Benar saja, di hari berikutnya Zafran nekat berangkat ke Jogja. Ia juga ditemani oleh Juna karena pria itu memiliki teman di sana, sehingga memudahkan mereka untuk mencari lokasi rumah neneknya Bella. Ia sudah mendapat alamatnya dari Hanna. Gadis itu menanyakannya langsung kepada kakak Bella dan untung saja kakaknya mau memberitahunya. Zafran sangat senang tentunya. Bahkan ia sangat bersemangat sedari tadi sebab ia akan bertemu kekasihnya. Setelah menempuh perjalanan Jakarta – Jogja, keduanya memutuskan untuk ke rumah temannya Juna. Mereka akan tinggal di sana sementara waktu.
Saat ini mereka telah berada dikediaman rumah Dion, teman Juna. Rumahnya minimalis namun terkesan elegan, sangat cocok bila diisi untuk 2 atau 3 orang. Zafran yang kagum melihat interiornya berkeinginan untuk memiliki rumah impian seperti ini di masa depan yang akan diisi oleh keluarga kecilnya nanti. Ia jadi membayangkan hidup berdua bersama Bella.
Zafran dan Juna memutuskan untuk melakukan pencarian di hari berikutnya. Selain karena terlalu lelah setelah melakukan perjalanan jauh, mereka juga harus memastikan lokasinya terlebih dahulu. Sebelumnya mereka mengajak Dion untuk ikut bersama, namun karena ada urusan lain jadilah mereka memutuskan untuk keluar berdua saja.
Setelah melakukan pencarian selama satu jam lebih, mereka masih belum menemukan alamatnya. Tidak mudah bagi mereka untuk mencari satu alamat di kota yang bahkan sangat awam bagi mereka. Bertanya pada orang-orang pun malah berakhir salah jalan. Akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat terlebih di salah satu ind*mart untuk membeli minuman dan juga camilan ringan. Juna memilih untuk masuk ke dalam sedangkan Zafran menunggunya di dalam mobil. Karena merasa bosan, ia memutuskan untuk keluar dari mobil untuk sekedar menghirup udara segar dari luar. Tanpa sengaja Zafran menemukan seorang wanita paruh baya yang tengah berjalan seraya memegangi dua kantong keresek berukuran sedang. Mungkin baru saja dari pasar karena memang lokasi mereka berhenti di dekat pasar juga. Namun dari arah kejauhan ada seorang pria yang mengikutinya dari belakang dan hendak menarik dompet yang dipegangnya. Sontak Zafran yang menyadari hal itu bergegas menghampirinya.
“Woy, jambret lo!” teriaknya seraya berlari menuju pria itu.
Bukannya pergi pria itu malah menarik paksa dompet yang Nenek itu pegang. Belum sempat untuk merebutnya, pria itu sudah mendapat bogeman mentah dari Zafran. Namun saat akan kembali memukulinya, Juna menahan pergerakannya dan berakhir jambret itu pergi.
“Nenek gak papa kan?” tanya Zafran.
Juna baru saja keluar dari ind*mart seraya menenteng kantong belanjaannya. Ia terkejut saat menemukan Zafran tengah memukul seseorang di sana. Seketika itu juga ia berlari menghampirinya dan menghentikan pukulan Zafran. Akan sangat bahaya jika hal itu dilihat oleh orang lain, apalagi sekarang mereka sedang berada di kota orang.
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya. “ Nenek gak papa, Nak. Terima kasih sudah membantu Nenek.”
“Sama-sama, Nek. Nenek habis dari mana? Kok jalan sendirian di sini?” tanya Zafran.
“Nenek habis belanja di pasar. Tadinya Nenek mau nunggu angkutan umum di sini malah ada copet. Untung kalian ada di sini.”
“Yaudah Nenek pulangnya sama kita aja. Kita anterin Nenek sampai rumah. Takutnya kalau sendiri malah lebih bahaya dari tadi,” tawar Juna.
“Aduh gak usah jadi malah ngerepotin kalian nanti,” tolaknya.
“Udah gak papa, Nek.”
“Yaudah kalau kalian memaksa.”
Wanita paruh baya itu naik ke dalam mobil dengan dibantu oleh Zafran. Sepanjang perjalanan tak hentinya ia berbicara dengan Zafran dan Juna.
“Kalian ini dari mana?” tanya Nenek.
“Kita sebenarnya mau ke rumah teman yang tinggal di sini, Nek,” ujar Juna. Pandangannya masih fokus ke depan jalanan.
“Kalian bukan asli sini?"
"Bukan, Nek. Kita dari Jakarta,” sahut Zafran.
“Oh dari Jakarta toh. Kebetulan cucu Nenek yang di Jakarta lagi ada di sini. Dia juga seumuran sama kalian,” ujarnya yang kini tengah duduk di kursi belakang.
“Cucunya laki-laki apa perempuan, Nek?” tanya Zafran.
“Cucu Nenek perempuan.”
“Cucunya udah nikah belum, Nek? Kebetulan temen saya ini lagi jomblo siapa tahu bisa dikenalin sama dia,” ujar Zafran seraya terkikik setelah melihat ekspresi terkejut Juna.
“Belum, nanti kalian bisa kenalan saja dengan cucu Nenek,” ujarnya dengan diiringi kekehannya.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar di sana. Wanita paruh baya itu mengajak Zafran dan Juna untuk mampir terlebih dahulu. Awalnya keduanya menolak karena harus melanjutkan pencarian rumah Bella. Namun karena paksaan Nenek akhirnya mereka mau untuk mampir sebentar ke rumah itu.
“Duduk dulu di sini. Nenek mau ke dapur dulu.”
Keduanya mengangguk. Setelah Nenek itu pergi ke dapur. Zafran melihat-lihat isi rumahnya yang cukup luas. Dari luar memang terlihat sederhana namun setelah masuk furniturnya benar-benar sangat mewah.
