Keesokan harinya, tanpa diduga kedua orang tua Bella datang ke Jogja untuk menemui anak gadisnya. Pagi sekali orang tuanya sampai di rumah neneknya. Bella panik tentu saja, bagaimana jika kekasihnya datang ke sini untuk menjemputnya sedangkan orang tuanya ada di sini. Ingin menghubungi juga susah karena ia belum diberikan ponsel oleh Dharma. Mau pinjam punya Nenek ia tidak tahu nomornya juga. Apa yang harus ia lakukan?
“Sayang, kamu lagi apa?” tanya Mira
Mira berniat ingin mengajak anaknya pergi ke rumah saudaranya, namun saat membukakan pintu kamar ia melihat anak gadisnya tengah mondar mandir di depan kaca kamarnya.
“Gak ngapa-ngapain kok, Ma. Ada apa?”
“Mama mau ajak kamu ke rumah Om Dirman, daripada kamu bosan di rumah mending ikut Mama aja yuk,” ajak Mira.
Gadis itu tengah menimbang-nimbang, jika ia pergi terus Dharma melihat ada Zafran ke rumah bagaimana? Pasti papanya akan memarahinya, bahkan lebih parahnya lagi merendahkannya atau mungkin melakukan tindakan kasar.
“Bella, kenapa malah melamun?” tanya Mira saat melihat anaknya hanya bergeming.
Bella mengerjap saat mendengar suara mamanya. “Gak papa, Ma. Hmm... aku gak ikut deh, Ma.”
“Loh kenapa?” Mira mengernyit, biasanya gadis itu akan bersemangat jika ke rumah saudaranya.
“Gak papa, Ma. Lagi pengen rebahan aja.”
“Yaudah kalau gitu. Mama berangkat dulu ya.”
Mira kembali menutup pintu kamar Bella. Gadis itu menghela nafas. Lalu mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia tidak bisa tenang, perasannya benar-benar tidak enak. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Tiba-tiba terdengar teriakan Dharma dari luar kamar. Bella yang sudah menduga ini akan terjadi segera membuka pintu kamarnya lalu berlari ke luar. Dan benar saja di sana ada Zafran yang tengah dimarahi oleh papanya.
*
*
*
Zafran sudah siap dengan pakaian rapinya. Ia harus bertemu dengan Bella hari ini sebelum besok kembali ke Jakarta. Ia melirik ponselnya masih menunjukkan pukul 8.30. Masih ada waktu setengah jam. Pasti kekasihnya masih bersiap-siap. Ia sangat hafal sekali dengan kebiasaannya itu. Sembari menunggu, ia memilih untuk duduk di atas tempat tidur seraya memainkan ponselnya.
Pintu kamar terbuka menampilkan Juna dengan pakaian rapinya. Pria itu akan keluar bersama Dion untuk mencari oleh-oleh buat keluarganya. Namun sebelum itu ia menyempatkan masuk ke kamar Zafran untuk memastikan sahabatnya.
“Lo yakin gak mau ikut kita?” tanya Juna setelah berdiri di hadapan Zafran.
Juna memang mengajak Zafran untuk beli oleh-oleh bersama, namun pria itu menolaknya dan berkata akan membelinya bersama Bella.
“Gue mau jalan sama Bella.”
Juna mengangguk. “Yaudah kalau gitu. Oh iya, sampai kapan Bella di Jogja?”
“Gue juga gak tahu,” ujar Zafran seraya menghela nafas. Ia juga tidak tahu sampai kapan keduanya akan seperti ini. Untuk sekarang ia benar-benar tidak bisa memastikan ke depannya akan seperti apa.
Juna menghela nafas. “Lo harus sabar ngadepin orang tua Bella. Gue yakin suatu saat nanti, orang tuanya bisa nerima lo.”
“Do’ain gue ya, Jun. Kadang gue juga suka ngerasa cape. Tapi gue juga selalu ingat sama Bella. Dia udah banyak berjuang buat gue, masa gue harus nyerah.”
“Gue yakin pasti akan ada jalan keluarnya.” Juna menepuk bahu Zafran. “Yaudah gue berangkat sekarang.”
Zafran mengangguk. Setelah Juna keluar dari kamarnya, ia juga mengambil jaket, dompet dan ponselnya untuk segera menjemput kekasihnya. Ia sudah membayangkan lokasi mana saja yang akan mereka kunjungi hari ini. Ia juga berencana ingin membeli oleh-oleh buat keluarganya serta hadiah untuk Bella. Ia semakin bersemangat untuk segera bertemu dengan kekasihnya.
