Zafran memarkirkan motornya di area kampusnya. Ia melangkahkan kakinya menuju gedung fakultas teknik seraya menggendong tas favoritnya. Ia berjalan menghampiri para sahabatnya yang telah menunggunya di lobi kampus. Senyumnya tak luntur dari wajahnya hingga membuat sahabatnya melemparkan ejekan padanya.
“Anjay, ada yang lagi bahagia nih,” ledek Galen dengan diiringi tawanya.
“Senyum mulu gak pegel tuh bibir,” timpal Juna.
Bukannya marah, Zafran malah semakin melebarkan senyumnya. Ia terlihat seperti orang yang baru saja memenangkan undian.
“Beda kalau udah ada pawangnya, auranya jadi aur-auran,” ujar Ibram.
“Ah elah gitu doang. Gue aja yang punya pacar dua biasa aja tuh,” ujar Yogi dengan gaya tengilnnya.
“Ini nih sangat tidak patut dicontoh. Harusnya lo tuh berbagi sama si Ibram. Kasihan dia disakitin mulu sama cewek. Lah lu malah maruk pengen 2,” cecar Galen.
“Perasaan yang jomblo gue sama Juna kenapa gue mulu yang kena?” gerutu Ibram.
“Lo emang paling nistaeble sih, Bam,” ujar Galen dengan diiringi tawanya.
Juna merangkul Zafran seraya menepuk bahunya. Keduanya berjalan beriringan menuju kelas mereka dengan diikuti Galen, Ibram dan Yogi di belakang yang tengah sibuk dengan obrolannya.
“Gimana kemarin, lancar?” tanya Juna.
Zafran tersenyum. “Lancar dong pastinya.”
“Udah mulai berani terang-terangan sekarang?”
“Enggak juga. Tetap aja gue harus kucing-kucingan di belakang David. Tahu sendiri itu anak mulutnya lemes. Bisa-bisa nanti laporan sama papanya Bella.”
“Iya juga sih. Tapi lo juga gak akan selamanya kayak gini terus kan?”
Zafran menghela nafas berat. “Gak tahu, Jun. Tapi kalau untuk sekarang mungkin kita akan seperti ini dulu. Gue juga lagi berusaha buat bisa buktiin ke papanya kalau gue bisa bahagiain anaknya dengan cara gue sendiri.”
Juna tersenyum mendengarnya. “Gue percaya deh sama lo.”
Zafran terkekeh. “Perjuangan banget gue buat dapatin Bella. Makanya gue gak mau sampai ngecewain dia untuk yang kedua kalinya. Dia udah banyak berkorban buat gue. Gue juga akan ngelakuin hal yang sama buat dia.”
*
*
*
Setelah selesai kelas, Zafran dan sahabatnya berkumpul di kantin kampus. Seperti biasa ia mengisi perut terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja. Namun sedari tadi ia terus saja mengecek ponselnya hingga menimbulkan pertanyaan dari Juna yang berada di sampingnya.
“Kenapa lo?”
Sontak yang lainnya ikut menoleh ke arah Zafran dengan pandangan penuh tanya.
“Bella gak bisa dihubungi dari semalam,” ujar Zafran dengan perasaan khawatirnya.
“Lagi sibuk kali,” sahut Yogi seraya memakan bakwan yang mereka pesan.
“Masa iya sih? Gak biasanya dia kayak gini. Mana handphonenya juga gak aktif lagi.”
Zafran sangat tahu sekali kebiasaan kekasihnya. Bella tidak akan pernah bisa lepas dari ponselnya. Mau sesibuk apa pun itu pasti akan mengabarinya. Namun kali ini gadis itu menghilang tanpa kabar.
“Mungkin masih ada kelas jadi handphonenya gak sempet diaktifin,” sahut Ibram mencoba berpikir positif.
Zafran mendengus kasar. Namun ia mencoba berpikir positif. Mungkin kekasihnya sedang ada urusan lain seperti acara keluarga? Apa jangan-jangan Bella tengah bertemu dengan keluarganya David seperti waktu itu?
Dari arah pintu, ketiga gadis baru saja memasuki area kantin. Mereka adalah Hanna dan kedua temannya. Zafran mengernyit saat tidak mendapati kekasihnya di sana. Kemana gadis itu pergi?
“Han!” panggil Zafran.
Hanna menoleh setelah mendengar seseorang memanggilnya. “Kenapa Zaf?”
“Bella gak sama lo?”
Hanna menggeleng. “Gue juga tadinya mau nanya sama lo kenapa Bella gak masuk. Emang dia gak ngabarin lo?”
Zafran menghela nafas. “Nomornya juga gak aktif.”
Hanna sempat terdiam seraya menatap Jihan dan Mila. Keduanya mengangkat bahu menandakan bahwa mereka juga tidak mengetahuinya.
“Mungkin ada urusan kali gak sempet pegang handphone makanya gak aktif,” ujar Hanna mencoba berpikir positif.
Zafran sempat berpikir begitu. Namun entah mengapa perasaannya tidak enak. Ia merasa ada yang tidak beres dengan kekasihnya.
“Gue ke sana dulu, Zaf,” pamit Hanna yang diangguki oleh Zafran.
Satu minggu berlalu dan selama itu pula Bella menghilang tanpa kabar. Tidak biasanya kekasihnya menghilang sampai berhari-hari. Kalaupun Bella ada urusan, gadis itu pasti akan mengabarinya setelah selesai dengan urusannya. Namun kali ini nomornya pun masih tidak bisa dihubungi hingga sekarang. Hampir setiap hari ia akan bertanya kepada Hanna untuk menanyakan keberadaannya dan tetap saja jawabannya masih sama. Ia juga hampir setiap hari ke gedung fakultas manajemen untuk mencari kekasihnya dan ia tidak menemukan Bella ada di kelasnya. Kali ini ia berencana akan menemui seseorang yang akhir-akhir ini sangat dicurigainya. Siapa lagi kalau bukan David. Ia sangat yakin jika pria itu mengetahui keberadaan kekasihnya.
Setelah sampai di fakultas manajemen, ia menemukan David tengah berjalan di koridor kampus dengan earpods yang terpasang di telinganya. Ia menarik kerah belakang David hingga membuat pria itu menghentikan langkahnya seketika.
“Anjing! Siapa sih?" sentak David. Setelah ia mengetahui pelakunya, pria itu mendengus kesal. “Ngapain lo ke sini?”
“Bella mana?” tanya Zafran tanpa berbasa-basi.
David menyeringai. “Mana gue tahu.”
“Anjing! Jangan pura-pura lo. Gue tahu lo pasti sengaja kan nyembunyiin dia dari gue.”
David tertawa remeh. “Bella bukan anak kecil bro yang bisa gue sembunyiin. Mungkin dia baru sadar kalau lo itu cuman bawa pengaruh buruk buat dia.”
“Gue nanya baik-baik ya sama lo!” Gertak Zafran.
“Sekalipun gue tahu dia di mana. Gue juga gak akan sudi ngasih tahu lo,” sinis David. “Harusnya lo tuh sadar. Keluarga Bella gak ada yang suka sama lo. Lagian gue juga heran kenapa Bella cinta mati sama lo. Apa jangan-jangan itu cewek udah pernah lo pake?”
“Bangsat!”
Zafran memukul rahang David hingga tersungkur ke lantai. Ia menarik kerah baju David dengan kasar lalu kembali memukulnya. Tidak mau kalah, David mencoba melawan pria itu dengan sekuat tenaga hingga terjadilah perkelahian antara Zafran dan David. Orang-orang mulai berkerumun di sana. Ada juga yang berteriak untuk meminta bantuan memisahkan mereka. Hingga datanglah keempat sahabat Zafran di waktu yang tepat. Galen dan Yogi mencoba menghentikan Zafran. Sedangkan Juna menjauhkan David dari pria itu.
“Anjing lepasin gue bangsat!” Zafran memberontak.
“Tenang bro, bahaya kalau sampai lo habisin dia di sini,” gertak Galen.
Zafran mulai tenang. Namun pandangannya masih menatap tajam ke arah David yang tengah berbicara dengan Juna. Mungkin ia akan membiarkannya jika pria itu merendahkannya. Tapi jika itu menyangkut Bella, ia tidak segan menghajarnya atau bahkan kalau perlu ia membunuhnya sekalian.
Galen dan Yogi membawa pria itu menjauh dari area kampus sebelum pihak kampus melihat nya di sini.
*
*
*
Zafran berjalan menuju parkiran dengan tergesa. Ia melihat jamnya yang melingkar di tangannya. Ia harus segera ke bengkel sekarang, karena atasannya menghubunginya jika hari ini ada mobil yang harus diservis sedangkan teman kerjanya sedang tidak masuk. Lantas ia melajukan motornya untuk segera berangkat ke sana. Ia masih belum menemukan informasi apa pun mengenai kekasihnya. David masih saja bungkam meskipun sudah babak belur karenanya. Entah kemana lagi ia harus mencari kekasihnya?
Saat di perjalanan menuju bengkel, ia menemukan seorang gadis yang ia kenali tengah berhenti di pinggir jalan seraya melihat-lihat bagian belakang motornya. Mungkin motornya sedang bermasalah, sehingga ia berinisiatif menghentikan motornya untuk membantunya. Siapa tahu gadis itu sedang membutuhkan pertolongan.
“Motor lo kenapa?” tanya Zafran.
Gadis itu terkejut saat tiba-tiba Zafran mengajaknya berbicara.
“Eh, Zafran. Gak tahu tadi tiba-tiba mati motornya. Gue gak ngerti kenapa,” ujar gadis itu.
Zafran turun dari motornya lalu mengecek bensinnya yang ternyata masih full. Ia mencoba menghidupkan motornya namun tidak bisa.
“Terakhir diservis kapan?”
Gadis itu seperti mengingat-ingat sesuatu. Lalu menggelengkan kepalanya.
“Lupa udah lama soalnya. Kayaknya beberapa bulan yang lalu.”
Zafran menghela nafas, pantas saja motornya bisa mati seperti ini orang jarang diservis pula.
“Yaudah, lo ikut gue,” ujar Zafran.
“Tapi motornya gimana?”
“Titipin aja dulu di toko depan. Nanti biar temen gue yang bawa ke bengkel.”
Gadis itu menganggukkan kepalanya. Zafran menitipkan motornya ke salah satu pemilik toko. Lalu ia menaiki kembali motornya diikuti dengan gadis itu di belakangnya. Ia melajukan mesin motornya dan berlalu dari sana.
Tanpa keduanya sadari seseorang menyeringai setelah melihat Zafran dengan seorang gadis di sana. Setelah mengambil foto keduanya, ia segera berlalu dari sana seraya melajukan mobilnya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments