hm?”
Angel terdiam. Lantas Ia menoleh kepada mamanya. Tatapannya memohon untuk dimudahkan mendapat surat izin keluar sembari mengatupkan kedua tangannya. ‘Mama please...’
Dista pun merayu suaminya untuk kali ini. mungkin Angel sudah membuat janji dengan temannya dan tidak bisa dibatalkan. Apalagi mengingat kejadian tadi pagi yang membuat perasaannya tak karuan, dengan sebuah anggukan lembut dari istrinya, suaminya pun tersenyum.
“Angel pergi dengan teman sekolah Pa, sebentar lagi dia datang. Cuma mau nonton bioskop kok Pa, jam sembilan sudah sampai rumah. ya, ya, boleh ya Ma, Pa... ”
Belum mendapat jawaban dari Papanya, ponsel Angel terus berdering. Notifikasi pesan juga panggilan tak terjawab cukup banyak untuknya. Setelah memikirkan masak-masak, akhirnya Vicky mengizinkan Angel keluar, dengan syarat ponselnya harus selalu aktif dan tepat waktu.
“Ya sudah, karena Mama kamu yang minta Papa kasih izin. Hati-hati, jangan pulang malam-malam, Sayang!”
“Ya!!”
‘Asli, Bokap gue di rumah udah ngalahin guru BP yang sadis banget.’ Gerutunya. Angel keluar gerbang, dan mendapati Deka sudah hampir mati kebosanan.
“Lama banget sih Lo?” protes Deka, saat Angel memasuki mobilnya.
“Haha, sorry... Bokap gue baru balik, gue diinterogasi dulu Deka, gila sih ngeri-ngeri sedap.”
“Jadi nih kita nonton balap liar?”
“Oh, jadi dong!”
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Acel𓅂
cosplay nya keren
2023-10-26
2