Setelah sampai di rumah neneknya, ia terkejut saat menemukan sebuah mobil terparkir di sana. Ia pikir mungkin ada saudara Bella, namun dilihat dari mobilnya ia seperti mengenalinya. Saat ia turun dari motor, teriakan seseorang terdengar dari arah rumah hingga membuat pria itu sontak menoleh ke arah rumah. Matanya membulat setelah melihat presensi Dharma berdiri di sana bersama dengan Mira. Pria tua itu berjalan menghampirinya dengan tatapan nyalangnya.
“Ngapain kamu di sini?” hardik Dharma.
Bukannya menjawab, Zafran memilih mengatupkan bibirnya. Ia tidak menyangka jika Dharma akan ada di sini juga.
“Malah diam kamu! Saya tanya ngapain kamu di sini?” Gertak Dharma.
“Mau ketemu Bella, Om,” jawab Zafran dengan tegas. Entah dapat keberanian dari mana ia bisa menatap tepat pada kedua bola mata tajam Dharma.
“Gak ada kapok-kapoknya kamu. Saya sudah peringati kamu berkali-kali jangan pernah temui anak saya lagi.” Dharma menunjuk pria itu tepat di depan matanya.
“Saya cinta sama Bella, Om. Saya gak akan bisa ninggalin dia,” tegas Zafran.
Dari arah rumah datanglah Bella dan Nenek keluar untuk melihat keributan yang terjadi di depan rumahnya. Bella menutup mulutnya saat melihat Zafran sudah berdiri di sana.
“Ada apa ini? Kenapa malah ribut di depan rumah. Gak enak dilihat sama tetangga!” tegur Nenek.
Dharma masih menatap nyalang ke arah Zafran. Begitu pun sebaliknya. Mira yang berada di samping Dharma mengusap bahunya dan mengajak pria tua itu untuk masuk ke dalam rumah.
“Kamu masuk ke dalam!” perintah Dharma seraya menunjuk Zafran untuk masuk ke dalam rumah.
“Bella masuk ke kamar!”
“Ta–tapi, Pa–”
“Cepat masuk atau Papa akan seret kamu sekarang juga,” sentak Dharma dengan cepat.
Bella menggelengkan kepalanya dengan berderai air mata. Zafran yang melihatnya mengangguk untuk mengizinkan gadis itu masuk ke dalam kamar. Ia tahu pasti Bella tengah mengkhawatirkannya, namun ia meyakinkan gadis itu bahwa ia bisa menghadapi papanya. Ia memberikan senyum simpulnya kepada Bella sebelum gadis itu berlari masuk ke dalam kamarnya. Terdengar pintu dibanting dengan keras saat Bella memasuki kamarnya.
Nenek mengajak mereka untuk segera masuk ke dalam rumah sebelum tetangganya melihat keributan di depan rumahnya.
“Saya tidak peduli jika kamu mencintai anak saya atau tidak. Saya hanya ingin peringatkan kamu untuk segera menjauhinya,” tekan Dharma setelah mereka berada di ruang tamu.
“Tidak, Om. Kami berdua sama-sama saling mencintai. Saya tidak akan bisa menjauhi gadis yang saya cintai begitu pun dengan Bella.”
Dharma terkekeh sinis. “Berani sekali kamu bilang seperti itu. Sudah punya apa kamu berani berkata seperti itu?”
“Saya memang bukan dari keluarga berada. Untuk sekarang saya mungkin belum bisa membuktikan kepada Om. Tapi saya bisa menjamin kebahagiaan anak Om pada saya,” tegas Zafran. Kali ini ia tidak boleh kalah oleh Dharma. Ia harus membuktikan bahwa ia benar-benar serius mencintai anak gadisnya.
Dharma kembali terkekeh sinis. “Kamu pikir rumah tangga itu hanya makan cinta? Tidak. Saya merawat anak saya dengan baik, menyekolahkannya setinggi mungkin, memperlakukannya dengan layak mana tega saya memberikan anak saya sama kamu yang masa depannya masih belum jelas.”
“Dharma, apa yang kamu bicarakan! Anakmu berhak untuk menentukan pilihannya sendiri,” elak Nenek. Wanita paruh baya itu sangat tidak setuju dengan pernyataan anaknya.
“Sudah Ibu jangan ikut campur. Ini urusan saya. Saya yang bertanggung jawab atas anak saya. Jadi Dharma mohon sama Ibu untuk tidak ikut campur dalam masalah ini. Karena saya akan tetap menjodohkan Bella dengan David sesegera mungkin.”
Zafran mematung di tempatnya setelah mendengar pernyataan Dharma. Apakah ia benar-benar sudah tidak memiliki kesempatan sekarang?
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments