Kania mengobati luka di wajah anak kembarnya yang terkenal jahil dan menang sendiri. Tak ada sedikitpun sifat Kania yang menurun, kecuali kecerdasan Zayn yang diatas rata-rata. Berbanding terbalik dengan Gio. Segiat apapun belajar, nilainya pasti sangat jauh tertinggal dengan saudaranya.
Setelah membereskan kotak obat itu, Kania menanyai tentang luka itu. Apa yang baru saja menimpanya. Namun, Zayn tak berniat menceritakan kepada wanita cantik di hadapannya. Sesekali Zayn tertawa mengingat Ia melawan seorang gadis pemarah seperti dirinya.
“Kenapa Nak? Ada yang lucu?”
“Nggak Kok, oh ya Ma, bolehkah kalau Zayn menunda pergi ke sekolahnya?” Kania mengangguk.
Melihat luka di wajah Zayn cukup serius, Ibu dua anak itu akan memberi kelonggaran pergi ke sekolah hingga lukanya sembuh.
“Besok biar Papa dan Gio yang akan ke sekolah, tetapi pendaftaran atas namamu juga akan dilakukan besok Zayn, sekarang kamu istirahat!” Kania mengelus pipi bocah tampan itu yang tak ada bedanya dengan kelakuan suaminya.
Kania menghampiri Dion yang menunggunya. Menanyakan apa yang terjadi, tetapi Kania pun juga tak mendapatkan jawabannya. Melihat motor anaknya tidak ada goresan, bisa dipastikan jika Zayn melakukan perkelahian.
“Sayang, Tadi Mas sudah menghubungi Vicky jika Minggu depan kita akan mengunjungi rumahnya.”
“Benarkah? Lalu mereka bilang apa Mas?” Kania tampak antusias, sudah lama sekali dirinya tidak menghabiskan waktu berdua dengan Dista. Rencana yang apik sudah tersusun rapi di benak Kania.
“Mereka menunggu kedatangan kita, jadi jangan lupa beritahu Gio dan Zayn jauh-jauh hari supaya mereka tidak memiliki rencana lain.”
Kania setuju dengan usul Dion. Lantas keduanya pun pindah ke kamar, membicarakan kira-kira siapa diantara kedua anak laki-laki mereka yang akan menarik perhatian anak gadis Vicky. Mungkinkah Zayn yang begitu menyebalkan, atau Gio yang sangat manis. Meskipun keduanya sangat mirip dan susah diatur tetapi keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan yang berbeda.
Kania menyampaikan tentang protes si kembar. Kenapa mereka berdua tidak bisa memilih sekolahnya sendiri. Dion tertawa, sesekali kedua putranya memang harus ditekan supaya tidak melanggar aturan seperti tadi.
“Oh ya Mas, besok hanya Gio yang akan ikut mendaftar ke sekolah.”
“Kenapa begitu?”
“Mas nggak lihat wajah Zayn penuh luka? Apa jadinya jika masuk sekolah dengan wajah berantakan begitu.”
“Oh, ya sudah.”
Pukul Tujuh Dion dan Gio berangkat menuju ke Sekolah swasta yang terkenal di Jakarta. Dion melakukan proses administrasi pendaftaran Gio dan Zayn. Semua kelengkapan dokumen sudah selesai diurus dan Gio pun sudah bisa mengikuti pelajaran.
“Nah, Gio nanti kamu bisa pulang dengan ojek online atau minta saudaramu menjemputmu. Papa akan langsung ke kantor,” pesan Dion. Sembari mengeluarkan uang saku untuk putranya yang manis.
“Sip!”
“Jangan bikin ulah Gio, ingat pesan Papa!”
Gio memberikan dua jempolnya, setelah Dion pergi senyum Gio terkembang sempurna. Ia berjalan mengikuti seorang wanita yang akan mengantarkannya ke kelasnya. Tatapan Gio tak lepas dari sebuah lapangan basket.
‘Lumayan, meskipun cuacanya sangat panas di Jakarta.’ keluh Gio. Sampai Ia berhenti di sebuah ruangan kelas yang sudah sangat hening.
“Nah Giovan, ini kelas kamu. Jam pertama adalah jam pelajaran Ibu, ayo masuk!”
Bocah manis dengan tinggi 177 senti itu mengikuti langkah gurunya. Seketika seisi kelas gaduh karena mereka kedatangan seorang siswa baru yang sangat tampan. terdengar dari kejauhan jika para siswi berteriak histeris meskipun mereka tahan.
