Bab 4

Bella baru saja selesai mengikuti kelasnya dibuat terkejut dengan kehadiran David di depan pintu kelas. Pria itu berdiri dengan senyuman yang tak luntur dibibirnya.

"Hai."

Bella memalingkan wajahnya ke arah lain. Kakinya melangkah hendak menjauh tanpa menghiraukan keberadaan David di sana, namun langkahnya terhenti saat David menahan pergelangan tangannya.

"Hey tunggu dulu."

"Lepasin!" Bella menepis kasar tangan David yang memegang pergelangan tangannya.

"Aku anterin kamu pulang."

"Apasih. Gila lo ya! Sampai kapanpun gak sudi gue pulang bareng lagi sama lo!"

"Ya gak papa sih kalau gak mau. Paling papa kamu  marahin kamu nanti." David berujar dengan santai seraya memasukkan kedua tangannya pada saku celananya.

"Dih ngapain bawa-bawa papa segala," sinis Bella.

"Loh kamu gak tahu? Kan papamu yang nyuruh aku buat antar-jemput kamu mulai sekarang?"

"Lo jangan ngada-ngada ya. Sejak kapan papa kenal sama lo."

David mengedikkan bahunya. "Yaudah kalau gak percaya."

Bertepatan dengan itu, ponsel Bella berdering. Ternyata itu panggilan masuk dari papanya. Tanpa menunggu lama Bella segera mengangkat panggilan itu.

"Hallo, Pa."

"Bella, David ada di sana kan?"

"David?" Bella menoleh pada David yang tengah menatap ke arah lain.

"Iya, mulai sekarang kamu akan diantar jemput ke kampus sama David. Papa tidak ingin kamu dekat-dekat terus dengan anak begajulan itu."

"Tapi Pa–"

"Tidak ada tapi-tapian. Kamu harus nurut sama Papa. Yasudah Papa lanjut kerja dulu. Kalau kamu tidak pulang bersama David, jangan harap kamu bisa terbebas dari hukuman Papa."

Tut

Panggilan terputus secara sepihak. Bella menatap jengkel David yang menatapnya dengan senyuman mengejek. Ingin menolak rasanya percuma. Papanya tidak pernah main-main jika sudah memberi hukuman.

Sebenarnya apa yang sudah David lakukan hingga membuat papanya percaya pada pria itu?

"Gimana? Sekarang percaya?"

"Bajingan!" umpat Bella.

"Eits jangan mengumpat gitu dong. Gak baik sayang. Masa cantik-cantik ngomongnya kasar." David merangkul bahu Bella yang langsung ditepis kasar oleh gadis itu.

Dengan perasaan dongkol Bella berjalan dengan langkah cepat menjauhi David yang tersenyum sinis di belakangnya.

"Sabar David. Semuanya butuh proses," gumamnya lalu berjalan mengikuti Bella.

...•••••...

Bella pikir David akan langsung pergi setelah mengantarnya sampai rumah. Namun ternyata dugaannya salah, David mengikutinya sampai ke depan pintu utama.

"Lo ngapain sih ngikutin gue?"

"Siapa bilang? Orang gue mau ketemu tante Mira."

"Mama gak ada," ketus Bella.

Belum sempat David menyela ucapan Bella, pintu utama terbuka. Tampak seorang wanita bermata kucing keluar dari rumah besar itu.

"Loh, kalian udah pulang?"

"Iya, Kak." Bukan Bella yang menjawab, tapi David.

Bella menerobos masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan protesan sang kakak. Bella ingin segera masuk kamarnya sebelum emosinya kembali mencuat setelah melihat David yang berpura-pura baik pada keluarganya.

Jenna berdecak kesal dengan tingkah adiknya yang menurutnya tidak sopan.

"Maafin Bella ya. Dia memang seperti itu."

David tersenyum yang mampu membuat siapapun terpana melihatnya.

"Gak papa, Kak. Mungkin Bella lagi banyak pikiran jadi sedikit sensitif."

Jenna mengangguk. "Mau masuk dulu?"

"Gak usah, Kak. Aku langsung pulang aja."

"Yasudah kalau begitu. Hati-hati di jalannya ya."

David berlalu dari sana setelah berpamitan pada Jenna. Sedangkan wanita itu keluar untuk mengambil paket pesanannya di pos satpam rumah. Saat akan kembali masuk ke dalam rumah, Jenna kembali berpapasan dengan Bella yang baru saja keluar dari rumah dengan langkah tergesa.

"Heh.. heh.. heh.. mau kemana?"

"Bukan urusan lo."

"Gue bilangin papa ya lo keluyuran terus."

"Ck gue mau keluar sama Hanna," decak Bella.

