Seperti biasa Bella kembali menjalani hari-hari membosankannya di Jakarta. Ia senang bisa bertemu dengan sahabatnya lagi, namun ia juga sedih karena akan sangat sulit baginya bertemu dengan kekasihnya. Dharma semakin membatasi pergerakannya, bahkan sekarang papanya menyuruh David untuk mengikuti kemana pun ia pergi. Entah itu ke rumah Hanna atau hanya sekedar makan diluar. Ia ingin marah tapi ia juga tidak berani untuk melawan papanya dan karena itulah David memanfaatkan Dharma untuk bisa bersamanya. Karena pria itu sangat tahu kelemahannya dimana.
Ia berjalan menyusuri koridor kampus bersama dengan David. Sedari tadi pria itu tak hentinya berceloteh. Sedangkan Bella hanya membalasnya dengan singkat, karena ia tidak memiliki tenaga untuk menjawabnya. Sekarang pikirannya hanya tertuju pada kekasihnya. Semenjak ia bercinta dengan Zafran, ia jadi overprotektif pada pria itu. Entah lah ia hanya takut kekasihnya tiba-tiba berpaling darinya. Padahal kenyataannya Zafran tidak akan mungkin melakukannnya. Ia sempat melihat pria itu tengah berbincang dengan seorang gadis dan berakhir ia bertengkar dengannya. Pria itu menbujuknya sampai mendatangi rumahnya pada saat malam hari. Sangat konyol memang. Sekarang ia juga sudah diizinkan menggunakan ponsel oleh papanya.
“Kalau udah selesai kelas kabarin aku ya.”
Bella hanya mengangguk sebagai jawaban. Pria itu tiba-tiba mengacak rambutnya yang seketika membuat gadis itu menatapnya tajam. Jika pria di sampingnya ini Zafran, ia akan tersipu karena ulahnya. Namun nyatanya dia adalah mantan yang sangat Bella benci.
“Jangan marah! Semangat belajarnya,” ujar David lalu berjalan meninggalkan Bella di depan kelasnya.
Setelah pria itu pergi dari hadapannya. Bella mengerucutkan bibirnya seraya menghentak-hentakkan kakinya. Kenapa ia harus kembali dibuntuti oleh buaya darat macam David. Kalau sudah begini ia memilih tinggal di Jogja saja dari pada harus di sini dan hari-harinya akan semakin memburuk karena kehadiran pria itu.
Tanpa ia sadari tingkahnya telah disaksikan oleh seorang dosen muda yang akan masuk ke kelasnya.
“Bella, apa yang kamu lakukan di sini?”
Bella terkesiap saat seseorang menegurnya. Ia terkejut saat menemukan seorang dosen muda telah berdiri di hadapannya. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang tengah menahan malu.
“Maaf, Pa.” Dengan tergesa ia berjalan memasuki kelasnya lalu duduk di kursi yang biasa ia tempati. Ia masih setia menundukkan kepalanya sampai dosen itu telah memulai menjelaskan materi.
Bella melangkahkan kakinya menuju kantin kampus. Setelah selesai kelas ia bergegas menemui Hanna yang telah menunggunya di sana. Gadis itu memintanya untuk menemuinya. Masa bodo dengan David yang akan mencarinya nanti. Untuk sekarang ia ingin menghindar dari pria itu sementara.
“Cepet juga lo selesai kelas,” ujar Bella setelah duduk di samping Hanna.
“Biasa dosennya ada keperluan mendadak.” Hanna menyesap ice lemon yang telah ia pesan. “By the way, lo jadi kan ikut malam ini?”
“Gak tahu, gue juga bingung. Tahu sendiri bokap gue kayak gimana, Na.”
“Ini kan salah satu acara kampus juga, masa iya Om Dharma mau ngelarang.”
Malam ini kampus mereka akan mengadakan acara bazar. Hanna mengajak Bella untuk datang ke acara tersebut. Bella sebenarnya ingin datang, namun ia akan sulit mendapat izin dari papanya. Apakah ia harus meminta David untuk meminta izin kepada papanya untuk membiarkan ia keluar malam ini?
“Males banget gue kalau harus izin sama Papa. Masa iya gue harus izin lewat David,” ujar Bella seraya melipat kedua tangannya di atas meja.
“Gini aja deh, lo minta David aja buat izin sama papa lo. Kan David salah satu panitia, dia juga gak akan mungkin buntutin lo selama acara. Gue yakin lo pasti aman.”
Bella terdiam sejenak. Ada benarnya juga apa yang diucapkan oleh sahabatnya. Pria itu pasti terlibat dalam panitia acara ini dan ia juga bisa memanfaatkan kesempatan buat bertemu dengan kekasihnya.
“Gue hubungi David dulu.”
Bella membuka aplikasi chat di ponselnya. Ia mengirim pesan kepada David. Setelah itu ia tersenyum ke arah Hanna seraya mengangkat jempolnya.
*
*
*
Malam hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Bella datang ke kampus bersama dengan David. Pria itu benar-benar meminta izin kepada papanya untuk membawa Bella malam ini. Dan benar saja dugaan Hanna, pria itu kini telah bergabung bersama anggota lainnya di stand khusus panitia. Sedangkan Bella bergabung bersama Hanna, Jihan dan Mila. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada Zafran dan keempat sahabatnya juga turut hadir malam ini. Suasana malam ini juga cukup ramai. Para mahasiswa mulai mengerumuni stand-stand yang ada di sana. Namun berbeda dengan Bella, ia malah ditarik oleh sang kekasih menjauh dari sana.
Zafran membawa kekasihnya ke dalam koridor kampus. Beruntungnya kampus ini selalu menyalakan lampunya saat malam hari jadi tidak ada kesan horor di sana. Dan di sana juga sangat sepi, jadi akan sangat aman bagi keduanya dan tidak akan khawatir David melihat mereka. Zafran menarik tangan Bella untuk duduk di bangku panjang yang tersedia di sana. Genggamannya tak pernah lepas dari keduanya.
“Aku pikir kamu gak akan datang,” ujar Zafran.
“Awalnya aku gak bisa datang. Untungnya David minta izin sama papa buat ajak aku ke sini, dan papa setuju.”
Zafran tersenyum simpul. Bohong jika ia tidak cemburu dengan David. Bagaimana bisa pria itu bisa diberi kepercayaan lebih oleh papanya Bella sedangkan dirinya selalu dipandang rendah oleh pria tua itu. Namun di sisi lain ia merasa beruntung. Mungkin ia memang kalah dengan David dalam kepercayaan papanya Bella, namun ketahuilah ia pemenang sesungguhnya yang bisa memiliki hati Bella.
“David beralih profesi jadi tangan kanan papa kamu?”
“Kayaknya sih gitu. Aku aja heran papa kok bisa-bisanya percayain anaknya sama buaya darat macam David.”
Zafran terkekeh ringan, ia menarik tubuh kekasihnya untuk membawanya ke dalam pelukannya. Ia sangat merindukannya setelah terakhir mereka bersama saat di Jogja. Tak hentinya ia mengecup puncak kepala Bella seraya mengusap rambut panjangnya. Ia menggumam lirih tepat di telinga Bella hingga membuat gadis itu semakin merapatkan pelukannya. “Aku kangen kamu...”
Dan di sinilah mereka sekarang. Zafran menarik gadis itu masuk ke dalam kelas yang tidak terkunci. Pria itu memojokkan Bella di balik pintu kelas untuk menahan orang lain masuk ke dalamnya meskipun itu sangat mustahil karena yang berada di sekitaran kampus hanya mereka saja. Zafran menciumnya dengan lembut di sana hingga membuat Bella terbuai akan permainannya. Ia menuntun tangan Bella untuk dinaikkan ke atas bahunya. Seakan mengerti gadis itu melingkarkan tangannya ke belakang kepala Zafran lalu meremas rambut pria itu dengan lembut.
Bella menepuk dada kekasihnya saat di rasa ia kehabisan nafas. Tautannya terlepas, keduanya saling menatap dengan nafas terengah-engah. Zafran memajukan bibirnya untuk kembali mencium gadisnya. Tangannya menelusup pada blouse yang Bella pakai. Bella melenguh saat merasakan tangan Zafran meremas dadanya.
“Zaf...” desis Bella seraya menurunkan tangan Zafran yang menelusup ke dalam blousenya.
“Hmm?” Zafran berdeham seraya menatap kedua bola mata kekasihnya.
Bella menggelengkan kepalanya. Zafran yang mengerti kekhawatiran Bella menghembuskan nafasnya kasar. Pria itu sangat tidak terkendali jika sudah seperti ini.
“Gak akan ada orang ke sini, sayang,” bujuk Zafran.
“Tapi–”
“Ssstt kamu gak usah khawatir. Aku gak akan ngelakuin hal lebih kok, percaya sama aku.”
Bella menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi bibir keduanya menyatu. Bella kembali mengalungkan tangannya pada leher Zafran. Semakin lama ciuman itu berubah menjadi ciuman panas. Bahkan sekarang kancing blouse milik Bella telah terbuka bagian atasnya karena ulah kekasihnya. Dan pria itu tengah asyik bermain-main dengan dadanya. Ia hanya bisa memejamkan matanya menikmati sentuhan demi sentuhan yang dicipatakan oleh kekasihnya. Ia hanya berharap seseorang tak menemukan keduanya sedang berada di sini.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments