Sedari tadi Bella memilih mengurung diri di kamarnya. Ia tidak berhentinya menangis di sana. Dharma dan Mila terus membujuknya untuk keluar seraya mengetuk pintu kamar Bella, namun ia memilih menghiraukannya. Kenapa di saat ia sudah menemukan orang yang tepat untuknya, justru orang tuanya malah tidak merestuinya. Mereka justru malah mendukung David yang sudah jelas hanya memanfaatkannya.
Terkadang ia merasa iri dengan Hanna. Gadis itu dibebaskan oleh orang tuanya untuk menentukan pilihannya sendiri. Mereka juga tidak melarang Hanna dekat dengan siapa pun. Sedangkan dirinya, orang tuanya benar-benar sangat membatasinya. Ia tahu ini demi kebaikan dirinya, namun bukannya jika terlalu berlebihan itu tidak baik?
Terdengar lagi suara ketukan pintu dari arah luar. Bella ingin menghiraukannya, namun setelah mendengar suara neneknya ia bergegas membuka pintu kamarnya. Wanita paruh baya itu tersenyum kepadanya hingga membuat air mata Bella kembali luruh.
“Kamu harus kuat ya, sayang.” Tangis Bella semakin pecah dipelukan Neneknya.
Waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Bella masih mengurung diri di kamarnya. Kedua orang tuanya sekarang mungkin sedang beristirahat sehingga ia memilih untuk keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju kamar neneknya. Saat ia mengetuk pintu kamarnya ternyata neneknya masih terjaga dari tidurnya. Ia sedikit ragu untuk berbicara, namun karena ia sangat membutuhkannya dengan memberanikan diri ia membuka suara.
“Nek, boleh pinjam handphone Nenek sebentar gak?”
Nenek menghentikan aktivitasnya lalu menganggukkan kepalanya. “Ambil aja di atas meja.”
Bella mengambil ponselnya lalu kembali ke kamarnya. Ia membuka aplikasi instagram di ponsel neneknya dan memasukkan akunnya. Setelah berhasil, ia dengan cepat mengirim direct message kepada Zafran. Jika dipikir-pikir kenapa ia baru kepikiran sekarang untuk menghubungi kekasihnya lewat sosial media. Selain karena ia melupakannya, ia juga masih sungkan kepada neneknya untuk sekedar meminjam ponselnya.
Setelah mendapat balasan dari Zafran, ia bergegas mengganti pakaiannya dengan yang lebih hangat. Memoleskan sedikit riasan pada wajahnya agar tidak terlihat pucat. Setelah itu ia mengembalikan ponsel neneknya ke kamarnya. Untung saja wanita paruh baya itu sudah tidur jadi ia aman tidak ditanyakan olehnya.
Ia berjalan dengan mengendap-endap menuju pintu utama lalu membuka pintunya dan kembali menutupnya secara perlahan hingga tidak menimbulkan suara. Kedua orang tuanya mungkin sedang berada di kamar jadi ini sangat aman baginya untuk segera keluar dari rumah ini tanpa diketahui mereka. Setelah berhasil keluar dari sana, dari jarak beberapa meter dari rumah neneknya Zafran tengah menunggunya dengan pakaian tertutupnya. Gadis itu berjalan dengan sedikit berlari menuju ke arahnya dengan senyuman yang tak luntur di wajahnya.
“Kamu nunggu lama?” tanya Bella setelah berada di samping motornya.
“Baru aja sampe. Yuk naik!”
Setelah memasangkan helmnya. Bella bergegas naik ke atas motor. pria itu segera menjalankan mesin motornya menjauh dari sana.
Zafran membawa Bella ke sebuah kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Sedari tadi tak ada hentinya gadis itu menangis dalam pelukannya. Beruntung malam ini tidak terlalu banyak orang di sana. Ia juga memilih tempat yang sangat strategis dan pastinya tidak akan dicurigai oleh orang lain jika melihat Bella yang tengah menangis di pelukannya. Zafran dengan sigap mengusap-usap bahunya untuk menenangkannya.
Zafran terkejut saat tiba-tiba ia mendapat DM dari Bella dan menyuruhnya untuk menjemputnya. Ia yang memang sangat ingin bertemu dengannya bergegas menghampiri Bella ke rumah neneknya. Bohong jika ia tidak marah saat mendengar Dharma akan segera menjodohkannya dengan David. Tentu saja ia sangat marah dan tidak terima. Namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.
“Sudah jangan nangis terus,” ujar Zafran seraya mengusap rambut Bella.
Bella mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Zafran. Pria itu mengusap air mata Bella yang membasahi pipinya. Ia terkekeh saat melihat rambutnya yang terlihat berantakan. Belum lagi mata dan hidungnya yang memerah membuat Zafran gemas tentunya.
“Sudah ya, jangan khawatir aku ada di sini,” ujarnya untuk menenangkan kekasihnya.
“Kamu beneran gak akan ninggalin aku, kan?”
Zafran menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Gak usah terlalu dipikirin. Yang penting kita sama-sama berusaha dulu, oke. Kalau memang kita gagal lagi mungkin memang kita tidak ber–”
“Jangan bilang kayak gitu!” potong Bella cepat.
Zafran terkekeh dibuatnya. Ia kembali membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Biarlah semuanya berjalan dengan semestinya. Ia percaya suatu hari nanti akan ada jalan keluarnya supaya mereka bisa bersama.
“Kita pulang sekarang ya, udah malem banget soalnya.” Bella menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Zafran mengerutkan keningnya. “Kenapa? Nanti orang tua kamu nyariin.”
“Aku ikut kamu aja ya?” celetuk Bella membuat Zafran seketika membulatkan matanya.
“Hey! Kamu harus pulang sayang, nanti mereka khawatir sama kamu.” Bukannya ia tidak ingin Bella ikut bersamanya, namun ia takut jika kedua orang tuanya semakin membencinya karena membawa anaknya bersamanya malam ini.
“Please, malam ini aja,” ujar Bella dengan wajah memelasnya.
Zafran menggeleng tegas. “Enggak sayang, sekalipun kamu marah sama mereka. Tetap aja kamu jangan begini.”
Bella mengerucutkan bibirnya. Ia melepaskan pelukannya dan berdiri dari duduknya. “Yaudah kalau gak mau, aku pergi sendiri aja.”
“Hey kamu apa-apaan sih!”
Bella menghiraukan Zafran dan memilih untuk berjalan menjauhinya. Zafran mengejar kekasihnya untuk menyamai langkahnya. Setelah jaraknya cukup dekat, ia menahan lengan Bella untuk menghentikan langkahnya. Awalnya gadis itu memberontak, namun setelah mendengar pernyataan Zafran bahwa ia boleh ikut bersamanya gadis itu tersenyum senang. Zafran harus mengalah, jika tidak begitu pasti Bella akan nekat pergi sendiri dan itu akan sangat bahaya apalagi sekarang mereka sedang berada di kota orang. Lagi pula ia juga tidak akan mengizinkan kekasihnya itu pergi seorang diri.
Zafran mengajak Bella ke salah satu penginapan yang ada di dekat sana. Ia tidak mungkin membawanya ke rumah Dion karena ia merasa tidak enak dengan pria itu. Sehingga ia memilih untuk memesan penginapan hanya untuk semalam. Saat keduanya dalam perjalanan menuju penginapan tiba-tiba hujan deras membasahi kota Jogja. Untung saja sekarang mereka sudah sampai di lokasi meskipun pakaiannya sedikit basah. Keduanya masuk ke dalam kamar yang sudah Zafran pesankan. Di dalam kamar ada sofa jadi pria itu bisa tidur di sana dan membiarkan kekasihnya tidur di ranjang.
“Hoodie kamu basah?” tanya Zafran saat keduanya sudah sampai di dalam kamar.
“Lumayan.”
“Kamu pake daleman kan?” Bella menganggukkan kepalanya.
“Yaudah dilepas aja. Hoodienya kamu gantungin di deket jendela.” Bella menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Bella membuka hoodienya yang basah karena hujan, untung saja ia pake dalaman kaos pendek sekarang. Bella mulai mencuci muka, tangan dan kakinya. Ini adalah hal yang wajib ia lakukan sebelum tidur. Apalagi jika posisinya ia baru saja dari luar. Setelah dirasa cukup, ia keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju jendela yang posisinya sangat dekat dengan sofa. Di sana Zafran tengah membaringkan tubuhnya seraya memainkan ponselnya. Pria itu tidak menyadari jika Bella sudah berada di sana. Setelah menggantungkan hoodienya di dekat jendela, Bella berdiri di dekat sofa seraya berkacak pinggang.
“Main handphone terus!” tegur Bella.
Zafran menurunkan ponselnya dari pandangannya. Hal pertama yang ia lihat adalah Bella yang sedang berkacak pinggang seraya menatap tajam dirinya. Pria itu hanya menyengir menampilkan cengiran khasnya.
“Hehehe, udah selesai bersih-bersihnya?”
Bella mengangguk. “Giliran kamu gih bersih-bersih.”
“Kamu kalau ngantuk tidur aja di ranjang, nanti aku bisa tidur di sofa,” ujar Zafran sebelum melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Bella menurut, ia naik ke atas tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya di sana. Tak lupa ia juga menarik selimut sampai sebatas dadanya. Malam ini udaranya sangat dingin, mungkin efek setelah kehujanan tadi.
Pintu kamar mandi terbuka. Zafran baru saja selesai membersihkan dirinya. Ia mengambil handuk yang sudah disediakan di sana untuk mengeringkan tangan dan juga rambutnya. Ia melihat Bella sudah bergulung dengan selimut di atas tempat tidurnya. Ia berjalan ke arah ranjang lalu mengecup kening kekasihnya yang telah memejamkan matanya. Setelah itu ia kembali ke sofa untuk membaringkan tubuhnya. Hari ini cukup melelahkan baginya namun matanya masih belum ingin terpejam. Biasanya ia akan sangat mudah untuk tidur jika terlalu lelah beraktivitas, kali ini ia masih terjaga sehingga ia memilih untuk memainkan ponselnya. Tak lupa ia juga menghubungi sahabatnya bahwa ia tidak akan pulang malam ini.
Satu jam berlalu dengan keheningan. Di luar masih hujan deras bahkan kini disertai petir. Bella terbangun dari tidurnya karena mendengar suara geledek hingga membuatnya takut. Ia menoleh ke arah sofa yang dimana kekasihnya masih terjaga di sana sembari memainkan ponselnya. Ia menuruni tempat tidurnya lalu berjalan menghampiri Zafran. Menyadari ada seseorang yang berjalan ke arahnya, Zafran mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Ia mengernyit saat mendapati kekasihnya sudah berdiri di sana.
“Kenapa belum tidur?” tanya Zafran seraya bangkit dari tidurannya. Ia meraih tangan Bella lalu menuntunnya untuk duduk di sofa tepat di sampingnya.
“Udah tidur, tapi denger suara geledek jadi kebangun," rengek Bella.
Zafran membawa kepala gadisnya untuk bersandar pada dadanya. Ia mengusap seraya mengecup puncak kepalanya dengan sayang.
“Tidur lagi gih, udah malem banget ini,” ujar Zafran.
“Gak mau, pengen sama kamu aja di sini.”
Zafran terkekeh ia menangkup kedua pipi Bella lalu mengecup pipinya dengan gemas. “Pacar siapa sih gemesin banget kamu.”
Bella tertawa saat pria itu terus saja mengecupi bagian wajahnya. Tanpa sadar Zafran membaringkan gadis itu di atas sofa. Ia menghentikan aksinya saat kedua matanya bertemu dengan bola mata kekasihnya.
“Jangan pernah tinggalin aku ya, sayang. Aku gak bisa bayangin kalau kamu beneran ninggalin aku buat orang lain,” lirih Zafran.
Bella menangkup kedua pipi kekasihnya lalu mengecup bibirnya sekilas. “Aku gak akan mungkin ninggalin pria yang paling aku cintai. Kamu sangat berarti buat aku, sayang. Please, bertahan demi aku ya. Demi cinta kita. Kita harus sama-sama mewujudkan impian dan kebahagiaan kita di masa depan nanti.”
Zafran tersenyum senang mendengar pernyataan kekasihnya. Perlahan ia mendekatkan kembali wajahnya, Bella yang paham memilih untuk memejamkan kedua matanya. Saat bibir keduanya bertemu, Bella refleks mengalungkan kedua tangannya ke belakang kepala kekasihnya. Semakin lama mereka semakin terbawa suasana. Bella sedikit menekan kepala Zafran untuk memperdalam ciumannya. Sedangkan pria itu tak tinggal diam, tangannya mengusap perut kekasihnya, lalu perlahan naik ke atas dan sedikit meremas gundukan sebelah kanan Bella. Gadis itu mendesah dalam ciumannya. Perlahan ciuman Zafran turun ke lehernya dan meninggalkan bekas di sana. Saat pria itu ingin melakukan hal yang lebih, ia mendongak menatap sayu kedua bola mata Bella.
“Sayang–”
Sebelum menyelesaikan ucapannya Bella sudah mengangguk meyakinkan pria itu. Ia mengerti apa yang pria itu maksud. Ia mempercayainya pada Zafran. Ia akan memberikan sepenuhnya pada Zafran. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi setelah ini, namun yang pasti ia hanya menginginkan Zafran untuk sekarang ataupun selamanya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments