3.

Akhirnya pagi itu berakhir dengan damai!!!

Jelas tidak,ayah bahkan tak menatapku sama sekali.

Aku juga sudah memaafkannya,bagaimanapun dia adalah ayahku dan aku tidak bisa membencinya namun hanya sedikit kecewa saja mungkin tidak masalah.

Aku juga sudah memutuskan bahwa aku akan pergi besok saja,aku akan menghabiskan hariku dulu disini.

Bang afif juga sudah pergi ke kantornya namun ia berjanji akan menginap disini,ini sifatnya yang baru aku lihat,apa dia begitu menyayangiku?

Aku mulai menuruni anak tangga yang kecil di teras rumah dan berjalan menuju taman di samping.

Tidak terlalu ramai siang ini bahkan cuaca juga tidak begitu cerah,langit memang selalu mengerti bahwa aku butuh teduhnya(hihihi)

Aku mulai duduk di kursi yang tersedia,mencoba untuk tetap tenang disini.

Aku telah memilih dan semoga saja itu memang yang terbaik,aku percaya.

Seseorang duduk di sampingku tanpa aku tahu dia siapa,mungkin usianya tidak terlalu jauh denganku.

Namun aku tak memperdulikannya,terserah dia toh ini tempat umum pikirku.

"Saya cari ke rumah ternyata disini"ucapnya entah pada siapa,tapi disini hanya ada aku dan dia,ah mungkin dia sedang menelpon seseorang.

"naira?"serunya lagi,what dia tahu namaku?aku meliriknya dan berpikir siapa dia?

"Penyakit pelupa kamu emang gak bisa diajak kompromi,masa lupa sama saya si"ucapnya lagi dengan menghadap ke arahku.aku mulai mencoba berpikir memangnya siapa dia sampai aku harus mengingatnya.

Ting,aku mengingat sesuatu,bukan kah dia yang pernah menolongku dulu? "Bara?"tanyaku takut salah

Dia hanya tersenyum dengan deretan giginya.

"Ya ampun,maaf maaf lupa bar,abis lama gak ketemu"ucapku spontan memeluknya,dia adalah sosok berharga untukku.

"Hmm oke,sekarang saya maafin tapi kalo lain kali gak tau"ucapnya lagi membalas pelukanku.

Kami pun akhirnya banyak bercerita di sana.

Bara Diksa Putra,dia sosok yang aku temui saat usiaku masih terbilang cukup muda saat itu,selisih umur kami hanya 5 tahun dan jelas dia lebih tua dariku,tapi kami mulai bersahabat dan tidak mempermasalahkan usia,keluarga kami juga sudah saling mengenal sejak lama.

"Mentang mentang udah kerja sekarang bilangnya saya anda,formal banget tau"ucapku karena dia terus menggunakan kalimat saya

"Hehehe sorry ai,saya kebiasaan ngomong formal sama banyak orang"jawabnya

"Biar apa coba?biar.."

"Berwibawa"ucap kami berbarengan dan tertawa.

****

Hari menjelang sore,aku dan bara memutuskan untuk pulang.

"nai,,"seru bara

"mm"jawabku tapi bara seperti tidak ingin bicara lagi,jujur saja aku sedikit berharap kalau bara akan mencintaiku sekali lagi.

Dia mungkin bukan cinta pertamaku,tapi rasanya aku hanya ingin memilikinya seorang diri walau tanpa rasa sekalipun,egois bukan?tentu saja itu sangat menyakitkan.

Dulu bara sangat mencintaiku bahkan sering menyatakan perasaanya terang terangan,tapi aku slalu menolaknya dengan alasan persahabatan.

Tapi kali ini aku berpikir,mungkin jika bara menyatakan perasaannya sekali lagi padaku aku akan menerimanya saat itu jika aku mampu.

"Jangan berubah ya bar"pintaku menghentikan langkahnya,ia menoleh menatapku

"Apa sekarang ada kesempatan?"tanyanya serius

Aku hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca,aku ingin dia tetap bersamaku tapi rasa cinta ataupun suka belum tumbuh sampai saat ini.

"Bara,kamu tahu aku selalu hidup dalam rasa takut dan itu-"Belum sampai aku pada kalimatku bara menghentikan ku dengan memelukku,hanya dia yang tahu rasa takut yang aku alami hingga strauma ini.

"i know,no problem,saya bakal tunggu kamu"tuturnya slalu berhasil membuatku tenang.

Setelah sampai rumah,aku mengajak bara untuk masuk tapi bara pamit untuk segera pulang dengan alasan pekerjaan dan aku tak bisa memaksanya kali ini.