"Sama Hanna atau sama cowok miskin itu?" sarkas Jenna.

"Apaan sih, Kak."

Tin tin

Suara klakson mobil terdengar di depan rumahnya. Bella menghela napas lega, Hanna datang diwaktu yang sangat tepat. Setidaknya Jenna akan percaya jika dirinya keluar bersama Hanna.

"Hai Kak Jenna," sapa Hanna setelah turun dari mobilnya. Gadis pirang itu menghampiri Jenna dan Bella yang berdiri di dekat pagar rumah.

"Kamu mau pergi sama Bella?"

"Iya, Kak. Kita mau buat tugas kuliah bareng."

"Yaudah kalau gitu. Hati-hati di jalannya. Jangan ngebut-ngebut juga bawa mobilnya."

"Siap, Kak."

"Pulangnya jangan malem, papa bakalan marah kalau lo pulang malem," ucap Jenna pada Bella yang diangguki oleh wanita itu.

Setelah berpamitan, Bella menarik Hanna untuk segera masuk mobilnya. Saat keduanya telah duduk di dalam mobil. Hanna menyalakan mesin mobilnya untuk segera pergi dari pekarangan rumah Bella.

"Lo kenapa sih tiba-tiba nyuruh gue ke rumah? Lo juga gak nungguin gue dulu kayak biasanya."

Bella mengerutkan bibirnya, menatap lurus jalanan yang mereka lalui. "Gue pulang sama David,"

Hanna mengerem mobilnya mendadak karena terkejut mendengar jawaban Bella hingga membuat pengemudi lain mengklaksonnya dari belakang.

"Na, gak sampe ngerem mendadak juga kali," gerutu Bella.

"Gue shock tau!" Hanna menjalankan kembali mobilnya sebelum pengemudi lain semakin murka padanya.

"Tapi kok bisa? Lo gak ada niatan buat balikan lagi kan sama dia?"

"Idih amit-amit gue balikan sama jelmaan buaya darat."

"Terus kenapa bisa pulang bareng?"

"Gue disuruh papa pulang sama dia. Gue juga gak ngerti kenapa papa bisa tau David. Mana papa percaya gitu aja sama dia."

"Tapi papa lo tau dulu kalian sempet pacaran?"

Bella menggeleng. "Gue gak pernah ngenalin David sama keluarga gue sebelumnya."

"Kak Zafran tau gak David ngedeketin lo lagi?"

Lagi-lagi Bella menggeleng. Sore ini kekasihnya pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya. Bella ingin membicarakannya secara langsung agar tidak terjadi kesalahpahaman mengingat pria itu sangat sensitif jika berurusan dengan David, mantannya.

"Masa iya David belum move on dari lo," pikir Hanna.

"Gak mungkin spek buaya macam David gagal move on sama cewek. Lo kan tahu sendiri alasan putus dari gue karena apa?" tegas Bella.

"Iya juga sih."

"Mana dia orangnya manipulatif lagi. Gue yakin deh dia ngomong macem-macem makanya papa bisa percaya gitu aja sama dia."

"Kayaknya David lagi ngerencanain sesuatu deh. Gak mungkin tiba-tiba dia bisa deket sama papa lo."

Bella mengangguk menyetujui ucapan Hanna. Pikirannya kembali teringat ucapan David tempo hari saat keduanya bertemu di kantin kampus. Apa benar pria itu tengah merencanakan sesuatu?

"Lo harus hati-hati sama dia. Lo juga harus segera kasih tahu Kak Zafran sebelum dia tahu sendiri dari orang lain. Tahu sendiri pacar lo sensitif sama David. Bisa-bisa berantem lagi nanti."

Ternyata tak hanya sekali dua kali David selalu mengganggu Bella. Saat awal menjalin hubungan dengan Zafran, David masih gencar mendekatinya. Zafran sampai geram karena David terus menghubungi kekasihnya. Tanpa pikir panjang, Zafran meminta David bertemu dan terjadilah perkelahian antar keduanya. Semenjak saat itu, David menjauh dari Bella. Tentu gadis itu merasa sangat bersyukur karena pada akhirnya bisa terbebas dari David. Namun ternyata dugaannya salah. David semakin gencar mengganggunya bahkan sampai mendekati keluarganya.

Lantas apa sebenarnya tujuan David mendekati Bella? Tidak mungkin karena masih menyimpan rasa mengingat hubungan keduanya berakhir karena kesalahan David. Apakah mungkin David hanya ingin memanfaatkan hartanya?

Terpopuler

Comments

Vòng một lép nhưng tôm tép có đầy

Vòng một lép nhưng tôm tép có đầy

Asik banget!

2023-09-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!