Satu bulan telah berlalu dan selama itu pula kehidupan Bella sangat monoton. Hari-harinya hanya diisi oleh kegiatan kuliahnya. Ia juga jarang keluar bersama sahabatnya. Selain karena padatnya jadwal kuliah, ia juga tidak mendapatkan izin dari papanya.
David masih saja selalu membuntutinya namun tidak sesering sebelumnya. Ia juga mendapatkan informasi dari Jihan jika gadis itu selalu menemukan David bersama seorang gadis dari universitas lain. Bella tidak peduli jika memang itu benar. Justru ia merasa senang, karena dengan perlahan ia akan terlepas dari jeratan David meskipun hanya di kampus.
Bella berjalan di koridor kampus seorang diri. Seperti biasa ia akan pergi ke kantin untuk menemui sahabatnya. Entah kenapa sedari tadi badannya merasa tidak enak dan perutnya juga terasa mual. Namun, ia memaksakan diri untuk berjalan sampai ke kantin kampus. Sesampainya di sana Hanna sudah menunggunya di bangku kantin seorang diri. Sedangkan Jihan dan Mila sudah pulang terlebih dahulu.
“Kenapa, Bel? Lo sakit?” tanya Hanna setelah Bella duduk di meja yang saling berhadapan dengannya
“Gak tahu nih, Na. Badan gue sakit semua, mana perut gue juga keram sama mual lagi,” keluh Bella.
Hanna mengernyit. “Masuk angin kali. Lo udah makan belum?”
Bella menggelengkan kepalanya. “Gue lagi gak mau makan apa-apa,”
“...Tapi kayaknya rujak yang depan sekolahan itu enak deh,” lanjutnya.
Hanna yang tengah sibuk mengunyah siomaynya seketika berhenti. Ia menatap Bella seraya mengerutkan keningnya. “Gue gak salah denger kan?”
Bella mengatupkan bibirnya. Ia juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba ingin memakan rujak padahal ia sedang sakit. Biasanya kalau merasa sakit, ia akan memaksakan diri untuk makan dan minum obat setelah itu sembuh. Namun sekarang justru berbeda.
“Lo kayak lagi ngidam aja pengen makan rujak. Badan lagi sakit juga pengen makan begituan.”
Bella tertegun saat mendengar perkataan Hanna barusan. Ia jadi teringat saat dimana ia terakhir bercinta bersama kekasihnya saat di kampus malam itu. Pria itu membohonginya yang berkata tidak akan melakukan lebih, nyatanya keduanya sama-sama saling menginginkan untuk menyalurkan hasratnya. Untung saja koridor sedang sepi dan tidak ada orang disekitaran sana. Namun bukan itu yang menjadi masalahnya, ia juga belum mendapatkan tamu bulanannya setelah malam itu. Ia juga pernah membaca sebuah artikel tentang tanda-tanda kehamilan. Dan semua itu sedang terjadi pada dirinya sekarang. Apa mungkin benar dirinya tengah hamil? Ia harus bergegas menemui Zafran untuk memastikannya sekarang.
Ia mengambil ponselnya lalu mengetikkan sesuatu di sana. Setelah itu, ia bangkit dari duduknya untuk segera menemui kekasihnya.
“Mau kemana, Bel buru-buru amat?” tanya Hanna.
“Gue ketemu Zafran dulu, Na.”
“Lo belum makan, bukannya badan lo lagi sakit?”
“Gue harus ketemu Zafran dulu, Na. Lo bisa pulang duluan aja nanti gue nyusul ke rumah lo sama Zafran.”
Hanna menganggukkan kepalanya. “Yaudah kalau gitu.”
Bella segera berlalu dari sana kendati dirinya masih merasakan sakit pada tubuh juga perutnya. Namun ia harus segera menemui kekasihnya untuk segera memastikannya.
*
*
*
“Testpack?”
Bella menepuk lengan pria itu karena berbicara dengan keras. Mereka saat ini sedang berada di parkiran kampus. Bella memang sengaja mengajaknya bertemu di sini karena di sini akan sangat aman dibandingkan di dalam kampus.
“Kamu... hamil?” tanya Zafran.
Bella berdecak kesal. “Aku mau mastiin dulu bener apa enggaknya makanya aku nyuruh kamu buat beli testpack.”
Zafran menganggukkan kepalanya. “Belinya di mana?” tanyanya dengan wajah polosnya yang berhasil membuat emosi Bella kembali tersulut.
“Di toko bangunan! Ya di apotek lah,” sungut Bella.
“Ya biasa aja dong bilangnya, orang aku nanya baik-baik.”
“Ya kamu sih udah tahu yang begituan adanya di apotek masih aja nanya.” Entah Bella sangat kesal sekali dengan Zafran. Bisa-bisanya pria itu masih bertanya padanya padahal sudah sangat jelas jika testpack hanya ada di apotek.
Ia juga sadar jika akhir-akhir ini emosinya sangat tidak stabil dan ia juga sangat sensitif terhadap sesuatu. Maka dari itu ia meminta Zafran untuk segera membelinya sekarang. Karena menurut artikel yang ia baca, itu juga salah satu tanda kehamilan.
“Iya maaf aku salah. Kamu mau nunggu di mana? Atau mau ikut aku aja?”
“Ikut kamu aja.”
Setelah membeli alat tes kehamilan, Zafran mengajak Bella untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Gadis itu mengeluh jika perutnya lapar karena belum makan siang di kantin, namun saat ia menawarkannya untuk makan nasi gadis itu menolaknya dan memilih untuk membeli rujak. Zafran jelas menolaknya keras. Gadis itu tidak bisa makan terlalu pedas apalagi sekarang dalam kondisi tidak sehat. Namun gadis itu memaksanya bahkan sampai menangis hanya karena menginginkan rujak. Zafran merasa heran tentunya. Tidak biasanya Bella sampai sedrama ini hanya karena ingin makan rujak.
Setelah membelinya Zafran melajukan motornya ke rumah Hanna sesuai permintaan kekasihnya. Ternyata Hanna sudah pulang ke rumahnya. Di sini Hanna hanya tinggal bersama orang tua dan juga kakaknya. Namun karena orang tua Hanna sedang di luar kota dan kakaknya pergi bekerja, jadilah Hanna hanya seorang diri di rumahnya.
“Ampun, Bel. Lagi sakit juga lo masih aja maksain makan rujak,” omel Hanna setelah melihat Bella masuk ke dalam rumahnya seraya memakan rujak di tangannya. Ia memberikan satu kantong kresek kecil pada Hanna yang berisi rujak yang sama.
“Nih buat lo.”
Hanna menerimanya dengan senang hati. Kalau gratis begini ia juga tidak akan menolak.
“Na, gue boleh pinjem kamar mandi lo?” tanya Bella.
“Biasanya juga lo sat set sat set tanpa bilang-bilang segala.”
Bella memutar bola matanya malas. Memang serba salah dirinya di mata sahabatnya itu. Ia beranjak masuk ke dalam kamar mandi seraya menenteng testpack yang telah ia beli bersama Zafran. Setelah masuk ke dalam ia membukanya lalu membaca petunjuk cara pakai di sana. Setelah memakan waktu hampir 10 menit di dalam kamar mandi, barulah Bella melangkahkan kakinya kembali menuju sofa ruang tengah yang dimana di sana ada Zafran yang tengah menunggunya dengan harap-harap cemas, dan Hanna yang sibuk mengunyah rujak yang dibelikan Bella.
“Gimana?” tanya Zafran tidak sabaran.
Bella memberikan testpacknya kepada Zafran. Pria itu menerimanya dengan dahi yang mengkerut. Ini maksudnya apa? Ia kan tidak mengerti cara melihatnya bagaimana. Lantas ia kembali menatap sang kekasih dengan wajah polosnya.
“Yang, aku kan gak ngerti maksudnya gimana.”
Rasanya Bella sangat ingin menenggelamkan wajah Zafran saat itu juga. Bisa-bisanya pria itu tidak tahu cara untuk melihat hasilnya. Bella menghela nafas. Sabar Bella walaupun begitu dia itu kekasihmu.
“Hasilnya positif.”
“Hah?”
Tuh kan masih tidak mengerti juga.
“Kamu... hamil?”
Uhuk uhuk...
Hanna tersedak bumbu kacang rujaknya setelah mendengar ucapan Zafran. Apakah ia tidak salah dengar? Mereka seperti membahas masalah kehamilan. Keyakinannya semakin bertambah kuat setelah melihat benda kecil yang dipegang oleh Zafran. Apakah sahabatnya itu tengah hamil?
“Bel, lo hamil?” pekik Hanna seraya membulatkan kedua matanya.
Bella menganggukkan kepalanya ragu. Dan sontak hal itu menimbulkan berbagai ekspresi yang Bella terima. Kekasihnya langsung membawanya ke dalam pelukannya seraya mengecupi seluruh wajahnya dengan gemas. Sangat berbanding terbalik dengan Hanna yang masih melongo di tempatnya.
“Gue bakalan kasih tahu lo, Na. Tapi gue mohon lo harus jaga rahasia ini dari orang lain, termasuk keluarga gue.”
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments