Bab 12

Zafran membaringkan tubuhnya setelah seharian penuh ia disibukkan dengan pekerjaannya. Pikirannya menerawang saat beberapa minggu lalu yang dimana ia akan menghubungi kekasihnya setelah selesai bekerja. Gadis itu akan selalu bertanya kepadanya seperti bagaimana dengan pekerjaannya, apakah ada kesulitan di tempat kerja dan hal lainnya. Mungkin itu terdengar sangat sepele namun ia merasa sangat spesial karena diperhatikan oleh Bella. Ia kembali membuka ponselnya dan melihat pesan terakhirnya yang masih belum dibaca. Nomornya masih tidak bisa dihubungi. Sebenarnya ke mana gadisnya pergi? Apakah ia marah kepadanya dan sengaja ingin menghindarinya?

Ia membuka galeri ponselnya. Ada banyak foto dan video Bella yang ia ambil secara tidak sengaja. Ada juga foto selfie kekasihnya di sana. Waktu itu Bella baru saja memotong rambutnya sampai bahu. Ia menggunakan ponselnya untuk memotret dirinya dan menyisakan hasilnya sampai puluhan foto. Ia tersenyum saat melihat satu persatu foto selfienya yang menampilkan berbagai ekspresi. Ia semakin merindukan kekasihnya yang entah di mana.

Keesokan harinya Zafran sengaja memantau di kediaman rumah Bella. Meskipun hanya melihatnya dari luar setidaknya ia dapat memastikan jika kekasihnya ada atau tidak di sana. Sudah cukup lama ia menunggu namun tidak ada tanda-tanda kekasihnya keluar dari sana. Ia hanya menemukan kedua orang tua Bella serta Jenna yang sepertinya akan pergi keluar.

Di saat yang bersamaan sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Bella. Ia menggeram setelah melihat si pemilik mobil itu yang ternyata adalah David. Lalu Dharma membukakan pintu rumah dan mengajak pria itu masuk ke dalam sana. Sekitar 30 menit berlalu David keluar dari rumah Bella dan berlalu dari sana. Ia sangat yakin sekali jika David mengetahui keberadaan kekasihnya. Ia harus mendesak kembali pria itu supaya memberitahunya. Karena waktu telah menunjukkan pukul 1 siang, ia harus segera pergi ke bengkel untuk bekerja. Selain memperjuangkan cintanya, ia juga harus dibarengi usaha mencari materi. Ia harus bisa membuktikan pada mereka yang merendahkannya bahwa ia yakin bisa sukses dengan cara sendiri meskipun itu tidak mudah.

*

*

*

Setelah selesai kelasnya, Ia kembali mendatangi David untuk mendesak pria itu mengatakan keberadaan kekasihnya. Kali ini ia jangan terpancing emosi seperti kemarin yang berakhir tidak mendapatkan info apa pun. Saat ia telah berada di fakultas manajemen, ia tidak menemukan keberadaan David di sana. Lalu ia berinisiatif mencarinya di ruangan BEM. Ia menduga pasti pria itu akan ada di sana.

Saat ia ingin masuk ke ruang BEM tanpa sengaja ia mendengar ucapan seseorang yang sangat tidak asing di telinganya. Suaranya sangat mirip dengan David. Ia mendekatkan telinganya pada pintu untuk mendengarkan percakapan mereka. Sesuai dugannya tenyata pria itu adalah David dan temannya. Terbukti mereka tengah membicaran kekasihnya di dalam sana.

“Akhir-akhir ini tumben lo gak ngintilin Bella. Biasanya juga lo buntutin dia terus kemana-mana,” ujar salah satu temannya.

“Bella lagi di Yogya jadi gue bisa santai tanpa harus ngintilin dia.”

Ternyata selama seminggu ini kekasihnya itu tengah berada di Yogya. Namun kenapa nomornya tidak bisa dihubungi? Apa telah terjadi sesuatu dengannya?

“Udah mantanan juga masih aja ngedeketin Bella. Bukannya dia juga pacaran sama si Zafran?”

“Gue disuruh bokapnya buat ngawasin dia. Lagi pula gue juga terpaksa kali. Kalau bukan karena bokap gue hampir bangkrut males banget gue deketin dia.”

“Anjing lo manfaatin dia?”

David tertawa. “Lo pikir gue pernah serius sama dia.”

Zafran menahan amarahnya saat mendengar pembicaraan keduanya. Ia ingin sekali mendobrak pintu itu saat ini juga. Namun ia urungkan karena itu bisa membahayakan dirinya. Lantas ia memilih untuk menjauh dari sana. Ia harus bertemu dengan Hanna untuk memastikan kebenarannya ini.

*

*

*

“Bella di Yogya?”

Zafran menganggukkan kepalanya. Keduanya bertemu di kanti kampus. Setelah ia memberitahu Hanna, gadis itu langsung bergegas menemuinya.

“Lo ngerasa gak sih kayak ada yang gak beres. Gak mungkin kan Bella mendadak pergi ke Yogya tanpa ada alasan. Sekalipun kalau keluarganya ada yang sakit di sana, dia gak mungkin sampai full matiin handphonenya sampai seminggu,” terka Hanna.

Zafran bergeming di sana. Pikirannya kembali teringat dengan ucapan Bella yang mengatakan jika ia ketahuan masih dekat dengannya, Dharma akan mengirimnya ke Yogya. Apakah mungkin gadis itu ke sana karena Dharma mengetahui jika keduanya masih sering bertemu?

“Apa jangan-jangan papanya tahu kalau Bella masih berhubungan sama gue?” terka Zafran.

“Kalian terakhir ketemu kapan?”

“Seminggu yang lalu.”

Hanna sempat terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menyuarakan pikirannya.

“Kayaknya diam-diam ada yang ikutin kalian. Setelah denger pembicaraan David sama temennya. Gue jadi yakin kalau dia orangnya. Gak mungkin juga kan kalau papanya Bella?”

“Bisa aja sih. Tapi lo tahu gak Yogya nya di daerah mana?”

“Gue kurang tahu pastinya di mana. Tapi dulu Bella pernah bilang sama gue kalau rumah neneknya yang di Yogya itu lokasinya gak jauh dari Malioboro.”

Zafran kembali bergeming di sana. Mungkin benar, David diam-diam mengikutinya saat tengah bersama Bella. Dan pastinya pria itu akan melaporkannya kepada Dharma. Ia juga kembali teringat saat kemarin yang dimana David pergi ke rumah Bella dan bertemu Dharma di sana. Jika salah satu keluarganya ada yang sakit, semua keluarga Bella pasti akan berada di Yogya juga. Sedangkan ini keluarganya ada di Jakarta. Hanya kekasihnya saja yang tidak terlihat.

“Lo mau ke sana, Zaf?” tanya Hanna.

“Menurut lo gue harus gimana, Na?”

“Kalau menurut gue sih mending lo samperin dia. Lo bisa mastiin sendiri gimana keadaannya, dan juga lo bisa buktiin bahwa lo emang bener-bener sesayang itu sama dia.”

“Bener juga. Gue harus buktiin sama papanya. Sejauh apa pun jarak yang memisahkan kita namun cinta kita gak akan pernah berpisah.”

Hanna tertawa saat mendengar kalimat picisan yang dilontarkan Zafran. “Anjir lo! Gue geli dengarnya.”

“Namanya juga lagi kasmaran, Na. Yaudah gue balik dulu kalau gitu. Thanks ya atas sarannya. Sebagai gantinya nanti gue comblangin lo sama temen gue. Mau yang mana? Yogi? Galen? Ibram? Juna? Atau mau balikan sama Rama?” ujar Zafran.

“Gak, temen lo gak ada yang bener semua."

“Kata siapa? Menurut lo Juna gak bener? Gue aja mengakui loh Juna lebih waras daripada gue.”

“Lo gak ada Bella malah makin gak waras deh, Zaf.”

Bukannya marah pria itu justru menertawakannya. Karena ada benarnya juga ucapan Hanna kalau dia makin gak waras. Maka dari itu ia harus bisa membawa Bella kembali ke sampingnya.

*

*

*

“Lo yakin mau nyamperin ke Yogya?”

Zafran menganggukkan kepalanya. Setelah berbincang dengan Hanna, ia juga menceritakannya kepada sahabatnya. Mereka cukup terkejut atas keinginannya untuk pergi ke sana.

“Lo tahu rumah neneknya di mana?” tanya Juna.

Zafran menggelengkan kepalanya. Mereka kompak menepuk jidat dengan tingkah sahabatnya ini. Bagaimana mau mencari Bella sedangkan alamat rumahnya juga ia tidak tahu.

“Gini nih gambaran kalau terlalu bucin dan tolol menjadi satu,” gerutu Galen.

“Anjing lo ngatain gue tolol!” cerca Zafran. “Hanna ngasih tahu gue, katanya lokasinya itu gak jauh dari Malioboro.”

“Lo pikir daerah Malioboro itu segede daun kelor?” cerca Yogi.

Zafran berdecak kenapa mereka malah menyudutkannya di sini. Padahal niatnya ingin mencari masukan dari mereka, malah mendapat sambutan tidak mengenakan. Untung Zafran sedang tidak ingin berdebat kali ini. Sehingga mereka aman.

“Maka dari itu gue minta tolong lo pada buat bantu gue. Siapa tahu kalian punya temen atau saudara di Yogya.”

“Gue punya temen di Yogya, kebetulan dia tinggal di deket malioboro,” ujar Juna.

“Yang bener lo?”

Juna mengangguk. “Tapi pastiin dulu alamatnya di mana, nanti biar gue tanyain sama temen gue.”

“Oke bro, nanti gue kasih tahu kalau udah dapet alamat lengkapnya," ujar Zafran.

"... Nah ini baru temen. Ngasih saran atau bantuan kalau lagi kesusahan bukannya malah ngatain gue, jing!" gerutu Zafran.

Ketiga pria itu hanya cengengesan di sana. Sedangkan Juna hanya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan mereka.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!