“Wah, hoki banget kelas ini kedatangan murid baru ganteng nggak ngotak!” ucap seorang siswi yang duduk di belakang.
“Nah Gio, kamu bisa perkenalan singkat sebelum pelajaran di mulai,” perintah guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia.
“Gue Gio pindahan dari Aussie. Boleh saya duduk bu?”
“Sudah? Singkat sekali perkenalannya, sekarang kamu duduk di ...,” ucapan bu Guru berhenti karena melihat dua bangku kosong lagi saat pelajarannya berlangsung. Wanita tiga puluhan tahun itu hanya berdecak kesal menahan amarahnya.
“Nah Gio kamu bisa memilih duduk diantara dua bangku itu! yang depan, kamu akan bersebalahan dengan Ansara. Di belakang bangku Ansara, kamu bisa duduk dengan Deka.”
Gio pun memilih duduk dengan siswa laki-laki. Biar saja saat Zayn masuk dia akan duduk bersama seorang gadis. Saat pelajaran di mulai, Gio melihat sisinya. Kenapa teman sebangkunya tak muncul juga sampai jam pelajaran hampir berakhir.
“Bray, kenapa mereka berdua tidak ada di kelas?” tanya Gio penasaran.
“Oh, mereka berdua anti pelajaran bu Susi, jadi cabut ke tempat rahasia.”
“Dua-duanya? Tanya Gio lagi.
“Saran gue, jangan berurusan sama mereka berdua deh, panjang urusannya.”
Setelah mendapat anggukan dari temannya, Gio menjadi penasaran seperti apa dua temannya yang sepertinya istimewa. Bahkan terang-terangan tak mengikuti jam pelajaran tertentu pun, sepertinya gurunya tak masalah. Tiba-tiba munculah ide Gio untuk bergabung dengan mereka, sepertinya asyik cabut jam pelajaran yang tak disukainya.
Gio pun melanjutkan mengikuti pelajaran sampai jam istirahat pun tiba. Dengan mudah saudara kembar Zayn mendapatkan teman. Mereka bermain basket juga membagi informasi tentang denah sekolahan seperti letak kantin dan perpustakaan juga bangunan yang lain.
Gio mengunjungi sebuah perpustakaan, ada sebuah buku yang harus Ia baca. Namun, saat tengah serius mencari dirinya mendengar suara cekikian dari balik barisan rak buku yang tinggi. Karena penasaran, Gio pun mendekatinya.
“Heh, ngapain Lo dekat-dekat begitu!”
“Please Jel, malam minggu keluar dong sama Gue! ada yang mau gue omongin nih sama Lo!”
“Dek, Gue timpuk nih kalau muka Lo masih sedekat itu, minggir nggak Lo!”
Gio melihat sepasang siswa-siswi yang tengah berduaan di perpustakaan. Sejoli yang membuatnya iri tak lain adalah Angel dan Deka. Setelah melarikan diri dari jam pelajaran bahasa Indonsesia.
Mereka berdua tengah berbagi headset. Satu terpasang di telinga Deka dan satunya terpasang di telinga Angel. Mereka berdua mendengarkan musik bersama. Dengan Deka yang terus mengikis jarak menatap gadis yang telah mencuri hatinya.
“Jel, Lo nggak berniat punya cowok gitu?”
“Buat apa? Selama ada Lo di sisi Gue udah cukup Deka!”
“Tapi Gue suka sama Lo, Gu...”
Brukk!!
Ucapan Deka terpotong. Baru saja Ia hendak menyatakan cinta kepada sahabat cantiknya. Sayangnya, terpaksa gagal karena mereka berdua kejatuhan buku yang sengaja di lempar dari balik rak di belakangnya. Gio menahan tawa, dan segera meninggalkan perpustakaan.
“Makannya, kalau mau pacaran jangan di sekolahan! Kalau ada Zayn di sini pasti lebih seru,” oceh Gio.
Saat Gio kembali ke kelas, bangku keduanya telah terisi. Ia melihat sosok gadis cantik duduk di depannya dan berniat mengenalkan diri. Namun, tangannya segera di sambut oleh teman sebangkunya.
“Lo anak baru ya?”
“Hem,” balasnya singkat.
Obrolan itu membuat Angel menoleh ke belakang. Ia melihat Deka tengah bicara dengan seseorang. Tatapan Angel dan Gio pun bertemu membuat Deka merasa cemburu. Wajah yang sangat familier. Angel merasa pernah bertemu dengannya, tapi dimana?”
“Jadi Lo yang namanya Ansara? Kenalin Gue Gio!”
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments