Bab 5

Zafran baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Biasanya Bella akan mengiriminya pesan untuk sekedar bertanya mengenai kegiatannya hari ini. Namun hingga Zafran pulang ke rumah pun masih belum ada tanda-tanda notif pesan masuk.

Malam ini Zafran berkumpul bersama sahabatnya di apartemen milik Juna. Selain Galen, Zafran bersahabat dengan Juna, Yogi dan Ibram. Diantara mereka berlima hanya Juna yang berasal dari keluarga berada. Apartemen itu menjadi markas tempat berkumpulnya mereka. Selain karena tempatnya yang nyaman dan luas, di sini juga banyak tersedia cemilan dan minuman. Sangat cocok sekali bukan dijadikan markas?

"Tumben telat?" ucap Yogi saat Zafran baru saja datang ke apartemen Juna.

"Bantuin nyokap dulu di rumah makan."

Zafran duduk di samping Juna kemudian mengambil minuman yang sudah tersedia di atas meja dan meneguknya hingga tersisa setengah.

"Muka lo kusut amat. Berantem sama Bella?" tanya Juna.

Zafran menyimpan kembali botol minuman itu di atas meja lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.

"Bella gak ada kabar."

"Dari kapan?"

"Dari siang."

"Sialan, gue kira gak ada kabarnya semingguan. Taunya dari siang," cibir Ibram.

Zafran mendengus mendengar cibiran Ibram. Memang sahabatnya telah mengetahui hubungan Zafran dan Bella. Bahkan mereka juga mengetahui jika orang tua Bella tidak menyukainya.

"Tumben? Biasanya juga Bella gak pernah skip ngabarin lo," sahut Galen.

Zafran mengedikkan bahunya tidak tahu. Ia pun tidak mengerti ada apa dengan kekasihnya.

Zafran mengambil sebatang rokok yang sudah tersedia di atas meja, lalu menyulutnya hingga menimbulkan asap yang mengepul di udara.

"Oh iya gue baru inget. Tadi sore kan gue jemput Kania ke kampus. Gak sengaja gue liat Bella lagi jalan diikutin sama cowok di belakangnya. Tapi gue gak tahu siapa cowoknya," ucap Yogi.

"Lo salah lihat kali," sanggah Ibram.

"Serius gue lihat sendiri. Tadinya mau gue sapa, tapi kayak lagi buru-buru gitu jalannya."

Zafran bergeming. Terakhir Bella menghubunginya waktu dirinya akan makan siang. Selepas itu tak ada pesan masuk dari wanita itu. Jika benar kekasihnya tengah bersama pria lain, siapakah pria itu?

"Si bajul bukan sih?" tanya Galen pada Zafran.

"Setahu gue udah lama itu anak gak pernah gangguin Bella lagi."

"Bisa aja kan tiba-tiba deketin Bella lagi."

"Ciri-ciri cowoknya kayak gimana, Yog?" tanya Juna yang mulai penasaran dengan cowok yang bersama Bella.

"Tinggi, putih, mukanya juga lumayan ganteng tapi masih tetep gantengan gue."

"Dih narsis lo. Dibandingin sama gue juga masih gantengan gue kali," ucap Galen.

"Ngakunya ganteng tapi jomblo. Gak laku bro?"

"Sialan dipikir gue doang yang jomblo di sini? Noh Juna sama Ibram juga sama."

"Si bajul itu mantan Bella yang lo ceritain bukan?" tanya Ibram pada Zafran yang diangguki oleh pria itu.

Diantara keempat sahabatnya, hanya Juna dan Galen yang mengetahui wajah David. Karena pada saat dirinya berkelahi dengan David, mereka berdualah yang menemaninya. Sangat wajar jika Yogi dan Ibram tidak mengetahui wajah David. Mereka hanya mengetahui ceritanya saja, tanpa pernah melihat wajahnya secara langsung.

"Anjir, gue lupa mau cerita. Tadi gue ketemuan sama cewek," seru Ibram setelah sempat hening beberapa saat.

"Dapet dari tinder lagi?" tebak Juna.

"Iya, nyesel gue sumpah. Gak mau lagi maen begituan."

"Lah kenapa?" Belum juga Ibram bercerita Yogi sudah tertawa lebih dulu.

