Pagi ini Bella baru saja keluar dari kamarnya untuk bersiap pergi ke kampus. Kakinya melangkah menuruni anak tangga menuju dapur untuk sarapan pagi. Di sana hanya ada ART yang tengah membersihkan dapur.
Bukan hal baru jika rumah ini selalu sepi setiap harinya. Papa dan mamanya pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya. Begitu pun dengan kakaknya.
Bella merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya telah menikah dan tinggal bersama suaminya di luar kota. Sedangkan kakak keduanya belum menikah dan tinggal bersamanya di rumah ini.
“Bi, orang rumah belum pada pulang?”
“Ibu sama bapak katanya pulangnya sore, Non. Kalau non Jenna saya enggak tahu," ucap Bibi seraya membereskan piring yang baru saja dicuci.
Ternyata dugaannya benar, papa dan mamanya pasti belum pulang. Mereka memang tak pernah mengenal waktu. Mau itu pagi, sore, bahkan malam pun akan siap jika itu masalah pekerjaan. Namun di sisi lain Bella merasa senang. Setidaknya Bella sedikit bebas dari pantauan papanya, karena pagi ini Zafran akan mengantarnya ke kampus.
"Non Bella mau sarapan? Bibi udah siapin roti dan susunya," ucap Bibi setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Iya, Bi, makasih ya."
"Sama-sama, Non." Bibi berlalu dari sana meninggalkan Bella yang kini sudah duduk di meja makan.
Bella berlari kecil menuju sang kekasih yang telah menunggunya di tempat biasa. Napasnya terengah setelah berdiri tepat di hadapan Zafran.
"Jangan lari-larian makanya. Aku juga gak akan ninggalin kamu kok," ucap Zafran seraya merapikan rambut Bella yang sedikit berantakan.
"Takut kamu nunggu lama."
"Enggak kok, sayang. Ini masih jam 7.40, aku masuk kerja jam 8."
Zafran mengerutkan keningnya saat melihat wajah sang kekasih yang tampak pucat. Bahkan tangan gadis itu terus memegang perutnya. Sudah dapat dipastikan apa yang telah terjadi mengingat kemarin Bella sempat makan bakso pedas bersama Hanna.
"Sakit perut hm?" desis Zafran.
Bella mengangguk dengan bibir mengerucut. Badannya lemas karena pagi-pagi sekali perutnya tiba-tiba sakit. Bahkan Bella sampai bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air besar. Itulah alasannya kenapa ia terlambat dari waktu yang telah dijanjikan oleh kekasihnya.
"Kan aku udah bilang kalau gak kuat makan pedas jangan maksain. Sakit kan jadinya. Suka ngeyel kalau dibilangin," omel Zafran.
"Iya."
"Dengerin makanya jangan iya-iya aja."
"iya ih," rengek Bella.
"Udah minum obat belum?" Bella mengangguk.
"Mau maksain berangkat ke kampus?"
"Iya, aku ada presentasi hari ini."
"Yaudah kalau gitu. Kita berangkat sekarang.” Zafran memasangkan helm pada Bella.
Setelah gadis itu naik motornya, Zafran bergegas mengantarkannya ke kampus.
Ada perasaan hangat di hati Bella melihat kekasihnya begitu perhatian padanya. Tidak salah Bella menerima Zafran untuk menjadi kekasihnya.
...••••••...
Bella menghela napas lega setelah menyelesaikan tugas presentasinya. Bella sempat khawatir tidak bisa fokus mengingat badannya yang tidak dalam kondisi baik. Setelah selesai kelas, Bella segera menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sudah berbunyi. Ia tak sendiri, kali ini ia ditemani oleh sahabatnya yaitu Jihan dan Mina.
"Hanna belum selesai kelas kayaknya," ucap Mina.
"Belum, nanti juga dia ke sini. Gue udah bilang sama dia tadi pagi kalau kita jadi jalan ke mall selesai kelas," ucap Bella.
"Oke deh, kita makan di sini aja biar nanti kita langsung nyari barangnya," ucap Jihan.
