Setelah terjadi pergumulan panas antara Zafran dan Bella, keduanya masih sama-sama bungkam. Zafran yang mulai memejamkan matanya karena rasa kantuk mulai menderanya, sedangkan Bella masih sibuk dengan pikirannya. Keduanya telah berpindah tempat menjadi di atas ranjang tempat tidur. Bella berbaring seraya membelakangi Zafran, sedangkan pria itu memeluknya dari belakang.
Bella tidak bisa memejamkan matanya setelah apa yang terjadi antara dirinya dan juga Zafran. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Ia senang bisa memberikan dirinya sepenuhnya pada orang yang ia cintai, namun di sisi lain ia merasa khawatir. Pikiran negatif mulai merasuki pikirannya. Bagaimana jika ia mengandung anak Zafran? Bagaimana jika Zafran meninggalkannya dan tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya? Atau lebih parahnya lagi Zafran meninggalkannya demi perempuan lain? Selain itu juga, ia sangat mengkhawatirkan kedua orang tuanya. Jika seandainya ia benar-benar mengandung anak Zafran, bagaimana respons papanya nanti? Pasti papanya akan semakin membenci Zafran dan lebih parahnya lagi papanya pasti akan membencinya juga. Pemikiran-pemikiran negatif terus saja hinggap dibenaknya.
Bella membalikkan tubuhnya untuk menghadap kekasihnya. Ternyata pria itu telah memejamkan matanya. Ia menatap intens wajah tampan kekasihnya saat tertidur. Mungkin pria itu lelah hingga bisa tidur secepat itu. Ia mulai mengusap-usap rahang tegasnya. Pikiran negatif yang ada dibenaknya seketika hilang begitu saja. Tergantikan dengan perasaan hangat yang menjalar pada ulu hatinya.
Merasa seseorang tengah menyentuh wajahnya, Zafran terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan kedua matanya untuk menetralkan cahaya yang masuk ke retinanya. Hal pertama yang ia lihat adalah seorang gadis cantik yang tengah menatapnya dengan senyuman tipis pada bibirnya.
“Belum tidur?” tanya Zafran dengan suara serak khas bangun tidur.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia menyembunyikan pandangannya pada dada Zafran. Sontak pria itu mengernyit, ada apa dengan kekasihnya?
“Kenapa?” Zafran mengusap rambut kekasihnya seraya mengangkat dagu gadis itu untuk kembali menatapnya. “Kamu nyesel udah ngelakuin itu sama aku?”
Bella kembali menggelengkan kepalanya. Meskipun ini hal yang salah, namun ia tidak menyesal dengan keputusannya. Ia hanya terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi di masa yang akan datang.
“Terus kenapa?”
“Aku cuman takut setelah apa yang telah kita lakukan kamu malah berpaling ke perempuan lain,” cicit Bella seraya mengerucutkan bibirnya.
Zafran terkekeh. “Hey, jelek banget pikirannya. Aku cinta sama kamu itu tulus dari hati bukan karena nafsu. Kalau kamu pikir aku hanya menginginkan nafsu belaka aja, gak mungkin aku bertahan sampai sejauh ini. Sampai harus ngadepin keluarga kamu yang udah jelas gak suka sama aku. Aku juga gak mungkin ada di sini sekarang.”
Bella mengatupkan bibirnya. Memang benar apa yang diucapkan oleh Zafran. Lagi pula selama mereka pacaran, pria itu tidak pernah sampai melakukan sejauh ini. Paling hanya sekedar cium dan peluk saja. Namun tetap saja ia mengkhawatirkannya meskipun ia percaya pada kekasihnya.
“Gak usah berpikiran yang aneh-aneh. Aku gak mungkin ninggalin kamu gitu aja setelah apa yang telah kita lalui bersama. Kamu sangat berharga buat aku, sayang.” Zafran menangkup kedua pipi Bella lalu mendaratkan kecupannya di bibir Bella.
“Kalau seandainya aku hamil gimana?” cicit Bella menatap Zafran dengan harap-harap cemas. Namun respons Zafran justru sangat diluar dugaan.
“Ya bagus dong. Kalau sampai itu terjadi, aku akan menikah sama kamu. Kamu akan jadi istri dan ibu dari anak aku. Lagi pula papa kamu juga gak akan bisa berbuat apa-apa kalau seandainya itu terjadi,” ujar Zafran dengan santainya.
“Ish itu mah maunya kamu.” Bella memukul dada sang kekasih yang tidak terbalut sehelai benang pun. Pria itu menahan tangannya lalu menggenggamnya untuk ia kecup.
Setelah itu, Zafran mengulurkan tangannya untuk mengusap perut Bella hingga membuat gadis itu terkesiap. “Jadi gak sabar nunggu baby ada di sini.”
Bella tersenyum malu saat mendengarnya. Ia jadi geli sendiri dengan tingkah Zafran yang sangat diluar dugaan ini. Dan ucapan Zafran selanjutnya membuat Bella seketika membulatkan matanya.
“Baby harus cepet tumbuh di sini ya, biar Papa bisa nikahin Mama kamu secepatnya.”