Namun saat aku masuk ayah sudah duduk di sana namun seolah tak tahu kedatanganku,aku mencoba untuk tidak menghiraukannya saat ini.

Ku langkahkan kakiku melewatinya dan menghampiri nenek yang duduk dimeja makan.

"Abis dari mana dek?"tanya bunda maya sambil menaruh ayam kecap kesukaan kami,aku tersenyum menyambutnya "dari taman,tadi juga ketemu bara-"tutur ku terpotong nenek

"Bara itu lebih dewasa dari adik,jangan panggil nama aja"imbuhnya yang dibalas cengengesan ku.

Bagaimana lagi,aku sudah terbiasa menganggap bara teman sebayaku (hihihi)

"Tadi juga nak bara kesini cari kamu,cuman tadi ayah bilang kalo kamu ke taman sebelah sana"jelas bunda yang membuatku menoleh ke arah ayah duduk.

Hmm mau bagaimanapun dia tetap ayahku,

"Kak andre belum pulang ?"tanyaku karena tak melihat cacing nyebelin sedari tadi,toh motornya juga belum ada diparkiran rasanya.

"Emang gak bilang sama adik kalo kak andre ke palembang?"tanya bunda yang dibarengi gelengan dariku,sejak kapan kak andre meminta izinku untuk pergi(hahahaha diakan ****** kung)ucapku dalam hati.

"Ya udah deh,adik ke kamar mau mandi dulu"tutur ku lalu berlalu dengan cepat.

*******

Makan malam dengan ayam kecap sebagai menu utama sudah selesai,tapi kami semua masih berdiam diri dimeja makan.

Aku hanya menyibukan diriku melihat ponsel agar tak bertatapan dengan ayah yang terkesan terus diam,jelas ini sangat tidak menyenangkan.

"Besok berangkat jam berapa?"tanya bunda menatapku,aku mengira bunda bicara dengan yang lain.

"dek,,,"panggilnya selembut sutra

"Hehehe,maaf kirain bunda ngobrol sama ayah"jawabku sambil melirik ayah sedikit,ini menegangkan untukku.

Tapi kami semua sudah sepakat dengan berbagai trik agar ayah mau mengantarku pergi kerumah ibu,bahkan nenek sampai memohon pada ayah agar mau mengantarkanku tapi belum ada jawaban sepakat atau menolak darinya.

Ayah pergi dari sana,mungkin dia juga merasakan rasa yang sama sepertiku iyah tidak nyaman.

"Gapapa ya dek kalo misalnya ayah gak bisa?"tutur bunda menatapku sendu,ia pasti tahu aku akan sedih.

Tapi ini pilihanku,aku harus kuat.

Aku tersenyum pada keduanya,mungkin ayah terlalu gengsi untuk menurunkan harga dirinya.

"Adek gapapa kok bun,biar bareng bang afif aja"jawabku tetap tersenyum,aku tahu bunda dan nenek sedih tapi aku tidak boleh terus menambah kesedihannya.

Drettt drettt drettt

Bang afif menelponku,mungkin iya akan mengatakan besok akan menjemputku karna dia belum pulang kesini sampai saat ini,iyah karna jarak kantornya juga yang lebih dekat dengan rumah ibu disana.

"Iya hallo bang,kenapa?"

"Udah siapkan apa yang mau dibawa?"

"Hmm udah"

"Besok kalo ayah gak bisa anter adek,ibu yang jemput ya"

"Loh kok ibu?bukannya bang afif yang mau jemput aku?"

"Abang ada urusan keluar kota malem ini,lusa baru pulang"

"Hmmm"

"Gapapa ya,kan adek udah dewasa juga"

"Iya gapapa,tapi tunggu pagi dulu."

"Kenapa?"

"Kali aja ayah mau anterin adek kerumah ibukan?"

"Yaudah,nanti kalo ayah gak bisa kabarin ya"

"Hmm iyah"

Panggilan pun berakhir sebelah pihak,mungkin bang afif sangat sibut saat ini....

I belive,ayah bakal mau :) iyakan thor!

Terpopuler

Comments

Ney Maniez

Ney Maniez

gpp jadi pcr ge lebih erat klo dr shbt

2023-10-30

2

Ñůŕšý

Ñůŕšý

pasti sedih. Ayah yang diharapkan namun ga mau mengantarnya pergi

2023-10-29

3

。𝄟≛⃝乚ίɴλᵐʳˢ•ᵒᵗᵗᵉʳ♡༢࿔ྀુ。

。𝄟≛⃝乚ίɴλᵐʳˢ•ᵒᵗᵗᵉʳ♡༢࿔ྀુ。

Saya ga tau, kan saya bukan othor nya 😅

2023-10-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!