2.its okey

Malam itu berakhir dengan pikiranku yang terus gelisah,tapi aku harus tetap memutuskannya bukan.

Pagi ini rasanya datang terlalu cepat atau mungkin aku yang baru saja tidur?

Setelah selesai dengan ritual ku dikamar mandi aku pun mulai keluar kamar dan mulai menyibukkan diri diruang makan,belum ada siapapun disini kecuali bunda maya yang sedang berperang dengan wajannya di dapur yang memang bersampingan dengan ruang makan.

"Bun,ayah udah berangkat ya?"tanyaku

"Belom kok,lagi di teras sama bang afif"jelasnya membuatku teringat ucapan bang afif semalam.

Aku bahkan belum sempat bicara dengan ayah soal ibu yang memintaku tinggal bersamanya,ini pasti bencana.

Aku lari ke teras rumah dan benar saja bang afif ada di sana langsung melihatku.

Apa yang kalian pikirkan?apa ini terasa tenang?tentu saja tidak,ekspresi ayah tidak semanis kopi buatan bunda aku rasa.

"Kok gak bilang mau kesini bang?"tanyaku sambil mencium tangannya,dia malah menatapku datar.

"Tadi malem kan udah ngomong bakal bantu kamu siap siap"terangnya dengan aura dinginnya,aku hanya tersenyum menanggapinya karena ingat dengan posisi ayah di sana.

"Besok kamu pergi ke bandung,kuliah di sana"ucap ayah serius,hah?bandung?kok mendadak?kan rencananya kuliah di jakarta aja (pikirku menatap ayah heran)ayah bahkan tahu aku tidak ingin pergi ke sana karena memang kurang akrab dengan kerabat di sana.

"Kok ayah ngomong gitu si,aku kan udah sepakat buat kuliah tapi disini"jawabku tak ingin pergi

"Jangan ngelawan ayah!keputusan ayah udah bulat buat kirim kamu ke sana!"tegasnya dengan oktaf yang naik dan langsung masuk ke rumah,aku menyusulnya diikuti bang afif

"Aku bukan anak kecil lagi yah,yang apa apa harus sesuai keputusan ayah"belaku,aku tetap ingin disini.

Sebagian orang memang menganggap bandung kota yang nyaman,tapi tidak untukku,di sana adalah luka yang aku tahu.

"Ayah gak bisa mutusin ini sesuai keinginan ayah" ucapku lagi dengan sedikit kesal dan mata yang menahan tangis,karena ingatan itu lagi.

"AYAH YANG BESARIN KAMU Naira DAN AYAH BERHAK MUTUSIN APAPUN TENTANG KAMU"sentak nya

Kini ruang keluarga menjadi ramai,bunda nenek juga kak andre dengan ekspresi bantalnya datang karena suara ayah yang terdengar keras.

"Dan sampai kapanpun kamu harus dengerin AYAH!"lanjutnya menatapku tajam

Mataku sudah kebobolan air mata yang jatuh berebutan seperti sedang lomba agustusan,ini masi pagi tapi sudah hujan di pipi.

"Ayah gak ngerti sama aku,aku gak mau tinggal dibandung!"kekeuh ku walau dengan air mata yang terus menyiksa.

Ayah melangkah dan berdiri tepat di depanku,menatapku dengan ekspresi yang menakutkan.

Ini bukan pertama kalinya aku melihat ayah marah,tapi rasanya kali ini sangat berbeda.

Aku takut menatapnya,namun nenek berjalan ke sisiku mengusap lembut rambutku yang terurai.

"Kali ini aku gak akan dengerin ayah,aku bakal putusin apa yang udah aku pilih"ucapku masi dengan tertunduk

"Aku bakal pilih tinggal sama ibu dan tetep kuliah di jakarta"lanjut ku sambil menatapnya sendu,ayah terlihat ingin menerkam ku

"AKU YANG BESARIN KAMU BUKAN DIA.SEKARANG KAMU MALAH NGOMONG GITU SAMA AYAH!KAMU-"

Ucap ayah dengan tangan yang terbang menuju pipiku,

Plaaaak

Semua orang membisu tak percaya dengan apa yang ayah lakukan,menamparku!ayah tidak pernah memukulku dan semua orang tau ayah selalu bersikap lembut bahkan saat aku melakukan kesalahan sekalipun.

Aku masih diam dengan posisi itu sambil memegang pipi yang terasa panas ini,aku menatap nenek di samping yang menangis melihatku.

Aku tak percaya pria dewasa di hadapanku ini adalah ayah yang aku sebut raja dalam hidupku.

Aku menatapnya tak percaya,dia bahkan terlihat biasa saja,bukan kah aku putri kesayangannya?jika dia bersikap seperti ini,bagaimana jika orang lain juga melakukan hal sama padaku?kenapa cinta pertama seorang putri harus jatuh pada ayah nyaa?

