Bella masih bersiap-siap di kamarnya. Seperti biasa malam ini ia akan ke rumah Hanna untuk bertemu dengan kekasihnya. Ia sangat bersemangat karena setelah beberapa hari ia tidak sempat bertemu dengannya. Saat ia tengah sibuk berkutat dengan alat make upnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Lalu pintu terbuka menampilan sang mama yang hendak menghampiri Bella.
“Bella, kamu mau ke mana?” tanya Mira setelah memasuki kamar Bella.
“Mau ke rumah Hanna,” ujarnya yang masih fokus memoles wajahnya dengan make up.
“Papa sama Mama mau ajak kamu makan malam sama keluarganya David.”
Bella menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke arah mamanya yang kini telah berdiri di sampingnya.
“Kan aku mau ke rumah Hanna, Ma. Mama sama Papa aja yang ketemu sama mereka. Atau ajak aja Kak Jenna ke sana."
“Kamu ini gimana sih, kan kamu yang mau dijodohin sama David kenapa malah nyuruh kakak kamu yang datang,” omel Mira.
Bella mendengus kesal. “Kan aku udah bilang gak mau dijodohin sama David. Dia itu cuman mau manfaatin kita aja.”
“Hush kamu ini jangan nuduh sembarangan. David sama keluarganya itu baik, gak mungkin mereka seperti itu. Apalagi Mama udah kenal sama Mamanya David sejak lama."
Bella hanya memutar bola matanya malas. Selalu seperti itu. Papa dan mamanya ini selalu saja membela David. Bahkan mereka lebih percaya ucapan lelaki buaya darat itu daripada dirinya. Sebenarnya siapa sih anak mereka?
“Pokoknya Mama gak mau tahu kamu harus ikut sekarang. Lagian kamu ini akhir-akhir ini sering ke rumah Hanna, emangnya gak cukup ketemu di kampus?”
“Gimana mau ketemu sama Hanna, orang di kampus aja diikutin terus sama David, “ gerutu Bella. Tidak mungkin juga kan jika ia memberitahu mamanya jika alasan sebenarnya ke rumah Hanna karena ingin bertemu dengan kekasihnya.
“Kan itu juga biar kamu gak digangguin terus sama laki-laki itu,” omel Mira. “Udah ayo kita berangkat sekarang. Papa pasti udah nunggu lama. Kamu mau nanti dimarahin sama papa karena gak nurut sama orang tua?"
Bella mendengus kesal. Selalu seperti itu ancamannya. Dengan terpaksa ia mengambil tasnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Ia berjalan mengikuti Mira seraya menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Jangan lupakan wajahnya yang memberengut dan bibirnya yang mengerucut. Terlihat seperti anak kecil yang tengah merajuk karena tidak dibelikan mainan oleh ibunya. Saat keduanya sampai di ruang tengah, benar saja Dharma sudah menunggunya di sana.
“Papa nunggu sampai 10 menit di sini,” ujar Dharma seraya melirik jam yang melingkar di lengannya.
“Anakmu ini susah banget dibujuk. Giliran ketemu sama temennya aja semangat,” omel Mira.
Dharma menolehkan pandangannya pada Bella yang hanya bergeming dengan wajah muramnya. “Wajahnya jangan gitu dong, masa mau ketemu sama calon suami mukanya muram gitu.”
Bella terlihat pura-pura ingin muntah setelah mendengar kata calon suami.
“Maaf Pa, calon suaminya itu Zafran Kalingga bukan buaya darat macam David,” batinnya.
“Ya sudah kita langsung berangkat sekarang, mereka pasti sudah menunggu.” Dharma berjalan keluar terlebih dahulu. Sedangkan Bella digiring oleh Mira untuk segera masuk ke dalam mobil. Mungkin takut anaknya terlepas dari jangkauannya.
Setelah sampai di lokasi, ternyata mereka akan makan malam di salah satu restoran mewah yang ada di pusat kota. David dan keluarga ternyata sudah berada di sana. Mereka saling menyapa satu sama lain. Begitu juga David yang sigap menyalami orang tuanya. Bella pun melakukan hal yang sama. Meskipun ia tidak menginginkannya, setidaknya ia masih memiliki sopan santun terhadap orang tua.
“Ini Bella ya?” tanya Lita setelah Bella menyalami tangannya.
“Iya tante.”
“Tante baru tahu loh. Ternyata kamu cantik sekali. Pantas aja anak tante suka sama kamu. Iya kan David?”
"Iya, Ma."
"David juga kelihatan tampan sekali malam ini," celetuk Mira.
"Tante bisa aja," ujar David dengan tersipu malu.
Pria itu tersenyum malu-malu namun tampak menyebalkan di mata Bella. Rasanya ia ingin sekali melemparnya dengan piring mahal yang ada di dekatnya. Untung saja di sini masih ada orang tuanya dan juga David. Kalau tidak mungkin ia sudah melontarkan kata-kata mutiara untuknya. Namun kali ini ia hanya bisa memberikan senyum paksanya. Ingat, ia masih memiliki sopan santun untuk tidak bertindak macam-macan di depan orang tua.
“Kamu kenapa gak pernah ikut kalau ada acara? Padahal tante pengen banget ketemu sama kamu, malah kakak kamu yang sering ikut papa dan mama kamu."
Sebelum Bella menjawab, Mira sudah menyelanya terlebih dahulu.
“Biasa lah jeng, dia ini sibuk sama tugas kuliahnya. Kalau gak ya paling ketemu sama teman-temannya. Jadi susah kalau mau diajak,” ujar Mama.
Kali ini Bella harus berterima kasih pada mamanya, karena ia juga bingung ingin menjawab apa. Ia memang paling tidak mau jika ikut-ikut acara bisnis papanya, karena menurutnya itu sangat membosankan. Pasti ujung-ujungnya dikenalin sama anak rekan bisnisnya. Seperti Jenna contohnya, sudah beberapa pria yang Dharma kenalkan padanya namun semuanya tidak jauh hanya karena ingin mempererat urusan bisnis.
“Oh begitu, nanti kalau ada waktu main ke rumah Tante ya.”
“Iya, Tante.”
Makan malam berjalan dengan lancar. Selanjutnya para orang tua sibuk dengan obrolan mereka. Bella hanya bergeming di samping Mira. Sesekali ia menanggapi jika Lita mengajaknya bicara. Hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Acara makan malam telah usai. Bella dan keluarga memutuskan untuk kembali ke rumah sebelum malam semakin larut.
Bella baru ingat jika ia sudah berjanji pada Zafran akan bertemu dengannya di rumah Hanna. Ia lupa belum mengabari pria itu jika ia ada acara mendadak untuk bertemu dengan keluarga David. Ia merogoh tas kecilnya yang berada dipangkuannya namun ia tidak menemukan ponselnya di sana. Ia mencari di setiap sudut jok mobil namun tidak ada.
“Nyari apa, Bel?” tanya Dharma saat melihatnya tengah mencari sesuatu melalui spion depan.
“Handphone Bella gak ada, Pa.”
“Tadi Mama gak lihat kamu main handphone waktu di resto,” sahut Mira.
“Ketinggalan di rumah mungkin. Kamu lupa tadi gak bawa handphone,” ujar Dharma.
Bella tampak mengingat-ingat, apakah benar ia tidak membawa ponselnya tadi? Memang benar selama di resto ia tidak ada waktu memegang ponsel karena Lita selalu mengajaknya berbicara.
“Iya kayaknya, Pa.”
Bella menghela nafas, bisa-bisanya ia tidak membawa ponselnya. Bagaimana jika Zafran menunggunya? Pasti pria itu mengkhawatirkannya juga karena tidak bisa dihubungi. Hanna juga pasti akan mencarinya. Ia jadi merasa bersalah.
Setelah sampai di rumahnya. Bella bergegas menuju kamarnya untuk mengecek ponselnya. Dan benar saja, ponselnya ada di atas meja rias kamarnya. Ia menyalakannya dan melihat banyak notifikasi masuk. Entah itu pesan maupun panggilan dari Zafran dan juga Hanna. Langsung saja ia menghubungi nomor kekasihnya namun ternyata nomornya tidak aktif. Lalu ia mencoba untuk menghubungi Hanna, namun gadis itu tidak mengangkatnya. Ia pikir mungkin sudah tidur. Ia menyimpan kembali ponselnya lalu berjalan ke arah kamar mandi. Biarlah besok ia menjelaskan pada kekasihnya. Sekarang ia harus segera mengganti pakaiannya dan bersiap untuk tidur.
*
*
*
Zafran menghisap rokoknya lalu menghembuskannya ke udara. Setelah menunggu selama satu jam di rumah Hanna, selama itu pula kekasihnya tak kunjung datang, dan berakhirlah di sini, markas tempatnya berkumpul bersama sahabatnya.
“Minum bos?”
Zafran menggelengkan kepalanya. Ia tidak menginginkannya untuk sekarang. Ia memang sering minum-minuman seperti itu, tapi itu dulu. Sekarang ia tengah membatasi diri untuk tidak terlalu mengonsumsi minuman beralkohol. Selain karena bisa merusak tubuhnya, ia juga sudah berjanji pada Bella. Gadis itu tahu kebiasaan buruknya dan ia juga yang membantunya untuk menghilangkan kebiasaan itu. Dan ini juga menjadi salah satu alasan kenapa Zafran begitu menyayangi Bella. Karena gadis itu memiliki pengaruh besar atas perubahannya.
“Gak jadi ketemu ibu negara?” tanya Juna.
Zafran kembali menghisap rokoknya seraya menggelengkan kepalanya.
“Kenapa? Ada si bajul?”
Teman-teman Zafran sudah mengetahui bagaimana hubungan Zafran dan Bella. Pria itu juga menceritakan bagaimana kedua orang tua Bella yang tidak menyukainya dan Bella yang selalu dibuntuti oleh David kemana pun. Bahkan mereka punya julukan sendiri untuk David yaitu “bajul”.
Zafran menghembuskan asap rokoknya. Pandangannya menatap lurus ke depan. “Dia gak dateng.”
“Kok bisa? Ada acara lain apa gimana?”
Zafran mengedikkan bahunya. “Mungkin.”
“Biasanya juga kalau ada apa-apa suka ngabarin lo dulu kan?"
“Iya, gue pikir dia bakalan telat. Udah ditungguin hampir 1 jam gak dateng-dateng. Di telpon juga gak diangkat. Yaudah gue balik lagi aja.”
“Mungkin ada acara mendadak kali, atau papanya gak izinin keluar. Gue yakin Bella gak akan macem-macem.” Juna mengambil sebatang rokok milik Zafran. Ia nyalakan pematiknya, lalu ia menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya ke udara.
“Gue juga mikir gitu."
Responsnya sangat santai, namun ketahuilah jika pikirannya tengah berkecamuk. Ia percaya Bella tidak akan macam-macam di belakangnya, namun ia sangat yakin David dan papa Bella tidak akan tinggal diam juga. Mereka pasti telah merencanakan sesuatu untuk menjauhkannya dengan Bella.
“Lo gak mau ngelakuin apa gitu buat nyingkirin si bajul. Lama-lama gue juga gereget sama dia.”
Zafran menghela nafas. “Kalau bukan karena dia deket sama papanya Bella, udah gue hajar dari awal juga. Cuman gue tahan, hubungan gue bakalan terancam.”
“Iya juga sih."
Tiba-tiba seruan seseorang mengalihkan perhatian Zafran dan Juna. Keduanya sama-sama menoleh ke arah sumber suara.
“Anjing gue dapet coy. Lumayan buat beli kuota sebulan,” seru pria yang bernama Ibram.
“Ah elah gue udah top up 100 malah gak menang,” keluh Yogi.
Zafran menoleh ke arah Juna untuk meminta penjelasan, namun hanya dibalas gelengan kepala olehnya.
“Dapet apaan sih?” Tanya Juna yang ikut penasaran dengan mereka.
“Ini si Ibram dapet duit hasil main slot,” jawab Galen.
Zafran dan Juna menggelengkan kepalanya. Memang teman-temannya ini tingkahnya sangat diluar nalar semua.
“Bos mau ikutan? Kemarin juga temen gue ada yang menang slot sampe bisa beli motor,” tawar Ibram kepada Zafran.
“Yang bener lo?” Seru Yogi dengan semangat.
“Bener jing, cuman ya abis sawah emaknya digadein sama dia.”
“Goblok bener dah temen lo, Gi,” cerca Mahen.
Yogi mendelik. “temen lo juga itu.”
Zafran menggelengkan kepalanya. “Emang pada sesat semua lo. Dari tadi gue diajak maksiat mulu perasaan.”
“Saatnya gue ganti temen ini,” timpal Juna.
Seperti itulah para sahabat Zafran. Sekalipun tingkahnya yang sangat diluar nalar, namun ketahuilah mereka sangat peduli terhadap satu sama lain. Dan Zafran tidak pernah menyesal telah mengenal mereka meskipun terkadang selalu mengajaknya melakukan hal negatif seperti sebelumnya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments