Bella keluar setelah menyelesaikan kelas paginya. Ia melihat jam pada ponselnya dan ternyata kelasnya selesai lebih awal. Pantas saja di luar masih terlihat sepi. Ia yakin pasti Hanna juga belum selesai kelasnya karena gadis itu tidak ada mengiriminya pesan. Jadilah ia menunggu gadis itu di kantin kampus. Di sini sedikit ramai karena ada beberapa mahasiswa yang baru saja datang ke kampus untuk melakukan kelas siang.
Saat ia tengah fokus pada ponselnya, seseorang duduk tepat di hadapannya. Ia pikir itu Hanna, namun setelah mengangkat pandangannya, ternyata dugaannya salah. Dia adalah seseorang yang sangat ia benci dalam hidupnya. Ya, dia adalah mantan kekasihnya, David.
"Sendirian aja nih," ucapnya.
Bella mencoba untuk tidak menghiraukan kehadiran David di sana. Namun sepertinya pria itu tidak akan menyerah begitu saja.
"Si begajulan itu gak jemput kamu?"
"Dia punya nama," ketus Bella.
David terkekeh. Setelahnya ia menawarkan minuman kepada Bella yang dibalas gelengan kepala oleh gadis itu.
Keduanya sama-sama bungkam. Bella yang sibuk dengan ponselnya, sedangkan David sibuk memperhatikan gadis di hadapannya.
"Mau sampai kapan?"
Bella menoleh dengan sebelah alis terangkat. David yang mengerti ketidakpahaman gadis itu mendengus kesal.
"Aku tahu aku salah. Aku minta maaf sama kamu. Aku menyesal, Bel," ucap David dengan wajah memelasnya.
Bella memutar bola matanya malas. "Terus kalau lo nyesel, gue harus peduli lagi sama lo? Sorry, gak dulu."
"Bel, kamu gak ingat gimana perjuangan aku sama kamu dulu?"
"Gak ingat tuh. Gue cuma ingatnya lo selingkuhin gue terus manfaatin duit gue buat nafkahin selingkuhan lo itu," cibir Bella.
"Bel–"
"Mending lo pergi aja dari sini sebelum pacar gue lihat lo terus lo habis sama dia," sela Bella dengan cepat meskipun sangat mustahil pacarnya datang ke kampus mengingat pria itu sibuk bekerja di bengkel.
David berdecak kesal kemudian beranjak dari duduknya untuk segera pergi dari sana. Namun sebelum itu, ia mengatakan sesuatu yang membuat Bella semakin geram dengan tingkahnya.
"Aku gak akan biarin kamu bahagia sama dia. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan sama kamu." Setelah mengatakannya, David pergi dari sana.
Bertepatan dengan itu, Hanna datang menghampiri Bella. Tanpa pikir panjang Bella menariknya untuk segera pergi dari kampus. Tindakannya yang secara tiba-tiba mampu menimbulkan berbagai pertanyaan di benak Hanna.
Dan sekarang keduanya tengah berada di salah satu kedai bakso yang tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Lokasinya juga cukup dekat dari kampus sehingga tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di sini.
Setelah pesanan keduanya dihidangkan, Hanna memotretnya dan mempostingnya di instastory. Tidak lupa juga ia menandai akun Bella di sana. Setelah puas, barulah keduanya mulai menyantap baksonya.
Ponsel Bella berbunyi menandakan notifikasi pesan masuk. Senyumannya terukir setelah melihat nama kekasihnya tertera di sana. Namun senyumannya kembali luntur setelah membaca deretan pesan masuk dari Zafran. Bella menoleh ke sampingnya di mana Hanna tengah sibuk dengan baksonya yang kini telah tersisa setengah.
"Na, kenapa lo tag gue sih?" gerutu Bella.
Hanna yang tengah mengunyah baksonya menoleh pada Bella. “Kenapa emang?”
"Zafran ngamuk sampai spam chat gue. Mana pas lo foto punya gue kuahnya merah banget lagi."
"Hehehe gue kan gak tahu."
Bella yang ingin mengomel lagi seketika terhenti. Gadis itu justru malah tertawa. Hanna yang tidak mengerti hanya melongo dengan wajah polosnya.
