4.

Rasanya aku ingin menyerah menjalani hidup ini,am tired lord.

Pagi ini begitu sepi menyapaku,mungkin karena kak andre juga tidak disini.

Come on you bisa naira,memang siapa lagi yang mau menyemangati jika bukan diri sendiri?

Ayah rasanya aku ingin mengatakan jika aku sudah sangat lelah bersikap kuat dan menyembunyikan semuanya.

Ku seret koperku keluar dari kamar,entah ayah akan setuju untuk pergi atau tidak,bahkan saat sarapan tadi saja ayah tak mengatakan apapun.

Usiaku sudah 18 tahun,aku harusnya sudah bisa dewasa bukan?tapi ayah bahkan tidak pernah membiarkanku pergi sekolah sendiri dari dulu,lalu bagaimana jika kondisinya seperti ini?

Nenek sudah menungguku diruang keluarga,menatapku dengan hangat seakan mengisyaratkan semua akan baik baik saja.

"Sudah siap?"tanyanya tanpa menghilangkan senyuman itu,aku harus tetap terlihat baik baik saja didepan semua orang walau hati kecilku sedikit kejang di sana.

"Udah kok,tapi kayaknya nanti satu jam lagi deh nek"jawabku dan ikut duduk disampingnya

"Kenapa?bukannya tadi mau berangkat jam 9"tanya nenek heran,tadinya memang begitu tapi ayah kan tidak akan mengantarkan ku

"Adik blom ngabarin ibu buat jemput tadi,ini baru mau"jawabku seadanya.

Namun tin tin,,,,tiiiiiiin klakson mobil siapa itu?apa ibu sudah ada disini pikirku.

"Nah itu ayah sudah siap,ayok nenek antar kedepannya"ucap nenekku penuh semangat,tapi sejak kapan ayah siap?bukan kah dia masih marah?

"Ayok dek,nanti keburu ayah berubah pikiran lagi!"ucap bunda yang langsung menarik ku untuk cepat berjalan keluar.

****

Biasanya jika bepergian dengan ayah kami selalu bercanda dan tertawa,tapi kali ini hanya hening yang ada.

Dan naasnya jalanan ibu kota yang padat membuat kami terjebak dalam kemacetan.

Aku juga mulai mengantuk sedari tadi dan tak kuat menahannya lagi hingga aku terlelap dengan damai di kursi itu.

POV AYAH'

Jalanan ibu kota yang padat membuat waktuku banyak terbuang,tapi jika bukan kare a putri kesayanganku tak kan pernah aku ingin pergi ke rumah ibunya.

Aku tahu telah melukai hatinya yang kecil itu,tapi rasa takutku lebih dominan di pikiranku.

Dia putri yang manja dan baik hatinya,bagaimana bisa aku tak melihatnya setiap hari,dia semangat dalam hidupku sampai saat ini.

Aku juga menyesali dan mengutuk diriku yang menamparnya kemarin.

Aku memandangnya yang tertidur dengan tenang lalu menekan tombol dibelakang jok untuk menurunnya sedikit agar putri kesayangannya ini tidur dengan nyaman.

"Ayah minta maaf ya dek,ayah tau ayah salah kemarin,tapi adik harus tahu kalo ayah takut adik pergi dari hidup ayah!"tutur ku mengusap lembut rambut putriku

Akhirnya mobil kami mulai bergerak membelah jalanan ibu kota,rasanya aku ingin dengan sengaja memperlambat kecepatan agar aku bisa terus bersama dengan putriku.

"ayah aku lapar"ucap putriku dengan mata yang masi tertutup.

Tentu saja harusnya kami sampai jam 10 tadi,tapi karena terjebak macet yang panjang set 11 kami masih dijalan Aku berhenti di restoran depan,aku berniat untuk makan dulu agar putriku tak lagi merengek.

"Dek,ayok turun"ucapku mengajaknya turun,putriku bukan orang yang sulit dibangunkan.

"Udah sampai yah?"tanyanya seperti orang linglung,maklum putriku walau hanya tidur 10 menit kesadarannya seperti orang yang tidur berjam jam.

"Humm,makan dulu"jawabku masi dengan dingin,aku bukan tipikal orang yang gampang meminta maaf.

Tentu saja aku harus mempertahankan ego ku dari pada harga diriku turun drastis nanti.

"Ayok turun,ayah udah lapar"ucapku lagi dan meninggalkannya lebih dulu.

Ia tetap mengekor dibelakang ku,dia manis bukan?mungkin naira belum sadar sepenuhnya.

"Duduk di sana,nanti ayah pesankan,adik mau apa?"tanya ku sambil menunjuk meja di sana.

"Adik gimana ayah aja,yang penting yang enak"tuturnya tersenyum dan melangkah ke meja yang ku tunjuk.

Aku pun memesan beberapa makanan kesukaannya,yah walau aku memang tak seberani itu untuk meminta maaf setidaknya aku bisa melakukan cara ini untuk menunjukan bahwa aku masih sangat menyayanginya.

Aku pun menghampirinya dan ikut menunggu pesanan itu datang.

Drrrtttt drrrtttt drrrttt

•novi

Untuk apa dia menelpon ku,apa dia belum cukup senang setelah mendengar keputusan putriku untuk tinggal dengannya?ah pikiranku selalu saja kacau jika novi ada hubungannya.

aku akan bersikap sedingin mungkin,malah kalo bisa sedingin cuaca di benua utara.

Aku mengangkat telpon yang sedari tadi terus bergetar.

"apa?"

"Kenapa naira belum sampai?bukannya tadi berangkat jam 9?harusnya jam 10 sudah disini kan!"

"Macet"

"Macet?oh,,atau kamu emang sengaja lama dijalan ya?" 

"Kami makan dulu,sudah dulu!".  Jawabku dan langsung mematikan sambungan karena makanan kami datang.

Begitulah ibunya naira,aku malas meladeni nya yang cerewet jika menghubungiku,dia memang tidak berubah tapi malah semakin menyebalkan di pikiranku.

******

Yeay,pesanan kami mendarat sempurna dimeja.

Huh rasanya cacing di perutku sudah tidak sabar,lihat apa yang dipesan ayah?semua makanan kesukaanku!

Ah dia memang selalu mampu membuatku senang walau tidak terang terangan.

Kamipun akhirnya makan dengan damai mengisi perut yang keroncongan.

Ting, satu notifikasi di handphone ku.aku melirik siapa yang masih ingat mengirim ku pesan (hahaha maklum aja si,sebenarnya aku yang jarang membalas chat setiap orang saja)

Tertera di sana nama sahabatku mora,ia Amora Alexander dia sahabat terbaikku dia orang yang tidak pernah mempermasalahkan apapun denganku,bahkan saat ayahku hampir gulung tikar dia tetap menjadi sahabatku,dia tidak pernah mempermasalahkan materi denganku,dia juga selalu mendukungku dan selalu berhasil membuat mood ku kembali baik.

•mora

 Ko lu gak ngabarin gw kalo mau pindah ke rumah   nyokap! Nyebelin lu!pokoknya gak mau tau gw   marah.

Pesan singkat yang tertulis dengan amarah itu,aku yakin dia kesal karena aku lupa.

Ah beberapa hari ini pikiranku selalu terbelah kemana mana dan lagi amora yang memang sedang tidak di jakarta membuatku lupa mengabarinya.

Aku tidak berniat membalasnya sekarang karena takut rasa enak makanan yang aku makan akan hilang nanti.

Ting,

•mora

 Lusa gw balik ke JKT,awas lu kalo gak ngajak gw   main!

 Lu jadi kuliah dimana?

Hahaha rasanya aku ingin tertawa membacanya,dia sungguh menggemaskan.

Kamipun selesai makan dan sudah melanjutkan lagi perjalanan yang tertunda tadi,aku rasa ayah memang sengaja memelankan lajunya.

Drrrrtt drrrttt drrrrtttt

Kali ini amora menelpon ku dengan vidio call,mungkin dia sudah lelah menunggu karena aku yang belum membalas pesannya,dia juga tahu kebiasaan ku yang pelupa ini.

"Hey"  sapa ku ketika layarnya sudah tersambung

"Apa lu?siapa lu?artis lu?"

"Hihihi,maaf lupa gw cara ngetik gimana"

"Aminin jangan?"

"Hahahaha" tawa kami berbarengan

"Masi dijalan ya,sama siapa?"

"Iya,ini bareng ayah" dan langsung mengarahkan layar ke arah ayah tentu saja ekspresi yang terkejut,ia tahu bahwa ayah ku manusia paling gengsi.

"Ekh serius balik lusa?"

"Gak tau,Hihihi,ya udah nanti lagi ya,udah ditungguin papi,lu kalo ada apa apa jangan lupa kabarin"

"Iya,dah"

"dah,see you"

"Iya"

Panggilan pun berakhir tepat setelah kami sampai dihalaman rumah ibu yang luas.

 

Terpopuler

Comments

Fidia K.R ✨

Fidia K.R ✨

/Grimace//Grimace/

2023-12-18

1

Fidia K.R ✨

Fidia K.R ✨

welcome to the real world /Proud/

2023-12-18

2

վմղíα | HV💕

վմղíα | HV💕

kamu tidak percaya ayahmu ikut ya

2023-10-25

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!