Bella dan Mina mengangguk menyetujui ucapan Jihan. Siang ini mereka sudah janjian akan pergi ke mall untuk mencari barang yang mereka inginkan. Tentunya bersama Hanna. Hanya saja gadis itu masih belum keluar kelas sehingga mereka memilih menunggunya di kantin sembari mengisi perut sebelum pergi ke mall.
Tak berselang lama, orang yang dibicarakan datang dengan tergesa menghampiri ketiga gadis yang tengah menyantap makan siangnya.
"Bel, Bel!"
"Apasih, Na. Dateng-dateng malah bikin rusuh," gerutu Bella saat Hanna tiba-tiba datang dan menyuruhnya untuk bergeser dari tempat duduknya.
"Ish tadi gue ketemu sama mantan lo."
"David?"
"Iyalah siapa lagi." Hanna duduk tepat di samping Bella. Kini fokus ketiganya teralih pada gadis pirang itu.
"Tadi gue lihat dia lagi sama kakak tingkat dari fakultas hukum. Gue gak tahu sih namanya siapa, tapi gue kenal sama itu cewek."
"Gak tahu namanya tapi kenal gimana ceritanya?" sahut Mina.
"Itu cewek terkenal di fakultas gue karena suka gonta-ganti cowok. Sampe dosen aja dia deketin."
"Bentar-bentar kayaknya gue tahu deh. Yang kemaren sempet ada gosip jadi simpanan dosen itu?" tebak Jihan.
"Iya itu. Anjir rame banget itu di fakultas gue."
"Cewek itu kan emang suka morotin cowok. Tapi kok bisa mau sama David ya? Dia juga kan sukanya manfaatin cewek. Emang sih dia juga kaya tapi pelitnya gak ketulungan. Gue masih gak paham kenapa dulu lo mau sama dia, Bel?"
Bella berdecak saat Jihan kembali mengungkit masa lalunya. "Gak usah diingetin lah. Gue tuh malu kalau inget pernah pacaran sama David. Mana gue bucin banget lagi sama dia dulu."
"Akhirnya lo mengakui juga pernah jadi budak cinta si mokondo!" cibir Hanna.
Bella mendengus kesal. Sebelum berpacaran dengan Zafran, Bella sempat menjalin hubungan selama 6 bulan bersama David. Kebodohan yang sangat Bella sesali yaitu bisa dengan mudah percaya dengan omongan David. Sahabatnya sering memperingatinya untuk tidak terbuai dengan ucapan David. Namun apalah daya, Bella yang sudah menjatuhkan hatinya terlalu dalam pada pria itu membuatnya hilang akal. Ketika David meminta apapun padanya dengan senang hati Bella akan memberinya. Hanya satu yang belum pernah Bella berikan pada David, yaitu dirinya. Bella selalu menolak jika David menyentuh tubuhnya. Entah itu hanya sekedar cium pipi ataupun bibir. Bella benar-benar membatasinya, karena Bella tidak ingin sembarangan memberikan tubuhnya pada pria yang bukan suaminya. Mungkin itu juga menjadi salah satu alasan David berselingkuh di belakangnya. Tentu saja Bella merasa kecewa. Namun sekarang Bella sangat bersyukur Tuhan membukakan matanya dan menunjukkan keburukan David padanya. Hingga pada akhirnya Tuhan mempertemukannya dengan Zafran yang jauh lebih baik dari David.
Namun di sisi lain Bella masih tidak mengerti alasan David mendekatinya lagi? Bukankah seharusnya pria itu senang karena bisa mencari wanita yang mau diperdaya olehnya? Atau mungkin ada tujuan lain yang harus melibatkan dirinya?
"Sejujurnya gue sangat amat berat mengakuinya. Tapi dengan kejadian ini gue jadi sadar, mungkin ini salah satu pelajaran buat gue supaya gak terlalu percaya sama omongan cowok. Dan gue juga harus bisa membatasi diri agar tidak terjerumus ke lubang yang sama."
"Tapi tetep aja, lo tuh kalau udah bucin sama cowok suka lupa diri. Bukannya gue gak percaya sama pacar lo yang sekarang, tapi lo harus tetep hati-hati. Kita gak pernah tahu perasaan seseorang ke depannya kayak gimana."
"Iya, Na. Tapi gue percaya Zafran gak mungkin sama kayak David."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments