Bab 10

Bella turun dari motor Zafran. Seperti biasa Zafran mengantarnya sampai di pertigaan perumahan menuju rumah Bella. Karena waktu juga sudah menjelang petang sehingga tidak akan khawatir ada yang melihat keduanya. Setelah ia sampai di depan pagar rumahnya, pria itu sudah berlalu dari sana. Bella tersenyum mengingat hari ini yang sangat menyenangkan baginya. Rasanya seperti sudah lama sekali ia tidak tertawa lepas dari pertama bertemu sampai pulang. Ada saja hal lucu yang membuatnya tertawa. Entah itu tingkah konyol Zafran atau ada hal lucu yang membuat keduanya tertawa. Hingga pada saat ia membuka pintu utama rumahnya, ia terkejut melihat Dharma, Mira dan Jenna tengah berkumpul di ruang tengah. Tak hanya itu, David juga ada di sana. Namun ada yang berbeda kali ini. Jika biasanya orang tuanya akan menyambut dengan berbagai pertanyaan, kali ini mereka hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Bahkan Jenna yang biasanya akan mengomelinya, ikut diam juga. Begitu juga David yang menatapnya penuh arti.

Perlahan ia melangkah menghampiri mereka berniat ingin menyapa orang tuanya. Namun ucapan Dharma membuatnya berhenti seketika.

“Dari mana saja kamu?” ujar Dharma dengan nada datar namun terkesan menekannya.

Bella memainkan tangannya gugup. “A–aku habis dari rumah Jihan–”

“Rumah Jihan sekarang pindah ke taman kota hm?” ujar Dharma cepat.

Bella membulatkan matanya. Bagaimana papanya tahu jika ia ke taman kota? Apa jangan-jangan papanya juga tahu jika ia bertemu dengan Zafran? Itu tidak mungkin. Dengan segera ia menetralkan keterkejutannya supaya orang tuanya tidak mencurigainya.

“Eng–nggak kok Pa, aku di rumah Jihan tadi,” gugup Bella. Jujur saja ia sangat takut sekarang. Bahkan kedua tangannya sudah bergetar.

Dharma berdiri dari duduknya. Pandangannya menghunus tajam ke arah Bella. “Kamu pikir Papa gak tahu selama ini apa yang kamu lakukan di belakang Papa,” bentak Dharma seraya menunjuknya.

Bella menundukkan pandangannya. Ia tidak berani menatap papanya. Tangannya bergetar, air matanya juga seketika luruh saat mendengar bentakan papanya.

“Dikasih tahu malah melawan! Mau jadi anak durhaka kamu berani-beraninya bohongin Papa sama Mama,” bentak Papa. “Disuruh berhenti malah ngelunjak! Apa sih hebatnya dia sampai kamu berani bohongin orang tua kamu sendiri?”

Bella mengatupkan bibirnya. Isak tangis mulai terdengar. Ia tidak tahu harus merespons bagaimana. Papanya terlihat jauh lebih menyeramkan dibandingkan dulu saat memarahinya karena terlambat pulang ke rumah.

“Sini handphone kamu!” desak Dharma.

Bella menggelengkan kepalanya sembari menyembunyikan ponselnya ke belakang punggungnya.

“Jangan membantah! Kasih handphonenya sama Papa sekarang!”

Bella kembali menggeleng. “Gak mau Pa, Bella gak mau!” teriaknya dengan diiringi isak tangisnya.

Tidak menyerah begitu saja. Dharma menarik paksa lengan Bella yang berada di belakang punggungnya. Gadis itu masih mempertahankannya sebelum bentakan Dharma kembali terdengar tepat di sampingnya.

“BELLA!”

Bella melangkah mundur untuk menghindari Dharma. Tanpa diduga papanya menyeret paksa dirinya, ponselnya yang sengaja ia genggam dengan erat ditarik paksa oleh papanya. Lalu ponselnya berakhir mengenaskan di depannya karena Dharma membantingnya sangat keras hingga membuat ponsel itu hancur seketika. Semua yang ada di sana sontak membulatkan matanya terkejut.

Tangis Bella semakin pecah. Ia terduduk seraya memunguti pecahan ponselnya. Mungkin baginya ponsel ini tidak seberapa, tapi semua kenangan dirinya, sahabatnya juga Zafran ada di sana.

“PAPA KENAPA HANCURIN HANDPHONE AKU?” teriak Bella dengan diiringi tangisannya.

“Beresin barang-barang kamu sekarang. Kita akan berangkat ke Yogya malam ini!” perintah Dharma tidak terbantahkan. Bahkan ia menghiraukan Bella yang menangis bahkan berteriak padanya.

“Gak mau, aku gak mau ke Yogya. Aku mau tetap di sini!” tolak Bella masih dengan isak tangisnya. Bahkan sekarang nafasnya mulai tersendat-sendat.

"...Ma, Bella gak mau ke Yogya, Ma," ujar Bella meminta pertolongan pada mamanya, namun Mira hanya diam di sana.

“Beresin barang-barang dia. Kita akan berangkat malam ini,” perintah Dharma tanpa bantahan.

Mira menghela nafas berat lalu berjalan menuju kamar Bella yang ada di lantai 2. Bella ingin beranjak dari sana untuk menghampiri mamanya, namun bentakan Dharma kembali terdengar hingga membuat gadis itu kembali diam di tempatnya.

“DIAM DI SINI! PAPA GAK SEGAN-SEGAN AKAN BERTINDAK KASAR SAMA ANAK YANG TIDAK TAHU DIUNTUNG SEPERTI KAMU!”

*

*

*

Dan di sinilah Bella sekarang. Ia sedang dalam perjalanan menuju Yogya bersama kedua orang tuanya dan juga sopir. Kakaknya tidak ikut karena harus mengurus butiknya. Sedangkan David, awalnya pria itu ingin ikut namun tidak diizinkan oleh Dharma karena harus kuliah besok. Sepanjang perjalanan, ia hanya diam melamun sembari menatap jalanan dari kaca mobil. Pikirannya berkecamuk. Disaat hubungannya membaik, ada saja hal yang membuatnya harus kembali berpisah. Apakah Tuhan sedang mengujinya hingga memberikan cobaan seberat ini?

Ia sadar ia telah berbohong kepada orang tuanya. Ia juga tidak menuruti omongan mereka. Namun apakah salah jika ia ingin menemukan kebahagiaannya dengan cara sendiri? Sudah cukup selama ini ia terlalu banyak diatur oleh orang tuanya. Ia sangat lelah dengan semuanya.

“Makan dulu, sayang,” ujar Mira dengan lembut.

Sekarang ia tengah berada di restoran. Mereka memilih untuk makan malam terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Awalnya Bella menolak dan memilih menunggunya di mobil. Namun karena paksaan Mira jadilah ia ikut makan malam bersama. Setelah menyelesaikan makan malam, mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Hanya ada obrolan Dharma dan sopir pribadinya di dalam mobil, namun sesekali Mira akan menimpalinya. Sedangkan Bella tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia berlarut dalam dunianya sendiri. Hingga tak terasa kantuk mulai menyerangnya. Perlahan kelopak matanya menutup dan ia mulai terbawa ke alam mimpinya.

Setelah memakan waktu hampir 10 jam lamanya, akhirnya mereka telah sampai di Yogyakarta. Mereka disambut hangat oleh seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Dharma. Bella memeluk neneknya dengan berderai air mata. Selain karena ia merindukan neneknya, ia juga mengadu padanya atas apa yang terjadi dengannya. Kedua orang tuanya hanya menggelengkan kepalanya melihat anak bungsunya yang merengek seperti anak kecil kepada neneknya.

“Sudah jangan menangis. Biar nenek bicara sama papa dan mama kamu ya. Sekarang kamu istirahat dulu di kamar. Pasti kamu cape setelah perjalanan jauh Jakarta – Yogya,” ujar Nenek seraya mengusap rambut cucunya.

Bella menganggukkan kepalanya. Ia beranjak dari duduknya dan berlalu menuju kamar yang biasa ia tempati saat mengunjungi rumah neneknya. Ia melihat seisi kamarnya yang masih sama seperti tahun lalu. Terakhir ia ke sini tahun kemarin saat hari raya. Dan ia baru datang ke sini lagi sekarang, itu juga karena paksaan Dharma.

Ia menaiki tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya di sana. Pandangannya lurus menatap langit-langit kamar. Pikirannya berkelana membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Ia tidak tahu sampai kapan ia berada di sini tanpa papa dan mamanya, tanpa sahabatnya dan pastinya tanpa Zafran, kekasihnya. Meskipun ia di sini bersama neneknya, namun tetap saja ia akan merasa hampa tanpa kehadiran mereka.

Sedangkan di ruang tengah Dharma dan Mira tengah berbicara dengan wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung dari Dharma. Setelah mendengar penjelasan dari anaknya, Nenek menghela nafas mendengar alasan kedatangan mereka ke sini.

“Kalian ini selalu saja seperti ini. Ibu sudah pernah katakan jangan terlalu memaksa anak kalian untuk menjadi seperti kalian. Sudah cukup anak pertama kalian menjadi korban keegoisan kalian,” tegur Nenek.

“Tapi Bu, ini demi kebaikan mereka juga. Lagi pula kami juga dulu dijodohkan. Lambat laun kami bisa menerimanya dan saling mencintai satu sama lain,” ujar Dharma.

“Tetap saja Ibu tidak setuju. Biarkan anak kalian menentukan pilihannya sendiri. Kita tidak pernah tahu nasib seseorang di masa depan seperti apa. Jangan hanya memandang karena status keluarganya. Tapi lihat seberapa gigihnya ia bekerja keras untuk bisa membuktikan bahwa ia pantas untuk mendapatkan kesuksesan dengan caranya sendiri tanpa campur tangan orang tuanya.”

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!