"Gue udah seneng lihat fotonya cantik banget. Pas gue lihat langsung itu cewek kayak yang gak pernah cuci muka selama seminggu."

Keempat pria di sana tertawa mendengar cerita dari Ibram.

"Parah lo body shaming," tuduh Yogi namun dirinya juga ikut tertawa.

"Anjir, bukan gitu. Gue lebih menghargai cewek yang berpenampilan rapi dan wangi meskipun mukanya gak terlalu cantik. Lah ini mukanya biasa aja, penampilannya udah kayak mau beli seblak ke warung. Gimana mau menghargai? Mana mukanya juga keliatan kek emak-emak lagi."

Mereka kembali tertawa. Jangan salah jika pria sudah berbicara dengan sahabatnya akan mengalahkan gosipnya para wanita. Mereka tak pernah segan mengungkapkan sesuatu yang bahkan bisa membuat siapapun akan sakit hati mendengarnya karena perkataannya yang pedas. Namun beruntungnya para pria tidak akan terlalu terbawa perasaan. Beda dengan para wanita yang akan mudah tersinggung.

"Lo sial mulu perasaan, Bram. Kenalin Zaf, sama temen-temennya Bella, kasian gue lihatnya," ledek Galen.

"Pertanyaannya emang mereka mau sama Ibram?" celetuk Yogi.

"Bangsat nistain aja terus," gerutu Ibram yang ditertawai oleh keempat pria di sana.

"By the way, lo udah hubungin Bella belum?" tanya Juna pada Zafran yang kini tengah bersantai sembari menghisap rokoknya.

"Udah, tapi masih belum ada balasan. Gue gak mau berpikir negatif dulu sebelum tahu sendiri dari Bella."

Galen, Ibram dan Yogi bertepuk tangan saat mendengar jawaban dari Zafran yang menurut mereka sangat langka. Karena mereka tentu tahu, bagaimana sosok Zafran yang sangat mudah terpancing emosi. Apalagi jika menyangkut kekasihnya.

"Bravo, lo bener-bener berubah sekarang," ucap Ibram.

"Pelet Bella emang mujarab," sahut Galen.

"Sialan dipikir cewek gue apaan," sungut Zafran.

Juna tertawa kecil lalu menepuk bahu Zafran. "Gak usah didengerin. Gue peringatin sama lo jangan asal menyimpulkan apa yang lo dengar. Lo harus dengerin dulu penjelasannya dari Bella. Inget, kunci hubungan langgeng itu saling percaya dan saling terbuka satu sama lain. Gue yakin Bella punya alasan kenapa dia pulang sama cowok dan gak ngabarin lo."

"Thanks bro, lo emang sahabat terbaik gue," ucap Zafran balas menepuk bahu Juna. "Gak kayak mereka bisanya cuman memancing emosi doang."

"Lo menyepelekan persahabatan kita gitu aja?" ucap Ibram dengan nada dramatis.

"Lebay lo ah!" Galen mendorong kepala Ibram hingga terhuyung ke belakang.

Zafran tertawa terbahak melihat para sahabatnya yang protes padanya. Setidaknya perasaannya sedikit terobati dengan candaan mereka. Bohong jika dirinya tidak marah mendengar Bella dengan pria lain. Namun kali ini Zafran harus memastikannya terlebih dahulu pada Bella. Ia tidak mau sampai kejadian lalu kembali terulang karena kebodohannya.

...•••••...

Setelah semalaman tak mendapat kabar apapun dari sang kekasih. Zafran berinisiatif menjemput Bella pagi ini sekaligus memastikan apakah wanita itu baik-baik saja atau tidak. Zafran bertekad akan menunggunya tak jauh dari rumah Bella.

Dari kejauhan Zafran dapat melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah Bella. Tak berselang lama, seorang pria keluar dari rumah dengan diikuti oleh Bella di belakangnya. Zafran tentu tahu siapa pria itu yang tak lain adalah David, mantan kekasih Bella.

Terlihat jelas di mata Zafran bagaimana David membukakan pintu mobil untuk Bella dan tak ada penolakan sedikitpun dari wanita itu. Sampai akhirnya mobil itu berlalu dari pekarangan rumah Bella.

Sekarang Zafran tahu siapa orang yang Yogi maksud kemarin. Apakah Bella sedang mencoba untuk berpaling darinya?

Rasanya Zafran ingin sekali menghajar David saat itu juga dan menyeret Bella untuk menjauh dari pria itu. Namun waktunya sangat tidak tepat. Perkataan Juna semalam juga cukup membuatnya sadar untuk tidak bertindak ceroboh. Zafran harus memastikannya terlebih dahulu sebelum bertindak lebih jauh. Ingatkan dirinya untuk menghubungi Hanna nanti.

...•••••...

Sesuai perintah papanya, Bella berangkat ke kampus bersama David. Tentu saja hal tersebut menjadi buah bibir mahasiswa kampus yang melihat Bella datang bersama mantannya. Sebagian dari mereka tentu tahu jika Bella telah berpacaran dengan Zafran.

Bella segera turun dari mobil David tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bella berlari kecil meninggalkan David yang terus saja meneriaki namanya di belakang sampai pria itu juga ikut berlari menyusulnya.

Sekilas mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Namun pada kenyataannya si gadis telah memiliki kekasih dan si pria itu adalah mantan kekasihnya. Sungguh aneh bukan.

David berhasil menyamai langkah besar Bella dan segera menahan pergelangan tangan wanita itu hingga membuat langkah keduanya terhenti.

"Jangan pegang-pegang!" Bella menepis tangan David dengan kasar.

"Aku anter sampai kelas kamu."

"Gak usah, gue bisa sendiri."

"Oke aku bilangin papa kamu–"

"Ngancem mulu bisanya," sela Bella dengan cepat.

"Makanya jangan protes kalau dibilangin tuh."

Dengan malas, Bella melangkahkan kakinya menuju kelasnya bersama dengan sang mantan kekasih.

Jika seperti ini, bagaimana Bella bisa terbebas dari David?

Bella juga lupa belum mengabari Zafran jika dirinya berangkat bersama David. Bahaya jika kekasihnya tahu dari orang lain, bisa terjadi kesalahpahaman. Bella juga belum mengecek ponselnya dari semalam karena sibuk diceramahi oleh papanya. Pasti Zafran mencarinya karena tidak memberinya kabar.

"Bella!"

Bella menoleh saat mendengar seseorang meneriakinya. Senyumannya mengembang setelah mengetahui jika orang itu adalah Hanna. Sahabatnya itu datang di waktu yang sangat tepat.

"Gue mau sama Hanna, lo ke kelas aja gih," usir Bella pada David.

"Aku tetap bakal anterin kamu sampai depan kelas."

"Gue mau ke toilet dulu, lo mau ikut juga?"

"Toilet?"

"Na, lo mau kan nemenin gue ke toilet?" Hanna yang tiba-tiba ditanya seperti itu hanya mengangguk saja.

"Yaudah, selesai kelas aku tunggu di parkiran. Jangan berani kabur dari aku kalau gak mau aku laporin sama papa kamu!" tegas David.

Bella memutar bola matanya malas. "Iya, bawel lo!"

Bella menarik tangan Hanna untuk segera menjauh dari sana. Wanita itu tidak ke toilet, melainkan pergi ke kantin kampus. Di sini masih sepi sehingga akan sangat aman untuk bercerita dengan Hanna.

"Gue masih gak ngerti kok bisa-bisanya papa lo percaya sama itu cowok. Lo gak ngasih tahu sama papa lo kalau dia itu sebenarnya mantan lo?” ucap Hanna setelah keduanya duduk di meja kantin.

"Tahu, kayaknya David yang ngasih tahu deh. Semalem gue diceramahin sama papa mama. Mana mereka ngebanding-bandingin Zafran sama David lagi."

"Kak Zafran udah dikasih tahu?"

Bella menggeleng. "Gue bingung gimana bilang sama dianya. Takutnya dia nekat sampai datengin David. Nanti itu cowok bakal laporan sama papa dan gue bakalan jadi di kirim ke Garut. Gue gak mau kalau harus pisah sama Zafran, Na."

Hanna menghela napas. Kasihan sekali sahabatnya itu. Hidupnya benar-benar sangat diatur oleh orang tuanya.

Terpopuler

Comments

Setsuna F. Seiei

Setsuna F. Seiei

Ngakak terus pas baca cerita ini, thor keren banget deh!

2023-09-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!