*
*
*
Zafran mengantar Bella ke rumahnya tepat pukul 6 pagi. Pria itu tidak mengantarnya sampai depan rumah, karena orang tua Bella pasti akan semakin marah saat menemukan anaknya bersama Zafran. Sehingga gadis itu memilih berjalan kaki saat sudah cukup dekat dengan rumah neneknya. Setelah menginjakkan kakinya di teras rumah, ia disambut dengan Dharma yang menatapnya tajam dari arah pintu. Bella telah menyiapkan hatinya untuk mendapat amarah dari papanya.
“Dari mana saja kamu semalam? Bertemu dengan si begajulan itu lagi?”
“Pa, dia punya nama,” sanggah Bella.
“Papa sengaja kirim kamu ke sini biar jauh dari si begajulan itu. Tapi nyatanya kamu lebih bebas di sini sama dia.”
"Pa, aku bahagia sama dia. Aku nyaman sama dia. Tolong, untuk kali ini aja Papa izinkan aku untuk menentukkan pilihanku sendiri.”
Dharma terkekeh sinis. “Sampai kapan pun juga Papa gak akan sudi restuin kamu sama dia,” tekan Dharma. “Sekarang masuk ke kamar, beresin barang-barang kamu. Kita akan kembali ke Jakarta.”
Bukankah ia seharusnya merasa senang karena bisa kembali ke Jakarta? Namun entah kenapa justru hatinya terasa berat meninggalkan kota ini. Karena di sinilah ia bisa merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia dapat selama di Jakarta. Setelah ini, sudah dapat dipastikan papanya akan semakin mengekangnya di sana. Bagaimana jika papanya sampai nekat menjodohkannya dengan David? Itu tidak akan pernah terjadi sampai kapan pun. Bella masuk ke dalam kamarnya. Dengan segera ia membereskan barang-barangnya sebelum Dharma kembali memarahinya.
*
*
*
Zafran melangkahkan kakinya memasuki rumah Dion dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Hal tersebut tentu menimbulkan tanda tanya dibenak Juna yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Dateng-dateng malah senyum kek orang gila,” celetuk Juna seraya duduk di sofa ruang tengah.
Zafran terkekeh. Ia benar-benar sangat senang pagi ini setelah apa yang terjadi semalam bersama dengan kekasihnya. Ia tidak pernah berpikir akan melakukannya sampai sejauh itu kendati ia juga sangat menginginkannya. Bukan hal baru bagi dirinya melakukan hal demikian, namun ini adalah pertama kalinya ia bercinta dengan seseorang yang sangat begitu ia cintai. Apalagi setelah mendapat persetujuan dari kekasihnya ia juga tidak bisa menolak.
Mungkin ini cara yang salah untuk memiliki Bella seutuhnya. Namun ia tidak menyesal atas apa yang mereka perbuat. Ia juga pasti akan bertanggung jawab jika suatu saat Bella mengandung anaknya. Bukankah itu salah satu impiannya mekipun terjadi karena kesalahan?
“Habis ketemu Bella malah makin gak waras lo,” cibir Juna.
“Setidaknya gue punya alasan buat gak waras. Kalau lo yang gak waras khawatirnya jadi pasien rumah sakit jiwa,” ujar Zafran seraya berlalu memasuki kamarnya.
“Anjing emang lo! Gue rebut Bella tahu rasa.” Zafran tertawa di dalam kamarnya hingga terdengar sampai ke ruang tengah.
Juna mendengus kesal, ia juga masih sendiri karena memang belum menemukan yang cocok dengannya. Ia bukan Galen atau Yogi yang akan dengan mudah menjalin hubungan dengan perempuan mana saja. Ia itu tipe pemilih, namun sekalinya menjalin hubungan pasti akan berlangsung lama. Terbukti diantara kelimanya, dirinya yang paling sedikit mantannya.
Waktu menunjukkan pukul 2 siang. Keduanya memutuskan untuk pulang siang ini. Zafran memasukkan barang bawaannya ke dalam bagasi mobil, begitu pun dengan Juna. Sedangkan Dion berdiri di samping mobil Juna untuk sekedar mengantar temannya yang akan kembali ke Jakarta.
“Bang, makasih ya udah mau direpotin sama kita,” ujar Zafran.
“Santai aja, gue seneng bisa bantu lo di sini. Semoga hubungan kalian selalu berjalan dengan baik dan pastinya orang tua cewek lo bisa menerima lo,” ujar Dion seraya menepuk bahu Zafran. “Jangan lupa undangannya kalau mau nikah nanti,” lanjutnya.
Zafran tertawa. “Pastinya Bang, nanti gue kasih undangannya sama lo. Kalau perlu gue anterin ke sini langsung.”
Dion tertawa seraya meneouk bahu Zafran. “Bisa aja lo.”
“Tunggu undangan gue juga ya, Bang,” celetuk Juna yang baru saja memasukan barangnya ke dalam mobil.
“Cari dulu ceweknya, baru sebar undangan.” Juna memutar bola matanya malas saat melihat kedua pria itu malah menertawakannya. Mereka sangat senang sekali menistakannya.
Zafran dan Juna memasuki mobil setelah berpamitan dengan Dion. Juna menyalakan mesin mobilnya menjauh dari pekarangan rumah Dion meninggalkan kenangan manis di kota Yogyakarta.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments