Bab 7

Bella melangkahkan kakinya menuju gedung fakultas teknik. Ia akan menemui kekasihnya sekarang. Ia sudah meminta izin kepada David untuk bertemu dengan Hanna. Awalnya pria itu ingin ikut bersamanya, namun Bella melarangnya dan jadilah pria itu mengizinkannya pergi sendiri. Untung saja David tidak mencurigainya kalau sebenarnya ia ingin bertemu dengan kekasihnya.

Bella menunggu Zafran di depan kelasnya. Untung saja ia keluar lebih cepat hari ini sehingga ia bisa menunggunya di sini. Beberapa menit berlalu, pintu kelas terbuka. Hal pertama yang Bella lihat adalah seorang dosen wanita yang baru saja selesai mengisi materi. Selanjutnya ada beberapa teman kelas Zafran yang keluar dari sana dan disusul oleh Zafran di belakangnya. Dengan segera ia menghentikan langkah pria itu saat sudah di hadapannya.

“Zaf,” panggil Bella.

Pria itu menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya. Ia mengernyit heran melihat Bella ada di sini. Lalu menghampiri kekasinya yang telah menunggunya di sana.

“Kamu tumben ke sini?” tanya Zafran.

Bella tersenyum. “Zaf, aku mau ngomong sama kamu. Tapi gak di sini.”

Zafran menoleh ke sekelilingnya. Lalu ia menarik gadisnya itu untuk segera menjauh dari sana dan membawanya ke belakang gedung fakultas teknik. Bisa bahaya jika David melihat ia bersama dengan Bella. Sudah dirasa cukup aman, barulah keduanya saling berhadapan.

“Kamu ke mana aja semalam? Aku nunggu kamu di rumah Hanna tapi kamu gak dateng-dateng. Aku khawatir sama kamu, sayang. Gak biasanya kamu begini. Mana ditelpon juga gak diangkat-angkat,” cecar Zafran.

Bella mengerucutkan bibirnya. “Maafin aku, semalam papa sama mama tiba-tiba ajak aku makan malam sama keluarga David. Handphone aku juga ketinggalan di rumah.”

Senyum Zafran seketika luntur saat mendengar pernyataan dari Bella.

“Kamu ketemu sama keluarganya David?” cicit Zafran.

Bella mengangguk ragu.

Zafran membuang muka seraya mendengus kesal. “Apa kalian sudah sejauh itu?”

“Maksudnya?”

“Hubungan kalian. Bahkan keluarga kalian juga sudah sedekat itu.”

Bella menggelengkan kepalanya. “Kita cuman makan malam aja gak ada apa-apa lagi kok,” elaknya.

Zafran bergeming di tempatnya. Perasaannya tidak menentu. Ia sangat marah saat mengetahui kekasihnya lebih mengutamakan bertemu dengan keluarga David dan melupakannya yang telah menunggunya di rumah Hanna selama satu jam. Di satu sisi ia pun sadar, Bella pastinya akan mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya. Apalagi papanya sangat membenci dirinya. Lantas masih ada harapankah dirinya untuk bisa mengambil Bella dari kedua orang tuanya?

“Zaf, kamu melamun?”

Zafran tersadar dari lamunannya. Ia kembali menatap kedua bola mata indah kekasihnya seraya tersenyum miris.

“Kamu pulang gih, pasti David udah nyariin kamu," ujar Zafran.

Bella mengernyit, apa ia tidak salah dengar? Tumben sekali pria itu mengkhawatirkan David. Tidak biasanya Zafran seperti ini. Biasanya pria itu akan mengomelinya jika ia bersama David. Atau ia akan mengeluarkan kata-kata andalannya yang akan menghajar David. Namun kali ini justru sebaliknya. Pria itu seperti ingin menghindarinya.

“Kamu nyuruh aku pergi?”

Zafran menghela nafas berat. “Kamu pulang aja sebelum David nyari kamu ke sini.”

“Tapi Zaf–"

“Aku pengen sendiri dulu, Bel," ujar Zafran dengan cepat.

Bella bergeming di tempatnya. Zafran sudah memanggilnya dengan nama asli, tidak seperti biasanya. Apakah kekasihnya itu marah padanya?

“Kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku?”

“Bel, aku lagi gak mau ribut. Lebih baik kamu pulang sekarang," ujar Zafran tegas tak ingin dibantah.

“Kamu ngusir aku?” gertak Bella. Air matanya luruh membasahi pipinya.

Zafran membuang mukanya saat melihat Bella menangis di hadapannya. Ia paling tidak suka melihat gadisnya menangis, apalagi itu karena dirinya.

"Zaf–"

“Yaudah biar aku aja yang pergi.”

Setelah mengatakan demikian, Zafran berlalu dari sana meninggalkan Bella yang berdiri mematung di tempatnya. Kenapa semuanya menjadi rumit seperti ini. Air matanya semakin deras membasahi kedua pipinya. Isak tangisnya kembali terdengar. Kenapa kisah cintanya harus serumit ini?

*

*

*

Setelah perdebatan hari itu, hubungan keduanya menjadi renggang. Selama beberapa hari pula ia tidak bertemu dengan kekasihnya. Bahkan pria itu terlihat menghindarinya. Saat keduanya tidak sengaja berpapasan pun, pria itu seperti berpura-pura tidak melihatnya. Dan sekarang ia menemukan kekasihnya itu dengan seorang gadis yang ia ketahui salah satu mahasiswi kedokteran. Ia jelas marah, namun pria itu seperti tidak memperdulikannya. Bahkan dengan terang-terangan keduanya berjalan beriringan saat Bella memasuki kampus. Pria itu tidak melihatnya sama sekali padahal posisinya mereka saling berhadapan. Setelah keduanya mulai menjauh dari pandangan Bella, tiba-tiba Hanna menepuk bahunya hingga membuatnya kembali tersadar dalam lamunannya.

“Ngelamun aja lo. Tumben sendiri? Ajudan lo ke mana?” tanya Hanna setelah menyadari Bella hanya sendiri di sana.

“Kenapa lo kusut banget itu muka.” Hanna mengernyit melihat sahabatnya itu bergeming dengan wajah sedihnya.

Bella menundukkan pandangannya. Sesakit ini kah rasanya diabaikan oleh orang yang kita cintai. Apakah ini yang selalu dirasakan Zafran ketika ia bersama David? Ia menggigit bibirnya lalu menoleh ke sampingnya yang dimana ada Hanna yang menatapnya bingung. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Mungkin jika ia berkedip, air matanya akan segera luruh.

“Na, emang gue salah ya?” ujar Bella dengan bibir bergetar.

Hanna merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu. Lantas dengan segera ia menariknya menjauh dari sana. Ia membawanya ke belakang fakultas manajemen, karena di sana sangat sepi dan pastinya akan aman jika membicarakan sesuatu.

“Lo kenapa?” tanya Hanna setelah keduanya duduk di bangku panjang yang tersedia di sana. Namun bukannya jawaban yang ia dapat. Tangisan Bella pecah saat itu juga. Ia hanya bisa menghela nafas berat dan membiarkan sahabatnya itu menangis.

Sudah hampir 10 menit berlalu gadis itu masih belum menghentikan tangisnya. Keduanya bahkan sampai melupakan kelas hari ini. Bella mengusap air matanya setelah dirasa cukup tenang. Ia melihat Hanna yang berada di sampingnya mengusap-usap bahunya.

“Udah?”

Bella menganggukkan kepalanya. Ia menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.

“Jadi kenapa lo nangis?”

“Na, Zafran marah sama gue. Kan waktu itu gue udah jelasin kalau disuruh sama papa ikut makan malam sama keluarganya David. Tapi dia nyuekin gue sampai sekarang. Tadi aja malah gak nyapa gue padahal kita papasan,” ujar Bella dengan nafas tersendat-sendat. “Mana tadi juga jalan sama cewek lagi.” Bella kembali terisak mengingat kekasihnya bersama gadis lain.

“Cewek? Lo kenal ceweknya siapa?”

“Gue gak tahu namanya siapa. Tapi setahu gue dia itu salah satu mahasiswi kedokteran.”

“Siapa ya? Kok gue jadi penasaran," ujar Hanna. Gadis itu lebih penasaran dengan wanita bersama Zafran daripada cerita Bella. Karena setahunya Zafran itu tipikal pria yang jarang dekat dengan wanita kecuali kalau ia sudah mengenalnya dekat seperti dirinya. Tentu ia juga tahu siapa saja wanita yang dekat dengan Zafran karena Bella selalu menceritakannya padanya.