“Gue jadi penasaran sama cucu Nenek itu,” bisik Zafran setelah sibuk memperhatikan seisi rumah.
“Kenapa? Mau berpaling lo?”
“Enggak, kan gue udah ada Bella. Gue mau kasih buat lo aja dah kasihan juga jomblo mulu,” ledeknya.
Juna memutar bola matanya malas. Tak berselang lama Nenek kembali lagi ke ruang tengah seraya membawa minuman dan camilan untuk mereka.
“Ayo makan dulu nih Nenek punya camilan. Kemarin Nenek buat sama cucu Nenek katanya dia pengen belajar bikin kue kering.” Nenek menyimpan nampan yang berisi minuman dan kue itu di atas meja.
“Iya, Nek. Terima kasih,” ujar Zafran.
“Cucu Nenek lagi keluar kayaknya. Biasanya dia main ke rumah tantenya.”
Zafran dan Juna berbicara banyak dengan Nenek itu. Hingga tak berselang lama seorang gadis dengan pakaian sederhananya tengah berdiri di ambang pintu seraya pandangannya menelisik ke arah mobil yang terparkir di sana. Nenek yang posisi duduknya menghadap pintu tentu menyadari kehadiran cucunya di sana.
“Nek, mobil siapa di depan?” tanya gadis itu pada Nenek dengan setengah berteriak.
Deg..
Zafran tertegun saat mendengar suara gadis yang memanggil Nenek itu dari arah luar. Ia tidak begitu asing dengan suara itu. Suara yang sangat ia rindukan akhir-akhir ini. Lantas ia melirik ke arah pintu dan benar saja dugaannya. Itu adalah Bella, gadisnya yang sedang ia cari keberadaannya. Meskipun gadis itu masih menghadap ke arah luar, namun ia bisa mengenalinya. Tak hanya dirinya saja yang merasakan demikian, Juna juga ikut terpaku di sana.
“Nak, sini kamu kenalan dulu sama mereka.”
Gadis itu membalikkan badannya lalu masuk ke dalam rumah Nenek. Ia mematung saat itu juga melihat Zafran dan Juna ada di sana. Bagaimana bisa mereka ada di sini?
“Ini mereka tadi nolongin Nenek hampir kecopetan,” terang Nenek saat melihat gadis itu menatapnya penuh tanya.
“Jadi ini Nenek kamu?” tanya Zafran kepada gadis itu setelah tersadar dari keterkejutannya.
Ternyata wanita paruh baya ini adalah Nenek dari kekasihnya. Dan gadis di sampingnya adalah Bella, gadis yang tengah ia cari. Sangat kebetulan sekali bukan mereka bisa dipertemukan dengan ketidaksengajaan seperti ini.
“Loh kalian saling kenal toh?” tanya Nenek menatap mereka bingung.
“Iya, Nek. Mereka temen-temen aku di Jakarta,” ujar Bella lalu duduk di samping neneknya. Ia melirik kekasihnya yang duduk tepat di hadapannya.
“Oh begitu toh, kebetulan kalian bertemu di sini. Ya sudah Nenek mau ke dapur dulu. Kalian jangan pergi dulu ya, Nenek mau masak buat kalian,” ujar Nenek seraya bangkit dari duduknya.
“Gak usah, Nek. Kita malah jadi ngerepotin Nenek,” ujar Zafran.
Nenek mengibaskan tangannya. “Gak usah sungkan begitu. Nenek senang kalian ada di sini.” Setelah mengatakan demikian, Nenek berlalu dari hadapan mereka menuju dapurnya.
Sedangkan di ruang tengah mereka masih bungkam satu sama lain. Juna yang sudah jengah dengan situasi seperti ini hanya menghela nafas.
“Kayaknya kalian perlu waktu buat ngobrol berdua. Kalau gitu gue keluar dulu sekalian lihat-lihat sekitaran sini.” Setelah mengatakan demikian, Juna beranjak dari duduknya. Sebelum berjalan keluar, ia sempat menepuk bahu sahabatnya barulah ia keluar dari sana meninggalkan Zafran dan Bella yang masih saling mendiami.
Suasananya masih hening. Zafran sibuk dengan pikirannya sedangkan Bella sudah duduk gelisah di sana. Hingga pada akhirnya gadis itu memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
“Sejak kapan kalian ke sini?” tanya Bella dengan gugup.
Bukannya menjawab. Pria itu masih bergeming di tempatnya. Pandangannya lurus menatap Bella di sana yang membuat gadis itu semakin gugup.
“Zaf–”
“Kenapa kamu gak bilang sama aku kalau kamu ke Jogja?”
“Zaf–”
“Aku nyari kamu. Aku hubungi nomor kamu gak aktif sampai sekarang. Kamu sengaja mau hindarin aku ka–”
“Cukup,” sela Bella setengah berteriak. Ia kesal tentu saja. Baru saja ingin berbicara pria itu malah terus memotong pembicaraannya.
“Kamu nanya nya satu-satu dong. Aku kan bingung jawabnya,” rengek Bella.
Zafran menghela nafas. Ia berpindah tempat duduk menjadi di samping Bella, lalu membawa tubuh gadisnya ke dalam pelukannya. Ia memeluknya sangat erat seakan-akan tidak menginginkan gadis itu terlepas darinya.
“Aku kangen sama kamu, sayang,” bisik Zafran tepat di telinga Bella.
Bella menyembunyikan wajahnya di dada bidang kekasihnya. Bahkan diam-diam ia sudah meneteskan air mata. Ia masih tidak menyangka jika pria itu akan berada di hadapannya seperti sekarang.
“Aku juga,” desis Bella dengan nada parau.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments