Bab 9

Setelah acara konser amal selesai. Jihan mengajak Bella, Hanna dan juga Mila untuk ke backstage karena ingin berfoto dengan member Dynamix Band. Bella sempat menolak karena ia masih merasa malu dengan mereka, namun karena paksaan Jihan jadilah ia menyetujui untuk ikut bersamanya. Saat ia dan ketiga sahabatnya akan melangkah ke backstage tiba-tiba seseorang menahan pergelangan tangannya. Ia sontak menghentikan langkahnya dengan diikuti yang lainnya.

“Kamu ikut aku!” tegas pria itu yang ternyata Zafran.

“Apa sih, aku gak mau ikut sama kamu,” tolak Bella. Gadis itu mencoba melepaskan genggaman tangan Zafran di lengannya. Namun pria itu malah semakin mengeratkan genggamannya.

“Sayang please,” ujar Zafran dengan wajah memelasnya.

Bella menatap satu persatu sahabatnya di sana. Mereka mengangguk untuk mengizinkan Bella ikut bersama Zafran. Mereka juga tahu apa yang tengah terjadi antara Bella dengan Zafran. Ia menghela nafas berat, lalu menyetujui ajakan Zafran.

Zafran membawa Bella menuju parkiran kampus lalu menyuruhnya untuk segera naik ke atas motornya. Tidak peduli jika David akan melihat keduanya dan melaporkan kepada papa Bella. Yang paling penting ia harus segera membawa kekasihnya menjauh dari sana.

Motor Zafran berhenti di depan rumahnya. Setelah turun dari atas motornya, ia kembali menggenggam tangan gadis itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Ternyata di sana ada ibunya yang baru saja tiba dari arah dapur. Bella melepas genggaman tangannya lalu berjalan menghampiri ibu Zafran.

“Ibu apa kabar?” ujar Bella setelah menyalami ibu Zafran.

“Alhamdulillah baik Nak, kamu sendiri gimana?” ujar Ibu seraya mengusap lengan Bella.

“Baik juga bu.”

“Kamu kemana aja? Kenapa baru main lagi ke sini padahal ibu kangen loh sama kamu?”

“Hehe Bella lagi banyak tugas kuliah Bu jadi baru sempet ke sini.”

“Oh begitu, yaudah kamu di sini aja sama Zafran ya, ibu mau ke dapur lagi.” Bella menganggukkan kepalanya.

Setelah Ibu Zafran berlalu dari sana, Bella menoleh ke arah kursi yang dimana ada Zafran yang tengah duduk bersandar sembari menatapnya dengan bibir mengerut. Kalau posisinya sedang tidak marahan, ia pasti sudah mengecupnya sembari menggodanya.

“Kenapa lihatin aku kayak gitu?” protes Bella. Gadis itu duduk di sofa yang berhadapan dengan Zafran.

“Siapa yang nyuruh kamu duduk di situ?”

Bella memutar bola matanya malas. “Terus harusnya dimana?”

Pria itu menepuk kursi di sebelahnya yang langsung mendapat penolakan dari Bella. “Gak mau, pengen di sini.”

Zafran menghela nafas. Pria itu berpindah tempat duduk menjadi di samping Bella. Lalu ia memeluk gadis itu dari samping. Kepalanya ia sandarkan pada bahu kekasihnya.

“Maaf," cicit Zafran.

Bella hanya merapatkan bibirnya. Pandangannya teralihkan pada lengan Zafran yang melingkar di perutnya.

“Aku sadar aku salah. Harusnya aku percaya sama kamu. Aku cuman takut kamu ninggalin aku demi cowok yang lebih segalanya dari aku. Karena aku sadar, aku masih kalah segalanya dari mereka yang deketin kamu,” lirih Zafran namun masih bisa didengar oleh Bella.

“Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Jangan tinggalin aku ya.”

Bella tidak menjawabnya. Namun tanpa sepengetahuan Zafran, gadis itu tersenyum mendengar ucapannya. Ia senang pria itu ternyata masih mencintainya. Pelukannya semakin mengetat, pria itu kembali menggumam lirih yang membuat Bella semakin melebarkan senyumnya.

“Sayang kok diem? Kamu gak maafin aku?” Zafran mengangkat kepalanya menoleh ke arah Bella. Dengan segera gadis itu mengubah ekspresinya menjadi datar.

Bella berusaha menahannya untuk tidak tersenyum. Ia ingin mengerjai pria itu, sampai mana ia akan membujuknya.

“Sayang maafin aku,” ujar Zafran dengan wajah memelasnya.

Tring!

Ponsel Bella berbunyi yang menandakan ada notifikasi masuk. Bella ingin mengambil ponselnya namun pria itu lebih dulu mengambilnya yang tergeletak di atas meja. Zafran membaca pesan masuk dari David yang menanyakan keberadaan Bella. Tanpa membalasnya, pria itu mematikan daya ponsel Bella dan menyimpannya kembali di atas meja. Pandangannya kembali bertemu dengan Bella yang juga menatapnya.

“Kamu maafin aku kan?”

Bella masih bergeming di tempatnya.

“Sayang ih jangan diem terus,” rengek Zafran sembari menghentak-hentakkan kakinya.

Bella menunduk untuk menahan tawanya. Kenapa pria itu seperti anak kecil.

“Kamu ngerjain aku ya!”

Saat itu juga tawa Bella pecah. Zafran yang merasa tengah dipermainkan oleh kekasihnya memasang wajah muramnya dengan bibir yang mengerucut. Bisa-bisanya gadisnya mengerjainya disaat seperti ini.

Bella memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. Sekilas ia melihat wajah muram kekasihnya dan seketika itu juga ia menghentikan tawanya.

“Jangan manyun gitu. Jelek!” ujar Bella seraya menampar pelan bibir Zafran.

“Kamu juga nyebelin.”

Bella terkekeh. “Maaf ya, abisnya lucu lihat kamu ngerengek kayak tadi.”

“Tapi kamu maafin aku kan?”

Bella tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Ia merentangkan kedua tangannya meminta Zafran untuk memeluknya. Tanpa pikir panjang pria itu memeluknya dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher kekasihnya. Keduanya sama-sama tenggelam dalam pelukan satu sama lain. Menyalurkan rasa rindu yang sempat tertunda.

*

*

*

Hari telah berganti minggu, minggu telah berganti bulan dan selama itu pula hubungan Zafran dan Bella semakin membaik meskipun mereka harus backstreet. Seperti biasa keduanya akan bertemu jika Bella menginap di rumah Hanna atau Bella akan beralasan ke rumah Jihan untuk mengerjakan tugas kuliah. Dan beruntungnya kedua sahabatnya mau diajak kerja sama olehnya.

Bella sudah menghubungi Zafran untuk menunggunya di rumah Jihan. Pria itu mengatakan jika ia tengah libur bekerja sehingga bisa bertemu setelah pulang kuliah. Bella tengah berbicara dengan David untuk mengizinkannya pergi ke rumah Jihan. Awalnya pria itu menolak dan mengancam melaporkannya pada Dharma, namun karena bujukan Bella akhirnya pria itu mengizinkannya dan memintanya pulang sebelum jam 5 sore. Gadis itu tentu senang pastinya.

Setelah sampai di rumah Jihan, kedua gadis itu memilih untuk menunggunya di dalam rumah Jihan, karena Zafran memberitahunya jika ia akan terlambat datang ke sana. Hingga beberapa menit berlalu terdengar suara deru motor dari luar. Bella sangat mengenali suara motornya yang tidak lain dan tidak bukan milik kekasihnya. Ia berpamitan pada Jihan dan segera keluar dari sana.

“Han, gue berangkat dulu ya,” ujar Bella setelah menaiki motor kekasihnya.

“Iya hati-hati di jalannya ya.”

Bella melambaikan tangannya yang langsung dibalas oleh Jihan dengan melakukan hal yang sama. Zafran melajukan motornya meninggalkan pekarangan rumah Jihan.

Sedangkan di tempat lain, seseorang tengah memperhatikan Zafran dan Bella di dalam mobilnya. Ia sengaja memarkirkan mobilnya jauh dari rumah Jihan agar mereka tidak menyadari keberadaannya. Setelah sepasang kekasih itu menjauh dari sana, dengan segera ia juga mengikutinya dengan jarak yang cukup jauh. Beruntung Zafran mengendarai motornya dengan kecepatan sedang sehingga ia bisa dengan mudah untuk mengikutinya.

Zafran dan Bella berhenti di sebuah taman kota. Ia juga memarkirkan mobilnya tidak jauh dari sana. Pandangannya terus meneliti gerak gerik mereka yang mulai memasuki taman kota. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas dashboard mobilnya. Ia mengambil gambar keduanya yang saling berpegangan di sana. Lalu ia menekan tombol panggilan untuk menghubungi seseorang.

“Mereka sedang berada di taman kota.”

Setelah mematikan panggilannya. Pandangannya kembali menatap lurus ke depan. Ia menyeringai saat melihat Zafran dan Bella tengah tertawa lepas di sana.

“Sekarang kalian puas-puaslah bersenang-senang. Lihat apa yang akan terjadi setelah ini.”

Setelah mengatakan demikian, ia melajukan mesin mobilnya untuk segera menjauh dari sana.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!