Nenek membalikan tubuhku menghadapnya dan langsung memeluk ku,aku tak kuasa lagi dan langsung mengeluarkan setiap rasa sakit dan mengadu padanya dengan tangisan yang keras.

"hmm,adik gapapa nek,i oke no problem.adek,huh" aku tak bisa lagi dan melepas pelukannya lalu berlari ke kamar ku dan menguncinya,aku menangis dengan diam di sana masih tak percaya dengan apa yang terjadi.

Ayah menatap nenek dihadapannya "caramu salah melarangnya tinggal dengan ibunya dengan cara sepertI ini Rama!"

iya,nama ayahku Rama Putra Wijaya

"Kamu hanya akan membuatnya menjauh dari hidupmu"lanjut nenek tegas

"DIA PUTRIKU,AKU YANG MENJAGANYA DARI KECIL BU,IBU TAHU SENDIRI BAGAIMANA AKU MENYAYANGINYA AKU GAK MAU Naira TINGGAL SAMA Novi"tegasnya,iya nama ibuku Novia Ar nata Kusuma.

Setelah beberapa saat ruangan itu akhirnya kembali dingin,ayah yang masih kekeuh dengan keputusannya walau bunda dan nenek terus berusaha menepis pikiran ayah tentang aku yang akan meninggalkannya.

Bang afif dan kak andre terus membujukku Membuka pintu kamar,namun aku tidak ingin melakukannya.

Aku hanya mulai mengemas koperku dan membawa apa yang perlu aku bawa untuk tinggal di rumah ibu nanti,tapi tidak dengan lemari karena itu tidak muat di koperku.

"Dek,ayok dong buka pintunya pegel nih"keluh kak andre diluar

"Gak kasian apa kalo nanti kaka sakit kaki,mana lapar lagi"lanjutnya,,ah iyah aku juga lapar karena belum sarapan tadi..

Aku pun membuka pintu dan menatap keduanya lalu kembali menghampiri kasurku dan duduk di sana.

Bang afif dan kak andre pun masuk dan menutup pintunya,mereka menatapku dengan sendu.

Mereka memang dekat walau tidak tinggal satu rumah walau dengan karakter yang satu kulkas dan satu cacing nyebelin,tapi punya satu kesamaan yaitu tidak suka melihatku menjadi pendiam,wajarlah aku aktif karena aku terlalu dekat dengan cacing nyebelin ini(hehehe)

"Liat abang sini"ucap bang afif dan aku enggan menurutinya,

"Naira!!"pintanya lagi dan aku menurutinya

"Kalo gak mau tinggal sama ibu gapapa,nanti abang yang bicara sama ibu"ucapnya tenang

"Tapi adik gak mau ke bandung"jawabku dengan mata yang mulai berkaca kaca lagi.

"St st,jangan nangis terus,udah jelek nanti nambah jelek mau?"ucap kak andre sambil mengusap air mataku,namun tetap saja kata katanya nyebelin

"Gak akan ada yang ke bandung kalo gak ada yang mau kok,nanti kaka yang ngomong sama ayah"lanjut kak andre memegang pundak ku seakan menyalurkan kekuatan.

"Iya,bang afif bakal bicara juga sama ayah sama ibu"ucap bang afif terus memandangku dengan hangat.

"Adik udah putusin kok buat tinggal sama ibu dari semalem,tapi-"aku menggantung kalimatnya dan memandang mereka satu persatu.

Pikiranku yakin,mereka juga pasti bertanya tanya kenapa dengan aku dan bandung,tapi aku tak mau mengatakan apapun pada mereka saat ini.

"Tapi,tapi adik mau ayah yang nganterin adik ke rumah ibu"lanjut ku sendu,itu mungkin akan sedikit sulit.

Jarak rumah ayah dan ibu memang tidak sampai berjam jam,mungkin hanya butuh waktu satu jam untuk sampai ke rumah ibu dari sini,tapi jika meminta ayah mengantarku ke sana itulah yang jauh dari kenyataan yang mudah,ibaratkan ingin pergi ke mars.

Kedua kakakku saling memandangku dengan tatapan terkejut (mak jreng) karena mereka tahu ini akan butuh kekuatan mental yang kuat untuk mereka membujuk ayah,jangankan mengantarkan,mengizinkan naira pergi saja tidakkkkk....

Terpopuler

Comments

Fidia K.R ✨

Fidia K.R ✨

Drama seperti ini yang paling kubenci tp pasti ada aja di kejadian nyata jg /Grimace//Smug/

2023-12-18

1

༅⃟🥂ALINA_12࿐✅

༅⃟🥂ALINA_12࿐✅

Wah jangan egois gitu dong pak

2023-10-30

2

༅⃟🥂ALINA_12࿐✅

༅⃟🥂ALINA_12࿐✅

Kayanya ada kenangan pahit disana

2023-10-30

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!