"Kenapa sih?"
Bella membuka aplikasi kamera di ponselnya lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Hanna.
"Ngaca nih, di gigi lo ada cabe!"
“Anjir malu banget gue.” Hanna merebut ponsel Bella lalu membersihkan giginya. Setelah dirasa bersih, ia mengembalikan ponsel itu pada Bella.
"Bukannya dia lagi kerja tapi kok bisa pegang Hp?"
“Lagi istirahat katanya."
Hanna mengangguk. Setelah selesai makan dan membayar baksonya, keduanya pun segera keluar dari kedai tersebut.
"Lo mau langsung pulang?" tanya Hanna setelah keduanya berada di dalam mobil.
"Pulang aja deh. Gue mau rebahan dulu sebelum nanti malam ketemu sama mas pacar," ucap Bella dengan antusias.
"Emang papa mama lo gak di rumah?"
"Papa sama mama lagi keluar kota. Kak Jenna juga lagi ke rumah temennya. Gue di rumah sendiri, jadi gue bebas malam ini."
"Bagus deh kalau gitu. Puas-puasin deh pacarannya mumpung gak ada yang mantau."
...•••••...
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Zafran merebahkan tubuhnya di atas bangku. Tak seperti biasanya, hari ini banyak sekali yang servis mobil di tempat ia bekerja sehingga bengkel baru tutup tepat pukul 18.15.
Teringat akan janjinya dengan sang kekasih, Zafran melangkahkan kakinya dengan tergesa menuju ruangan khusus karyawan dan membereskan barangnya untuk segera pulang ke rumahnya.
"Mau kemana lo buru-buru amat," ucap Galen rekan kerja sekaligus sahabatnya.
"Temu kangen sama pacar."
"Gaya lo temu kangen. Gak ikut kumpul sama anak-anak?"
"Gue usahain dateng."
"Gak bosen lo tiap hari ketemu sama pacar?"
"Ketemu pacar gak akan ada bosennya. Makanya lo punya pacar biar ngerasain apa yang gue rasain."
"Gue jomblo tapi santuy bro. Daripada pacaran tapi harus kucing-kucingan di belakang orang tuanya."
"Anjing nyindir gue lo!" Galen tertawa keras saat mendengar Zafran mengumpatinya.
...•••••...
Setelah lulus kuliah, Zafran bekerja di bengkel mobil. Tidak mudah baginya bisa masuk perusahaan besar mengingat Zafran tidak lulus tepat waktu hingga menyulitkannya dalam mencari pekerjaan karena usia yang terbatas. Zafran sempat menyerah saat belum mendapatkan panggilan kerja disaat teman-temannya sudah berpenghasilan. Pikiran negatif mulai menghantui pikirannya. Bagaimana jika dirinya tidak mendapatkan pekerjaan?
Zafran sadar bahwa ia tidak terlahir dari keluarga yang bergelimpangan harta seperti Bella. Ia juga sadar selama ini terlalu banyak menyusahkan mereka. Apalagi sekarang usaha rumah makan orang tuanya juga sedang menurun.
Jika kalian berpikir berkencan dengan gadis yang keadaan ekonominya lebih tinggi dari kita itu enak. Tentu saja tidak. Sering kali Zafran merasa tidak percaya diri saat bersama Bella. Kehidupannya sangat berbanding terbalik dengannya. Bella yang akan dengan mudahnya mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sedangkan Zafran harus berusaha terlebih dahulu jika menginginkan sesuatu.
Bahkan saat Zafran ingin mengajak Bella bertemu untuk sekedar makan pun selalu segan jika memilih tempat sederhana seperti kaki lima. Namun beruntungnya Bella tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Gadis itu selalu mau sekalipun diajak makan jajanan yang ada di alun-alun kota. Namun tetap saja Zafran sebagai kekasihnya ingin memberikan yang terbaik untuk Bella.
Berbicara tentang orang tua Bella. Sudah dapat dipastikan jika mereka tidak merestui anaknya berpacaran dengan Zafran. Karena bagi mereka Bella pantas mendapatkan pria yang jauh lebih baik darinya dan pastinya pria itu juga dari keluarga yang setara dengan mereka. Pernah sekali Zafran bertemu dengan mereka saat mengantar Bella pulang kuliah. Tak ada respons baik dari mereka. Bahkan dengan terang-terangan papa Bella menolaknya dan memperingatinya untuk menjauhi anaknya dengan alasan Zafran tidak setara dengan mereka. Menyerah? Tidak. Bukannya cinta butuh perjuangan?
“Kamu nunggu lama?”
Kedatangan gadisnya seketika menyadarkan Zafran kembali pada kenyataan. Kenyataan dimana gadis cantik di hadapannya ini telah menjadi miliknya meskipun masih belum seutuhnya. Setidaknya Zafran masih ada harapan untuk bisa memilikinya sekalipun itu sangat mustahil baginya.
“Malah senyum-senyum. Kamu kenapa sih?”
Zafran menggeleng lalu memasangkan helm yang selalu dibawanya pada Bella.
“Mau kemana dulu nih?”
“Pasar malam aja gimana?"
“Yaudah, yuk naik.”
Zafran melajukan motornya menuju pasar malam. Untuk kali ini biarlah semuanya berjalan seperti air yang mengalir. Jika Tuhan mengizinkan Zafran untuk berjodoh dengan Bella pasti akan ada jalan terbaiknya. Namun jika sebaliknya, apakah Zafran bisa meminta kepada Tuhan untuk bersama dia saja?
Setelah menghabiskan waktu 2 jam di sana, Zafran mengajak Bella untuk makan nasi goreng di pinggir jalan. Gadis itu mengeluh lapar setelah lelah berkeliling menaiki beberapa wahana.
"Papa mama kamu gak ada di rumah?"
Bella menggeleng. Pipinya mengembung karena penuh dengan nasi goreng, membuat Zafran terkekeh melihatnya.
"Makannya pelan-pelan sayang. Aku juga gak bakalan minta."
Bella menelan makanannya lalu meminum air putih yang telah disiapkan oleh si penjual.
"Hehe.. lapar yang. Nasi gorengnya juga enak. Lain kali kamu ajak aku ke sini lagi ya."
"Kalau orang tua kamu gak di rumah. Tahu sendiri kan mereka gak suka sama aku. Kalau maksain buat ketemu, nanti kamu dapat masalah lagi."
Bella menghela napas lalu menoleh pada Zafran. "Maaf ya kita harus backstreet kayak gini. Aku belum bisa bujuk papa mama buat nerima kamu."
"It's okay, sayang. Aku ngerti kok. Kamu gak usah mikirin itu. Biar itu jadi tugas aku buat buktiin ke papa kamu kalau aku bisa buat anaknya bahagia dengan caraku." Zafran mengusap kepala sang kekasih dengan lembut yang mampu membuat perasaan Bella menghangat karena tindakannya.
"Yaudah, abisin gih makannya. Kalau masih kurang bilang."
"Ish kamu pikir aku busung lapar." Zafran tertawa mendengar protesan dari gadisnya.
Motor Zafran berhenti di pertigaan jalan perumahan menuju arah rumah Bella. Seperti biasa Zafran akan menurunkan kekasihnya di sana. Bella menolak jika harus mengantarnya sampai depan rumah karena takut ketahuan orang rumah. Meskipun orang tua Bella sedang berada di luar, besar kemungkinan satpam penjaga rumah akan melaporkan pada papanya. Sebenarnya Zafran tidak masalah, hanya saja gadis itu tidak mau jika Zafran direndahkan lagi seperti waktu itu.
“Aku mau langsung ketemu temen. Maaf kalau nanti gak balas chat kamu," ucap Zafran setelah membantu melepaskan helm yang Bella pakai.
"Iya."
"Yaudah kamu jalan duluan, aku tunggu di sini sampai kamu masuk rumah. Kalau udah nyampe langsung istirahat ya, besok kamu kuliah pagi kan?"
"Iya sayang. Yaudah aku duluan ya. Bye." Bella melambaikan tangannya sembari melangkahkan kakinya menjauh dari sana. Sesekali gadis itu menoleh ke belakang. Setelah mulai dekat dengan pagar rumahnya. Barulah Zafran pergi dari sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Naomi Leon
Gemesin banget nih!
2023-09-10
1