“Apa ini karma buat gue ya karena kemaren-kemaren gue sama David terus? Tapi kan itu juga gue terpaksa Na,” isaknya kembali terdengar.

Bella mengambil tissunya kembali lalu membersihkan air mata di pipinya serta ingusnya yang ikut keluar dari hidungnya.

“Mungkin Zafran lagi butuh waktu, Bel. Cowok mana sih yang gak sakit hati lihat pacarnya deket sama mantannya, apalagi itu karena orang tuanya. Lo harus tahu, cowok itu selalu ngerasa gak percaya diri kalau udah menyangkut masalah ekonomi keluarga,” jelas Hanna.

Bella merapatkan bibirnya saat mendengar penuturan sahabatnya. Memang Zafran juga sering menyinggung masalah itu. Tapi Bella juga sudah memberitahunya jika ia tidak mempermasalahkan hal itu. Ia mencintai pria itu tulus apa adanya.

“Itu sih kembali lagi sama lo. Kalau emang lo sayang sama dia, nerima dia apa adanya, kalian harus bisa saling percaya satu sama lain. Buktiin sama orang tua lo, bahwa kalian sama-sama saling mencintai dan berhak untuk bahagia atas pilihan lo sendiri," lanjut Hanna.

Setelah mendapat pencerahan dari sahabatnya. Bella meminta gadis itu untuk mengantarnya ke tempat kerja Zafran, karena sebelumnya ia ke kampus diantar sopir. Sedangkan David sedang ada urusan sehingga ia bisa terbebas dari jeratan pria itu. Sesampainya di sana, Bella dan Hanna masuk ke dalam bengkel. Seseorang menghampiri keduanya dengan senyuman ramahnya.

“Mau servis mobilnya mbak?” Tanya pria itu.

Bella menggelengkan kepalanya. “Enggak mas, saya mau nyari Zafran, ada?”

“Oh kebetulan dia belum datang ke sini. Mungkin sebentar lagi juga datang.”

Tiba-tiba pria lainnya datang menghampiri mereka. Senyumnya merekah saat melihat ada kedua gadis cantik di hadapannya.

“Mbak cantik mau servis mobilnya ya?” Tanya pria itu yang langsung mendapat toyoran dari rekannya.

“Anjing, apa sih lo!” cercanya seraya mengusap kepalanya.

“Mau nyariin Zafran.”

“Oh Zafran nya belum datang. Tapi boleh lah kita kenalan dulu. Nama aku Robert panggil aja sayang,” ujarnya seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Bella dan juga Hanna.

“Jangan ditanggapin ya mbak, dia emang kayak gitu,” ujar rekannya merasa tidak enak kepada Bella dan Hanna.

“Gak papa kok santai aja,” ujar Hanna.

Dari arah luar terdengar suara deruan motor yang sangat tidak asing di telinga Bella. Pria itu masuk ke dalam bengkel dan terkejut saat mendapati Bella dan Hanna tengah berbincang dengan rekan kerjanya.

“Nah itu dia orangnya,” pekik Robert saat melihat presensi Zafran yang baru saja datang ke sana.

Pria itu tertegun melihat kekasihnya ada di sini. Langkahnya terhenti tepat di samping Bella yang juga menatapnya.

“Mbak cantik nyariin lo nih Zaf,” goda Robert. “Kok lo gak bilang gue sih kalau punya temen cewek pada cantik begini.” Pria itu menatap Bella dan Hanna secara bergantian hingga membuat kedua gadis itu merasa risih.

“Balik kerja sana jing!” hardik Zafran.

“Wess santai dong jing, gitu aja marah lo,” protes Robert.

“Kerja lagi kerja jangan godain cewek mulu,” cibir pria itu lalu menggiring Robert untuk menjauh dari sana.

Setelah kedua pria itu berlalu meninggalkan mereka. Zafran mengajak Bella untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. Hanna memilih untuk menunggunya di mobil. Gadis itu membiarkan mereka berbicara satu sama lain untuk segera menyelesaikan masalahnya.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!